Cluster Casablanca, Sentul City, Bogor - Jawa Barat - 16810 | Hotline: 0813-1112-5384 (Call/SMS/WA)
1st Islamic Boarded Home Schooling

Berpetualang di Jungle Land

Para pelajar Muslim Cendekia Madani sedang berpetualang sambil belajar di Jungle Land, Sentul City.

Kunjungan Rombongan Cikgu dari Singapura

Rombongan dari Singapura, staff pembina dan para siswa Muslim Cendekia Madani - Islamic Boarded Home Schooling.

Belajar bahasa Arab di alam

Para siswa Muslim Cendekia Madani sedang belajar bahasa Arab di alam terbuka.

Belajar Bahasa Arab

Para siswa Muslim Cendekia Madani - Islamic Boarded Home Schooling belajar Bahasa Arab.

21 September 2017

Mengawali Tahun Baru Hijriah, Alumni MCM Berangkat ke Cairo

Bertepatan dengan hari terakhir di tahun 1438H, Rabu, 20 September 2017, keluarga besar MCM melepas M. Isa Amri, salah satu alumninya yang akan kuliah di universitas Al-Azhar Cairo Mesir. Momen ini sangat mengharukan sekaligus membanggakan karena ini adalah awal pertama bagi MCM untuk menempatkan alumninya di Universitas Islam tertua di kawasan timur tengah tersebut, meski usia MCM baru setahun lebih.


Dengan konsep pendidikan yang fokus pada beberapa materi, utamanya bahasa Arab dan Al-Qur'an, MCM membina dan menyiapkan pelajar muslim yang berakhlak dan berwawasan luas untuk siap menuntut ilmu di luar negeri. Insya Allah di tahun berikutnya, alumni-alumni MCM akan berkesempatan menuntut ilmu di universitas-universitas timur tengah lainnya. 

M. Isa Amri sendiri memiliki latar belakang pendidikan yang sudah diarahkan untuk kuliah di timur tengah. Menyelesaikan Pendidikan Menengahnya di Madrasah Tsanawiyah Al-Azhar Asy-Syarif Jakarta (Kerjasama DEPAG dan Madrasah Al-Azhar Cairo), kemudian menyelesaikan I'dad Lughawi di Pesantren Al-Irsyad Salatiga, serta pindah ke MCM dan menyelesaikan Pendidikan Atasnya dengan ijazah Paket C. Di usia 17 tahun, Isa siap merantau dan menuntut ilmu di negaranya para Nabi.
'Aroma' pelepasan dan perpisahan tersebut sudah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya. Bersama para pelajar dan mentor, mereka melakukan olahraga bareng di depok, berenang bersama (khusus ikhwan), masak bareng, kesan dan pesan para pelajar kepada Isa, seuntai kalimat perpisahan oleh Isa, serta tausyiah singkat dari mentor untuk Isa khususnya.

Perpisahan ini cukup dirasakan, baik oleh Isa maupun para pelajar lainnya, khususnya para teman seangkatan. Proses pembelajaran in the home di MCM memang membuat keakraban dan kedekatan diantara para pelajar dan mentor begitu kuat. Membayangkan bahwa kedekatan dan keakraban itu akan menghilang, membuat mereka semakin akrab di hari-hari akhir menjelang keberangkatan. Keakraban yang terjalin layaknya persaudaraan dalam sebuah keluarga besar.


 
Puncaknya adalah perpisahan di Bandara Soekarno Hatta Tangerang. Dengan diantar oleh beberapa pelajar MCM dan juga keluarga tercinta, Isa dilepas dengan haru, bahagia, dan bangga. Tak ada emosi yang berlebihan. Namun jabatan tangan dan pelukan hangat yang tercipta mampu menyampaikan pesan yang ingin disampaikan mereka semua. 

Semoga M. Isa Amri selalu dimudahkan Allah dalam setiap niat dan langkahnya untuk menuntut ilmu, dibimbing untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dan bertanggung jawab pada tugasnya 
sebagai pemuda Muslim nantinya.


08 September 2017

Berubah Untuk Lebih Baik

Satu bulan sudah para pelajar Muslim Cendekia Madani (MCM) menjalani proses pembelajaran di tahun ajaran ini. Masa-masa adaptasi meninggalkan keluarga tercinta tentunya sangat terasa oleh mereka, khususnya untuk yang baru pertama kali berpisah dengan orang tua. Terlihat sekali emosi kesedihan pada minggu pertama mereka di MCM. Ada yang menangis diam-diam, ada yang hanya menyendiri dengan raut wajah yang sedih, tapi ada juga yang bersikap biasa dan tetap ceria.

Para pelajar Muslim Cendekia Madani Indonesia
Namun, masa-masa itu tidaklah lama. Konsep pembelajaran “Liburan sambil Belajar” mampu membuat masa-masa tersebut berganti dengan keceriaan, keakraban, dan kegembiraan. Wajah-wajah sumringah kini menghiasi wajah para pelajar MCM. Mereka sudah mulai enjoy dengan lingkungan tempat tinggalnya dan tak terasa sudah mulai menikmati proses pembinaan dan pembelajaran di sini dengan baik. Keakraban pun sudah terjalin dengan sangat baik diantara para pelajar dan para mentor. Tak ada senior-junior di MCM.

Ternyata, masa-masa adaptasi ini pun dirasakan oleh orang tua para santri. Beberapa dari orang tua juga merasakan ‘kehilangan’ anaknya yang jauh dari rumah. Ketika ada kesempatan, tak jarang mereka menelepon atau bahkan menjenguk anak-anaknya. MCM memang tidak membatasi waktu berkunjung para orang tua. Mereka dipersilahkan bertemu dengan anak-anaknya kapan saja, asal tidak mengganggu proses pembelajaran yang berlangsung.

Ada yang unik dari kunjungan orang tua ketika libur Idul Adha kemarin. Beberapa orang tua mengakui perubahan yang terjadi pada anak-anaknya setelah satu bulan tidak bertemu. Mereka cukup ‘surprise’ ketika berkomunikasi dan bercengkrama bersama. Misalnya orang tua Hasnul Fauzan (15 tahun) yang berasal dari Cikampek. Mereka merasakan perubahan anaknya dalam hal cara berkomunikasi. Anaknya lebih santun dan ‘kalem’ dalam interaksi mereka. Juga masih menurut ayahnya, Hasnul terlihat lebih gagah dan sehat. Saat ditanyakan pada Buya Ulil Amri Syafri sebagai  mentor di MCM, beliau hanya tersenyum dan mengatakan, “bisa jadi itu pengaruh olah raga yang dilaksanakan rutin dan teratur setiap pagi.”  

Lain halnya dengan Pak Syafe’i, orang tua dari Abdurrahim (12 tahun). Beliau melihat anaknya lebih pede ketika mengajak kakaknya yang sedang berkunjung untuk muraja’ah Al-Qur’an bersama. Bahkan sesekali Abdurrahim memperlihatkan  kebanggaan pada pengetahuannya terhadap bahasa Arab dasar.  Sedangkan Mutiara Ayu (14 tahun) menurut ibunya yang berkunjung satu minggu sebelum Ied mengatakan bahwa Ayu terlihat lebih ceria. Berbeda dengan terakhir kali ia meninggalkan Ayu di MCM.

Begitulah, perubahan selalu dibutuhkan agar segala sesuatunya berjalan sesuai target pembinaan dan pembelajaran. Dalam hal ini, proses pendidikan yang menitik beratkan pada perubahan akhlak sebagai dasar tujuan tentunya sangat berdampak positif pada diri anak didik. Bandingkan dengan lembaga pendidikan yang hanya menekankan pada pencapaian kognitif dan prestasi akademik saja, namun mengabaikan pembentukan akhlak atau karakter pelajar.

Mengajar anak jadi pintar itu mudah, tapi mendidik anak agar berakhlak baik itu sangat sulit. Karena proses pendidikan akhlak tidak seperti mengajar ilmu pengetahuan. Orang yang berhasil menata dan mendidik akhlaknya tentu lebih mudah mendapatkan ilmu pengetahuan, karena pendidikan keperibadian adalah awal dan inti dari segala proses pendidikan. Kata orang bijak, apalah artinya punya anak pintar tapi buruk sikapnya kepada orang tua. Meskipun terselip kebanggaan pada orang tua karena prestasi anaknya, akan tetapi tetap membawa rasa pilu dalam hati orang tua.

Maka, sudah saatnya para keluarga muslim melihat kembali skala prioritas perubahan pada diri anak anak. Jangan berikan pendidikan yang bersifat  matrealis, pragmatis, dan individualis  pada anak-anak muslim. Tentunya perubahan yang diharapkan adalah perubahan yang lebih baik, khususnya perubahan yang membawa kebaikan untuk pelajar itu sendiri dan tentunya semua itu akan membahagiakan orang tua dan keluarga mereka. 

22 August 2017

"LIBURAN SAMBIL BELAJAR"

Di tahun kedua pembelajarannya, Islamic Boarded Home Schooling MUSLIM CENDEKIA MADANI memiliki lokasi baru sebagai tempat proses pendidikannya. Lokasi ini tak kalah menariknya dengan lokasinya yang terdahulu. Jika dulu MCM berada di tengah pedesaan dan persawahan, kini lokasi baru MCM berada di tengah perkotaan dan villa yang juga memiliki suasana asri dan sejuk. Perpindahan lokasi tersebut bukan hal yang aneh karena konsep pendidikan MCM adalah Home Schooling yang biasa berpindah lokasi dari satu tempat ke tempat lain yang representative sesuai dengan konsep pendidikannya.


Program kegiatan MCM masih tetap dengan program-program unggulannya, yaitu adzkar pagi dan sore, tilawah al-Qur’an, olahraga pagi sambil mengeksplorasi tempat di sekitar lokasi MCM, bahasa Arab untuk pelajar tahun pertama dan tahfidz al-Qur’an untuk pelajar tahun kedua, konsep makan sehat berbasis alami, dan program-program tambahan sesuai kompetensi masing-masing anak.
Untuk tahun ini, pemilihan tempat disesuaikan dengan tema pembelajaran yang diusung MCM tahun ajaran 2017/2018, yaitu “Berlibur sambil Belajar.” Konsep ini merupakan cara unik dalam mendidik dan mengarahkan para pelajar pada kompetensi pendidikan yang ada. Dalam satu tahun ke depan, para pelajar akan diajak “berlibur” namun proses pelaksanaan kurikulum yang ditentukan tetap berjalan tanpa mereka sadari.


Proses ini dilakukan agar para pelajar enjoy dan senang sehingga memudahkan mereka dalam pembelajarannya. Hal ini mendapat apresiasi yang baik dari para pelajar, khususnya para pelajar yang baru bergabung di MCM. Misalnya Habibah, pelajar dari Semarang mengakui bahwa ia merasa senang masuk ke MCM. “Seru! Cara belajarnya beda sekali. Gak semua orang bisa merasakan (keseruan) ini.”

Lain lagi dengan tanggapan Mutiara Ayu, pelajar asal Sukabumi, yang merasa proses belajar di MCM sangat inspiratif. “Para mentornya suka memberi inspirasi. Saya senang disini.”


Tanggapan-tanggapan positif lainnya juga diberikan oleh seluruh para pelajar MCM yang merasa senang dengan awal proses pembelajaran mereka. Meskipun mereka baru bertemu, tapi konsep ‘in home’ yang menjadi ciri khas MCM sangat terasa. Sehingga sejak awal sudah terjalin keakraban dan kedekatan antara para pelajar dan juga dengan para mentor sebagai figur teladan dalam proses pembinaan mental dan akhlak mereka.


This is just beginning, kids! Nantikan proses-proses berlibur dan belajar lainnya yang tak kalah seru, menyenangkan, namun memiliki muatan nilai pembinaan akhlak dan keilmuan.



30 June 2017

Guruku Teladanku


Oleh : Dr. Ulil Amri Syafri

Di media sosial beredar ramai tulisan tentang pola pendidikan di negeri yang di sebut negara maju. Dikisahkan, bahwa seorang guru di Jepang pernah berkata, “Kami tidak terlalu khawatir anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.” Mengapa demikian? Ada beberapa alasan yang mereka kemukakan.  

Pertama, “kita hanya perlu melatih anak tiga bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga dua belas tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran di balik proses mengantri”. Kedua, karena tidak semua anak kelak menggunakan ilmu matematika kecuali Ilmu TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Lagi pula Sebagian mereka anak jadi penari, atlet, musisi, pelukis, dsb. Ketiga, semua murid sekolah pasti lebih membutuhkan pelajaran Etika Moral dan ilmu berbagi dengan orang lain saat dewasa kelak.

Apa yang menjadi perhatian dunia pendidikan tingkat dasar di negeri tersebut bisa menjadi hal baru atau aneh bagi dunia pendidikan dasar di negeri lain. Sebut saja di Indonesia, meskipun tidak bisa digeneralisasi, tapi setidaknya apa yang berkembang pada masyarakat dan terjadi dalam pergaulan anak di masyarakat bisa memperlihatkan andil dunia pendidikan dalam pembentukan karakter anak-anak.

Fakta yang kerap terjadi di masyarakat kita sebagai berikut; Banyak anak-anak karena tidak sabar mengantri lalu biasa menyusup ke depannya dengan mengambil hak anak lain dalam barisannya. Lebih konyol lagi, hal ini dibiarkan oleh orang tuanya, bahkan tidak sedikit orang tua yang senang melihat pelangaran tersebut. Mereka malah memarahi anaknya bila enggan untuk menyusup ke dalam antrian di depan dengan kata-kata ‘penakut’ kata-kata ‘tidak gagah’ dan sebagainya. Singkatnya, budaya antri yang tertib ternyata tidak saja menjadi masalah anak-anak Indonesia, bahkan masalah ini juga bermula dari kedua orangtuanya sebagai pendidik dan tauladan anak-anak tersebut.

Dari kasus kecil di atas yang berdampak besar, yaitu tentang pendidikan kedisiplinan atau etika melalui budaya antrian, maka dapat terlihat orientasi pendidikan suatu bangsa. Pada kenyataannya, ada lembaga pendidikan yang amat memperhatikan pembangunan karakter anak didiknya. Tapi sangat banyak sekolah seakan tidak terlalu peduli dengan hal semacam itu. Anak-anak menurut mereka cukup menjadi pintar dan berprestasi dalam akademik.  Bahkan guru-guru akan bangga bila anak didiknya lulus dan diterima pada sekolahan favorit, meskipun karakter dan etika anak didik tersebut nol besar.

Sesungguhnya orientasi pendidikan adalah pilihan. Dan itu adalah pilihan yang mudah, bukan pilihan yang berat, apalagi beresiko. Pilihan yang membuat setiap orangtua akan menjadi bahagia dan semakin percaya kepada lembaga pendidikan.

Menurut Ahmad Tafsir, ‘inti (core) pendidikan adalah ahklak mulia’. Lebih lanjut dikatakannya, bahwa pembinaan akal dan keterampilan itu sangat gampang bila anak didik berakhlak mulia. Dan orang yang tidak berakhlak mulia adalah orang yang gagal menjadi manusia. Dengan demikian, lembaga pendidikan yang mengutamakan kepintaran saja tanpa memprioritaskan pembinaan mental, etika, atau akhlak mulia bisa dikatakan bahwa lembaga itu turut bertangungjawab membuat anak didiknya gagal menjadi manusia.  Akhirnya, sekolah yang tidak memberi perhatian lebih pada aspek etika dan akhlak Mulia, tentu dalam perkembangannya tidak akan mendapat kepercayaan maksimal dari masyarakat, apapun status sekolahnya. Baik itu sekolah negeri ataupun swasta, mahal maupun murah, demikian pula pada lembaga pendidikan ber-beasiswa ataupun non-beasiswa.

Banyak variabel yang harus diperhitungkan jika berbicara tentang lembaga pendidikan agar mampu mengantarkan perkembangan anak didiknya kepada tingkat yang sempurna sebagai manusia. Baik dari sisi manajemen, proses pendidikannya, kurikulum, dan lain sebagainya. Namun demikian, ada topik utama dan sangat penting yang harus dibicarakan, yaitu bicara tentang guru atau kualitas guru.

Guru adalah asset dan icon terpenting dalam proses pendidikan, atau jika bisa dikatakan sebagai ‘modal’ termahal dalam kegiatan pendidikan. Bila suatu lembaga pendidikan tidak menempatkan guru demikian, maka lembaga pendidikan tersebut sebenarnya tidak bicara pendidikan yang sesungguhnya. Sebab sehebat apapun konsep pendidikan yang dimiliki suatu lembaga, bila tidak didukung Guru yang sesuai, maka konsep hebat tidak ada artinya dalam proses pendidikan yang berjalan.

Guru adalah laksana motor, penggerak dari sebuah perangkat mesin besar. Guru bagaikan energi yang menjadikan suatu program bisa hidup dan berkembang. Guru adalah ruh dari sebuah tempat pendidikan. Guru adalah cahaya. Dalam Islam, tugas guru setingkat di bawah tugas kenabian. Guru merupakan pewaris tradisi kerja nabi dan rasul  karena guru itu harus mengajar, mendidik, membina dan memberi tauladan. Pada diri gurulah sebagian ilmu dan pengetahuan itu tersimpan. Maka dalam filsafat Islam disebutkan, bahwa meninggalnya seorang berilmu mendalam berarti hilangnya segudang ilmu yang sulit tergantikan. Tingginya kedudukan guru dalam perspektif Islam merupakan realitas dari ajaran Islam tersebut. Tentunya pemahaman ini menempatkan Islam sebagai ajaran yang juga sangat memuliakan ilmu pengetahuan dan sangat menghargai kegiatan pendidikan.

Di negeri kita Indonesia, guru disebut bagai pelita dalam kegelapan, pahlawan tanpa jasa. Pujian terhadap guru terungkap indah dalam bait bait lagu yang berjudul ‘Guruku Tersayang’. Lagu yang diunggah di youtube tersebut sudah dinikmati puluhan juta putra-putri Indonesia. Bahkan negeri tetangga pun menyukai lagu tersebut. Lagu yang ditulis Melly Goeslaw tersebut melukiskan kedudukan dan kecintaan terhadap guru yang diungkapkan lewat ucapan terima kasih yang mendalam. Dikatakan, tanpamu guru apa jadinya aku, tak bisa baca tulis dan mengerti banyak hal, terima kasih guruku. Demikian pula pada bait-bait lagu yang lain, semisal Hymne guru dan Terima Kasih Guru.

Dalam tradisi pendidikan Islam di Indonesia, guru di tempatkan pada tempat yang terhormat. Para pelajar mencium tangan dan mengucapkan salam, menunduk dan tenang saat berhadapan, santun dan lembut saat berbicara pada gurunya. Tradisi ini menurut Ahmad Tafsir tidak membangun hubungan antara anak didik dan guru dalam untung dan rugi, tapi disana ada hubungan keagamaan yang disebutnya nilai Kelangitan. Lebih lanjut kata Ahmad Tafsir, hubungan guru dan anak didik amat berbeda dengan yang yang berlaku di dunia Barat.

Di Barat, hubungan tidak ada nilai Kelangitannya, hanya seperti hubungan antara orang yang lebih banyak pengetahuan dengan anak didik yang membutuhkan dan sedikit ilmu pengetahuannya. Hubungannya juga seperti pemberi dan penerima, bahkan terkadang sampai pada tingkat pemberi jasa dan pembayar jasa. Maka hitungan dan akad ekonominya sangat menonjol. Hal ini tentunya sangat kering dari nilai Kelangitan. Maka, cara pandang dalam membangun hubungan sebuah proses pendidikan terhadap guru dan posisi guru itu sendiri sangat berpengaruh dalam proses implementasi pendidikan, yang tentunya juga mempengaruhi hasil didikannya.

Saat semakin baik cara pandang lembaga dan stake holder lembaga pendidikan terhadap guru, kualitas guru, dan eksitensinya, maka hal itu merupakan upaya meningkatkan mutu pendidikan dan prosesnya. Demikian pula sebaliknya, bila rendah dan buruk cara pandang kepada guru, tentu berimbas pada rendahnya kualitas proses pendidikan.

Selain itu, paradigma guru dan orang tua dari anak didik pun perlu pembenahan, khususnya tentang ‘bentuk hubungan’ yang dijelaskan di atas. Begitu juga dengan arti pendidikan, jangan hanya dipersempit pada makna pengajaran saja. Tapi pendidikan harus dimaknai luas melalui keteladanan oleh guru, bimbingan, dan pembinaannya sehingga pengajaran dan pembinaan menjadi satu dari proses yang dilakukan oleh guru dan tidak terpisah. Maka pada akhirnya, keteladanan guru menjadi hal yang amat penting, khususnya ketika menanamkan nilai-nilai kebaikan. Sebab, tanpa ada keteladanan maka tidaklah ada artinya pendidikan akhlak mulia bagi anak didik.

Juga tentang makna ‘tugas guru’. Setiap guru—apapun materi yang diampu—harus merasa gundah dan risau serta memiliki tangung jawab bila ada adab dan etika anak didik yang belum sempurna, sehingga setiap guru dapat memberikan perhatiannya. Demikian halnya pada setiap orang tua. Sebagai guru pertama, orang tua tidak bisa berlepas diri 100% dengan telah perginya anak ke sekolah. Sebab sekolah sifatnya adalah membantu pendidikan anak-anak. Maka dalam hal akhlak mulia, setiap orang tua masih memikul beban yang sama berat. Tentunya beban berat pendidikan akhlak tersebut masih bisa dilakukan melalui cara nasehat, memberi semangat, memberi reward and punishment, dan juga melalui keteladanan di lingkungan keluarga.

Maka, terkait dengan budaya antri yang lebih diutamakan dari pada pelajaran matematika pada kasus guru di Jepang tersebut, tentunya sudah bisa dipahami bahwa pembangunan karakter pada anak didik sangat membutuhkan pendekaatan pembiasaan dan keteladanan langsung secara terus-menerus. Siapa pun dia, guru atau orang tua, keduanya dapat banyak memberi pengaruh positif kepada anak didik.

Mengharapkan anak didik memiliki karakter, adab, maupun akhlak mulia tanpa membicarakan siapa dan bagaimana gurunya, maka sampai kapan pun harapan itu hanyalah mimpi. Konsep tentu penting, tapi membahas implementasi konsep jauh lebih penting. Dalam proses pendidikan, sebaik dan sehebat apapun konsepnya jika tidak serius membicarakan guru-guru yang menjadi bagian penting dalam proses tersebut, maka upaya itu masih sebatas gagasan. Sedangkan kompetensi lulusan ataupun hasil pendidikan sangat berkaitan dengan praktek di lapangannya. Oleh karena itu, penanaman nilai pada anak didik menjadi sejalan dengan slogan ‘guruku teladanku’.


08 June 2017

100% LULUS!

Kabar gembira menghampiri keluarga besar Muslim Cendekia Madani di bulan ramadhan 1438H ini. Empat orang pelajarnya yang mengikuti tes seleksi penerimaan mahasiswa ke timur tengah berhasil lulus. Bersama dengan 5942 orang peserta yang tersebar pada 12 lokasi di Indonesia, para pelajar MCM bersaing memperebutkan kesempatan untuk berkuliah di negara timur tengah seperti Mesir, Maroko, Lebanon, dan Sudan pada tanggal 25 Mei 2017. Khusus untuk para pelajar MCM memilih Universitas Al-Azhar Cairo Mesir. 


Universitas Al-Azhar Mesir sendiri memiliki magnet kuat bagi keluarga muslim yang ingin menuntut ilmu. Peminatnya dari tahun ke tahun masih menempati peringkat yang tinggi. Kampus yang telah berusia lebih 1030 tahun tersebut memiliki daya pikat bagi berbagai negeri Islam. Dari 500 ribu mahasiswa yang tercatat sebagai mahasiswanya, lebih dari 60 ribu diantara mereka adalah mahasiswa asing. Mahasiswa asing dari Asean diperkirakan memiliki jumlah mahasiswa(i) terbanyak di kampus tertua tersebut.

Indonesia yang memiliki lembaga pendidikan Islam terbanyak di dunia—dengan jumlah pelajar yang juga banyak—memiliki para lulusan yang berkeinginan kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir. Banyak sebab yang melatarbelakangi hal tersebut. Diantaranya karena Mesir sebagai negeri para nabi—dijuluki sebagai negeri dengan seribu menara dan kaya akan ulama tersohor—memang amat cocok sebagai tempat belajar lanjutan bagi para pelajar muslim dari Indonesia, khususnya bagi mereka yang memiliki kecenderungan berpikir  tajam, kritis, dan gigih dalam menuntut ilmu. Untuk para pelajar yang berkarakter manja akan terasa kurang pas jika memilih ke Universitas  Al-Azhar.  Keistimewaan ini yang membuat Universitas Al-Azhar selalu diminati dari tahun ke tahun. Bahkan, ada para alumni yang mengatakan, ‘jika saja ada kesempatan lagi menjadi mahasiswa, maka saya akan tetap memilih Al-Azhar sebagai tempat kuliah.’

Hal inilah yang kemudian menjadi perhatian para pengelola di Muslim Cendekia Madani. Sejak awal, Muslim Cendekia Madani memang memfokuskan materi bahasa Arab dan al-Qur’an sebagai bekal melanjutkan kuliah di Luar Negeri (dalam hal ini adalah negara-negara timur tengah). Berbagai inovasi dalam hal metode, cara, dan teknik pengajaran, yang juga didukung oleh para mentor yang mumpuni, dilakukan untuk membuat para pelajarnya mampu menguasai bahasa Arab dengan mudah dan baik. Selain itu, hal terpenting dalam proses pengajaran di Muslim Cendekia Madani adalah pembinaan karakter anak dalam hal ketekunan belajarnya, ketajaman berpikir, memiliki daya kritis, santun pada orang tua dan hormat guru, mandiri, pribadi yang tangguh, serta membina kesadarannya untuk beribadah tanpa ada paksaan. Karakter seperti ini sangatlah dibutuhkan oleh mereka yang ingin ‘merantau’ menuntut ilmu di negara-negara timur tengah, khususnya Mesir.

Al-syukurillah, tanggal 8 Juni 2017 para pelajar Muslim Cendekia Madani berhasil memenuhi target yang telah ditetapkan: menembus tes masuk kuliah di timur tengah. Semoga hal ini menjadi awal yang baik bagi mereka untuk menggali ilmu yang lebih banyak dari para pakar-pakar Islam yang memang dimiliki oleh Universitas Al-Azhar.

Tentunya kebahagiaan ini bukan hanya milik para mentor yang telah mendidik dan membina mereka, tapi juga milik seluruh keluarga besar Muslim Cendekia Madani. Untuk itu para mentor tetap mengarahkan, “Jangan pernah merasa sudah selesai berjuang. Justru inilah tonggak awal dari perjuangan kalian dalam belajar Islam yang lebih luas dan mendalam untuk izzah agama Allah dan kejayaan Indonesia dengan Islamnya kelak. Tetaplah fokus dan semangat. Semoga Allah selalu meridhai apa yang kalian cita-citakan.”





10 May 2017

Dunia Literasi Di Muslim Cendikia Madani

Oleh: Dr. Ulil Amri Syafri

Penulis memiliki kemiripan dengan seorang florist atau perangkai bunga. Keduanya sama-sama memiliki jiwa seni yang mampu membuat kagum banyak orang dengan karyanya. Menjadi seorang florist yang memiliki kemampuan hebat dalam seni merangkai bunga tentunya melalui proses belajar. Seni tersebut berkembang dan terus berkembang sesuai pengamatannya. Semakin banyak pengamatan terhadap ilmu tersebut yang diiringi dengan banyak berlatih merangkai bunga, maka ia akan menjadi seorang florist yang berseni tinggi, karyanya akan dikagumi dan akan selalu dikenang.


Pun demikian halnya seorang penulis. Dibutuhkan seni dan ilmu dasar yang berkaitan dengan dunia literasi. Seperti seorang florist, dibutuhkan kemampuan merangkai apa yang ada dalam pikiran menjadi sebuah kalimat-kalimat yang terstruktur dan nantinya menjadi sebuah tulisan yang indah.

Salah satu modal dasar untuk menjadi penulis adalah gemar membaca. Sebab dengan banyak membaca akan membantu meningkatkan kemampuan merangkai kata dan seni dalam tulis menulis. Selain cinta membaca, calon penulis juga harus sering berlatih membuat tulisan, baik pendek ataupun panjang. Dengan pola seperti ini maka potensi menjadi penulis yang bercita rasa tinggi akan mudah diraih.

Dalam dunia pendidikan, ilmu dasar penulisan bagi pelajar di negara kita adalah penguasaan materi Bahasa Indonesia. Materi ini menjadi pelajaran wajib yang harus diajarkan di setiap lembaga pendidikan Indonesia, mulai dari level paling dasar hingga perguruan tinggi (Sisidiknas 2013). Namun sayang, meskipun para pelajar rutin belajar bahasa Indonesia, tetap saja tidak menghasilkan pelajar yang cinta membaca, apalagi gemar mengarang. Maka, bila para pelajar ditanya tentang kesukaan mereka pada dunia literasi, akan mudah ditebak jawabannya.

Hasil penelitian tahun 2012 memperlihatkan bahwa persentase minat membaca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen. Artinya dalam 10.000 orang hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Betapa rendahnya! Oleh karena itu perlu paradigma dan strategi yang baru dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia. Apa gunanya mempelajari bahasa Indonesia di setiap level pendidikan dengan rentang waktu yang panjang, jika memunculkan rasa gemar membaca saja tidak terwujud. Belum lagi masih banyaknya para pelajar yang berkomunikasi—baik di dunia nyata maupun dunia maya—dengan bahasa yang kurang layak. Tentu saja untuk menjadi seorang penulis yang dimaksud dalam tulisan ini akan semakin sulit dan berat.

Menjadi seorang penulis hebat tentu tidak mudah, tapi proses menuju ke arah itu bukanlah sesuatu yang berat bila dilalui dan ditempuh jalannya. Apalagi media tempat belajar menulis kini amatlah mudah. Sebut saja media sosial yang bisa menjadi ajang belajar membuat tulisan, seperti meng-update status di facebook, twitter, instagram, path, dan sebagainya. Paling tidak, ilmu bahasa Indonesia yang didapat di sekolah bisa digunakan untuk melatih dan memperkaya tulisan-tulisan yang di-update.

Dunia Literasi di Muslim Cendekia Madani
Salah satu cara pembelajaran bahasa Arab di Muslim Cendekia Madani adalah bimbingan untuk membuat dan mengelola blog dengan bahasa Arab, setelah enam bulan sebelumnya mendapatkan materi-materi bahasa Arab secara intensif. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengembangkan kemampuan para pelajar agar menguasai bahasa Arab dengan lebih baik.

Para pelajar tidak saja mempraktekkan secara langsung ilmu-ilmu bahasa Arab yang telah dipelajari, tapi juga berlatih mengunakan istilah-istilah internet dan tekhnologi dalam bahasa arab sebagai kekhasan materi belajar bahasa Arab di Muslim Cendekia Madani. Boleh dibilang, para pelajar di Muslim Cendekia Madani menggunakan perkembangan bahasa Arab mutakhir yang digunakan dalam interaksi di dunia maya. Oleh karenanya, cara belajar dengan membuat dan mengelola blog berbahasa Arab tersebut pada akhirnya tidak saja ansich belajar bahasa arab, tapi juga berlatih untuk menulis secara terus menerus.

Untuk mewujudkan kemampuan tulis menulis yang baik dalam bahasa Arab, maka Muslim Cendekia Madani mengadakan latihan intensif pengembangan bahasa Indonesia dalam bentuk pembiasaan mengarang untuk para pelajarnya. Sebab, bagaimana mereka mampu menulis dengan baik menggunakan bahasa Arab jika menulis dalam bahasa Indonesia pun belum terlatih dengan baik?
Dalam prosesnya, selama empat jam dalam sepekan para pelajar dibimbing, dibiasakan, dan dilatih untuk menulis tulisan-tulisan yang beragam dalam bahasa Indonesia. Mulai dari menulis bebas (free writing), resensi buku, membuat intisari cerita, hingga membuat tulisan ilmiah. Tulisan-tulisan itu kemudian dimasukkan ke dalam blog yang telah dibuat sebelumnya oleh para pelajar. 

Dalam hal ini, saya sependapat dengan pendapat yang mengatakan bahwa perkembangan tekhnologi yang di dalamnya ada internet dan gadget justru bisa membuka terobosan baru dalam penumbuhan minat baca dan menulis pada para pelajar. Namun demikian setiap lembaga pendidikan harus tetap hati-hati. Perkembangan teknologi bisa sangat positif jika para pelajar dididik cerdas untuk memanfaatkannya.

Sebaliknya, jika para pelajar menggunakan internet—utamanya media sosial—hanya sekedar sibuk update status, chatting, dan berkomentar sekedar di status teman, maka mereka belajar bahasa pada level dasar secara terus menerus. Lalu, kapan bisa menjadi penulis yang hebat?

Inilah yang kemudian diterapkan di Muslim Cendekia. Perkembangan teknologi yang ada dijadikan sebagai sarana untuk berlatih menulis, baik dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa Arab. Penggunaan blog dalam menampilkan hasil karya tulisan para pelajar secara tidak langsung menimbulkan rasa percaya diri, bahwa mereka juga mampu menghasilkan sebuah tulisan yang dapat dinikmati secara luas dalam ruang lingkup dunia. Tentu saja ini menimbulkan semangat mereka untuk terus menulis dan mengasah kemampuan mengungkapkan buah pikiran ke dalam sebuah karya tulis.

Jadi, teruslah belajar dan berlatih berbahasa dalam bentuk seni menulis yang baik. Karena teknologi pun kini sudah siap men-support calon penulis yang karyanya akan dikenang pembacanya kelak. Belajar dan berlatih bahasa berarti belajar berkomunikasi dengan bahasa yang baik. Belajar bahasa berarti melahirkan minat dan cinta membaca yang tinggi. Belajar bahasa juga hendaknya menghasilkan pelajar yang mahir menulis dengan seni tulis yang mengagumkan seperti layaknya floristy. Maka, empat jam dalam sepekan untuk latihan dan mengasah kemampuan tulis-menulis ini bisa terasa kurang bukan?





24 April 2017

Tips Mencari Sekolah Untuk Keluarga Muslim

Oleh: Dr. Muhyani*


Tugas orang tua dari keluarga muslim yang utama adalah mengantarkan anak menjadi generasi yang tangguh serta taat pada Allah dan Rasul-Nya, sehingga anak selamat dari siksa neraka. Karena itu orang tua hendaknya memperhatikan keagamaan, program dan juga memperhatikan lingkungan tempat anak akan dididik. Orang tua boleh berkeinginan untuk menjadikan anaknya apa saja asalkan tidak menyalahi prinsip pendidikan Islam.
Berikut ini ada beberapa tips memilih lembaga pendidikan bagi keluarga Muslim:
Pertama, pilih lembaga pendidikan yang aqidahnya benar. Di jaman sekarang ini lembaga-lembaga pendidikan Islam banyak bertebaran di pelosok negeri. Mulai dari lembaga pendidikan mahal yang menawarkan berbagai keunggulan-keunggulan dalam proses pendidikannya, hingga lembaga pendidikan berbasis home schooling yang kian diminati oleh orang tua muslim. Dari keseluruhan lembaga-lembaga tersebut, pilih lembaga pendidikan yang memperhatikan konsep pembinaan keagamaannya berbasis al-Qur’an dan Hadis. Hal ini menjadi pondasi awal untuk membentuk anak agar tumbuh menjadi seorang muslim yang berakidah lurus.

Kedua, pilih yang mengajarkan anak untuk sadar beragama, menjalankan agama berdasarkan ilmu. Lembaga pendidikan yang baik harus mengedepankan tradisi keilmuan dalam membina para pelajarnya. Artinya, semua ilmu-ilmu yang diajarkan harus didasari oleh ilmu-ilmu yang ada, bukan berdasarkan kebiasaan atau tradisi.

Ketiga, mengutamakan pengamalan adab-adab Islam dalam keseharian. Lembaga pendidikan Islam yang baik adalah lembaga pendidikan yang dapat menerapkan apa yang diajarkan, apa yang dididik, dan apa yang dibina pada pelajarnya. Jadi, ilmu-ilmu yang mereka dapatkan tidak hanya dihapal dan dipelajari, tapi juga dipraktekkan secara langsung dalam proses pendidikannya. 


Keempat, program pendidikan nya jelas dan efektif. Sudah menjadi keluhan banyak pihak bahwa sistem pendidikan di Indonesia terlalu membuang waktu dan tidak efektif. Ketika masuk pendidikan menengah misalnya, anak dihadapkan pada banyak materi yang menguras waktu dan tenaga, padahal kesemua materi tersebut tidak diperlukan ketika anak akan melanjutkan ke perguruan tinggi, hanya sebagian kecilnya saja. Alangkah baiknya jika orang tua memilihkan lembaga pendidikan yang fokus dan mendalam, agar sejak awal anak mulai diarahkan sesuai dengan keinginannya. Sehingga, materi-materi yang diberikan bisa diberikan secara efektif sehingga peluang untuk menguasai bidang keilmuan tersebut secara dini sangat besar.

Kelima, pilih yang memberikan skill menghadapi masalah dalam hidup. Hampir kebanyakan lembaga pendidikan menitikberatkan proses pendidikannya pada penguasaan kognitif semata. Demi memperoleh nilai UN yang baik, anak dijejali materi-materi keilmuan sehingga melupakan pembinaan mentalnya. Salah satu pembinaan mental yang terlupa dalam proses pendidikan sekarang adalah mendidik jiwa anak agar tangguh, kuat, dan tawakkal pada setiap masalah yang ada dihadapannya. Lembaga pendidikan yang baik tahu betul bahwa kesuksesan dan keberhasilan anak tidaklah diukur oleh besaran nilai tes yang ada, tapi seberapa kuat karakter dan kepribadian anak dalam menghadapi permasalahan yang menghadang langkahnya.  

Keenam, memperhatikan kesehatan anak baik secara fisik maupun psikis. Makanan dan minuman yang dikonsumsi sangat berpengaruh pada kondisi fisik dan psikis seorang anak. Jika sejak kecil pola makan yang diberikan pada anak keliru, makan hal ini akan berimbas pada kecerdasan, ketenangan jiwa, dan ketahanan fisik anak. Padahal, untuk menuntut ilmu dengan baik, dibutuhkan tubuh yang sehat dan kuat, pikiran yang tenang dan stabil, serta ketajaman berpikir yang baik. Dalam hal ini, memilih lembaga pendidikan yang concern terhadap pola makan sebagai basis kesehatan jasmani dan ruhani sudah menjadi keharusan pada saat ini. 
Ketujuh, dibina oleh guru yang kompeten keilmuannya. Salah satu problem dalam pendidikan adalah para pengajar kurang memiliki kompetensi dalam bidang keilmuan yang diajarkannya. Misalnya, banyak para guru yang mengajarkan ilmu-ilmu Hadis tapi bidang studi yang mereka ambil bukanlah ilmu-ilmu Hadis. Sehingga mereka tidak maksimal dalam mengajar atau mendidik anak, atau bisa dikatakan hanya sekedar mengajar saja. Lembaga pendidikan yang baik adalah lembaga pendidikan yang memiliki tenaga pengajar sesuai dengan kompetensi keilmuannya, agar dapat mendukung keberhasilan proses pembinaan intelektual anak.

Kedelapan, iklim lembaga pendidikan yang kondusif, penuh kekeluargaan, saling asah, asuh, dan asih. Kondisi pendidikan di Indonesia kini dipenuhi dengan kasus ‘bullying’. Adat ketimuran yang dimiliki dalam proses pendidikan dahulu kini berganti dengan kebiasaan mengejek dan menghina, baik secara fisik ataupun psikis. Penting untuk orang tua agar melihat dari dekat seperti apa proses pergaulan di sebuah lembaga pendidikan. Ini dilakukan agar bisa menyelamatkan anak dari kebiasaan ‘bullying’ yang sudah menjadi kelumrahan dalam sebuah institusi pendidikan, boarding school ataupun non boarding school.

Selamat memilih lembaga pendidikan yang tepat untuk sang buah hati. Semoga pilihan para orang tua membawa kebahagiaan dan keberkahan bagi anak-anak keluarga muslim dunia dan akhirat. Aamiin.
·   

 *Mentor lembaga pendidikan Muslim Cendekia Madani dan pakar psikologi pendidikan Islam



23 April 2017

Bahasa Arab Sebagai Pengantar Pembelajaran Ilmu Komputer

Pelajar MCM belajar membuat dan mengelola blog dengan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya
Bila anda berkesempatan untuk mengunjungi berbagai lembaga pendidikan berbasis pesantren di Indonesia, maka anda akan menjumpai berbagai macam tingkat pengajaran bahasa Arab dengan berbagai variasi metodenya.

Saat berkunjung barangkali anda akan menjumpai pengajaran bahasa Arab sederhana dengan metode pengenalan benda-benda di sekitar sekolah ataupun di sekitar asrama ditambah percakapan-percakapan sederhana seperti "Man anta?" "Masmuka?" "Min aina anta?" diikuti dengan peningkatan jumlah mufradat (kosakata) sedikit demi sedikit dari puluhan, ratusan hingga ribuan kata.

Bisa jadi pula anda menjumpai pengajaran bahasa Arab di tingkat tsanawiyyah dan aliyyah yang lebih mengedepankan kaidah-kaidah Nahwu (Tata Bahasa Arab) dan Sharaf (Ilmu Derivasi Kata) sebelum menguasai kemampuan istima' (listening) dan takallum (conversation) yang tentu punya konsekwensi tersendiri, yaitu timpangnya kemampuan peserta didik dalam kaidah-kaidah bahasa dengan minimnya penguasaan mufradat yang berakibat pada lemahnya penguasaan bahasa itu sendiri. Fenomena ini banyak dijumpai di pesantren-pesantren di Indonesia, termasuk juga di wilayah asia tenggara.

Di lembaga-lembaga setingkat diploma bahasa Arab, pengajaran bahasa Arab lebih maju dan disampaikan secara aktif dan komprehensif. Dalam artian, bahasa Arab digunakan setiap hari secara aktif dan dalam banyak bidang yang tentunya hal yang demikian itu adalah sesuatu yang menggembirakan, sebab inti dari sebuah bahasa -apapun bahasanya- adalah mumaarasah alias praktik! Tanpa itu, kita bisa jadi lupa akan bahasa ibu kita sendiri jika tidak pernah mempraktikkannya.

Dalam pengembangan bahasa Arab di Indonesia, meski penggunaannya cukup variatif di lembaga-lembaga berbasis pesantren dan ma'had aly, namun tetap ada keterbatasan penggunaan karena tujuan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia masih sebatas untuk mengkaji dan mendalami sumber-sumber referensi ilmu-ilmu syariat. Maka tak heran bila istilah-istilah bahasa Arab yang jamak dikenalkan di pesantren-pesantren, tempat-tempat kursus dan ma'had-ma'had aly tersebut masih terbatas pada istilah-istilah yang terkait dengan ilmu-ilmu keislaman.

Mufradat yang dihafal masih terkait erat dengan ilmu Nahwu, Sharaf, Balaghah, Arudh, Manthiq, Aqidah, Fiqh, Ushul Fiqh, Al-Quran, Al-Hadits, Akhlaq, atau segala sesuatu yang boleh kita sebut sebagai Kitab Kuning Sentris, ditambah dengan mufradat seputar keperluan sehari-hari seperti benda-benda yang dikenal di rumah, di asrama, di kelas, di lapangan, di masjid, di perpustakaan dan kata-kata kerja yang terkait dengannya.

Hal itu dapat kita jumpai dengan jelas di dalam kitab-kitab muqarrar (buku pegangan) pembelajaran bahasa Arab seperti Al-Arabiyyah Lin Nasyi'in (yang banyak digunakan di Indonesia), Durusul Lughah Al-Arabiyyah, Silsilah Ta'lim Al-Arabiyyah (yang banyak digunakan di mahad-mahad aly di Indonesia), Metode Mustaqilli, dan banyak lagi.

Maka saat alumninya berinteraksi dengan media-media berbahasa Arab seperti majalah-majalah timur tengah, media-media online, channel televisi timur tengah, ataupun siaran radio berbahasa Arab yang menggunakan bahasa Arab paling mutakhir, barulah terasa sulitnya mengikuti dan memahami bahasa Arab tersebut.

Belum lagi jika membayangkan diberi amanah untuk menjadi mutarjim faury (live translator) dalam seremoni-seremoni kenegaraan atau kunjungan-kunjungan politik bilateral seperti yang biasa kita lihat di televisi. Saat itu barangkali bahasa Arab berubah menjadi mimpi buruk yang mengerikan bagi fresh graduate dari pesantren-pesantren yang dikenal aktif berbahasa Arab karena ternyata banyak istilah-istilah modern dalam berbagai disiplin ilmu yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya.

Istilah-istilah bahasa Arab tentang ekonomi, militer, matematika, sains, komputer, kedokteran, industri, pertanian, politik atau sosiologi yang muncul di koran-koran berbahasa Arab ataupun di media-media online menjadi sesuatu yang sulit difahami karena memang tidak pernah diajarkan di lembaga-lembaga berbasis pesantren atau mahad-mahad aly tersebut.

Terlebih lagi, ada salah seorang pemerhati perkembangan bahasa Arab asal Indonesia yang menyatakan bahwa koran-koran berbahasa Arab di timur tengah, setiap harinya memunculkan 25 kosakata baru dalam bahasa Arab, yang bila kita hitung kasar, maka ada lebih dari 9000 kosakata baru per tahun. Maka kita bisa membayangkan betapa tertinggalnya pembelajar bahasa Arab hanya untuk masa satu dasawarsa saja.

Di sinilah perlunya pengembangan bahasa Arab lebih jauh melebihi dasawarsa-dasawarsa yang telah lalu dan menempatkannya sejajar dengan bahasa internasional lainnya seperti bahasa Inggris, Mandarin, Jepang dan Korea yang menyerbu Indonesia melalui film-film, budaya dan produk-produk teknologinya. Dengan usaha ini kita berharap bahasa Arab di masa yang akan datang tidak hanya berhenti menjadi bahasa kajian Al-Quran dan Al-Hadits saja, namun juga menjadi bahasa keseharian kaum muslimin Indonesia yang digunakan dalam lapangan apapun.

Memang sulit membayangkan anak-anak kita mempelajari dengan serius istilah-istilah matematika, sains, teknologi dan kedokteran dalam bahasa Arab. Sebab, diakui ataupun tidak, kita masih bertanya suatu hal yang prinsipil -atau setidaknya dianggap demikian- "Apa gunanya?" Bukankah mereka akan berdakwah dan berkarya di Indonesia yang notabene berbahasa Indonesia?

Jawaban atas pertanyaan di atas kembali kepada visi masing-masing dari kita. Apakah ikhtiar kita sekarang dalam mengajarkan bahasa Arab kepada anak-anak kita sebatas ingin agar mereka bisa mengkaji Al-Qur'an dan Al-Hadits lebih baik dari kita? Ataukah kita mempunyai tumuuh atau ambisi yang lebih besar, seperti kita berharap bahwa anak-anak kita menjadi pemain utama dalam percaturan peradaban dunia di masa yang akan datang? Bilamana kemudian di masa 10-20 tahun lagi, di saat bahasa Arab menjadi bahasa populer -sekaligus bahasa kebanggaan- anak-anak muslim Indonesia, tidakkah kita melihat anak-anak kita akan ketinggalan bila tidak memaksimalkan potensinya sejak sekarang?

Menjawab visi tersebut, Muslim Cendekia Madani berusaha mengembangkan sesuatu yang baru di kelas-kelas pembelajaran bahasa Arabnya. Di samping Al-Arabiyyah Baina Yadaik yang menjadi buku ajar standar dalam pembelajaran tingkat dasar dan menengah, MCM juga memberikan kelas-kelas pembelajaran komputer dengan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya.

Pembelajaran semacam ini tentu membutuhkan persiapan, yaitu keharusan adanya pengenalan mufradaat (kosakata) yang berhubungan dengan ilmu komputer dan teknologi sebelum dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran ilmu komputer.

Contohnya, kata monitor dalam bahasa Arab yang resmi disebut "Asy-Syaasah." Sedangkan keyboard disebut "Lauhatul Mafaatih," lalu mouse disebut "Al-Fa'rah," printer disebut "Ath-Thaabi'ah," scanner disebut "Al-Maasih" dan proyektor disebut "Al-Mishlaath." Adapun istilah resmi untuk touch screen adalah "Asy-Syaasah Al-Maasihah," lalu untuk aplikasi digunakan kata "At-Tathbiiq" dan untuk menyebut medsos digunakan istilah "Wasaail Al-I'laam Al-Ijtimaa'iyyah" dan masih sangat banyak lagi.

Paling tidak, peserta didik diwajibkan menghafal sekitar 250-500 kata bahasa Arab yang terkait dengan istilah-istilah ilmu komputer sebelum pembelajaran materi-materi ilmu komputer itu dimulai.

Di antara materi-materi ilmu komputer yang diajarkan adalah:
  • Operating System (Nizham At-Tasyghil).
  • Word Processor (Mu'alijul Kalimaat).
  • Presentation (Al-'Ardlu).
  • Animation (At-Tahriikah).
  • Sound Editing (Tahriir Ash-Shauth).
  • Blog (Al-Mudawwanah).
  • Posting (An-Nasyr).
  • Custom Template (Al-Qaalib Al-Mukhashshash).
  • Source Code Modification (Ta'diil Mashdar Ar-Ramz).
  • Custom Domain (An-Nithaaq Al-Mukhashshash).
  • Document Embedding (Tadhmiin Al-Mustanad).
  • Social Media (Wasaail Al-I'laam Al-Ijtimaa'iyyah).
  • Computer Security (Himaayatul Haasuub).
  • Dan lain-lain.
Peserta didik di MCM sangatlah antusias dengan materi-materi ini karena berkenaan langsung dengan dunianya. Sebab, para remaja di zaman ini adalah para remaja dari generasi yang memang terlahir melek komputer dan melek internet bila dibandingkan dengan para remaja di era 90-an. Maka, meski istilah-istilah bahasa Arab yang harus mereka hafal terbilang asing dan sama sekali baru, namun rasa keingintahuan mereka jauh melebihi hambatan-hambatan kecil tersebut.

Benar memang bila bahasa adalah masalah mumaarasah, namun menemukan tombol yang tepat untuk menggerakkan para remaja ini agar bersuka cita dalam belajarnya adalah masalah serius bagi para pendidik. Karena dalam dunia pendidikan terdapat satu aksioma yang menyatakan bahwa metode selalu lebih penting daripada materi dan pendidik selalu lebih penting daripada metode.

Adalah satu kepastian bahwa para remaja ini akan tumbuh dewasa di dunia masa depan yang akan sangat tergantung dengan komputer dan perangkat elektronik, maka mengajarkan ilmu komputer kepada mereka di usia dini ibarat mengajarkan cara mengetik cepat metode 10 jari kepada sekelompok orang yang masih menulis dengan batu sabak. Siapapun yang menguasainya laksana manusia melek di tengah kampung tuna netra. Dia pasti menjadi pemimpin mereka. Ditambah dengan kemampuan penggunaannya dalam bahasa Arab, maka mereka akan menjadi pemimpin yang unik di masanya.

Tidakkah ini menjadi visi kita tentang masa depan anak-anak kita?

10 April 2017

Benarkah Belajar Bahasa Arab itu susah, ribet, dan repot?

Image result for belajar bahasa arab kantun

Oleh : Dr. Ulil Amri Syafri

Keluhan pertama dalam mempelajari bahasa Arab adalah SUSAH. Kata tersebut berada pada posisi teratas untuk mendeskripsikan tingkat kesulitan mempelajari bahasa Al-Qur'an ini. Tentu saja. Bayangkan, mereka harus mempelajari bahasa asing dengan banyak perubahan kata untuk setiap kata. Ada kaidah-kaidah bahasa Arab yang harus dihafal. Selain itu, metode pengajaran bahasa Arab yang sering kali diawali dengan mengajarkan Nahwu-Sharaf, membuat ‘njelimet’ para pelajar. Ditambah dengan guru yang terkesan ‘kaku’ dalam proses pengajaran, meski mereka mengajarkan bahasa, tapi pelit berkomunikasi.  Maka tak heran jika banyak para pelajar yang sudah mem-blok dirinya tidak sanggup mempelajari bahasa ini.

Pelabelan kata ‘susah’ seharusnya tidak boleh dilakukan oleh mereka yang sedang dalam proses belajar bahasa Arab, karena hal tersebut sangat merugikan. Rugi karena bahasa Arab adalah bahasa ilmu dan jendela khazanah Islam yang agung, baik klasik maupun modern. Bahasa Arab adalah bahasa peradaban sekaligus bahasa yang menyimpan sejarah panjang manusia. Bahasa Arab juga bahasa komunikasi Rasulullah SAW yang tersimpan dalam teks-teks hadis. Dengan kata lain, semua komunikasi Rasul ‘terekam’ dalam bahasa tersebut, sekaligus firman-firmanNYA yang tentu saja tertulis juga dalam bahasa Arab. Maka, mempelajarinya adalah sebuah keindahan dan keasyikan tersendiri. Karena bahasa tersebut bukan saja jendela, tapi pintu besar meraih kesuksesan.

Sesungguhnya, belajar bahasa arab itu sangat menyenangkan, mudah, ringan, serta banyak tantangan yang asyik dan khas bagi para pelajar-pelajar pemula.

Ya, belajar bahasa arab itu MUDAH dan ASYIK! Semua kemudahan dan keasyikan ini bermula dari seorang pengajar, guru, ataupun mentor bahasa tersebut. Hal ini pernah dikatakan oleh Mahmud Yunus, “metode pengajaran itu lebih penting dibandingkan materi, tetapi seorang guru itu lebih penting dibandingkan metode pengajaran. Namun ada yang lebih penting lagi dari hal itu semua, yaitu ‘Ruh’ dari guru tersebut.

Dalam proses pembelajaran, apapun bisa jadi sulit dan membosankan. Tapi dengan guru dan metode pengajaran yang tepat, materi sulit dan berat bisa menjadi mudah. Apalagi jika materinya mudah dengan para mentor yang tepat. Bukan saja materi jadi mudah difahami, bahkan  kepribadian pelajar pun akan tumbuh dan berkembang secara positif.

Konsep ini sudah dipraktekkan pada beberapa pelajar pemula bahasa Arab di Muslim Cendekia Madani. Para Pelajar ini mengakui bahwa ternyata belajar bahasa Arab itu tidak susah, tidak ribet, apalagi repot.

Misalnya Aliya, putri berusia 16 tahun ini memiliki ‘trauma’ dalam proses pengajaran bahasa Arab di awal SMA-nya. Hal ini akibat kesulitan mengikuti proses pengajarannya ketika mondok di salah satu pesantren. Bahasa Arab yang dia kenal dalam proses pembelajaran adalah qaidah bahasa atau tata bahasa arab, biasa disebut ilmu Nahwu dan Sharaf, plus tehnik pengajarannya yang klasik, yaitu menghafal tanpa faham maksudnya. Tentu saja ini menjadi awal buruk baginya. Dalam hitungan pekan, pelajaran bahasa arab tersebut menjadi sesuatu yang sulit dan tidak menyenangkan bagi dirinya.

Bersyukur Aliya punya orang tua, khususnya ibunya yang terus mengingatkan anaknya agar mau terus belajar bahasa Arab agar bisa memahami isi al Quran. “Kata Bunda, jika kita ingin menghapal al-Qur’an, akan lebih baik jika kita paham bahasanya. Jadi mempermudah kita dalam menghapal dan mempelajari isinya.” 

Aliya kini merasa enjoy, senang, dan menikmati proses pembelajarannya. Ia merasakan proses pengajaran yang diterimanya saat ini sangat jauh berbeda dengan yang pernah ia dapatkan sebelumnya. Kini ia merasa bersemangat dalam belajar bahasa Arab, padahal ia juga sudah mulai mempelajari ilmu Sharaf. Kini Aliya bisa lebih paham apa manfaat ilmu tersebut dalam berbahasa Arab.

Lain halnya Hani (15 tahun), pelajar asal sekolah dari salah satu SMPIT di pekalongan. Hani mengatakan, “Saya jadi lebih paham bahasa Arab karena lebih fokus, sehingga lebih mudah dan kuat mengingatnya.”  Hani sudah menjalani proses belajar bahasa Arab 6 bulan. Alhamdulillah, saat ini ia sudah bisa komunikasi berbahasa arab dengan baik, membaca tulisan arab tanpa harakat, menonton film-film berbahasa Arab, bahkan selanjutnya akan masuk pada proses belajar program office dan berbagai program komputer berbahasa Arab lainnya. Tentu saja hal ini adalah sesuatu yang unik dan baru, sebab bahasa arab komputer sangat special. Ini menjadi tantangan yang menyenangkan bagi Hani dan rekan-rekannya.

Pelajar lainnya adalah Muhammad Nuh Amri (14 tahun), pelajar asal Madrasah Internasional Techno Natura Depok. Ketika tahu akan ada program belajar program komputer dan web dengan bahasa Arab, ia merasa senang. Meskipun ada 700 kosa kata yang berhubungan dengan computer dan dunia maya yang harus dihapalnya, ia siap untuk melakukannya. “Gak masalah. Bahasa arabnya pasti mengasyikkan karena kosa katanya mutakhir.”

Kemudian pelajar lainnya, Ilham (18 tahun), yang sebelumnya belum pernah mendapatkan pelajaran bahasa Arab. Ia sangat menikmati proses pembelajaran bahasa Arab yang didapatkannya karena merasa metode pengajarannya unik dan sangat menyenangkan. Ia juga sangat terkesan pada para mentor yang mendampinginya belajar. “Mentor disini hebat, mampu mengajar saya yang ‘agak lambat’ dalam belajar. Biasanya, tidak ada guru yang sanggup mengajar saya, Mentor disini sangat sabar membimbing.” ujarnya.

Alhamdulillah, para pelajar sangat menikmati proses pembelajaran mereka di MUSLIM CENDEKIA MADANI. Bayangan kesulitan-kesulitan yang biasanya ada dalam belajar bahasa Arab tidak mereka temui disini. Mereka tekun dan bersemangat untuk mencapai target tahun pertama mereka, yaitu mampu berbicara bahasa Arab dengan baik, bisa berselancar di dunia maya berbahasa Arab, mengerti Program Komputer berbahasa Arab. Mereka berharap bisa mendapat kesempatan untuk kuliah di Timur Tengah dua tahun mendatang, insya Allah.

Belajar bahasa Arab susah? Tentu tidak!

Lembaga pendidikan Islam MUSLIM CENDEKIA MADANI mengurai kesulitan dan kejenuhan proses belajar bahasa Arab yang kerap dijumpai para pelajar. Memang betul pendapat yang menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran, apapun bisa jadi sulit dan membosankan. Tapi dengan guru dan metode pengajaran yang tepat, materi sulit dan berat bisa menjadi mudah. Apalagi belajar dengan materi yang mudah dan didampingi para mentor yang tepat. Jangankan materi pelajaran tersebut jadi semakin mudah, bahkan para pelajar pun mendapatkan pengalaman belajar yang mudah dan menyenangkan.

Pendidikan model ini perlu dihadirkan bagi para pelajar dan anak anak masa kini, agar anak lebih paham bahwa ternyata belajar bahasa Arab itu asik dan menyenangkan.