Cluster Casablanca, Sentul City, Bogor - Jawa Barat - 16810 | Hotline: 0813-1112-5384 (Call/SMS/WA)

06 February 2026

Rekontruksi Peradaban & Kebaruan pendidikan: Melahirkan Manusia berakhlak, menjaga fitra serta mengembangkan Potensi.

By: Ulil Amri Syafri. 
Pendidikan tidak seharusnya direduksi menjadi sekadar proses mengajar, melatih keterampilan, atau memindahkan pengetahuan. Pendidikan adalah kerja peradaban. Ia merupakan bangunan besar yang membentuk kualitas manusia, arah kebudayaan, dan mutu kehidupan bersama. Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan tidak hanya kecerdasan intelektual, tetapi terutama kualitas karakter dan integritas moral.
Dalam perspektif pendidikan Islam, tujuan utama pendidikan adalah pembentukan manusia berakhlak—manusia yang memiliki integritas, tanggung jawab etis, dan kesadaran kemanusiaan. Bukan sekadar manusia terampil atau berpengetahuan. Keadaban sosial memang penting, tetapi ia adalah bagian dari proses pembentukan diri: latihan disiplin, penataan sikap, penguatan tanggung jawab, dan pembiasaan perilaku tertib. Fokus akhirnya adalah kualitas akhlak sebagai karakter batin yang hidup.

#ulilamrisyafri

Pendidikan dalam kerangka ini menyentuh seluruh dimensi manusia: jiwa, moral, nalar, emosi, bakat, dan potensi dasar kemanusiaan (fitrah). Jika salah satu dimensi diabaikan, pendidikan menjadi timpang dan berisiko melahirkan kecerdasan tanpa kebijaksanaan.

Fondasi nilai dalam pendidikan Islam bersumber dari wahyu. Namun secara universal, ini dapat dipahami sebagai pijakan nilai transenden—nilai luhur yang melampaui kepentingan sesaat. Dari fondasi nilai inilah lahir orientasi etika, arah tujuan hidup, ukuran benar–salah, dan kerangka pembinaan karakter. Metode dan strategi pendidikan boleh berkembang sesuai zaman, tetapi fondasi nilai tidak boleh tercerabut dari prinsip kemanusiaan dan moralitas.

Dari dasar nilai tersebut lahir pendekatan pendidikan yang juga diperkuat oleh pengalaman dan pengamatan empiris, antara lain pengembangan potensi dan penjagaan fitrah manusia. Pendidikan perlu menjadi ruang pengembangan bakat dan kemampuan (tanmiyatu mawaahib) sekaligus penjagaan potensi dasar kemanusiaan (himayatul fitrah).

Peserta didik tidak harus diseragamkan, tapi potensi perlu dikenali, kecenderungan positif diarahkan, dan bakat ditumbuhkan. Pada saat yang sama, orientasi moral perlu dijaga agar perkembangan kemampuan tidak kehilangan arah etis.

Hakikat pendidikan bukan hanya penguatan intelektual, tetapi juga penguatan batin dan emosi. Ia menumbuhkan kecerdasan berpikir sekaligus kedewasaan rasa. Ia membentuk cara hidup, bukan hanya cara memahami.

Dalam tradisi pendidikan Islam dikenal tiga poros utama proses pembentukan manusia:

Tarbiyah–tazkiyah: proses penumbuhan dan pemurnian orientasi diri—penguatan potensi, pembentukan kesiapan moral dan emosional, serta pengembangan kesadaran batin. Tanpa dimensi ini, pengetahuan mudah berubah menjadi alat kesombongan.

Ta’dib: proses pembiasaan etika hidup—latihan disiplin, tanggung jawab, dan keteraturan perilaku. Adab dipahami sebagai hasil latihan karakter yang konsisten, bukan sekadar simbol sosial.

Ta‘līm: proses pengembangan ilmu—bukan hanya pemindahan pengetahuan, tetapi juga penguatan nalar, kepekaan, dan kemampuan inovasi untuk kemaslahatan bersama.

#ulilamrisyafri

Kurikulum dalam kerangka ini perlu bersifat integratif—menghubungkan pengetahuan rasional, nilai moral, dan keterampilan hidup. Tidak terbelah antara ilmu dan etika. Tidak berhenti pada teori, tetapi bergerak menuju praktik dan pengabdian sosial.

Pembentukan karakter bukan unsur tambahan, melainkan inti pendidikan.

Secara kelembagaan, pendidikan tidak berdiri tunggal. Ia merupakan ekosistem berlapis: keluarga sebagai fondasi awal pembentukan karakter; komunitas dan ruang ibadah sebagai pusat pembinaan nilai; sekolah, madrasah, dan pesantren sebagai lembaga pembelajaran terstruktur; serta komunitas keilmuan sebagai penjaga tradisi intelektual dan etika keilmuan. Model ini dapat dipahami secara universal sebagai kolaborasi antara rumah, komunitas, dan institusi pendidikan. 

Pendidikan berbasis minat dan pengembangan bakat—melalui jalur nonformal—juga penting untuk menumbuhkan kecerdasan sosial, komunikasi, kreativitas, dan kepemimpinan.

Dari konstruksi pendidikan yang utuh inilah lahir keluaran peradaban yang diharapkan: pribadi berintegritas, profesional beretika, pemimpin amanah, masyarakat berilmu, dan budaya yang seimbang antara kemajuan dan nilai.

Pendidikan tidak berhenti pada individu—ia membentuk tatanan sosial. Jika pendidikan hanya melahirkan orang cerdas tetapi miskin integritas, maka itu kegagalan peradaban, melainkan. 

Mengembalikan pendidikan pada fondasi karakter, nilai, dan potensi kemanusiaan bukan romantisme masa lalu, melainkan kebutuhan masa kini dan masa depan. Pendidikan adalah kerja peradaban—bukan sekadar program, bukan semata sistem administratif, tetapi proses membentuk manusia seutuhnya.

Wallahu a‘lam


#ulilamrisyafri

01 February 2026

CURRICULUM VITAE - Dr. H. Ulil Amri Syafri, Lc., MA.

A. Identitas Diri

Nama Lengkap : Dr. H. Ulil Amri Syafri, Lc., MA.

Tempat, Tanggal Lahir : 28 September 1973

Alamat : Depok, Jawa Barat, Indonesia

Jabatan Akademik : Associate Professor

Bidang Keahlian : Pendidikan Karakter dan Pendidikan Islam


B. Pendidikan Formal

S1 (Lc.) –S2 (MA) – S3 (Dr.) 

C. Jabatan & Aktivitas Akademik

Dosen Tetap Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor

Pengajar dan pengkaji Pendidikan Karakter dan Pendidikan Islam

Penulis buku-buku pendidikan

Narasumber kajian keilmuan, pendidikan, dan kebudayaan


D. Identitas Akademik

Scopus ID : 57217061021

ORCID ID : 0009-0002-7280-3200

SINTA ID : 6116177

E. Media Sosial & Kanal Ilmiah

Instagram : @ulilamrisyafri | @pendidikanbukanbukan

Facebook : Ulil Amri SYAFRI

YouTube : #Ulilamrisyafri | Kampus Digital Dr. Ulil Amri Syafri


F. Karya Buku

* Seri Al-Qur’an 1: Yahudi Ahl al-Kitab (2004)

* Seri Al-Qur’an 2: Penolakan Yahudi terhadap Islam (2004)

* Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an (2012)

* Pendidikan Bukan-Bukan: Menyingkap Pendidikan Islam di Nusantara (2022)

* Frasa Agama: Pemikiran Pendidikan & Kebudayaan Ki Hajar Dewantara (2022)

* Pendidikan Adab Rasa Lokal (2023)

* Buku Ajar Peradaban & Kebaruan Pendidikan Islam (2024)

* Guru Rakyat (2025)

* Tidak Ada Murid Bodoh (2025)

* Inyiak Daud Rasyidi: Adab, Agama, dan Budaya (2025)


G. Motto Hidup

“Hiduplah dengan iman dan jadilah manusia yang bermanfaat.”


#ulilamrisyafri

18 January 2026

JANGAN MAU DININABOBOKAN AGAMA

#ulilamrisyafri
     Al-Qur’an berkali-kali mengisahkan Bani Israil bukan untuk membangun kebencian etnis, melainkan sebagai ibrah peradaban. Kritik wahyu diarahkan pada penyimpangan cara beragama: Di titik itulah agama kehilangan daya pembebasannya dan berubah menjadi asesoris sosial.

Logika inilah yang kemudian ditegaskan Nabi dalam hadis-hadis tentang “akhir zaman”. Hadis-hadis tersebut tidak dimaksudkan sebagai membuat pasif, melainkan peringatan aktif agar umat tidak mengulangi pola kerusakan yang sama. Nabi bersabda:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يُصَدَّقُ فِيهِ الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهِ الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهِ الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهِ الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهِ الرُّوَيْبِضَةُ

Artinya: Akan datang kepada manusia suatu zaman: pendusta dipercaya, orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, orang amanah dikhianati, dan orang remeh berbicara tentang urusan publik. (HR. Ibnu Majah no 4019, juga terdapat pada musnad Imam Ahmad)

Hadis ini menggambarkan runtuhnya arsitektur kepercayaan sosial. Yang rusak bukan sekadar moral individu, melainkan sistem nilai kolektif. kepentingan, pencitraan, dan popularitas mendapat ruang seluas-luasnya, fenomena yang terlihat makin bertumbuh. Dalam struktur seperti ini, orang amanah tersingkir bukan karena salah, tetapi karena dianggap tidak luwes. Sebaliknya, pengkhianat dirawat karena pandai bernegosiasi dengan kekuasaan. Itu yang disebut dalam istilah hadis ruwaibidah—orang dangkal ilmu dan moralnya tapi berbicara urusan besar, bukankah kini mulai menjamur?

Kerusakan itu berlanjut pada wilayah yang lebih dalam, sebagaimana sabda Nabi :

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يَبْقَى مِنَ الْإِسْلَامِ إِلَّا اسْمُهُ، وَلَا يَبْقَى مِنَ الْقُرْآنِ إِلَّا رَسْمُهُ

Artinya: Akan datang kepada manusia suatu zaman, tidak tersisa dari Islam kecuali namanya, dan tidak tersisa dari Al-Qur’an kecuali tulisannya. (HR. Imam Ahmad bin Hambal  no: 17232)

Hadis ini bukan kecaman terhadap ritual atau simbol, melainkan kritik tajam terhadap agama yang kehilangan ruhnya. Islam hadir secara administratif, tetapi absen secara etis, adab dan akhlak.

Kondisi ini semakin parah ketika dimensi ekonomi ikut terlepas dari nilai tauhid. Nabi bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنَ الْحَرَامِ

Artinya: Akan datang kepada manusia suatu zaman, seseorang tidak peduli dari mana hartanya diperoleh, dari halal atau haram. (HR. Imam Bukhari no 2059 kitab buyu’)

Di sini Nabi membongkar ilusi besar peradaban: ketika hasil diagungkan dan sumber diabaikan. Artinya semua fokus pada hasil yang dikumpukan termasuk finansial atau kekayaan, tapi menyingkirkan soal bagaimana dan proses dilakunan, haramkah tau lebih kejam lagi dari sekedar haram? Cara seperti ini dahulu dilakukan Yahudi kuno, apa yang disebut istilah as-Shuhtu.

Dalam lanskap sosial seperti itu, tidak mengherankan jika orang beriman mengalami tekanan berat, sebagaimana sabda Nabi :

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يُذَلُّ فِيهِ الْمُؤْمِنُ

Artinya: Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang beriman dihinakan. (HR. Al-Hakim Naisaburi dalam kitab Mustadrak al-Hakim no 4379, ia menilai sahih ala syart Muslim)

Hadis ini tidak menunjukkan kelemahan iman, melainkan ketegangan abadi antara kebenaran dan sistem  RRB  rusak, rakus dan biadab.

Maka jelaslah, hadis-hadis dengan pembuka سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ bukan undangan untuk menunggu kehancuran dengan sikap pasrah. Ia adalah ‘cermin test’ bagi rakyat, apakah kita menjadikan hadis sebagai cermin untuk berubah, atau sebagai tameng untuk membenarkan kepasrahan?

Wallahu A’lam By. Ulil Amri Syafri (Ahli Bidang Pindidikan dan Peradaban Islam)




09 January 2026

KRITIKAN TERHADAP PIKIRAN PHIL ZUCKERMAN DALAM BUKU MASYARAKAT TANPA TUHAN

#ulilamrisyafri
Phil Zuckerman dalam karyanya Masyarakat Tanpa Tuhan mengajukan gagasan besar bahwa masyarakat sekuler berbasis prinsip kemanusiaan mampu membangun tatanan sosial yang lebih sejahtera, adil, dan harmonis dibandingkan masyarakat yang didominasi oleh nilai agama. Penulis menegaskan bahwa negara sekuler yang netral terhadap agama dapat menjamin hak-hak individu secara merata, dengan landasan nilai universal seperti hak asasi manusia, kesetaraan, dan kebebasan berbicara. Melalui studi kasus negara Skandinavia seperti Denmark dan Swedia, Zuckerman berargumen bahwa sistem sekuler mampu mengelola konflik, menyediakan layanan sosial yang komprehensif, dan membangun kohesi masyarakat tanpa ketergantungan pada doktrin agama.

 

Kritikan terhadap Pikiran Penulis

 1. Parsialitas dan Kurangnya Universalitas

Ide utama Zuckerman cenderung terpaku pada model sekuler Skandinavia, sehingga gagasannya kurang relevan untuk konteks budaya dan sejarah yang beragam di seluruh dunia. Penulis tidak secara memadai memperhitungkan bahwa peran agama di banyak negara bukan hanya sebagai sistem keyakinan, tetapi juga sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya dan struktur sosial masyarakat. Pendekatan yang terlalu fokus pada pengalaman negara dengan latar belakang tertentu membuat analisisnya terkesan tidak objektif dan sulit diaplikasikan secara luas.

 2. Kurangnya Kesadaran akan Hubungan Agama dan Budaya

Zuckerman terkesan tidak menghargai realitas bahwa budaya manusia seringkali lahir dari sinergi antara karya kemanusiaan dan nilai-nilai agama yang telah mengakar selama berabad-abad. Penulis gagal memahami bahwa dalam banyak konteks, agama bukanlah faktor yang memisahkan, melainkan alat pemersatu masyarakat yang menguatkan nilai-nilai moral dan etika. Pendekatannya yang menyisihkan agama dari urusan negara justru bisa dianggap sebagai bentuk tidak menghargai kekayaan budaya yang tumbuh dari akar nilai agama.

 3. Ketidakseimbangan antara Hak dan Tanggung Jawab

Pikiran penulis terlalu menekankan pada perlindungan hak individu tanpa menyajikan pembahasan yang seimbang tentang tanggung jawab yang menyertainya. Dalam kasus seperti kontroversi kartun Nabi Muhammad dan pembakaran Al-Qur'an, Zuckerman lebih fokus pada kebebasan berbicara daripada pada tanggung jawab untuk tidak menyakiti perasaan komunitas beragama. Tanpa pemahaman yang jelas tentang batasan hak, kebebasan bisa berubah menjadi alat untuk merendahkan atau melecehkan orang lain, yang pada akhirnya merusak esensi kemanusiaan itu sendiri.

 Penulis tidak meletakkan konsep tanggung jawab pada porsi cerdas yang seharusnya dimiliki manusia sebagai makhluk sosial. Alih-alih mengedepankan keseimbangan yang bijaksana antara hak dan kewajiban, ia lebih terfokus pada "hak dan hak" yang terus-menerus ditekankan. Hak tanpa tanggung jawab tidak lebih dari bentuk egoisme yang melampaui batas, karena pada hakikatnya kehidupan bermasyarakat membutuhkan setiap individu untuk mempertimbangkan dampak tindakannya terhadap orang lain dan keseluruhan komunitas.

 4. Kurangnya Landasan Moral yang Kontekstual

Meskipun menegaskan bahwa masyarakat sekuler berbasis nilai universal, Zuckerman tidak mampu menjelaskan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat dipertahankan tanpa mempertimbangkan konteks budaya dan sejarah lokal. Pendekatannya yang mengedepankan prinsip sekuler sebagai satu-satunya solusi justru menunjukkan kurangnya pemahaman tentang keragaman cara manusia membangun sistem moral dan etika yang sesuai dengan kondisi lingkungannya. (bersambung..)

#ulilamrisyafri


07 January 2026

Agama Bukan Lelucon: Inti yang Tak Boleh Dianggap Remeh

Agama bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan lelucon musiman, atau lelucon dalam bentuk apapun. Agama memiliki identitas dan kedudukan tersendiri yang menjadi pijakan utama dalam kehidupan manusia. Ada banyak aspek lain dalam kehidupan yang bisa dijadikan bahan humor atau candaan, namun agama seharusnya bukan salah satunya.

Agama hadir sebagai sumber ajaran adab, moral, karakter, dan perwatakan yang membentuk nilai-nilai dasar bagi umat manusia. Melalui ajarannya, manusia diajarkan bagaimana hidup dengan benar, menghormati sesama, dan menjaga keharmonisan dengan alam semesta serta Sang Pencipta. Ketika agama dijadikan "lelucon musiman" atau hanya diperhatikan secara sepihak pada saat-saat tertentu dengan cara yang tidak pantas, itu bukan hanya merendahkan nilai agama sendiri, tetapi juga menunjukkan kemerosotan kreativitas dan kedalaman pikiran manusia.


Ulil Amri Syafri

Seperti yang terjadi pada masyarakat Yahudi kuno, agama ditempatkan sebagai poros utama dalam membangun kehidupan bermasyarakat dan peradaban mereka. Mereka menjadikan ajaran agama sebagai landasan dalam setiap langkah dan keputusan, yang kemudian membawa dampak positif bagi perkembangan diri dan komunitasnya. Namun, pada era modern ini, terkesan banyak orang menjadikan agama sebagai sesuatu yang berada di pinggiran kehidupan – hanya diingat saat ada acara tertentu atau ketika dibutuhkan semata, bahkan terkadang dijadikan bahan candaan yang tidak bertanggung jawab. 

Ini memang menjadi salah satu celaka yang dihadapi manusia modern. Agama seharusnya menjadi alat bagi pikiran manusia untuk menemukan arah yang jelas, memahami tujuan hidup dan makna keberadaan di dunia ini. Di mana mungkin tempatnya lelucon dalam hal yang begitu mendasar dan krusial ini? Agama adalah pondasi yang memberikan keteguhan hati, kedamaian batin, dan panduan hidup yang tak ternilai harganya – hal yang patut diperhatikan dengan penuh rasa hormat, bukan dijadikan sebagai objek yang bisa dipermainkan sesuka hati.