Cluster Casablanca, Sentul City, Bogor - Jawa Barat - 16810 | Hotline: 0813-1112-5384 (Call/SMS/WA)

18 January 2026

JANGAN MAU DININABOBOKAN AGAMA

#ulilamrisyafri
     Al-Qur’an berkali-kali mengisahkan Bani Israil bukan untuk membangun kebencian etnis, melainkan sebagai ibrah peradaban. Kritik wahyu diarahkan pada penyimpangan cara beragama: Di titik itulah agama kehilangan daya pembebasannya dan berubah menjadi asesoris sosial.

Logika inilah yang kemudian ditegaskan Nabi dalam hadis-hadis tentang “akhir zaman”. Hadis-hadis tersebut tidak dimaksudkan sebagai membuat pasif, melainkan peringatan aktif agar umat tidak mengulangi pola kerusakan yang sama. Nabi bersabda:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يُصَدَّقُ فِيهِ الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهِ الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهِ الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهِ الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهِ الرُّوَيْبِضَةُ

Artinya: Akan datang kepada manusia suatu zaman: pendusta dipercaya, orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, orang amanah dikhianati, dan orang remeh berbicara tentang urusan publik. (HR. Ibnu Majah no 4019, juga terdapat pada musnad Imam Ahmad)

Hadis ini menggambarkan runtuhnya arsitektur kepercayaan sosial. Yang rusak bukan sekadar moral individu, melainkan sistem nilai kolektif. kepentingan, pencitraan, dan popularitas mendapat ruang seluas-luasnya, fenomena yang terlihat makin bertumbuh. Dalam struktur seperti ini, orang amanah tersingkir bukan karena salah, tetapi karena dianggap tidak luwes. Sebaliknya, pengkhianat dirawat karena pandai bernegosiasi dengan kekuasaan. Itu yang disebut dalam istilah hadis ruwaibidah—orang dangkal ilmu dan moralnya tapi berbicara urusan besar, bukankah kini mulai menjamur?

Kerusakan itu berlanjut pada wilayah yang lebih dalam, sebagaimana sabda Nabi :

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يَبْقَى مِنَ الْإِسْلَامِ إِلَّا اسْمُهُ، وَلَا يَبْقَى مِنَ الْقُرْآنِ إِلَّا رَسْمُهُ

Artinya: Akan datang kepada manusia suatu zaman, tidak tersisa dari Islam kecuali namanya, dan tidak tersisa dari Al-Qur’an kecuali tulisannya. (HR. Imam Ahmad bin Hambal  no: 17232)

Hadis ini bukan kecaman terhadap ritual atau simbol, melainkan kritik tajam terhadap agama yang kehilangan ruhnya. Islam hadir secara administratif, tetapi absen secara etis, adab dan akhlak.

Kondisi ini semakin parah ketika dimensi ekonomi ikut terlepas dari nilai tauhid. Nabi bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنَ الْحَرَامِ

Artinya: Akan datang kepada manusia suatu zaman, seseorang tidak peduli dari mana hartanya diperoleh, dari halal atau haram. (HR. Imam Bukhari no 2059 kitab buyu’)

Di sini Nabi membongkar ilusi besar peradaban: ketika hasil diagungkan dan sumber diabaikan. Artinya semua fokus pada hasil yang dikumpukan termasuk finansial atau kekayaan, tapi menyingkirkan soal bagaimana dan proses dilakunan, haramkah tau lebih kejam lagi dari sekedar haram? Cara seperti ini dahulu dilakukan Yahudi kuno, apa yang disebut istilah as-Shuhtu.

Dalam lanskap sosial seperti itu, tidak mengherankan jika orang beriman mengalami tekanan berat, sebagaimana sabda Nabi :

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يُذَلُّ فِيهِ الْمُؤْمِنُ

Artinya: Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang beriman dihinakan. (HR. Al-Hakim Naisaburi dalam kitab Mustadrak al-Hakim no 4379, ia menilai sahih ala syart Muslim)

Hadis ini tidak menunjukkan kelemahan iman, melainkan ketegangan abadi antara kebenaran dan sistem  RRB  rusak, rakus dan biadab.

Maka jelaslah, hadis-hadis dengan pembuka سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ bukan undangan untuk menunggu kehancuran dengan sikap pasrah. Ia adalah ‘cermin test’ bagi rakyat, apakah kita menjadikan hadis sebagai cermin untuk berubah, atau sebagai tameng untuk membenarkan kepasrahan?

Wallahu A’lam By. Ulil Amri Syafri (Ahli Bidang Pindidikan dan Peradaban Islam)




0 komentar:

Post a Comment