Cluster Casablanca, Sentul City, Bogor - Jawa Barat - 16810 | Hotline: 0813-1112-5384 (Call/SMS/WA)
1st Islamic Boarded Home Schooling

Belajar Bahasa Inggris

Para pelajar Muslim Cendekia Madani belajar bahasa Inggris langsung dengan native speaker.

Keberangkatan Alumni Belajar di Al-Azhar University Cairo

Para pelajar Muslim Cendekia Madani bersama-sama mengantar alumni yang diterima kuliah di Al-Azhar University Cairo.

Going To Al-Azhar University

Para pelajar Muslim Cendekia Madani sedang mengantarkan salah seorang alumni yang diterima di Al-Azhar University.

Bermain Futsal

Para pelajar Muslim Cendekia Madani sedang bermain futsal.

Berpetualang di Jungle Land

Para pelajar Muslim Cendekia Madani sedang berpetualang sambil belajar di Jungle Land, Sentul City.

Kunjungan Rombongan Cikgu dari Singapura

Rombongan dari Singapura, staff pembina dan para siswa Muslim Cendekia Madani - Islamic Boarded Home Schooling.

Belajar bahasa Arab di alam

Para siswa Muslim Cendekia Madani sedang belajar bahasa Arab di alam terbuka.

Belajar Bahasa Arab

Para siswa Muslim Cendekia Madani - Islamic Boarded Home Schooling belajar Bahasa Arab.

04 January 2019

Penerimaan Pelajar Rumah Pendidikan MUSLIM CENDEKIA MADANI Tahun Ajaran 2019/2020 (KHUSUS PUTRA)






Rumah Pendidikan Muslim Cendekia Madani (MCM) adalah generasi ke-7 model sekolah Islam di Indonesia. Model ini lahir dari hasil pemikiran para pakar pendidikan Islam sebagai jawaban atas problematika pendidikan yang terjadi sekarang, khususnya dalam hal cognitive oriented, minimnya pembinaan akhlak pelajar, dan konsep pendidikan formal yang penuh dengan rutinitas yang membosankan. Konsep sekolah rumah ini  mirip dengan homeschooling namun diasramakan dengan suasana Islami.

Proses pendidikan MCM memiliki kekhasan tersendiri. Diawali dengan pemilihan rumah yang akan digunakan sebagai syarat pentingnya lingkungan dalam proses pendidikan; proses pembelajarannya yang menerapkan pola pembelajaran fokus, belajar tuntas; pembiasaan hidup sehat, dalam hal ini terkait dengan pola makan sehat berbasis buah dan sayur, pembinaan fisik melalui rutinitas olahraga, dan pembinaan adab yang berdasarkan akhlak Islami dan berkurikulum mandiri. Kesemuanya ini dilakukan dalam suasana yang santai, menyenangkan, dan kekeluargaan bersama mentor selama 24 jam.

Jika pada tiga tahun pertama MCM hanya membuka untuk pelajar setingkat MA/SMU, maka tahun 2019 sekolah ini memutuskan untuk menerima lulusan SD/MI sebagai pelajar yang akan dibina dan dididik selama tiga tahun. Adapun direktur program MTs akan dipegang oleh Dr. Muhyani, M.Psi.T.

Rumah Pendidikan MCM memiliki kompetensi unggulan lulusan, diantaranya:
1. Menyiapkan pelajar yang berakhlak karimah, sholeh, dan sehat jasmani (MTs dan MA)
2. Menyiapkan pelajar untuk memiliki jiwa pemimpin dan terlatih bertanggung jawab (MTs dan MA).
3. Hafal dan cakap membaca al-Qur'an (minimal 15 juz) (MTs dan MA).
4. Cakap berbahasa Arab dan Inggris (MTs dan MA), serta bahasa asing lainnya (MA).
5. Paham sistem dan kerja IT (MA).
6. Memiliki kemampuan tulis menulis (MTs dan MA) dan jiwa seni yang tinggi.

Ijazah Kelulusan untuk para lulusan MCM akan mendapat ijazah MTs/SMP dan MA/SMU (bisa memilih).

Untuk tahun ajaran 2019/2020 ini, Rumah Pendidikan Muslim Cendekia Madani membuka pendaftaran untuk putra-putra lulusan SD/MI/sederajat, SMP/MTs/sederajat, atau pindahan untuk bergabung mengikuti pendidikan dan pembinaan diri di MCM. Kuota yang disediakan terbatas untuk tiap lulusan (MTs dan MA), maksimal 20 anak (satu villa), agar lebih maksimal dalam proses pembinaannya.

Berkas-berkas pendaftaran yang dibutuhkan antara lain:
1. Foto copy ijazah SD/MI/SMP/MTs/sederajat atau raport semester terakhir bagi yang belum mendapatkan ijazah.
2. Pas photo 4x6 sebanyak 3 lembar (B/W atau Colour).
3. Foto copy akte kelahiran.

Adapun Biaya Pendidikan untuk tahun ajaran 2019/2020 sebagai berikut:
1. Biaya pendaftaran dan tes masuk Rp. 500.000.
2. Infaq Awal Pendidikan Rp. 15.700.000 (untuk MTs) dan Rp. 17.000.000 (untuk MA).

Tes Masuk MCM akan dilaksanakan pada pekan pertama bulan Maret 2019 untuk lulusan SMP/MTs dan pekan terakhir bulan April 2019 untuk lulusan SD/MI.

Untuk yang dinyatakan lulus dapat melakukan registrasi pendaftaran dan pelunasan biaya pendidikan sampai awal April (untuk lulusan SMP/MTs) dan pertengahan Mei 2019 (untuk lulusan SD/MI).

InsyaAllah proses pembinaan dan pendidikan Rumah Pendidikan Muslim Cendekia Madani tahun ajaran 2019/2020 akan dilaksanakan di villa kawasan Sentul City Bogor.

01 January 2019

Dinamika Sekolah Islam di Indonesia


By. Dr. Muhyani, M. Psi.T

Pasca kemerdekaan proses pendidikan anak-anak di Indonesia terus berkembang, meskipun bila dilihat aspek yang berkembang tersebut masih terfokus pada pembicaraan kurikulum dan proses belajarnya. Hal ini bisa dilihat dari perubahan berbagai kurikulum di lembaga Pendidikan pada setiap jaman. Yang popular baru-baru ini adalah pergantian kurikulum KTSP ke Kurikulum13. Adapun sekolah Islam yang merupakan bagian dari sub Pendidikan Nasional juga mengalami hal yang sama, kalau tidak ingin dikatakan terpengaruh secara langsung oleh kebijakan dan sistim pendidikan nasional.

Dari beberapa pengamatan, setidak-tidaknya ada beberapa perkembangan sekolah Islam di Indonesia berdasarkan perubahan kurikulumnya, yaitu:

1. Generasi Awal (G.1)
Sekolah Konvensional standar Pemerintah (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA). Kurikulum generasi awal ini mengikuti Kurikulum Pemerintah baik itu Depdikbud ataupun Kementrian Agama terdiri atas SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA. Contohnya sekolah-sekolah yang ada di Indonesia, baik negeri maupun swasta. Kurikulumnya sesuai dengan kurikulum pemerintah.


2. Generasi II (G.2)
Sekolah Umum Islam (SDI, SMPI, SMAI). Sekolah Umum berbasis Islam. Sekolah ini muncul karena kesadaran masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas, terutama mereka yang berlatar belakang pendidikan umum tetapi mereka ingin anak-anaknya mendapat iklim Islami. Mereka mendirikan SD Islam, SMP Islam, dan SMA Islam. Sekolah generasi ini populer awal tahun 1980an. Kurikulumnya mengikuti kurikulum Depdikbud, hanya ada penambahan materi pelajaran agama terutama baca tulis Al-Quran. Sistem pengelolaan sama persis dengan Sekolah standar Depdikbud. Contoh sekolah jenis ini antara lain SDI/SMPI/SMAI Al Azhar, SDI/SMPI/SMAI Al-Izhar, SDI/SMPI/SMAI AL Ikhlas, termasuk SD/SMP/SMA yang dikelola oleh Muhammadiyah.


3. Generasi III (G.3)
Sekolah Islam Terpadu (SIT). Sekitar tahun 1987 berdirilah TK Salman di kawasan Awiligar Bandung. Berbeda dengan TK pada umumnya, yang belajar dari jam 08.00 sampai jam 10.00, TK Salman siswa mulai datang pukul 07.00 dan pulang (dijemput) sekitar pukul 16.00. Gagasan belajar dari pagi hingga sore hari didasari atas realitas banyak keluarga muda yang suami istri bekerja, sehingga masalah pengasuhan anak menjadi hal yang sangat krusial. Melihat kondisi yang demikian, para aktivis Masjid Salman yang terhimpun dalam Pembinaan Anak-anak Salman (PAS) yang awalnya hanya mengadakan mentoring tiap hari Ahad, mulai merintis TK dan diberi Nama TK Salman.

TK Salman operasionalnya mirip dengan TPA (Tempat Penitipan Anak) bedanya, peserta didik pada TK Salman mengikuti rangkaian pembelajaran yang komprehensip, diawali dengan sholat dhuha, kegiatan belajar sambil bermain secara integrasi (belajar sains, aqidah, alquran, ibadah, dan istirahat) sampai 11.00. Peserta didik selanjutnya istirahat makan siang, dilanjutkan dengan sholat dhuhur. Setelah itu mereka istirahat siang sampai menjelang masuk waktu sholat Asar, persiapan sholat Asar. Selesai shalat Asar peserta didik bersiap-siap untuk pulang sambil menunggu orang tuanya menjemput.



Ide full day school di TK Salman kemudian diadopsi oleh aktivis pendidikan di Jakarta, tepatnya di Bangka Jakarta Selatan berdirilah Sekolah full day, dengan menggabungkan kurikulum Departemen Agama (Madrasah Ibtidaiyah) dan kurikulum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Sekolah Umum) menjadi Sekolah Islam Terpadu. Mulai dari Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu, SD Islam Terpadu. Berbeda dengan SD Islam yang sudah ada dengan kurikulum yang hampir sama dengan SD Umum—hanya jumlah Pendidikan Agama Islamnya lebih dari 2 jam dan pulang sekitar pukul 13.00 (setelah sholat Dhuhur)—jumlah pelajaran SDIT lebih banyak, yaitu pelajaran yang ada pada SD Umum ditambah dengan pelajaran yang diajarkan di Madrasah Ibtidaiyah seperti Aqidah, Alquran, Hadits, Sejarah Islam, Bahasa Arab, dan Fikih, dengan waktu belajar yang lebih lama (full day school).

Pada tahun 1990 sebagian penggiat Sekolah Terpadu ada yang pindah domisili di Jl. Situ Indah Cimanggis Kabupaten Bogor (sekarang Kota Depok). Mereka mendirikan Sekolah Islam Terpadu Nurul Fikri, mulai pertama buka TKIT dan SDIT, SMPIT, dsan SMAIT Nurul Fikri yang pengelolaannya berafiliasi ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bukan ke Departemen Agama. Mulailah Sekolah Islam Terpadu dikenal oleh masyarakat pendidikan di Indonesia, dan hampir di setiap kota besar di Indonesia berdiri Sekolah Islam Terpadu.


4. Generasi IV (G.4)
Sekolah Alam. Bagi sebagian penggiat pendidikan yang dulu aktif di Masjid Salman ITB, lembaga pendidikan yang ada waktu itu masih parsial, yaitu mementingkan aspek kognitif dan hanya sedikit aspek afektif dan psikomotor, dan kelas hanya terbatas oleh tembok (dalam gedung) cenderung memisahkan dengan alam. Melihat kondisi demikian mulailah dirintis Sekolah Alam.

Sekolah Alam adalah Sekolah yang menjadikan alam sebagai sumber ilmu dan bisa dikelola oleh para peserta didik. Konsep pendidikan Sekolah Alam tidak menggunakan gedung sekolah yang mewah melainkan saung kelas dari kayu, sehingga biaya untuk gedung lebih murah. Pendidikan yang berkualitas tidak ditentukan oleh sarana gedungnya, melainkan pada kualitas guru, metode yang diterapkan dalam proses belajar mengajar, dan kurikulum yang ditunjang oleh buku yang memadai sebagai gerbang ilmu pengetahuan.

Penggagas sekolah alam di Indonesia adalah Lendo Novo. Ia merintis berdirinya sekolah alam sejak 20 tahun silam. Puncak dari pergulatan panjang Lendo dalam mengembangkan konsep sekolah di alam terbuka terjadi pada tahun 1997, saat ia dan rekan-rekannya mendirikan Sekolah Alam Ciganjur, Jakarta Selatan. Lebih lanjut Lendo Novo mengutarakan, melalui sekolah alam dia berharap akan terlahir generasi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap masalah lingkungan. "Kalau dari kecil anak sudah terbiasa hidup di alam hijau dan ditanamkan semangat mencintai lingkungan, maka begitu besar ia tidak akan melakukan penebangan pohon". Sekolah alam sekarang semakin diminati oleh masyarakat sebagai solusi mendidik anak-anak menjadi generasi yang baik.


5. Generasi V (G.5)
Homeschooling (HS). Orang tua yang merasa mampu mendidik sendiri anak-anaknya tidak menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah. Untuk kelompok ini, mereka meyakini bahwa pendidikan terbaik adalah keluarga. Alasannya adalah banyak ekses yang terjadi pada sekolah umum seperti tawuran, pergaulan bebas, dan lainnya. Sehingga mereka memilih mendidik anak-anaknya sendiri di rumah. Kebanyakan dari mereka adalah golongan menengah secara ekonomi dan berpendidikan tinggi.

Tahun 1980-an ada tokoh yang memulai yaitu Aldi Anwar, ia adalah aktivis Masjid Salman ITB yang waktu itu memilih mendidik sendiri anak-anaknya. Waktu itu masih terasa asing, tapi era 2000-an Homeschooling sudah menjadi alternatif pendidikan yang dipilih oleh orang tua.


6. Generasi VI (G.6)
Sekolah Komunitas. Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan di Indonesia, muncullah sekolah komunitas, yaitu sekolah yang dikelola oleh sekelompok orang tua murid yang mempunyai visi yang sama tentang pendidikan. Mereka ingin mendapatkan pendidikan terbagus bagi anak-anaknya tetapi dengan biaya yang ‘terjangkau’. Tahun 2000-an muncul sekolah Alternatif di Salatiga tepatnya di Desa Kali Bening, yaitu Sekolah Qoriyyah Thoyyibah. Kemunculan sekolah ini sangat fenomenal, sekolah setingkat SMP dengan segudang prestasi tetapi dengan biaya yang sangat murah, dan gedung yang sangat sederhana. Prestasi sekolah ini sudah mendunia. Yang uniknya, sekolah ini tidak mempunyai guru tetap seperti sekolah pada umumnya, gurunya adalah orang tua murid sendiri.

Sekolah model ini juga ada di Depok, namanya Sekolah Pioneer, sekolah ini hampir sama dengan Sekolah Alam tetapi lebih formal. Siswa lulusannya memiliki hafalan menimal 4 juz Al-Quran. Uniknya, pengurus yayasan hampir semuanya orang tua murid. Sehingga antara Yayasan sebagai pengelola dan orang tua murid tidak ada perbedaan. Bahkan hubungan yayasan, orang tua murid, dan guru sangat harmonis. Sekolah ini punya semboyan Pioneer adalah kita.


7. Generasi VII  (G.7)
Sekolah Rumah. Generasi terbaru adalah Sekolah Rumah model Rumah Pendidikan Muslim Cendekia Madani. Model pendidikan ini lahir dari hasil pemikiran para pakar pendidikan Islam sebagai jawaban atas problematika pendidikan yang terjadi sekarang, khususnya dalam hal cognitive oriented, minimnya pembinaan akhlak pelajar, dan konsep pendidikan formal yang penuh dengan rutinitas yang membosankan. Konsep sekolah rumah ini  mirip dengan homeschooling namun diasramakan dengan suasana Islami. 




Proses pendidikan di Rumah Pendidikan MCM memiliki kekhasan tersendiri. Diawali dengan pemilihan rumah yang akan digunakan sebagai syarat pentingnya lingkungan dalam proses pendidikan; proses pembelajarannya yang menerapkan pola pembelajaran fokus, belajar tuntas; pembiasaan hidup sehat, dalam hal ini terkait dengan pola makan sehat berbasis buah dan sayur, pembinaan fisik melalui rutinitas olahraga, dan pembinaan adab yang berdasarkan akhlak Islami dan berkurikulum mandiri. Kesemuanya ini dilakukan dalam suasana yang santai, menyenangkan, dan kekeluargaan bersama mentor selama 24 jam.

Adalah Dr. Ulil Amri Syafri, seorang dosen Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun Bogor yang menggagas konsep rumah pendidikan tersebut. Konsepnya berangkat dari pencapaian kompetensi lulusan seperti apa yang ingin dicapai, baru kemudian menentukan kurikulum dan prosesnya sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.


Demikian gambaran tentang perkembangan sekolah Islam yang bisa diklasifikasikan. Idealnya, sekolah Islam di negeri yang berpenduduk muslim ini sudah harus menyusun suatu model pendidikan yang berkualitas dan unggul, baik secara fitrah kemanusiaanya maupun aspek ketrampilan atau skill hidupnya agar siap memasuki setiap jaman perubahan.

Dahulu di Sumatra ada sekolahan unik, kalau boleh kita beri nama dengan istilah sekarang yaitu sekolahan berbasis talenta atau sekolahan berbasis bakat anak. Dari namanya saja sudah bisa ditebak orientasi pendidikannya. Orientasi itu pulalah yang akan mempengaruhi aspek kurikulum dan proses pembelajarannya. Bukan sebaliknya, gonta-ganti kurikulum, tanpa jelas orientasinya, ditambah lagi lemahnya pada aspek penyelengara, pengajar, bahkan tujuan pengajaran yang tidak terbahas dan diperhatikan secara maksimal. Dengan kata lain seharusnya perubahan suatu sekolah harus didasarkan pada orientasi yang ingin dicapai sebagai tujuan pendidikan tersebut, bukan sebaliknya.

Allahu a'lam

21 December 2018

MCM-ers in Speech

Beberapa video kemampuan para pelajar MCM dalam berbahasa Inggris:


Launching Lab Pendidikan Rumah Pendidikan MUSLIM CENDEKIA MADANI Tahap II


Rumah Pendidikan MUSLIM CENDEKIA MADANI akan menyelesaikan tiga tahun pertama lab pendidikan pada tingkat menengah di tahun 2019. Meskipun baru tiga tahun, alhamdulillah MCM sudah berhasil melepas lima lulusannya ke Universitas Al-Azhar Cairo Mesir dan satu orang ke Fakultas Kedokteran Universitas di Aceh. Untuk tahun ini, insya Allah, MCM akan meluluskan tiga pelajarnya yang siap pula melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. 

Dalam prosesnya ada beberapa ujian dan tantangan yang dihadapi MCM, khususnya terkait dengan proses pembinaan dan pendidikan para pelajar. Sebab, yang dihadapi sebagai objek pendidikan adalah karakter anak yang memiliki kecenderungan berubah dan tidak stabil, terlebih di usia-usia remaja. Banyak suka dan duka dalam membina dan mendidik kepribadian anak-anak dan kemampuan intelektualnya . Namun dengan kerja keras dan ijin Allah, semua kekurangan dan kelebihan yang terjadi selama tiga tahun ini dapat dilihat sebagai bahan evaluasi untuk mengembangkan lab pendidikan selanjutnya.

Insya Allah, Rumah Pendidikan MUSLIM CENDEKIA MADANI akan memasuki lab pendidikan tahap kedua pada tiga tahun berikutnya mulai tahun ajaran 2019/2020. Untuk tahun ini akan dibuka bagi para lulusan SD/MI/sederajat. Semoga ke depannya MCM dapat terus dalam berkontribusi mendidik dan mengarahkan generasi-generasi muslim Indonesia, kelak sebagai ujung tombak peradaban bangsa sesuai dengan kompetensi yang dihasilkannya. 



31 August 2018

MCM Goes to Kampung Inggris


“It’s August! It’s time to students of MCM back to the camp for new experiences!”

Seperti biasa, Rumah Pendidikan Muslim Cendekia Madani selalu memulai proses pembelajarannya di bulan kemerdekaan Indonesia. Setelah tahun lalu para pelajar memasuki tahun ‘Berlibur Sambil Belajar’, maka tema pembelajaran yang akan diangkat tahun ajaran 2018/2019 ini adalah ‘Tahun Bahasa dan Masyarakat’.  

‘Tahun Bahasa’ adalah tahun dimana para pelajar MCM akan mendapat penguatan materi-materi bahasa asing sebagai salah satu materi keilmuan yang diprogramkan di MCM. Artinya, tahun ini para pelajar akan fokus mempelajari dua bahasa asing, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Arab, secara tuntas dan terstruktur. Kompetensi akhir yang diharapkan adalah para pelajar mampu menguasai bahasa asing secara aktif.

Sedangkan ‘Tahun Masyarakat’ adalah tahun dimana para pelajar MCM terjun dan berbaur langsung di masyarakat, sebagai bagian dari pendidikan akhlak dan adab bermasyarakat. Dalam hal ini, para pelajar MCM didekatkan kembali pada adab dan budaya masyarakat Indonesia yang mulai ditinggalkan—khususnya pada generasi jaman now—seperti akhlak sopan santun, ramah, saling gotong royong, dan selalu bertegur sapa dengan sekitar.   

Untuk itu, MCM kemudian memilih Kampung Inggris di Pare-Kediri, Jawa Timur sebagai tempat pelaksanaan ‘Tahun Bahasa dan Masyarakat’. Adapun yang menjadi alasan pemilihan kota tersebut adalah bahwa kota Pare mempresentasikan tempat pembelajaran bahasa Inggris dengan ciri khas masyarakat perkampungan khas Indonesia.

Hampir semua orang tahu, jika ingin fasih berbahasa Inggris, pergilah ke Kampung Inggris di Pare. Tempat ini dipenuhi oleh lembaga-lembaga bahasa Inggris dengan kurikulum pembelajaran yang fokus, padat, dan terstruktur, sehingga dengan waktu yang relatif singkat mampu membuat orang yang belajar di sana menguasai bahasa asing itu secara baik.

Uniknya, meskipun letak Kampung Inggris ada di sudut kota Kediri, tapi tidak menghalanginya berkembang sebagai kota bahasa dengan tetap mempertahankan suasana perkampungan khas Indonesia. Tempat-tempat belajar bahasa—sekarang tidak hanya Inggris, tapi juga beberapa bahasa internasional lainnya, seperti Arab, Jerman, Perancis, Mandarin, Korea, Jepang—banyak bertebaran di kota itu, berbaur dengan rumah-rumah masyarakat yang dijadikan sebagai tempat tinggal mereka yang sedang belajar. Antara para pelajar dan masyarakat setempat saling berbaur dalam sebuah proses pembelajaran bahasa.

Maka sebagai pelaksanaan tema tahun ini, MCM bekerjasama dengan salah satu Lembaga Pendidikan Bahasa di Pare untuk memberikan materi-materi penguatan bahasa asing. Adapun pembinaan akhlak dan adab yang menjadi ciri khas Rumah Pendidikan MCM tetap dilakukan oleh mentor utamanya—Buya Dr. Ulil Amri Syafri, Lc., MA.—yang ikut mendampingi para pelajar di Pare-Kediri.

"Oke, kids. Let’s the experience begin!"

14 June 2018

Selamat Jalan, Ramadhan 1439H …

Waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin kaum muslimin menyambut tibanya bulan Ramadhan. Bulan yang penuh berkah. Bulan yang penuh dengan kemurahan dari Allah SWT. Tak terasa, kini kaum muslimin di seluruh penjuru dunia sudah berada di penghujungnya. Siap ataupun tidak, kita semua akan berpisah, melepas kepergiannya seiring terbenamnya matahari di ufuk Barat.
Dalam kehidupan manusia, beribadah setiap detik, setiap hari, dan setiap bulan terasa sangat Istimewa di sisi-Nya. Namun beribadah dan beramal kebaikan pada bulan Ramadhan—baik siang maupun malam—memiliki keistimewaan yang tidak bisa dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Seperti yang diungkapkan dalam al-Qur’an dan di banyak hadis Nabi Muhammad saw, bahwa beribadah dan menempa diri dengan keshalehan di bulan Ramadhan akan menaikkan kualitas kehambaan di sisi-Nya. Bukan saja kualitas diri yang meningkat tajam, tapi pencapaian dan perolehan ampunan terhadap dosa dan kesalahan masa silam menjadi titik tolak kehidupan baru bagi seorang muslim yang taat di hadapan Allah ‘aja wajalla.

Agar setiap muslim lebih bisa menghayati kehadiran dan perpisahan bulan Ramadhan, tulisan ini mencoba me-review makna bulan tersebut dalam rangkaian kehidupan kita sebagai kaum muslimin. Dalam hal ini ada tujuh hal yang perlu dikenang terkait dengan bulan Ramadhan. 

Pertama, Ramadhan menjadi saksi nuzul-nya al-Qur’an. Pada bulan tersebut Allah SWT menurunkan kitab suci itu dari lauhful mahfudz ke langit dunia, untuk selanjutnya disampaikan oleh Jibril as. kepada Nabi Muhammad saw. secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan peristiwanya. Hari-hari nuzul al-Qur’an ini menjadi awal bentuk kecintaan dan sayangnya Allah SWT kepada ummat Nabi Muhammad saw. agar mereka hidup dalam bimbingan al-Qur’an. Andai pun tidak ada kehebatan yang terdapat pada bulan Ramadhan tersebut, maka peristiwa nuzul al-Qur’an tersebut sudah sangat cukup untuk menjadikan bulan ini sangat istimewa.

Kedua, Ramadhan menjadi saksi terjadinya Fathul Makkah pada tahun delapan Hijriyah. Fathul Makkah menjadi awal titik tolak kemuliaan dan kekuatan umat Nabi Muhammad saw. Para sahabat Nabi dipimpin langsung oleh Rasulullah saw. kembali ke kampung halamannya di Makkah Mukarramah dan menjadikannya kota yang damai tanpa ada kekerasan dan pertumpahan darah. Bulan Ramadhan menjadi saksi peristiwa yang sangat monumental tersebut. Peristiwa yang menjadikan izzah bagi kaum muslimin. Makkah berada dalam kekuasaan ummat Islam. Pasca kemuliaan Fathul Makkah, Islam tersebar di jazirah arab dan dunia secara umum.

Ketiga, Ramadhan menjadi saksi bahwa setiap detik dan waktu seorang hamba dipersembahkan untuk jalan menuju Surga-Nya. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan, Rasulullah saw. bersabda “Apabila seorang muslim masuk Ramadhan, maka pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, dan para setan pun terikat”. Pada riwayat lain Rasullullah saw. juga menjelaskan, dalam riwayat sahabat Jabir ra. yang disebutkan oleh Imam Baihaqi dalam kitabnya, “… Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan kepada surgaNya agar bersiap diri dan berhias dengan cantik untuk hambaNya yang akan beristirahat dari lelahnya duniawi dengan amal kemulian akhirat.” Bahkan di akhir hadis riwayat tersebut dinyatakan oleh Nabi Muhammad saw, “Seadainya manusia ini paham terhadap apa saja kebaikan dan kemurahan Ramadhan, maka sungguh manusia tersebut akan berharap sepanjang tahun seluruhnya Ramadhan”. Dari hadis ini terlihat bahwa detik demi detik, dari waktu ke waktu dalam bulan Ramadhan menjadi sangat istimewa untuk melakukan amal kebaikan dan ketaatan kepada Allah SWT.

Keempat, Ramadhan menjadi saksi akan kemurahan hati dan kedermawanan Nabi Muhammad saw. Ibn Abbas ra. menyebutkan, “Rasulullah saw adalah manusia yang amat dermawan, tapi beliau lebih dermawan dan pemurah saat berada di bulan Ramadhan” (HR. Imam Buhkari dan Muslim). Di lain waktu Rasulullah ditanya para sahabatnya, “Sedekah bagaimana yang lebih utama?” Rasulullah menjawab, “Sedekah di bulan Ramadhan.” Dalam upaya membangun jiwa-jiwa sahabat agar menjadi dermawan tersebut, beliau pernah menyebutkan perkara yang amat ghaib bagi manusia secara umum, yaitu tentang surga. Beliau mengungkapkan keindahan surga yang kelak akan tampak secara dzahir dan batin, transparan semua keindahannya bila dipandang mata. Lalu para sahabat bertanya, “Untuk siapa surga itu, ya Rasullullah?” Beliau menjawab, “Diperuntukan bagi orang yang puasa dan memberi makan orang yang berpuasa.” Bahkan ajaran kedermawanan ini pula yang disampaikan beliau saw kepada Muaz bin Jabal ra. dalam satu kesempatan. Saat itu Rasulullah saw. bertanya kepada sahabat Muaz bin Jabal ra., “Maukah aku tunjukan pintu-pintu kebaikan?” Lalu sahabat itu menjawab, “Tentu, ya Rasulullah.” Maka diantara yang disampaikan Nabi Muhammad saw adalah “Memberi atau bersedekah karena bisa menutup atau menjadi kafarat kesalahan seperti halnya air memadamkan api” (HR. Imam Turmudzi). Ajaran kedermawanan ini memberi pesan bahwa kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan kaum muslimin bisa diampuni Allah SWT melalui memperbanyak infaq atau sedekah di bulan Ramadhan.

Kelima, Ramadhan menjadi saksi atas kebiasaan amal Nabi Muhammad saw., yaitu kebiasaan tilawah al-Qur’an bersama Jibril as. Beliau selalu mengulang-ulang bacaan ayat al Qur’an dari Jibril as, seperti yang disebutkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tentang hal ini dalam hadisnya. Kebiasaan inilah yang kemudian menjadi tradisi ketaatan dan keteladanan bagi ulama dalam Islam, seperti yang dilakukan Imam Malik hafidzahumullah sebagai imam mazhab. Dalam sejarah disebutkan bahwa bila bulan Ramadhan tiba, beliau selalu berhenti sejenak dari kesibukannya dari membaca Hadis Nabi saw. Bahkan beliau meliburkan majelis ilmu dan mengisi waktunya dengan sibuk bertilawah al-Qur’an. Demikian pula murid beliau, Imam Syafi’i hafidzahumullah, yang bertilawah dan khatam membaca al-Qur’an dalam bulan Ramadhan sebanyak enam puluh kali. Tradisi inilah yang kini hidup dalam masyarakat muslim di seluruh dunia. Dalam hadis Rasulullah saw. tradisi ini mendapat reward khusus seperti yang disebutkan oleh imam ibn Majah, “Siapa saja yang tilawah al-Qur’an pada sepanjang waktu siang dan malam bulan Ramadhan, dan mengharamkan apa yang diharamkan juga mengalalkan apa yang dihalalkan oleh Allah SWT, maka Allah SWT akan mengharamkan daging dan darah orang tersebut tersentuh oleh api neraka, hingga pada hari kiamat kelak al Qur-an akan menjadi pembelanya”.

Keenam, Ramadhan menjadi saksi atas sabda Rasullullah saw. yang sangat terkenal dan dikutip hampir seluruh pakar hadis kenamaan seperti Imam Bukhari, Muslim, Tirmizi, Nasa’i, Abu Daud dan Imam Ahmad. Meskipun terdapat redaksi yang sedikit berbeda di setiap riwayat, namun maksudnya adalah sama. Bahwa Allah SWT akan memberi ampunan dosa yang tidak terhingga bagi setiap muslim yang benar-benar melaksanakan amal kesholehan dan ketaatan sepanjang siang dan malam pada bulan Ramadhan. Ampunan itu diibaratkan seperti halnya bayi yang baru lahir, suci tanpa dosa, manusia yang lahir dari rahim bunda tercinta. “Siapa yang menegakan atau beramal di bulan Ramadhan karena keimanannya dengan hitungan disiplin, maka Allah telah mengampuni apa aja dari dosanya yang telah berlalu”.

Ketujuh, Ramadhan menjadi saksi atas suatu malam yang jika beribadah dan beramal ketaatan pada malam tersebut sebanding dengan beramal dalam seribu bulan. Malam itu dinamakan malam lailatul qadr. Walaupun kepastian tepatnya malam tersebut tidak mudah untuk ditetapkan—apalagi dipastikan—tapi karunia yang dijanjikanNya pada malam itu menjadikan setiap muslim sangat menantikan dan berharap dengan cara berbuat ketaatan dan amal kesalehan di malam tersebut. Dirahasiakannya malam lailatul qadr di malam-malam akhir Ramadhan tersebut mendorong setiap individu muslim tetap bersungguh-sungguh beribadah dan beramal ketaatan hingga berakhirnya Ramadhan. Yang pasti malam itu para malaikat turun dalam jumlah yang amat banyak dan menghampiri setiap muslim yang beribadah, bersujud dan berdoa kepada-Nya. Pada malam itu para malaikat mendoakan kebaikan dan memohonkan ampunan bagi ummat Nabi Muhammad saw. yang sedang beribadah sujud mengharapkan Kemurahan-Nya. Di saat yang sama pula Allah SWT akan menyebutkan takdir satu tahun ke depan untuk setiap hamba-Nya pada para malaikat yang bertugas mengawal mereka, meskipun takdir itu telah terlulis secara ajali di lauful mahfudz. Wallahu a’lam

Dari ketujuh hal yang dijelaskan secara singkat diatas, besar harapan agar pertemuan dan perpisahan setiap muslim dengan bulan Ramadhan menjadi pertemuan dan perpisaan yang penuh arti. Yaitu pertemuan yang bisa memberikan kebaikan yang berlimpah curah Rahmat, Kasih, dan ampunan dari Sang Khalik. Demikian pula ketika akan berpisah, hendaknya memberi kenangan yang mendalam pada jiwa seorang muslim hingga selalu teringat akan keagungan dan Taufiq-Nya. 

Ramadhan Karim, Ramadhan Barakah. Semoga hadirmu dalam kehidupan kaum muslimin dan muslimat di tahun 1439H ini bisa mensucikan jiwa, berbuah izzah, menjadikan detik dan waktu amat bermakna, melatih diri senang berbagi, membuat individu pribadi muslim menjadi cinta pada ayat-ayat-Nya, meraih ampunan dari-Nya, dan InsyaAllah mendapat kemuliaan dari malam yang lebih baik dari seribu bulan. Suka dan duka saat kebersamaan denganmu, InsyaAllah akan menjadi tali cinta yang akan mempertemukan kita lagi pada Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Aamiin.

Taqaballahu minna wa minkum. Kullu ‘am wa antum bil-khair.

Dr. H. Ulil Amri Syafri, Lc., MA.

Mudir Rumah Pendidikan MUSLIM CENDEKIA MADANI










10 October 2017

LIBURAN SAMBIL BELAJAR: Nonton Bareng Film “Merah Putih Memanggil”

Ternyata di MCM boleh nonton bioskop ya ...

Begitulah komentar salah satu pelajar di Muslim Cendekia Madani ketika dimintai pendapatnya setelah acara nonton bareng film “Merah Putih Memanggil” yang diadakan keluarga besar MCM di bioskop tanggal 9 Oktober 2017. 

Kegiatan nonton bareng di bioskop adalah kali pertama yang dilakukan para pelajar MCM. Kegiatan ini masuk dalam proses pendidikan kepribadian, yaitu untuk menumbuhkan rasa nasionalisme pelajar melalui sepak terjang Tentara Nasional Indonesia. Film yang berdurasi 112 menit ini ternyata mampu menimbulkan kesan positif para pelajar MCM khususnya kepada TNI. Hal ini terlihat dari tulisan dan diskusi yang diadakan setelah acara nonton bareng bersama mentor mereka. Kesan yang didapat dari semua pelajar atas film tersebut cukup beragam. Namun ada satu kesamaan pendapat yang didapat, bahwa Tentara Nasional Indonesia hebat!.

Kehebatan ini dideskripsikan dengan berbagai komentar dan pendapat para pelajar di tulisannya. Misalnya Alyaa (17 tahun) yang memberi apresiasi TNI karena selalu siap melindungi seluruh warga negara Indonesia dimanapun mereka berada. Menurutnya, film ini memperlihatkan bahwa anggota TNI mempunyai kemampuan untuk melakukan operasi militer dimanapun. Pengorbanan mereka yang luar biasa pada tugas dan dedikasinya pada negara patut menjadi contoh.

Mikyal Hani (16 tahun) mengatakan bahwa dengan menonton film tersebut ia bisa mengetahui bagaimana kehidupan, pengorbanan, dan gugurnya para prajurit TNI di medan tempur perjuangan. Mereka rela meninggalkan keluarga tercinta dan juga siap mengorbankan keselamatan diri demi panggilan tugas merah putih dalam rangka menyelamatkan rakyat dan menjaga NKRI. Para prajurit yang berjasa kepada rakyat dan negara sudah sepatutnya terus dikenang dan dihormati.

Menurut Mikyal Hani, ia cukup terharu menonton adegan-adegan sedih dalam film tersebut. Menyaksikan cerita kehilangan orang-orang yang sangat dekat dengan kehidupan pasti tidak mudah, apalagi kuburannya tidak ada walaupun kematiannya pasti. Karena dalam perang bisa saja tentara itu terbakar atau dibakar tak tersisa. Demikian pula bila teman seperjuangan yang sudah bersama sejak waktu yang lama harus gugur di medan tempur. Semua adegan itu membawa keharuan tersendiri. Sulit dibayangkan  jika mereka adalah bagian dari keluarga kita. Maka, yang perlu dihormati bukan hanya anggota TNI saja, Tapi juga keluarganya perlu dihormati, dibantu, dan diberi dorongan semangat agar mampu melanjutkan hidup dengan baik. Pengorbanan oleh Tentara dan keluarganya belum tentu dapat kita lakukan. 

Senada dengan hal ini, M. Ghazy (15 tahun) juga merasa takjub melihat TNI yang mencintai keluarganya tapi rela meninggalkan mereka demi menjalankan tugas negara. Penilaiannya terhadap tentara selama ini menjadi berubah 180 derajat setelah menonton film tersebut. Ia menjadi tahu bagaimana karakter para TNI yang sangat menakjubkan itu.

Menonton film tersebut bagi M. Hanand (16 tahun) membuat semangat perjuangannya bergelora. Sebagai generasi muda, ia jadi bisa membayangkan bagaimana perjuangan para pahlawan-pahlawan terdahulu untuk bangsa dan negara. Hal ini tentunya harus membuat generasi muda sepertinya lebih bisa menghargai dan mengapresiasi perjuangan dan pengorbanan para pejuang. Perjuangan dan pengorbanan tersebut menurut Nuh (14 tahun) harus diikuti dengan semangat belajar bagi para pelajar agar dapat terus menjaga dan membesarkan negara Indonesia dengan karya terbaik dan bukan malah siap jadi budak di negeri sendiri.

Kesan menonjol lainnya yang dilihat para pelajar MCM dari film ini adalah karakter para TNI yang kuat, tangguh, disipilin, dan gagah berani. Betapa adegan setiap adegan memperlihatkan kedisiplinan, ketaatan, kekuatan, kesabaran, dan kegigihan para prajurit. Belum lagi rasa kesetiakawanan dan mendahulukan orang lain dari pada diri sendiri. M. Ghazy sangat terkesan dengan sifat itsar (mengutamakan orang lain dari pada diri sendiri) pada para prajurit TNI ini lewat adegan tentara yang memberikan bekal makanan mereka pada para tawanan padahal mereka sendiri lapar dan akhirnya rela memakan ular yang ditemukan disana. Sifat itsar yang sangat dianjurkan dalam Islam ini ada di tubuh para TNI, meski mereka bukan muslim seluruhnya.

Karakter lainnya yang terlihat dari film ini adalah jiwa pantang menyerah yang dimiliki TNI. Menurut Hanand, karakter ini tercermin dari rasa semangat TNI yang tetap maju ke depan meski tahu jumlah musuh yang dihadapinya berlipat-lipat dibanding mereka. Jumlah musuh yang banyak tidak membuat para prajurit TNI gentar, menurut Nuh. Jiwa yang tidak takut melawan musuh itu wajib, ditambah dengan fisik yang kuat, strategi yang matang, senjata yang canggih, membuat mereka menjadi gigih dan gagah berani menghadapi lawan.

Lewat film ini, menurut Alyaa, banyak karakter yang dapat kita tiru, seperti sikap yang tidak mudah menyerah, ikatan persaudaraan yang kuat, setiakawan saling tolong menolong, sikap tanggung jawab dalam menghadapi sebuah masalah,  dan rasa senasib sepenanggungan yang dipikul bersama. Karakter-karakter inilah yang seharusnya ditiru oleh semua orang. Dan sangat baik jika para pelajar yang memulainya.

Mutiara Ayu (14 tahun) berpandangan bahwa film ini cukup bagus untuk mengingatkan masyarakat Indonesia tentang karakter bangsa yang sesungguhnya. Karakter-karakter tersebut tercermin dari kualitas sikap para prajurit TNI di medan tempur. Menurutnya, karakter dalam sebuah peradaban sangatlah penting. Mengutip perkataan sejarawan Arnold Toynbee, “dari 21 peradaban yang ada di dunia, 19 yang hancur bukan karena penaklukan dari luar, tapi oleh pembusukkan moral dari dalam”.

"Karakter adalah objektifitas yang baik atas kualitas manusia. Karakter lebih tinggi dari kecerdasan. Karakter juga dapat membentuk takdir seseorang, yang juga menjadi takdir masyarakat. Dalam karakter warga negaranya terletak kesejahteraan bangsa. Dan untuk membentuk karakter masyarakat yang baik dapat melalui cara dengan mengubah pemikiran mereka.” Demikian kutipan dari buku ‘Character Matters’-nya Thomas Lickona yang Mutiara Ayu tuliskan menyikapi karakter-karakter hebat yang ditampilkan para prajurit TNI di medan tempur.

Tanggapan-tanggapan dan kesan yang dimunculkan para pelajar MCM yang luar bisa ini memperlihatkan bahwa film ‘Merah Putih Memanggil’ mampu membawa pengaruh yang positif. Meskipun ada dari mereka yang menyoroti beberapa kekurangan dari film tersebut, seperti awal film yang lambat, sedikit kaku sehingga mirip film dokumenter, dan durasi film yang terlalu pendek, tidak mengurangi nilai-nilai positif yang dibawa dari film tersebut dan mampu dicerna oleh para pelajar MCM.

Film memang terbukti dapat menjadi media edukasi dan pencerdasan para generasi, maka film itu harus bagus dan bernilai positif. Ibrahim (13 tahun) dan Hasnul (15 tahun), pelajar MCM yang juga ikut menonton bareng bahkan dapat menceritakan ulang adegan tiap adegan film tersebut.

Dengan menonton film, pelajar seakan dituntun untuk mengikuti nilai-nilai yang ada dalam film tersebut. Semoga ke depannya akan banyak film yang bernuansa edukasi sehingga bisa menjadi sarana tak langsung untuk generasi muda dalam menanamkan nilai positif.

"Majulah terus para prajurit TNI. Semoga Allah memudahkan langkahmu dalam menjalankan amanat negara!"

03 October 2017

PROFIL PELAJAR MCM (Bag. 1)

ABDURRAHIM, si Kecil-Kecil Cabe Rawit


Belajarnya enak disini, gak susah, santai, enjoy, temennya baik-baik, bersahabat.

Abdurrahim, kelahiran Pekalongan, 5 Oktober 2005, adalah sosok pelajar termuda di Muslim Cendekia Madani. Selain termuda, ia juga menjadi sosok ‘termungil’ diantara teman-temannya yang tinggi menjulang. Namun jangan terkecoh dengan penampilannya. Dalam hal kepandaian, ketahanan fisik, dan porsi makan, Abdurrahim tak kalah dengan para pelajar lainnya yang rata-rata berusia 13-17 tahun. Bisa dibilang, ia bahkan mengalahkan para seniornya dalam beberapa bidang. 


Ahim, biasa ia dipanggil, adalah anak yang lincah, cerdas, sopan, dan sangat sayang pada kucing. Awal kedatangannya di MCM, mungkin adalah saat terberat yang harus ia hadapi. Bayangkan, ia yang selama ini tak pernah berpisah dengan kedua orang tua dan adik-adiknya, harus menerima kenyataan bahwa untuk jangka waktu tertentu, ia tak lagi bisa bercengkrama dan bersenda gurau dengan keluarga tercinta. Jarak Semarang-Bogor bukanlah jarak yang mudah ditempuh jika ia ingin bertemu mereka. Tentu saja hal ini adalah hal yang menyedihkan baginya. 

Hari-hari pertama di MCM tentunya sangat berat buat Ahim. Melamun, menangis, dan selalu ingat keluarga di rumah mengisi awal hari-harinya di sini. Meskipun ada kakak perempuannya yang juga bersekolah di MCM, tidak mengurangi kesedihannya untuk selalu ingat pada orang tua tersayang. Bahkan aktifitas menelepon keduanya tidak mengurangi rasa ingin pulang untuk bertemu mereka. Begitulah, masa-masa adaptasi anak ketiga dari sembilan bersaudara ini.   
  
Namun, masa-masa kesedihan yang dirasakan Ahim ternyata hanya sebentar. Konsep “Berlibur Sambil Bermain” yang diterapkan MCM pada tahun ini sanggup mengubah tangisan, rasa sedih, dan kerinduan akan keluarga di rumah yang dirasakan Ahim perlahan menghilang. Proses pembelajaran yang enjoy, tidak menekan dan memaksa, membuat Ahim mulai menikmati hari-harinya di MCM. Kesedihannya berganti cepat dengan gelak tawa dan canda senang.

Ahim adalah salah satu anak yang menonjol dalam bidang Tahfidz Al-Qur’an. Ketika datang, ia membawa hapalan Al-Qur’an kurang dari 2 juz. Karena kesungguhan dan kedisiplinannya, maka hapalannya meningkat menjadi 4 juz dengan kualitas hafalan terbaik. Ini diraihnya selama dua bulan bersekolah di MCM. Prestasi ini menyamai bahkan mengalahkan seniornya di MCM. Caranya menghapal Al-Qur’an pun tergolong unik. Ia yang hobi bersepeda, bahkan di siang hari terik sekalipun, menghafal atau mengulang hapalannya sambil bersepeda, mengelilingi villa lokasi tempat MCM. Cara ini menurutnya adalah cara asik untuk menghafal atau memuraja’ah Al-Qur’an. Ketika ditanya apakah sulit menghapal Al-Qur’an, ia menjawab tidak, karena ia enjoy melakukannya.

Begitu juga dalam hal pembelajaran Bahasa Arab. Selama dua bulan ini, Ahim sudah menyelesaikan dua jilid pertama buku al-Arabiyyah lî ghairi nâtikin biha: Bayna Yadaik. Ia mengaku, jika diajak berbicara orang Arab seputar perkenalan diri, ia sudah pede menjawabnya.

Dalam hal olah fisik, Ahim juga salah satu anak yang tangguh. Di awal kedatangannya, ia terlihat agak malas bergerak untuk berolahraga. Namun karena setiap pagi adalah jadwal olahraga para pelajar MCM, dimana salah satu konsep pembelajaran di MCM adalah sehat melalui olah fisik, mau tidak mau aktivitas tersebut dilakoninya. Mengelilingi beberapa cluster di Sentul City sejauh 5 km setiap hari, baik sambil berlari, berjalan, ataupun bersepeda, membuat fisiknya terbiasa. Sekarang, ia bahkan biasa mengelilingi danau yang berukuran 500m sebanyak 8 kali putaran. 

Ahim juga sekarang sudah terbiasa disiplin dalam hal kebersihan. Bangun tidur, ia akan membereskan tempat tidur dan perlengkapan tidur lainnya. Ia juga kadang mencuci bajunya sendiri, meskipun MCM menyediakan jasa laundry untuk seluruh pelajar. Ahim juga kini terbiasa bersih-bersih menjaga kebersihan lingkungan. Diharapkan, akhlak suka kebersihan bisa tertanam dalam diri para pelajar sehingga timbul kepeduliannya untuk menjaga lingkungan tempat tinggalnya selalu bersih dan nyaman.

Dalam hal makanan, Ahim tidak pernah mengeluh pada setiap makanan yang dihidangkan. Menurutnya, makanan yang disediakan selalu enak dan cocok di lidahnya. Itulah kenapa ia selalu lahap jika waktu makan tiba.

Ketika ditanya tentang apa yang tidak disukainya selama dua bulan di MCM, Ahim mengatakan, “Gak ada. Gak ada yang gak enak disini.” Dan ketika ditanya apa yang disukainya selama sekolah disini, ia menjawab, “Belajarnya enak disini, gak susah, santai, enjoy, temennya baik-baik, bersahabat.” Satu lagi, Ahim juga paling suka kalau jadwal MCM bermain di Jungle Land. Ia yang sudah beberapa kali masuk ke Wahana Bermain tersebut dan sudah mencoba hampir semua wahana, tak pernah merasa bosan berkunjung kesana. MCM memang selalu menjadwalkan kunjungan ke tempat bermain itu sebagai salah satu bentuk refreshing untuk para pelajarnya. Hal ini sebagai salah satu terapi kejenuhan yang biasa menghinggapi para pelajar.  

Ahim memang tidak seperti kebanyakan anak yang kita temui. Proses pendidikan yang dimiliki MCM bisa digunakan Ahim untuk membangun dirinya. Tentu saja, tidak hanya pada aspek keilmuannya, namun juga bisa membentuk pribadi yang tangguh. Ahim yang masih berusia 12 tahun sudah mampu menempa diri dari proses pendidikan yang ada di MCM. Durasi waktu dua bulan bagi Ahim bisa membuat hafalan al-Qur’annya mumtaz 4 juz. Bahkan ia juga dilatih menjadi imam, bergiliran dengan temannya, saat qiyamulail di setiap malam untuk menguatkan hapalannya. Demikian juga bahasa Arab yang ia pelajari. Meskipun proses menghafal al Qur’an ditekuninya, namun pemahaman dan kemampuan bahasa arab dasar standar—setara dengan buku bahasa dasar di Universitas Umm al-Qura’ Mekkah—juga dikuasainya dengan baik. 

Abdurrahim, si kecil-kecil cabe rawit ini kini sudah mulai menikmati rutinitas kegiatan belajar ala home schooling MCM. Ia memiliki target ingin menghapal Al-Qur’an sampai 10 juz dalam setahun ini. Target belajar yang tidak pernah dipaksakan tapi justru timbul dari kesadaran dan rasa tanggung jawabnya sendiri sebagai seorang pelajar muslim. Sampai sekarang, ingatan ingin pulangnya hanya timbul sesekali saja. Kalau itu muncul, biasanya dia akan menyibukkan dirinya dengan bersepeda dan bermain dengan tiga kucing piaraan MCM. 

Semoga Ahim bisa terus belajar dan menempa diri sehingga kelak bisa mejadi anak shaleh, berakhlak, dan berguna bagi orangtua, agama dan bangsanya. Amiin.

21 September 2017

Mengawali Tahun Baru Hijriah, Alumni MCM Berangkat ke Cairo

Bertepatan dengan hari terakhir di tahun 1438H, Rabu, 20 September 2017, keluarga besar MCM melepas M. Isa Amri, salah satu alumninya yang akan kuliah di universitas Al-Azhar Cairo Mesir. Momen ini sangat mengharukan sekaligus membanggakan karena ini adalah awal pertama bagi MCM untuk menempatkan alumninya di Universitas Islam tertua di kawasan timur tengah tersebut, meski usia MCM baru setahun lebih.


Dengan konsep pendidikan yang fokus pada beberapa materi, utamanya bahasa Arab dan Al-Qur'an, MCM membina dan menyiapkan pelajar muslim yang berakhlak dan berwawasan luas untuk siap menuntut ilmu di luar negeri. Insya Allah di tahun berikutnya, alumni-alumni MCM akan berkesempatan menuntut ilmu di universitas-universitas timur tengah lainnya. 

M. Isa Amri sendiri memiliki latar belakang pendidikan yang sudah diarahkan untuk kuliah di timur tengah. Menyelesaikan Pendidikan Menengahnya di Madrasah Tsanawiyah Al-Azhar Asy-Syarif Jakarta (Kerjasama DEPAG dan Madrasah Al-Azhar Cairo), kemudian menyelesaikan I'dad Lughawi di Pesantren Al-Irsyad Salatiga, serta pindah ke MCM dan menyelesaikan Pendidikan Atasnya dengan ijazah Paket C. Di usia 17 tahun, Isa siap merantau dan menuntut ilmu di negaranya para Nabi.
'Aroma' pelepasan dan perpisahan tersebut sudah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya. Bersama para pelajar dan mentor, mereka melakukan olahraga bareng di depok, berenang bersama (khusus ikhwan), masak bareng, kesan dan pesan para pelajar kepada Isa, seuntai kalimat perpisahan oleh Isa, serta tausyiah singkat dari mentor untuk Isa khususnya.

Perpisahan ini cukup dirasakan, baik oleh Isa maupun para pelajar lainnya, khususnya para teman seangkatan. Proses pembelajaran in the home di MCM memang membuat keakraban dan kedekatan diantara para pelajar dan mentor begitu kuat. Membayangkan bahwa kedekatan dan keakraban itu akan menghilang, membuat mereka semakin akrab di hari-hari akhir menjelang keberangkatan. Keakraban yang terjalin layaknya persaudaraan dalam sebuah keluarga besar.


 
Puncaknya adalah perpisahan di Bandara Soekarno Hatta Tangerang. Dengan diantar oleh beberapa pelajar MCM dan juga keluarga tercinta, Isa dilepas dengan haru, bahagia, dan bangga. Tak ada emosi yang berlebihan. Namun jabatan tangan dan pelukan hangat yang tercipta mampu menyampaikan pesan yang ingin disampaikan mereka semua. 

Semoga M. Isa Amri selalu dimudahkan Allah dalam setiap niat dan langkahnya untuk menuntut ilmu, dibimbing untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dan bertanggung jawab pada tugasnya 
sebagai pemuda Muslim nantinya.


08 September 2017

Berubah Untuk Lebih Baik


Satu bulan sudah para pelajar Muslim Cendekia Madani (MCM) menjalani proses pembelajaran di tahun ajaran ini. Masa-masa adaptasi meninggalkan keluarga tercinta tentunya sangat terasa oleh mereka, khususnya untuk yang baru pertama kali berpisah dengan orang tua. Terlihat sekali emosi kesedihan pada minggu pertama mereka di MCM. Ada yang menangis diam-diam, ada yang hanya menyendiri dengan raut wajah yang sedih, tapi ada juga yang bersikap biasa dan tetap ceria.

Namun, masa-masa itu tidaklah lama. Konsep pembelajaran “Liburan sambil Belajar” mampu membuat masa-masa tersebut berganti dengan keceriaan, keakraban, dan kegembiraan. Wajah-wajah sumringah kini menghiasi wajah para pelajar MCM. Mereka sudah mulai enjoy dengan lingkungan tempat tinggalnya dan tak terasa sudah mulai menikmati proses pembinaan dan pembelajaran di sini dengan baik. Keakraban pun sudah terjalin dengan sangat baik diantara para pelajar dan para mentor. Tak ada senior-junior di MCM.

Ternyata, masa-masa adaptasi ini pun dirasakan oleh orang tua para santri. Beberapa dari orang tua juga merasakan ‘kehilangan’ anaknya yang jauh dari rumah. Ketika ada kesempatan, tak jarang mereka menelepon atau bahkan menjenguk anak-anaknya. MCM memang tidak membatasi waktu berkunjung para orang tua. Mereka dipersilahkan bertemu dengan anak-anaknya kapan saja, asal tidak mengganggu proses pembelajaran yang berlangsung.

Ada yang unik dari kunjungan orang tua ketika libur Idul Adha kemarin. Beberapa orang tua mengakui perubahan yang terjadi pada anak-anaknya setelah satu bulan tidak bertemu. Mereka cukup ‘surprise’ ketika berkomunikasi dan bercengkrama bersama. Misalnya orang tua Hasnul Fauzan (15 tahun) yang berasal dari Cikampek. Mereka merasakan perubahan anaknya dalam hal cara berkomunikasi. Anaknya lebih santun dan ‘kalem’ dalam interaksi mereka. Juga masih menurut ayahnya, Hasnul terlihat lebih gagah dan sehat. Saat ditanyakan pada Buya Ulil Amri Syafri sebagai  mentor di MCM, beliau hanya tersenyum dan mengatakan, “bisa jadi itu pengaruh olah raga yang dilaksanakan rutin dan teratur setiap pagi.”  

Lain halnya dengan Pak Syafe’i, orang tua dari Abdurrahim (12 tahun). Beliau melihat anaknya lebih pede ketika mengajak kakaknya yang sedang berkunjung untuk muraja’ah Al-Qur’an bersama. Bahkan sesekali Abdurrahim memperlihatkan  kebanggaan pada pengetahuannya terhadap bahasa Arab dasar.  Sedangkan Mutiara Ayu (14 tahun) menurut ibunya yang berkunjung satu minggu sebelum Ied mengatakan bahwa Ayu terlihat lebih ceria. Berbeda dengan terakhir kali ia meninggalkan Ayu di MCM.

Begitulah, perubahan selalu dibutuhkan agar segala sesuatunya berjalan sesuai target pembinaan dan pembelajaran. Dalam hal ini, proses pendidikan yang menitik beratkan pada perubahan akhlak sebagai dasar tujuan tentunya sangat berdampak positif pada diri anak didik. Bandingkan dengan lembaga pendidikan yang hanya menekankan pada pencapaian kognitif dan prestasi akademik saja, namun mengabaikan pembentukan akhlak atau karakter pelajar.

Mengajar anak jadi pintar itu mudah, tapi mendidik anak agar berakhlak baik itu sangat sulit. Karena proses pendidikan akhlak tidak seperti mengajar ilmu pengetahuan. Orang yang berhasil menata dan mendidik akhlaknya tentu lebih mudah mendapatkan ilmu pengetahuan, karena pendidikan keperibadian adalah awal dan inti dari segala proses pendidikan. Kata orang bijak, apalah artinya punya anak pintar tapi buruk sikapnya kepada orang tua. Meskipun terselip kebanggaan pada orang tua karena prestasi anaknya, akan tetapi tetap membawa rasa pilu dalam hati orang tua. 

Maka, sudah saatnya para keluarga muslim melihat kembali skala prioritas perubahan pada diri anak anak. Jangan berikan pendidikan yang bersifat  matrealis, pragmatis, dan individualis  pada anak-anak muslim. Tentunya perubahan yang diharapkan adalah perubahan yang lebih baik, khususnya perubahan yang membawa kebaikan untuk pelajar itu sendiri dan tentunya semua itu akan membahagiakan orang tua dan keluarga mereka. 

Para pelajar Muslim Cendekia MadaniAngkatan I