Cluster Casablanca, Sentul City, Bogor - Jawa Barat - 16810 | Hotline: 0813-1112-5384 (Call/SMS/WA)

01 January 2019

Dinamika Sekolah Islam di Indonesia


By. Dr. Muhyani, M. Psi.T

Pasca kemerdekaan proses pendidikan anak-anak di Indonesia terus berkembang, meskipun bila dilihat aspek yang berkembang tersebut masih terfokus pada pembicaraan kurikulum dan proses belajarnya. Hal ini bisa dilihat dari perubahan berbagai kurikulum di lembaga Pendidikan pada setiap jaman. Yang popular baru-baru ini adalah pergantian kurikulum KTSP ke Kurikulum13. Adapun sekolah Islam yang merupakan bagian dari sub Pendidikan Nasional juga mengalami hal yang sama, kalau tidak ingin dikatakan terpengaruh secara langsung oleh kebijakan dan sistim pendidikan nasional.

Dari beberapa pengamatan, setidak-tidaknya ada beberapa perkembangan sekolah Islam di Indonesia berdasarkan perubahan kurikulumnya, yaitu:

1. Generasi Awal (G.1)
Sekolah Konvensional standar Pemerintah (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA). Kurikulum generasi awal ini mengikuti Kurikulum Pemerintah baik itu Depdikbud ataupun Kementrian Agama terdiri atas SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA. Contohnya sekolah-sekolah yang ada di Indonesia, baik negeri maupun swasta. Kurikulumnya sesuai dengan kurikulum pemerintah.


2. Generasi II (G.2)
Sekolah Umum Islam (SDI, SMPI, SMAI). Sekolah Umum berbasis Islam. Sekolah ini muncul karena kesadaran masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas, terutama mereka yang berlatar belakang pendidikan umum tetapi mereka ingin anak-anaknya mendapat iklim Islami. Mereka mendirikan SD Islam, SMP Islam, dan SMA Islam. Sekolah generasi ini populer awal tahun 1980an. Kurikulumnya mengikuti kurikulum Depdikbud, hanya ada penambahan materi pelajaran agama terutama baca tulis Al-Quran. Sistem pengelolaan sama persis dengan Sekolah standar Depdikbud. Contoh sekolah jenis ini antara lain SDI/SMPI/SMAI Al Azhar, SDI/SMPI/SMAI Al-Izhar, SDI/SMPI/SMAI AL Ikhlas, termasuk SD/SMP/SMA yang dikelola oleh Muhammadiyah.


3. Generasi III (G.3)
Sekolah Islam Terpadu (SIT). Sekitar tahun 1987 berdirilah TK Salman di kawasan Awiligar Bandung. Berbeda dengan TK pada umumnya, yang belajar dari jam 08.00 sampai jam 10.00, TK Salman siswa mulai datang pukul 07.00 dan pulang (dijemput) sekitar pukul 16.00. Gagasan belajar dari pagi hingga sore hari didasari atas realitas banyak keluarga muda yang suami istri bekerja, sehingga masalah pengasuhan anak menjadi hal yang sangat krusial. Melihat kondisi yang demikian, para aktivis Masjid Salman yang terhimpun dalam Pembinaan Anak-anak Salman (PAS) yang awalnya hanya mengadakan mentoring tiap hari Ahad, mulai merintis TK dan diberi Nama TK Salman.

TK Salman operasionalnya mirip dengan TPA (Tempat Penitipan Anak) bedanya, peserta didik pada TK Salman mengikuti rangkaian pembelajaran yang komprehensip, diawali dengan sholat dhuha, kegiatan belajar sambil bermain secara integrasi (belajar sains, aqidah, alquran, ibadah, dan istirahat) sampai 11.00. Peserta didik selanjutnya istirahat makan siang, dilanjutkan dengan sholat dhuhur. Setelah itu mereka istirahat siang sampai menjelang masuk waktu sholat Asar, persiapan sholat Asar. Selesai shalat Asar peserta didik bersiap-siap untuk pulang sambil menunggu orang tuanya menjemput.



Ide full day school di TK Salman kemudian diadopsi oleh aktivis pendidikan di Jakarta, tepatnya di Bangka Jakarta Selatan berdirilah Sekolah full day, dengan menggabungkan kurikulum Departemen Agama (Madrasah Ibtidaiyah) dan kurikulum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Sekolah Umum) menjadi Sekolah Islam Terpadu. Mulai dari Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu, SD Islam Terpadu. Berbeda dengan SD Islam yang sudah ada dengan kurikulum yang hampir sama dengan SD Umum—hanya jumlah Pendidikan Agama Islamnya lebih dari 2 jam dan pulang sekitar pukul 13.00 (setelah sholat Dhuhur)—jumlah pelajaran SDIT lebih banyak, yaitu pelajaran yang ada pada SD Umum ditambah dengan pelajaran yang diajarkan di Madrasah Ibtidaiyah seperti Aqidah, Alquran, Hadits, Sejarah Islam, Bahasa Arab, dan Fikih, dengan waktu belajar yang lebih lama (full day school).

Pada tahun 1990 sebagian penggiat Sekolah Terpadu ada yang pindah domisili di Jl. Situ Indah Cimanggis Kabupaten Bogor (sekarang Kota Depok). Mereka mendirikan Sekolah Islam Terpadu Nurul Fikri, mulai pertama buka TKIT dan SDIT, SMPIT, dsan SMAIT Nurul Fikri yang pengelolaannya berafiliasi ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bukan ke Departemen Agama. Mulailah Sekolah Islam Terpadu dikenal oleh masyarakat pendidikan di Indonesia, dan hampir di setiap kota besar di Indonesia berdiri Sekolah Islam Terpadu.


4. Generasi IV (G.4)
Sekolah Alam. Bagi sebagian penggiat pendidikan yang dulu aktif di Masjid Salman ITB, lembaga pendidikan yang ada waktu itu masih parsial, yaitu mementingkan aspek kognitif dan hanya sedikit aspek afektif dan psikomotor, dan kelas hanya terbatas oleh tembok (dalam gedung) cenderung memisahkan dengan alam. Melihat kondisi demikian mulailah dirintis Sekolah Alam.

Sekolah Alam adalah Sekolah yang menjadikan alam sebagai sumber ilmu dan bisa dikelola oleh para peserta didik. Konsep pendidikan Sekolah Alam tidak menggunakan gedung sekolah yang mewah melainkan saung kelas dari kayu, sehingga biaya untuk gedung lebih murah. Pendidikan yang berkualitas tidak ditentukan oleh sarana gedungnya, melainkan pada kualitas guru, metode yang diterapkan dalam proses belajar mengajar, dan kurikulum yang ditunjang oleh buku yang memadai sebagai gerbang ilmu pengetahuan.

Penggagas sekolah alam di Indonesia adalah Lendo Novo. Ia merintis berdirinya sekolah alam sejak 20 tahun silam. Puncak dari pergulatan panjang Lendo dalam mengembangkan konsep sekolah di alam terbuka terjadi pada tahun 1997, saat ia dan rekan-rekannya mendirikan Sekolah Alam Ciganjur, Jakarta Selatan. Lebih lanjut Lendo Novo mengutarakan, melalui sekolah alam dia berharap akan terlahir generasi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap masalah lingkungan. "Kalau dari kecil anak sudah terbiasa hidup di alam hijau dan ditanamkan semangat mencintai lingkungan, maka begitu besar ia tidak akan melakukan penebangan pohon". Sekolah alam sekarang semakin diminati oleh masyarakat sebagai solusi mendidik anak-anak menjadi generasi yang baik.


5. Generasi V (G.5)
Homeschooling (HS). Orang tua yang merasa mampu mendidik sendiri anak-anaknya tidak menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah. Untuk kelompok ini, mereka meyakini bahwa pendidikan terbaik adalah keluarga. Alasannya adalah banyak ekses yang terjadi pada sekolah umum seperti tawuran, pergaulan bebas, dan lainnya. Sehingga mereka memilih mendidik anak-anaknya sendiri di rumah. Kebanyakan dari mereka adalah golongan menengah secara ekonomi dan berpendidikan tinggi.

Tahun 1980-an ada tokoh yang memulai yaitu Aldi Anwar, ia adalah aktivis Masjid Salman ITB yang waktu itu memilih mendidik sendiri anak-anaknya. Waktu itu masih terasa asing, tapi era 2000-an Homeschooling sudah menjadi alternatif pendidikan yang dipilih oleh orang tua.


6. Generasi VI (G.6)
Sekolah Komunitas. Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan di Indonesia, muncullah sekolah komunitas, yaitu sekolah yang dikelola oleh sekelompok orang tua murid yang mempunyai visi yang sama tentang pendidikan. Mereka ingin mendapatkan pendidikan terbagus bagi anak-anaknya tetapi dengan biaya yang ‘terjangkau’. Tahun 2000-an muncul sekolah Alternatif di Salatiga tepatnya di Desa Kali Bening, yaitu Sekolah Qoriyyah Thoyyibah. Kemunculan sekolah ini sangat fenomenal, sekolah setingkat SMP dengan segudang prestasi tetapi dengan biaya yang sangat murah, dan gedung yang sangat sederhana. Prestasi sekolah ini sudah mendunia. Yang uniknya, sekolah ini tidak mempunyai guru tetap seperti sekolah pada umumnya, gurunya adalah orang tua murid sendiri.

Sekolah model ini juga ada di Depok, namanya Sekolah Pioneer, sekolah ini hampir sama dengan Sekolah Alam tetapi lebih formal. Siswa lulusannya memiliki hafalan menimal 4 juz Al-Quran. Uniknya, pengurus yayasan hampir semuanya orang tua murid. Sehingga antara Yayasan sebagai pengelola dan orang tua murid tidak ada perbedaan. Bahkan hubungan yayasan, orang tua murid, dan guru sangat harmonis. Sekolah ini punya semboyan Pioneer adalah kita.


7. Generasi VII  (G.7)
Sekolah Rumah. Generasi terbaru adalah Sekolah Rumah model Rumah Pendidikan Muslim Cendekia Madani. Model pendidikan ini lahir dari hasil pemikiran para pakar pendidikan Islam sebagai jawaban atas problematika pendidikan yang terjadi sekarang, khususnya dalam hal cognitive oriented, minimnya pembinaan akhlak pelajar, dan konsep pendidikan formal yang penuh dengan rutinitas yang membosankan. Konsep sekolah rumah ini  mirip dengan homeschooling namun diasramakan dengan suasana Islami. 




Proses pendidikan di Rumah Pendidikan MCM memiliki kekhasan tersendiri. Diawali dengan pemilihan rumah yang akan digunakan sebagai syarat pentingnya lingkungan dalam proses pendidikan; proses pembelajarannya yang menerapkan pola pembelajaran fokus, belajar tuntas; pembiasaan hidup sehat, dalam hal ini terkait dengan pola makan sehat berbasis buah dan sayur, pembinaan fisik melalui rutinitas olahraga, dan pembinaan adab yang berdasarkan akhlak Islami dan berkurikulum mandiri. Kesemuanya ini dilakukan dalam suasana yang santai, menyenangkan, dan kekeluargaan bersama mentor selama 24 jam.

Adalah Dr. Ulil Amri Syafri, seorang dosen Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun Bogor yang menggagas konsep rumah pendidikan tersebut. Konsepnya berangkat dari pencapaian kompetensi lulusan seperti apa yang ingin dicapai, baru kemudian menentukan kurikulum dan prosesnya sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.


Demikian gambaran tentang perkembangan sekolah Islam yang bisa diklasifikasikan. Idealnya, sekolah Islam di negeri yang berpenduduk muslim ini sudah harus menyusun suatu model pendidikan yang berkualitas dan unggul, baik secara fitrah kemanusiaanya maupun aspek ketrampilan atau skill hidupnya agar siap memasuki setiap jaman perubahan.

Dahulu di Sumatra ada sekolahan unik, kalau boleh kita beri nama dengan istilah sekarang yaitu sekolahan berbasis talenta atau sekolahan berbasis bakat anak. Dari namanya saja sudah bisa ditebak orientasi pendidikannya. Orientasi itu pulalah yang akan mempengaruhi aspek kurikulum dan proses pembelajarannya. Bukan sebaliknya, gonta-ganti kurikulum, tanpa jelas orientasinya, ditambah lagi lemahnya pada aspek penyelengara, pengajar, bahkan tujuan pengajaran yang tidak terbahas dan diperhatikan secara maksimal. Dengan kata lain seharusnya perubahan suatu sekolah harus didasarkan pada orientasi yang ingin dicapai sebagai tujuan pendidikan tersebut, bukan sebaliknya.

Allahu a'lam