Cluster Casablanca, Sentul City, Bogor - Jawa Barat - 16810 | Hotline: 0813-1112-5384 (Call/SMS/WA)

07 October 2021

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari Pelita Nusantara

 

Pendidikan Bukan-Bukan
Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari mendasari pemikiran pendidikannya pada orisinalitas keilmuan dan keulamaan sesuai dengan kultur Islam yang penuh kearifan. Praktek pendidikannya bersifat konstan, stabil atau tsabit berbasis masyarakat natural, dengan tetap menjaga narasi ahlu sunnah wal jamaah.

Praktek pendidikannya hampir tak memiliki pengaruh gaya pendidikan Belanda masa itu. Bisa dibilang, pemikiran Sang Kiai merupakan representatif kultur budaya pendidikan Islam klasik yang sangat apik dengan visi tafaqquh fī al-dīn.

Dengan pola konstan tersebut, kualitas pembelajaran dan hasil lulusannya sangat berbeda dengan pola yang selalu mengalami perubahan, apalagi dengan lembaga yang suka mengerdilkan pendidikan Islam, meskipun masih menyematkan istilah tafaqquh fī al-dīn pada lembaga pendidikan mereka.

Dalam hal ini, ada dua pemikiran pendidikan Sang Kiai yang amat istimewa. Pertama, konsep ilmu. Ilmu yang Sang Kiai maksud dalam proses pendidikannya adalah ilmu yang menjadikan para pelajar atau santrinya kelak menjadi ulama. Karena arahnya melahirkan ulama, maka proses yang dilalui calon ulama tersebut betul-betul meniti standar jalan orang-orang alim. Konsep inilah yang pada akhirnya membuahkan hasil yang sangat mulia hingga berwujud munculnya para kiai yang turun-temurun menghadirkan tempat tafaqquh fī al-dīn yang baik pula. Artinya, cita-cita Sang Kiai tampak rimbun, kokoh, kuat, dan berkarakter dalam bentuk pendidikan Islam yang khas.

Jika kita melongok pada era tersebut dan juga beberapa masa sebelumnya, tempat tafaqquh fī al-dīn yang ada betul-betul melahirkan ulama dengan sempurna, semisal guru-guru Sang Kiai itu sendiri atau ulama-ulama besar Nusantara tempo dulu seperti Imam Nawawi al-Bantani, dan lainnya. Mereka lahir menjadi ulama dalam arti yang ‘sesungguhnnya karena proses dan jalan yang dilaluinya adalah proses pendidikan yang tepat dengan meniti jalan yang tepat pula.

Kini, yang jadi problem adalah banyak para pelajar yang bermimpi dan bercita-cita menjadi ulama, tapi proses pembelajaran yang dilalui mereka tidak sesuai dengan konsep tafaqquh fī al-dīn, meskipun pemilik lembaga pendidikan tempat para pelajar itu menimba ilmu menamakan sekolahannya atau programnya dengan konsep tafaqquh fi aldin. Apalagi di era teknologi ini, bila tidak melakukan mujahadah yang tepat dan benar, meskipun bergelar S3, bisa jadi derajat keulamaannya masih amat jauh dari kenyataan. Hal ini bisa saja terjadi karena pemahaman dan penguasaan terhadap turats dan khazanah ilmu-ilmu naqliyah mereka sangat terbatas, namun mereka ‘dipaksa’ untuk terus berpikir dan melakukan penelitian ilmiah modern. Tentu saja ini berbeda dengan pendidikan Sang Kiai masa itu. Mereka tidak saja hapal ilmu-ilmu naqliyah, tapi juga disiplin dalam istimbath keilmuan, dan menjunjung tinggi sikap kehati-hatian dalam memutuskan suatu perkara.

Sang Kiai dengan gelar hadratussyaikh’-nya lahir dengan segala proses dan kedalaman ilmunya. Jadi bila ada program dan usaha ingin melahirkan ‘ulama sungguhan’, bisa bercermin pada pemikiran Sang Kiai baik filosofisnya, teoritisnya, konsep ilmu, juga proses pembelajaran dan seterusnya. Tentu saja melahirkan ulama sebagai usaha yang mulia tidak ringan. Seperti yang sudah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, bahwa penyebutan istilah ulama saat ini jangan terkesan merendahkan kualifikasi proses pendidikan dan keadaban ulama itu sendiri, tapi penyebutan dan penggunaan istilah itu juga harus be-ADAB. Apalagi ada istilah ‘ulama saintis’. Jangankan kualifikasi ulama yang benar, ditambah dengan embel-embel saintis jadinya bagai pungguk merindukan bulan.

Kedua, sakralisasi nilai adab. Sebagai bagian dari proses pendidikan dan pengajaran calon ulama, konsep sakralisasi adab dan akhlak dalam perspektif Sang Kiai adalah keniscayaan yang sangat tepat. Hal ini sudah menjadi model sekaligus pemikiran para ilmuwan muslim dan ulama tabi’in masa lampau, bahkan ijma diantara para shababat nabi. Hingga ada istilah dan ungkapan al-adāb fawqa ilm, al-adāb qabla ilm, faman lā adābu lahu lā syarīatun wa lā ‘īmanun wa lā tawhidun lahu, (adab di atas ilmu, adab itu sebelum ilmu, siapa yang tidak beradab, maka seakan mereka sama saja tidak memiliki syariah, iman dan tauhid), juga istilah lainnya. Dalam hal ini, sudah banyak yang dijelaskan oleh para ulama masa lalu tentang sakralisasi adab dalam kontek thalabul ilmi.

Kini, pembicaraan tema adab dan akhlak seakan jadi barang baru dan trend saat ini, padahal itu sudah terungkap berabad-abad lamanya. Bisa jadi karena tema adab dan akhlak selama ini kurang mendapat perhatian, khususnya dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, usaha membangun pemikiran pendidikan dengan cara menghidupkan kembali keindahan adab dan akhlak Islami tersebut menjadi menarik dicermati, apalagi hal tersebut berasal rekaman perjalanan tokoh yang sudah lama makan garam kenidupan, yaitu Sang Kiai Muhammad KH. Hasyim Asy’ari dan kitabnya Adabu al Alim wa al-Mutaalim. Wallahu a’lam

 

 -baca selengkapnya Pendidikan Bukan-Bukan Dr. Ulil Amri Syafri, MA-



0 komentar:

Post a Comment