Cluster Casablanca, Sentul City, Bogor - Jawa Barat - 16810 | Hotline: 0813-1112-5384 (Call/SMS/WA)

21 September 2017

Mengawali Tahun Baru Hijriah, Alumni MCM Berangkat ke Cairo

Bertepatan dengan hari terakhir di tahun 1438H, Rabu, 20 September 2017, keluarga besar MCM melepas M. Isa Amri, salah satu alumninya yang akan kuliah di universitas Al-Azhar Cairo Mesir. Momen ini sangat mengharukan sekaligus membanggakan karena ini adalah awal pertama bagi MCM untuk menempatkan alumninya di Universitas Islam tertua di kawasan timur tengah tersebut, meski usia MCM baru setahun lebih.


Dengan konsep pendidikan yang fokus pada beberapa materi, utamanya bahasa Arab dan Al-Qur'an, MCM membina dan menyiapkan pelajar muslim yang berakhlak dan berwawasan luas untuk siap menuntut ilmu di luar negeri. Insya Allah di tahun berikutnya, alumni-alumni MCM akan berkesempatan menuntut ilmu di universitas-universitas timur tengah lainnya. 

M. Isa Amri sendiri memiliki latar belakang pendidikan yang sudah diarahkan untuk kuliah di timur tengah. Menyelesaikan Pendidikan Menengahnya di Madrasah Tsanawiyah Al-Azhar Asy-Syarif Jakarta (Kerjasama DEPAG dan Madrasah Al-Azhar Cairo), kemudian menyelesaikan I'dad Lughawi di Pesantren Al-Irsyad Salatiga, serta pindah ke MCM dan menyelesaikan Pendidikan Atasnya dengan ijazah Paket C. Di usia 17 tahun, Isa siap merantau dan menuntut ilmu di negaranya para Nabi.
'Aroma' pelepasan dan perpisahan tersebut sudah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya. Bersama para pelajar dan mentor, mereka melakukan olahraga bareng di depok, berenang bersama (khusus ikhwan), masak bareng, kesan dan pesan para pelajar kepada Isa, seuntai kalimat perpisahan oleh Isa, serta tausyiah singkat dari mentor untuk Isa khususnya.

Perpisahan ini cukup dirasakan, baik oleh Isa maupun para pelajar lainnya, khususnya para teman seangkatan. Proses pembelajaran in the home di MCM memang membuat keakraban dan kedekatan diantara para pelajar dan mentor begitu kuat. Membayangkan bahwa kedekatan dan keakraban itu akan menghilang, membuat mereka semakin akrab di hari-hari akhir menjelang keberangkatan. Keakraban yang terjalin layaknya persaudaraan dalam sebuah keluarga besar.


 
Puncaknya adalah perpisahan di Bandara Soekarno Hatta Tangerang. Dengan diantar oleh beberapa pelajar MCM dan juga keluarga tercinta, Isa dilepas dengan haru, bahagia, dan bangga. Tak ada emosi yang berlebihan. Namun jabatan tangan dan pelukan hangat yang tercipta mampu menyampaikan pesan yang ingin disampaikan mereka semua. 

Semoga M. Isa Amri selalu dimudahkan Allah dalam setiap niat dan langkahnya untuk menuntut ilmu, dibimbing untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dan bertanggung jawab pada tugasnya 
sebagai pemuda Muslim nantinya.


08 September 2017

Berubah Untuk Lebih Baik


Satu bulan sudah para pelajar Muslim Cendekia Madani (MCM) menjalani proses pembelajaran di tahun ajaran ini. Masa-masa adaptasi meninggalkan keluarga tercinta tentunya sangat terasa oleh mereka, khususnya untuk yang baru pertama kali berpisah dengan orang tua. Terlihat sekali emosi kesedihan pada minggu pertama mereka di MCM. Ada yang menangis diam-diam, ada yang hanya menyendiri dengan raut wajah yang sedih, tapi ada juga yang bersikap biasa dan tetap ceria.

Namun, masa-masa itu tidaklah lama. Konsep pembelajaran “Liburan sambil Belajar” mampu membuat masa-masa tersebut berganti dengan keceriaan, keakraban, dan kegembiraan. Wajah-wajah sumringah kini menghiasi wajah para pelajar MCM. Mereka sudah mulai enjoy dengan lingkungan tempat tinggalnya dan tak terasa sudah mulai menikmati proses pembinaan dan pembelajaran di sini dengan baik. Keakraban pun sudah terjalin dengan sangat baik diantara para pelajar dan para mentor. Tak ada senior-junior di MCM.

Ternyata, masa-masa adaptasi ini pun dirasakan oleh orang tua para santri. Beberapa dari orang tua juga merasakan ‘kehilangan’ anaknya yang jauh dari rumah. Ketika ada kesempatan, tak jarang mereka menelepon atau bahkan menjenguk anak-anaknya. MCM memang tidak membatasi waktu berkunjung para orang tua. Mereka dipersilahkan bertemu dengan anak-anaknya kapan saja, asal tidak mengganggu proses pembelajaran yang berlangsung.

Ada yang unik dari kunjungan orang tua ketika libur Idul Adha kemarin. Beberapa orang tua mengakui perubahan yang terjadi pada anak-anaknya setelah satu bulan tidak bertemu. Mereka cukup ‘surprise’ ketika berkomunikasi dan bercengkrama bersama. Misalnya orang tua Hasnul Fauzan (15 tahun) yang berasal dari Cikampek. Mereka merasakan perubahan anaknya dalam hal cara berkomunikasi. Anaknya lebih santun dan ‘kalem’ dalam interaksi mereka. Juga masih menurut ayahnya, Hasnul terlihat lebih gagah dan sehat. Saat ditanyakan pada Buya Ulil Amri Syafri sebagai  mentor di MCM, beliau hanya tersenyum dan mengatakan, “bisa jadi itu pengaruh olah raga yang dilaksanakan rutin dan teratur setiap pagi.”  

Lain halnya dengan Pak Syafe’i, orang tua dari Abdurrahim (12 tahun). Beliau melihat anaknya lebih pede ketika mengajak kakaknya yang sedang berkunjung untuk muraja’ah Al-Qur’an bersama. Bahkan sesekali Abdurrahim memperlihatkan  kebanggaan pada pengetahuannya terhadap bahasa Arab dasar.  Sedangkan Mutiara Ayu (14 tahun) menurut ibunya yang berkunjung satu minggu sebelum Ied mengatakan bahwa Ayu terlihat lebih ceria. Berbeda dengan terakhir kali ia meninggalkan Ayu di MCM.

Begitulah, perubahan selalu dibutuhkan agar segala sesuatunya berjalan sesuai target pembinaan dan pembelajaran. Dalam hal ini, proses pendidikan yang menitik beratkan pada perubahan akhlak sebagai dasar tujuan tentunya sangat berdampak positif pada diri anak didik. Bandingkan dengan lembaga pendidikan yang hanya menekankan pada pencapaian kognitif dan prestasi akademik saja, namun mengabaikan pembentukan akhlak atau karakter pelajar.

Mengajar anak jadi pintar itu mudah, tapi mendidik anak agar berakhlak baik itu sangat sulit. Karena proses pendidikan akhlak tidak seperti mengajar ilmu pengetahuan. Orang yang berhasil menata dan mendidik akhlaknya tentu lebih mudah mendapatkan ilmu pengetahuan, karena pendidikan keperibadian adalah awal dan inti dari segala proses pendidikan. Kata orang bijak, apalah artinya punya anak pintar tapi buruk sikapnya kepada orang tua. Meskipun terselip kebanggaan pada orang tua karena prestasi anaknya, akan tetapi tetap membawa rasa pilu dalam hati orang tua. 

Maka, sudah saatnya para keluarga muslim melihat kembali skala prioritas perubahan pada diri anak anak. Jangan berikan pendidikan yang bersifat  matrealis, pragmatis, dan individualis  pada anak-anak muslim. Tentunya perubahan yang diharapkan adalah perubahan yang lebih baik, khususnya perubahan yang membawa kebaikan untuk pelajar itu sendiri dan tentunya semua itu akan membahagiakan orang tua dan keluarga mereka. 

Para pelajar Muslim Cendekia MadaniAngkatan I