Cluster Casablanca, Sentul City, Bogor - Jawa Barat - 16810 | Hotline: 0813-1112-5384 (Call/SMS/WA)

23 April 2017

Bahasa Arab Sebagai Pengantar Pembelajaran Ilmu Komputer

Pelajar MCM belajar membuat dan mengelola blog dengan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya
Bila anda berkesempatan untuk mengunjungi berbagai lembaga pendidikan berbasis pesantren di Indonesia, maka anda akan menjumpai berbagai macam tingkat pengajaran bahasa Arab dengan berbagai variasi metodenya.

Saat berkunjung barangkali anda akan menjumpai pengajaran bahasa Arab sederhana dengan metode pengenalan benda-benda di sekitar sekolah ataupun di sekitar asrama ditambah percakapan-percakapan sederhana seperti "Man anta?" "Masmuka?" "Min aina anta?" diikuti dengan peningkatan jumlah mufradat (kosakata) sedikit demi sedikit dari puluhan, ratusan hingga ribuan kata.

Bisa jadi pula anda menjumpai pengajaran bahasa Arab di tingkat tsanawiyyah dan aliyyah yang lebih mengedepankan kaidah-kaidah Nahwu (Tata Bahasa Arab) dan Sharaf (Ilmu Derivasi Kata) sebelum menguasai kemampuan istima' (listening) dan takallum (conversation) yang tentu punya konsekwensi tersendiri, yaitu timpangnya kemampuan peserta didik dalam kaidah-kaidah bahasa dengan minimnya penguasaan mufradat yang berakibat pada lemahnya penguasaan bahasa itu sendiri. Fenomena ini banyak dijumpai di pesantren-pesantren di Indonesia, termasuk juga di wilayah asia tenggara.

Di lembaga-lembaga setingkat diploma bahasa Arab, pengajaran bahasa Arab lebih maju dan disampaikan secara aktif dan komprehensif. Dalam artian, bahasa Arab digunakan setiap hari secara aktif dan dalam banyak bidang yang tentunya hal yang demikian itu adalah sesuatu yang menggembirakan, sebab inti dari sebuah bahasa -apapun bahasanya- adalah mumaarasah alias praktik! Tanpa itu, kita bisa jadi lupa akan bahasa ibu kita sendiri jika tidak pernah mempraktikkannya.

Dalam pengembangan bahasa Arab di Indonesia, meski penggunaannya cukup variatif di lembaga-lembaga berbasis pesantren dan ma'had aly, namun tetap ada keterbatasan penggunaan karena tujuan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia masih sebatas untuk mengkaji dan mendalami sumber-sumber referensi ilmu-ilmu syariat. Maka tak heran bila istilah-istilah bahasa Arab yang jamak dikenalkan di pesantren-pesantren, tempat-tempat kursus dan ma'had-ma'had aly tersebut masih terbatas pada istilah-istilah yang terkait dengan ilmu-ilmu keislaman.

Mufradat yang dihafal masih terkait erat dengan ilmu Nahwu, Sharaf, Balaghah, Arudh, Manthiq, Aqidah, Fiqh, Ushul Fiqh, Al-Quran, Al-Hadits, Akhlaq, atau segala sesuatu yang boleh kita sebut sebagai Kitab Kuning Sentris, ditambah dengan mufradat seputar keperluan sehari-hari seperti benda-benda yang dikenal di rumah, di asrama, di kelas, di lapangan, di masjid, di perpustakaan dan kata-kata kerja yang terkait dengannya.

Hal itu dapat kita jumpai dengan jelas di dalam kitab-kitab muqarrar (buku pegangan) pembelajaran bahasa Arab seperti Al-Arabiyyah Lin Nasyi'in (yang banyak digunakan di Indonesia), Durusul Lughah Al-Arabiyyah, Silsilah Ta'lim Al-Arabiyyah (yang banyak digunakan di mahad-mahad aly di Indonesia), Metode Mustaqilli, dan banyak lagi.

Maka saat alumninya berinteraksi dengan media-media berbahasa Arab seperti majalah-majalah timur tengah, media-media online, channel televisi timur tengah, ataupun siaran radio berbahasa Arab yang menggunakan bahasa Arab paling mutakhir, barulah terasa sulitnya mengikuti dan memahami bahasa Arab tersebut.

Belum lagi jika membayangkan diberi amanah untuk menjadi mutarjim faury (live translator) dalam seremoni-seremoni kenegaraan atau kunjungan-kunjungan politik bilateral seperti yang biasa kita lihat di televisi. Saat itu barangkali bahasa Arab berubah menjadi mimpi buruk yang mengerikan bagi fresh graduate dari pesantren-pesantren yang dikenal aktif berbahasa Arab karena ternyata banyak istilah-istilah modern dalam berbagai disiplin ilmu yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya.

Istilah-istilah bahasa Arab tentang ekonomi, militer, matematika, sains, komputer, kedokteran, industri, pertanian, politik atau sosiologi yang muncul di koran-koran berbahasa Arab ataupun di media-media online menjadi sesuatu yang sulit difahami karena memang tidak pernah diajarkan di lembaga-lembaga berbasis pesantren atau mahad-mahad aly tersebut.

Terlebih lagi, ada salah seorang pemerhati perkembangan bahasa Arab asal Indonesia yang menyatakan bahwa koran-koran berbahasa Arab di timur tengah, setiap harinya memunculkan 25 kosakata baru dalam bahasa Arab, yang bila kita hitung kasar, maka ada lebih dari 9000 kosakata baru per tahun. Maka kita bisa membayangkan betapa tertinggalnya pembelajar bahasa Arab hanya untuk masa satu dasawarsa saja.

Di sinilah perlunya pengembangan bahasa Arab lebih jauh melebihi dasawarsa-dasawarsa yang telah lalu dan menempatkannya sejajar dengan bahasa internasional lainnya seperti bahasa Inggris, Mandarin, Jepang dan Korea yang menyerbu Indonesia melalui film-film, budaya dan produk-produk teknologinya. Dengan usaha ini kita berharap bahasa Arab di masa yang akan datang tidak hanya berhenti menjadi bahasa kajian Al-Quran dan Al-Hadits saja, namun juga menjadi bahasa keseharian kaum muslimin Indonesia yang digunakan dalam lapangan apapun.

Memang sulit membayangkan anak-anak kita mempelajari dengan serius istilah-istilah matematika, sains, teknologi dan kedokteran dalam bahasa Arab. Sebab, diakui ataupun tidak, kita masih bertanya suatu hal yang prinsipil -atau setidaknya dianggap demikian- "Apa gunanya?" Bukankah mereka akan berdakwah dan berkarya di Indonesia yang notabene berbahasa Indonesia?

Jawaban atas pertanyaan di atas kembali kepada visi masing-masing dari kita. Apakah ikhtiar kita sekarang dalam mengajarkan bahasa Arab kepada anak-anak kita sebatas ingin agar mereka bisa mengkaji Al-Qur'an dan Al-Hadits lebih baik dari kita? Ataukah kita mempunyai tumuuh atau ambisi yang lebih besar, seperti kita berharap bahwa anak-anak kita menjadi pemain utama dalam percaturan peradaban dunia di masa yang akan datang? Bilamana kemudian di masa 10-20 tahun lagi, di saat bahasa Arab menjadi bahasa populer -sekaligus bahasa kebanggaan- anak-anak muslim Indonesia, tidakkah kita melihat anak-anak kita akan ketinggalan bila tidak memaksimalkan potensinya sejak sekarang?

Menjawab visi tersebut, Muslim Cendekia Madani berusaha mengembangkan sesuatu yang baru di kelas-kelas pembelajaran bahasa Arabnya. Di samping Al-Arabiyyah Baina Yadaik yang menjadi buku ajar standar dalam pembelajaran tingkat dasar dan menengah, MCM juga memberikan kelas-kelas pembelajaran komputer dengan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya.

Pembelajaran semacam ini tentu membutuhkan persiapan, yaitu keharusan adanya pengenalan mufradaat (kosakata) yang berhubungan dengan ilmu komputer dan teknologi sebelum dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran ilmu komputer.

Contohnya, kata monitor dalam bahasa Arab yang resmi disebut "Asy-Syaasah." Sedangkan keyboard disebut "Lauhatul Mafaatih," lalu mouse disebut "Al-Fa'rah," printer disebut "Ath-Thaabi'ah," scanner disebut "Al-Maasih" dan proyektor disebut "Al-Mishlaath." Adapun istilah resmi untuk touch screen adalah "Asy-Syaasah Al-Maasihah," lalu untuk aplikasi digunakan kata "At-Tathbiiq" dan untuk menyebut medsos digunakan istilah "Wasaail Al-I'laam Al-Ijtimaa'iyyah" dan masih sangat banyak lagi.

Paling tidak, peserta didik diwajibkan menghafal sekitar 250-500 kata bahasa Arab yang terkait dengan istilah-istilah ilmu komputer sebelum pembelajaran materi-materi ilmu komputer itu dimulai.

Di antara materi-materi ilmu komputer yang diajarkan adalah:
  • Operating System (Nizham At-Tasyghil).
  • Word Processor (Mu'alijul Kalimaat).
  • Presentation (Al-'Ardlu).
  • Animation (At-Tahriikah).
  • Sound Editing (Tahriir Ash-Shauth).
  • Blog (Al-Mudawwanah).
  • Posting (An-Nasyr).
  • Custom Template (Al-Qaalib Al-Mukhashshash).
  • Source Code Modification (Ta'diil Mashdar Ar-Ramz).
  • Custom Domain (An-Nithaaq Al-Mukhashshash).
  • Document Embedding (Tadhmiin Al-Mustanad).
  • Social Media (Wasaail Al-I'laam Al-Ijtimaa'iyyah).
  • Computer Security (Himaayatul Haasuub).
  • Dan lain-lain.
Peserta didik di MCM sangatlah antusias dengan materi-materi ini karena berkenaan langsung dengan dunianya. Sebab, para remaja di zaman ini adalah para remaja dari generasi yang memang terlahir melek komputer dan melek internet bila dibandingkan dengan para remaja di era 90-an. Maka, meski istilah-istilah bahasa Arab yang harus mereka hafal terbilang asing dan sama sekali baru, namun rasa keingintahuan mereka jauh melebihi hambatan-hambatan kecil tersebut.

Benar memang bila bahasa adalah masalah mumaarasah, namun menemukan tombol yang tepat untuk menggerakkan para remaja ini agar bersuka cita dalam belajarnya adalah masalah serius bagi para pendidik. Karena dalam dunia pendidikan terdapat satu aksioma yang menyatakan bahwa metode selalu lebih penting daripada materi dan pendidik selalu lebih penting daripada metode.

Adalah satu kepastian bahwa para remaja ini akan tumbuh dewasa di dunia masa depan yang akan sangat tergantung dengan komputer dan perangkat elektronik, maka mengajarkan ilmu komputer kepada mereka di usia dini ibarat mengajarkan cara mengetik cepat metode 10 jari kepada sekelompok orang yang masih menulis dengan batu sabak. Siapapun yang menguasainya laksana manusia melek di tengah kampung tuna netra. Dia pasti menjadi pemimpin mereka. Ditambah dengan kemampuan penggunaannya dalam bahasa Arab, maka mereka akan menjadi pemimpin yang unik di masanya.

Tidakkah ini menjadi visi kita tentang masa depan anak-anak kita?

10 April 2017

Benarkah Belajar Bahasa Arab itu susah, ribet, dan repot?

Image result for belajar bahasa arab kantun

Oleh : Dr. Ulil Amri Syafri

Keluhan pertama dalam mempelajari bahasa Arab adalah SUSAH. Kata tersebut berada pada posisi teratas untuk mendeskripsikan tingkat kesulitan mempelajari bahasa Al-Qur'an ini. Tentu saja. Bayangkan, mereka harus mempelajari bahasa asing dengan banyak perubahan kata untuk setiap kata. Ada kaidah-kaidah bahasa Arab yang harus dihafal. Selain itu, metode pengajaran bahasa Arab yang sering kali diawali dengan mengajarkan Nahwu-Sharaf, membuat ‘njelimet’ para pelajar. Ditambah dengan guru yang terkesan ‘kaku’ dalam proses pengajaran, meski mereka mengajarkan bahasa, tapi pelit berkomunikasi.  Maka tak heran jika banyak para pelajar yang sudah mem-blok dirinya tidak sanggup mempelajari bahasa ini.

Pelabelan kata ‘susah’ seharusnya tidak boleh dilakukan oleh mereka yang sedang dalam proses belajar bahasa Arab, karena hal tersebut sangat merugikan. Rugi karena bahasa Arab adalah bahasa ilmu dan jendela khazanah Islam yang agung, baik klasik maupun modern. Bahasa Arab adalah bahasa peradaban sekaligus bahasa yang menyimpan sejarah panjang manusia. Bahasa Arab juga bahasa komunikasi Rasulullah SAW yang tersimpan dalam teks-teks hadis. Dengan kata lain, semua komunikasi Rasul ‘terekam’ dalam bahasa tersebut, sekaligus firman-firmanNYA yang tentu saja tertulis juga dalam bahasa Arab. Maka, mempelajarinya adalah sebuah keindahan dan keasyikan tersendiri. Karena bahasa tersebut bukan saja jendela, tapi pintu besar meraih kesuksesan.

Sesungguhnya, belajar bahasa arab itu sangat menyenangkan, mudah, ringan, serta banyak tantangan yang asyik dan khas bagi para pelajar-pelajar pemula.

Ya, belajar bahasa arab itu MUDAH dan ASYIK! Semua kemudahan dan keasyikan ini bermula dari seorang pengajar, guru, ataupun mentor bahasa tersebut. Hal ini pernah dikatakan oleh Mahmud Yunus, “metode pengajaran itu lebih penting dibandingkan materi, tetapi seorang guru itu lebih penting dibandingkan metode pengajaran. Namun ada yang lebih penting lagi dari hal itu semua, yaitu ‘Ruh’ dari guru tersebut.

Dalam proses pembelajaran, apapun bisa jadi sulit dan membosankan. Tapi dengan guru dan metode pengajaran yang tepat, materi sulit dan berat bisa menjadi mudah. Apalagi jika materinya mudah dengan para mentor yang tepat. Bukan saja materi jadi mudah difahami, bahkan  kepribadian pelajar pun akan tumbuh dan berkembang secara positif.

Konsep ini sudah dipraktekkan pada beberapa pelajar pemula bahasa Arab di Muslim Cendekia Madani. Para Pelajar ini mengakui bahwa ternyata belajar bahasa Arab itu tidak susah, tidak ribet, apalagi repot.

Misalnya Aliya, putri berusia 16 tahun ini memiliki ‘trauma’ dalam proses pengajaran bahasa Arab di awal SMA-nya. Hal ini akibat kesulitan mengikuti proses pengajarannya ketika mondok di salah satu pesantren. Bahasa Arab yang dia kenal dalam proses pembelajaran adalah qaidah bahasa atau tata bahasa arab, biasa disebut ilmu Nahwu dan Sharaf, plus tehnik pengajarannya yang klasik, yaitu menghafal tanpa faham maksudnya. Tentu saja ini menjadi awal buruk baginya. Dalam hitungan pekan, pelajaran bahasa arab tersebut menjadi sesuatu yang sulit dan tidak menyenangkan bagi dirinya.

Bersyukur Aliya punya orang tua, khususnya ibunya yang terus mengingatkan anaknya agar mau terus belajar bahasa Arab agar bisa memahami isi al Quran. “Kata Bunda, jika kita ingin menghapal al-Qur’an, akan lebih baik jika kita paham bahasanya. Jadi mempermudah kita dalam menghapal dan mempelajari isinya.” 

Aliya kini merasa enjoy, senang, dan menikmati proses pembelajarannya. Ia merasakan proses pengajaran yang diterimanya saat ini sangat jauh berbeda dengan yang pernah ia dapatkan sebelumnya. Kini ia merasa bersemangat dalam belajar bahasa Arab, padahal ia juga sudah mulai mempelajari ilmu Sharaf. Kini Aliya bisa lebih paham apa manfaat ilmu tersebut dalam berbahasa Arab.

Lain halnya Hani (15 tahun), pelajar asal sekolah dari salah satu SMPIT di pekalongan. Hani mengatakan, “Saya jadi lebih paham bahasa Arab karena lebih fokus, sehingga lebih mudah dan kuat mengingatnya.”  Hani sudah menjalani proses belajar bahasa Arab 6 bulan. Alhamdulillah, saat ini ia sudah bisa komunikasi berbahasa arab dengan baik, membaca tulisan arab tanpa harakat, menonton film-film berbahasa Arab, bahkan selanjutnya akan masuk pada proses belajar program office dan berbagai program komputer berbahasa Arab lainnya. Tentu saja hal ini adalah sesuatu yang unik dan baru, sebab bahasa arab komputer sangat special. Ini menjadi tantangan yang menyenangkan bagi Hani dan rekan-rekannya.

Pelajar lainnya adalah Muhammad Nuh Amri (14 tahun), pelajar asal Madrasah Internasional Techno Natura Depok. Ketika tahu akan ada program belajar program komputer dan web dengan bahasa Arab, ia merasa senang. Meskipun ada 700 kosa kata yang berhubungan dengan computer dan dunia maya yang harus dihapalnya, ia siap untuk melakukannya. “Gak masalah. Bahasa arabnya pasti mengasyikkan karena kosa katanya mutakhir.”

Kemudian pelajar lainnya, Ilham (18 tahun), yang sebelumnya belum pernah mendapatkan pelajaran bahasa Arab. Ia sangat menikmati proses pembelajaran bahasa Arab yang didapatkannya karena merasa metode pengajarannya unik dan sangat menyenangkan. Ia juga sangat terkesan pada para mentor yang mendampinginya belajar. “Mentor disini hebat, mampu mengajar saya yang ‘agak lambat’ dalam belajar. Biasanya, tidak ada guru yang sanggup mengajar saya, Mentor disini sangat sabar membimbing.” ujarnya.

Alhamdulillah, para pelajar sangat menikmati proses pembelajaran mereka di MUSLIM CENDEKIA MADANI. Bayangan kesulitan-kesulitan yang biasanya ada dalam belajar bahasa Arab tidak mereka temui disini. Mereka tekun dan bersemangat untuk mencapai target tahun pertama mereka, yaitu mampu berbicara bahasa Arab dengan baik, bisa berselancar di dunia maya berbahasa Arab, mengerti Program Komputer berbahasa Arab. Mereka berharap bisa mendapat kesempatan untuk kuliah di Timur Tengah dua tahun mendatang, insya Allah.

Belajar bahasa Arab susah? Tentu tidak!

Lembaga pendidikan Islam MUSLIM CENDEKIA MADANI mengurai kesulitan dan kejenuhan proses belajar bahasa Arab yang kerap dijumpai para pelajar. Memang betul pendapat yang menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran, apapun bisa jadi sulit dan membosankan. Tapi dengan guru dan metode pengajaran yang tepat, materi sulit dan berat bisa menjadi mudah. Apalagi belajar dengan materi yang mudah dan didampingi para mentor yang tepat. Jangankan materi pelajaran tersebut jadi semakin mudah, bahkan para pelajar pun mendapatkan pengalaman belajar yang mudah dan menyenangkan.

Pendidikan model ini perlu dihadirkan bagi para pelajar dan anak anak masa kini, agar anak lebih paham bahwa ternyata belajar bahasa Arab itu asik dan menyenangkan. 


03 February 2017

Catatan Pembelajaran Bulan Ke-5


Alhamdulillah, tak terasa kegiatan belajar mengajar bulan ke-5 di Muslim Cendekia Madani telah usai.

Di awal bulan ke-5 yang lalu kembali diadakan perubahan pola pembelajaran yang tertuang dalam program baru yang kali ini terbagi menjadi 5 pekan belajar dengan dua kelas: Kelas Mandiri dan Kelas Percepatan. Dengan pola seperti berikut ini:

Kelas Mandiri:

Pekan 1-2: Pengayaan Mufradaat (Vocabs), pemahaman Nushush (Text Comprehension) dan persiapan presentasi. Target pembelajaran: menghafal Mufradaat dan kemampuan berbahasa Arab cepat.

Pekan 3: Pengayaan Mufradaat (Vocabs), pemahaman Nushush (Text Comprehension), membaca Arab gundul (Non Syakl Reading) dan terjemah Nushush (Text Translation). Target pembelajaran: menghafal Mufradaat dan kemampuan membaca dan menterjemahkan teks bahasa Arab.

Pekan 4: Pengayaan Mufradaat (Vocabs) dan pekan film. Target pembelajaran: menghafal Mufradaat dan kemampuan mendengar dan memahami dialog-dialog bahasa Arab cepat.

Pekan 5: Pengayaan Mufradaat (Vocabs) dan pekan Tsaqafah Islamiyyah (Islamic Outlook). Target pembelajaran: menghafal Mufradaat, pengayaan wawasan keislaman dalam khazanah Ilmu Akhlak (Birrul Walidain), Ilmu Hadits dan Ilmu Ushul Fiqh (presentasi disampaikan dalam bahasa Arab) sekaligus meningkatkan kemampuan mendengar dan memahami paparan berbahasa Arab yang hidup, cepat, langsung dan interaktif.

Kelas Percepatan:

Pekan 1-3: Pembelajaran bahasa Arab menggunakan Al-Arabiyyah Baina Yadaika 1. Target pembelajaran: menghafal Mufradaat dan pembiasaan mendengar bahasa Arab.

Pekan 4: Pembelajaran bahasa Arab menggunakan Al-Arabiyyah Baina Yadaika 1 dan pekan film. Target pembelajaran: menghafal Mufradaat dan pembiasaan mendengar bahasa Arab.

Pekan 5: Pembelajaran bahasa Arab menggunakan Al-Arabiyyah Baina Yadaika 1 dan pekan Tsaqafah Islamiyyah (Islamic Outlook). Target pembelajaran: menghafal Mufradaat, pengayaan wawasan keislaman dalam khazanah Ilmu Akhlak (Birrul Walidain), Ilmu Hadits dan Ilmu Ushul Fiqh (presentasi disampaikan dalam bahasa Arab) sekaligus meningkatkan kemampuan mendengar dan memahami paparan berbahasa Arab yang hidup, cepat, langsung dan interaktif.

Adapun kegiatan rekreasi ringan seperti futsal dan berenang tetap berjalan seperti bulan-bulan sebelumnya yang bertujuan menjaga kesehatan, mengusir rasa bosan dan menyegarkan fikiran.

Nah, berikut kegiatan sehari-hari setiap peserta didik di bulan ke-5 yang lalu:

04.00 - 05.00 : Persiapan shalat shubuh dan shalat shubuh berjamaah.
05.00 - 06.00 : One Day One Juz (Tilawah sehari satu Juz).
06.00 - 07.00 : Sarapan dan bersiap mengikuti program olah raga rutin.
07.00 - 08.00 : Olahraga rutin (Lari 5 km).
08.00 - 08.30 : Bersih-bersih lingkungan.
08.30 - 09.00 : Bersih diri.
09.00 - 12.00 : Mengikuti program pembelajaran masing-masing.
12.00 - 13.00 : Shalat Zhuhur.
13.00 - 15.00 : Makan siang dan istirahat.
15.00 - 16.00 : Bersih diri dan shalat ashar.
16.00 - 17.30 : Melanjutkan program pembelajaran masing-masing.
17.30 - 18.30 : Free Time.
18.30 - 19.00 : Shalat Maghrib
19.00 - 19.30 : Tahsin Tilawatil Quran dan Tahsin Al-Adzan.
19.30 - 20.00 : Shalat Isya'.
20.00 - 20.30 : Makan malam.
20.30 - 21.30 : Melanjutkan program pembelajaran masing-masing.
21.30 - 04.00 : Istirahat.

Walhamdulillah, kelas Mandiri akhirnya terbiasa dengan konsep Self-Learning atau yang biasa dikenal dengan istilah Autodidact yang tujuannya tidak lain agar etos belajar tumbuh dalam jiwa tiap siswa sehingga menyadari bahwa belajar tidak harus melulu ditemani atau diawasi guru, yang dengan demikian menumbuhkan kesadaraan akan pentingnya ilmu sehingga terdorong untuk selalu belajar dalam kondisi apapun baik dengan pendampingan ataupun mandiri.

Adapun kelas Percepatan, mengalami peningkatan penguasaan Mufradaat yang cukup baik. Bahkan siswa yang di awal belajarnya merasa berat berhadapan dengan bahasa dan tulisan Arab, kini mulai menikmati dan mulai terbiasa dengan mengulang-ulang pelajarannya.

Di bulan ke-5 ini pula diadakan Evaluasi Akhir Semester secara menyeluruh dengan metode sederhana: Diskusi Panel.

Dalam metode ini, setiap siswa diberi tugas masing-masing untuk menjadi Master of Ceremony, Moderator, Panelis dan Komentator secara bergantian dalam 9 sesi diskusi yang diadakan selama 2 hari. Kewajibannya cuma satu: semua harus disampaikan dalam bahasa Arab!

Dalam ceramah-ceramah, tanya jawab-tanya jawab dan perdebatan-perdebatan yang muncul dalam tiap sesi itulah bisa dievaluasi seberapa jauh capaian bahasa Arab masing-masing siswa selama 5 bulan terakhir.

Dan hasilnya: Memuaskan!

Para Siswa mengikuti proses Evaluasi Akhir Semester dalam bentuk Diskusi Panel
Lalu, beberapa hari terakhir di bulan Januari lalu diadakan pelepasan siswa yang mengikuti program Ma'had Aly, pembekalan akhir dan pembagian Ijazah serta Sertifikat sebelum mereka meninggalkan Muslim Cendekia Madani untuk melanjutkan pendidikannya.

Rata-rata alumni diarahkan untuk mempersiapkan diri mengikuti pendaftaran kuliah di timur tengah (Mesir, Sudan atau Maroko) dalam program beasiswa dari Dikti Kemenag. Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq dan merizkikan kepada mereka kesempatan untuk belajar di tingkat yang lebih tinggi.

Saatnya pula untuk siswa-siswa Aliyah menikmati liburan semester setelah 5 bulan terakhir berjibaku dengan buku-buku dalam usaha meningkatkan kemampuan berbahasa Arab. Selamat menikmati liburan di kota masing-masing, tetap jaga shalat berjamaah dan selalu tekunlah untuk membaca satu juz Al-Qur'an tiap harinya. Semoga Allah memberi taufiq-Nya.

Bagaimana dengan bulan keenam? Selalu ada kejutan di Muslim Cendekia Madani.

Kita tunggu...

10 January 2017

Hidup Sehat Dengan Pola Makan Alami di Muslim Cendekia Madani

Menjadi kewajiban setiap muslim untuk memperhatikan apa yang dikonsumsinya sehari-hari. Sebab, makanan menjadi salah satu faktor penting dalam tumbuh kembang manusia, mulai dari bayi hingga lanjut usia. Dalam Islam, ada dua syarat yang menjadi ketentuan dalam mengkonsumsi makanan: Halal dan Baik (QS. Al-Baqarah: 168).

Makanan yang halal adalah makanan yang diperbolehkan sesuai ketentuan syariah. Hal ini mencakup dari jenis makanannya, halal dzatnya, pengolahannya juga syar’i, diperoleh dengan cara yang halal. Sedangkan makanan yang baik adalah makanan yang dapat dipertimbangkan dengan ilmu kesehatan sebagai tolak ukurnya.

Makanan yang baik adalah makanan yang tidak membahayakan bagi tubuh manusia dilihat dari sudut ilmu kesehatan. Makanan yang baik juga lebih bersifat kondisional, tergantung situasi dan kondisi manusia yang bersangkutan. Belum tentu jenis makanan yang baik untuk si A baik untuk si B atau si C. Intinya, makanan yang halal belum tentu baik dikomsumsi seseorang dan makanan baik bisa jadi belum tentu kehalalannya. Maka, makanan Halal lagi baik dan makanan yang baik lagi halal menjadi ukuran pola makan sehat yang utama.

Dalam ruang lingkup pendidikan, masalah makanan yang baik ini masih belum menjadi perhatian penuh. Di banyak lembaga pendidikan berasrama, masih dijumpai para pengelola yang kurang memperhatikan pola dan makanan yang dikonsumsi para pelajarnya. Di sekitar lingkungan sekolah dan asrama, jejeran makanan instan, berpengawet, dan aneka jajanan pabrik masih menjadi santapan para pelajar calon generasi muda Islam itu.

Hal ini tentunya akan berdampak buruk pada kesehatan, terlebih lagi mempengaruhi kesehatan jangka panjang. Penyakit magh, diare, dan berbagai jenis penyakit kulit biasa ditemui dalam kasus-kasus di lembaga pendidikan berasrama. Ini adalah gambaran dari betapa lemahnya sosialisasi pendidikan kesehatan di kalangan para pelajar Islam.

Gaya hidup sehat dan pola makan yang baik belum dianggap hal penting dalam lingkungan pendidikan berasrama. Ada kesan hal tersebut bukanlah bagian yang harus diintegralkan dalam proses pendidikan. Tentu saja ini salah besar, karena pendidikan itu sendiri merupakan upaya dengan segala seninya untuk mewujudkan manusia yang baik dalam berbagai hal, baik aspek ruhaninya, daya fikirnya, jasmani, dan kesehatannya.  

Reaksi-reaksi tubuh dalam bentuk penyakit-penyakit yang muncul di lingkungan sekolah berasrama adalah alarm atau respon terhadap apa yang telah dikomsumsi oleh para pelajarnya. Semestinya, prinsip makan sederhana bukan berarti makan apa adanya. Prinsip makan sederhana ini juga tidak boleh membahayakan kesehatan tubuh jangka pendek, dan tidak boleh juga merugikan kesehatan tubuh jangka panjang. Demikian pula sebaliknya, bahwa perut kenyang dan makan banyak bukan simbol hidup sehat.

Konsep gaya hidup sehat dan pola makan baik inilah yang menjadi concern di Pusat Pendidikan Islam Muslim Cendekia Madani. Para penggagas sekolah ini ingin memahamkan betul kepada pelajarnya, bahwa sehat jasmani melalu perbaikan pola makan adalah hal penting. Maka, konsep hidup sehat dengan pola makan yang baik ini menjadi satu dari beberapa materi unggulan yang diberikan di Muslim Cendekia Madani. Tidak saja pada praktiknya langsung dalam menu-menu makanan sehari-hari para pelajar, tapi pengenalan tentang kesehatan melalui kegiatan konsultasi juga menjadi proses pendidikan bagi pelajarnya.

Dalam mengimplementasikan konsep gaya hidup sehat dan pola makan baik tersebut, Muslim Cendekia Madani mengadakan acara “Konseling Hidup Sehat” di hadapan para pelajarnya pada awal tahun 2017 ini. Lewat acara tersebut mereka dikenalkan dengan pola makan sehat berbasis makanan alami.

Acara tersebut mengambil tema “SEHAT DENGAN MAKANAN ALAMI (Konsep Dasar FOOD COMBINING). Selama kurang lebih dua jam para pelajar diberi pemahaman-pemahaman mendalam tentang tubuh manusia, metabolisme tubuh, siklus sirkadian tubuh, enzim, makanan alami dan non alami, konsep asam basa pada tubuh, dan bahayanya gluten pada usus manusia. Kemudian, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab seputar masalah kesehatan dan pola makan.

Acara berjalan dengan santai namun tidak mengurangi keseriusan dalam dialog yang tercipta. Para pelajar antusias dalam menerima ilmu-ilmu kesehatan yang terbilang baru bagi mereka dengan banyak bertanya tentang materi-materi seputar tema yang diberikan. Sedikit banyak mereka mulai memahami makanan-makanan apa saja yang harus menjadi prioritas masuk ke dalam tubuh agar bisa tumbuh menjadi pemuda muslim yang sehat secara fisik dan psikis untuk 20 tahun ke depan.

Dalam sesi tanya jawab, salah satu pelajar bertanya, “jadi kita gak boleh sama sekali mengkonsumsi mie Instan dan makanan ber-MSG?” Tak aneh jika pertanyaan ini yang akan muncul, karena kebanyakan orang —mulai  dari anak-anak hingga orang dewasa— menyukai mie instan yang rasanya gurih dan mudah membuatnya.

Dalam menjawabnya, diberikan teori-teori enzim dalam tubuh yang digunakan dalam metabolisme tubuh, termasuk dalam mencerna makanan. Selain itu ditekankan juga bahan dasar mie instan yang berasal dari gluten yang bisa membuat rusak usus halus jika terus menerus kemasukan zat gluten tersebut. Belum lagi bahan-bahan kimia yang terdapat dalam kandungan MSG dan bahan makanan pabrikan. Dalam menjawab hal ini difahamkan kepada para pelajar bahwa metabolisme tubuh akan rusak jika sering mengkonsumi makanan instan/pabrik/berpengawet, dan enzim manusia akan terkuras jika harus terus bekerja ‘membantu’ metabolisme yang rusak. Jadi, para pelajar tidak didikte dalam hal ini, tapi lebih kepada menggugah kesadaran dengan ilmu yang diberikan.

Mereka juga bertanya cara minum air putih saat makan, bolehkan minum air putih sesudah makan, berapa banyak air yang dibutuhkan tubuh tiap harinya, kenapa harus makan buah sebelum makan, juga mereka bertanya apakah sayuran yang di masak sampai layu dan sangat matang masih ada gunanya untuk tubuh. Pertanyaan-pertanyaan dasar dan sangat penting itu cukup mengejutkan Mudir Muslim Cendekia Madani, Dr. Ulil Amri Syafri, yang juga ikut mendampingi pelajarnya. Beliau memahami bahwa pertanyaan tersebut biasa ditemukan pada kebiasaan masyarakat umumnya.

Alhamdulillah, acara “Konseling Hidup Sehat” berlangsung dengan baik. Tentunya ini merupakan bagian dari usaha mensosialisasikan kesadaran hidup sehat lewat pola makan yang baik dan benar. Bila anak sudah sadar akan pola hidup sehat dan pola makan baik, tentunya itu semua akan berpengaruh pada kondisi belajar mereka secara keseluruan. Sebab pola hidup sehat dan pola makan yang baik tidak saja berdampak pada kesiapan fisik mereka dalam menerima pelajaran, tapi juga bisa mengatur dan memperbaiki pola tidur mereka. Terlebih berdampak positif pada jiwa mereka, yaitu membuat jiwa menjadi tenang dan emosi pun menjadi stabil.

08 January 2017

Rileksasi Panahan


Panahan masih terbilang baru dalam dunia Pendidikan Indonesia. Alhamdulillah, beberapa lembaga Pendidikan Islam di Tanah Air sudah mulai melirik seni dan ketangkasan panahan tersebut sebagai bagian dari olah fisik yang sangat khas. Bila dilihat dari budaya dan tradisi Islam, panahan memang jenis olah raga klasik. Kehebatan panahan dalam sejarah Islam tentu mengingatkan kita kepada 70 prajurut Rasullullah saw. yang bertengger di bukit Uhud. Mereka adalah pasukan khusus yang dimiliki oleh Rasullullah saw. dalam sebuah pertempuran saat itu.
Dalam sejarah Islam, kemahiran dalam memanah dianggap sebagai seni ketangkasan yang sering dihubungkan dengan tiga dasar pendidikan Keperwiraan Muslim, yaitu ketangkasan Berenang, Panahan, dan Berkuda. Pelajar muslim yang memiliki kemampuan pada tiga hal tersebut akan terlihat lebih gagah dan keren, apalagi diiringi dengan kemampuan bela diri yang hebat. Tentunya hal ini akan membanggakan kedua orang tua mereka, subhanallah.
Inilah peran pendidikan Islam dalam menumbuhkan setiap potensi anak keluarga muslim pada tiga dasar pendidikan keperwiraan berbasis Islam tersebut. Hal ini bisa berupa pembiasaan latihan-latihan pada ketiga olahraga tersebut pada para pelajar, untuk kemudian dikembangkan dan digabungkan dengan pendidikan keperwiraan yang telah ada. Kegiatan Pramuka, misalnya. Pendidikan keperwiraan muslim tersebut selain menjadi modal saja’ah atau keberanian pelajar pemuda muslim, juga menjadi bagian pengukuhan rasa patriotisme cinta Tanah Air dan bela Agama Allah. 

Pusat Pendidikan Islam Muslim Cendekia Madani sebagai lembaga pendidikan Islam yang paham akan hal ini mencoba mengaplikasikan tiga dasar pendidikan keperwiraan muslim. Dalam mengakhiri tahun 2016 ini, para pelajarnya menutup tahun dengan berlatih memanah. Bagi Pelajar Muslim Cendekia Madani, latihan memanah seharusnya akan didapati pada tahun ke dua, setelah mahir berkuda. Hanya saja, kebetulan semua kuda yang biasa digunakan untuk berlatih sedang dalam kondisi hamil besar. Selain tidak memungkinkan para kuda tersebut diajak berpacu, para mentor dan pelajar tidak tega jika harus menaiki kuda-kuda tersebut. Akhirnya, para pelajar meminta berlatih Panahan sebagai pengisi waktu yang ada. 

Dalam kegiatan Panahan ini, Muslim Cendekia Madani mendatangkan pelatih memanah bersertifikasi untuk melatih para pelajar Muslim Cendekia Madani. Dimulai dari paparan teori-teori memanah, mengenal alat panah, hingga praktik langsung yang menggunakan 25-30 anak panah tiap pelajarnya. Jarak yang digunakan sebagai sasaran panah dimulai dari 10 meter hingga akhirnya sampai 20 meter sebagai latihan pemula.
Awalnya, ketika memegang anak panah untuk pertama kalinya, para pelajar tersebut masih kaku dan juga takut-takut. Tapi namanya pelajar sekarang yang memiliki rasa mau tau dan cuek yang tinggi, hal itu tidak berlangsung lama. Ketika para pelajar sudah mulai melepaskan anak panah dari busurnya satu persatu dengan didampingi pelatih, maka timbul perasaan rileks, enjoy, dan menikmati aktivitas tersebut.
Teknik latihan memanah memang memerlukan konsentrasi tinggi agar busur-busur itu melesat mengenai titik sasar di depan secara tepat. Tidak mudah, tapi juga tidak sulit. Hal ini membutuhkan perpaduan konsentrasi yang tinggi dan juga rileksasi tubuh dalam membidik satu titik sasaran. Tentu saja ini sangat berbeda jauh dengan konsentrasi pada gadget yang biasa membuat anak-anak lupa dan menghabiskan waktunya.
Walhasil, lebih satu setengah jam latihan perdana bagi Pelajar Muslim Cendekia Madani ini sangat berkesan, meski dalam latihan tersebut ada diantara mereka yang bisa mengenai areal titik sasaran, tapi banyak juga yang melewati dan salah sarasan. 
It’s oke. Besok-besok latihan lagi yaa ...    

22 December 2016

Kunjungan Cikgu Singapura ke Muslim Cendekia Madani


Di akhir November 2016, Pusat Pendidikan Islam Muslim Cendekia Madani mendapat kunjungan tamu spesial dari negeri seberang. Mereka adalah rombongan para Cikgu dari Singapura yang ingin melihat proses pendidikan di Muslim Cendekia Madani. Rombongan tersebut juga membawa beberapa keluarga mereka, beberapa diantara Cikgu dan ustadz/ah yang hadir adalah Cikgu Latifah, Cikgu Noraini, Cikgu Syarief, Cikgu Husaini, Cikgu Azmi dan Cikgu Hanafi. Buya Ulil Amri Syafri sebagai Direktur dan mentor di Muslim Cendekia Madani langsung menyamput kedatangan tamu tersebut, didampingi mentor lain, KH. Salam dan Gus Fatahillah, serta tak ketinggalan juga para pelajar Muslim Cendekia Madani.  


Memasuki area Muslim Cendekia Madani, para Cikgu Singapura langsung berfoto bersama, bahkan selfi sekedar mengabadikan panorama yang sangat indah di sekitar sekolah. Bukit berlapis enam yang terkesan malu-malu memperlihatkan fisiknya, menjadi pemandangan indah dari arah belakang Muslim Cendekia Madani. Hanya saja, kabut tebal yang mengelilingi bukit-bukit tersebut masih enggan beranjak dari situ. Padahal keindahan bukit berlapis enam itulah yang dinantikan oleh tamu-tamu yang datang dari Singapura. Suasana sejuk pagi yang diiringi sesekali hembusan angin lembut membuat acara silaturrahim di Muslim Cedekia Madani ini menjadi amat berkesan. Bagi para cikgu Singapura, lingkungan seperti ini memberi nilai amat positif dalam proses pembelajaran di Muslim Cendekia Madani.

Kunjungan yang dilakukan para cikgu dan asâtiz/ah Singapura ini merupakan bentuk ketertarikan mereka untuk melihat lebih dekat konsep pendidikan yang dijalankan di Muslim Cendekia Madani. Keberadaan para pakar pendidikan yang hidup berbaur dengan para pelajarnya dan turun langsung dalam mendidik dan mengasuh mereka merupakan hal yang unik bagi para cikgu dan asâtidz/ah negeri Singa ini.

Penerapan ‘Islamic Boarded Home Schooling’ bagi para cikgu Singapura, seperti melihat sekumpulan keluarga yang terdiri dari anak-anak yang didampingi orang tuanya dalam sebuah proses belajar. Para pelajar tidak saja ditransfer ilmu-ilmu secara fokus, tapi ternyata nilai-nilai akhlak karimah oleh para Mentor yang menjadi ‘orang tuanya’ sangat dijadikan keteladanan dan pembiasaan di Muslim Cendekia Madani sebagai model pembelajaran.

Keluarga Besar Muslim Cendekia Madani sangat mengapresiasi kunjungan yang dilakukan para cikgu dan asâtidz/ah Singapura ini. Penyambutannya dilakukan dengan sealami mungkin, ditemani dengan suguhan penganan khas Sukabumi: singkong goreng yang manis dan Bandros, air rebusan jahe dan gula aren yang hangat. Suasana yang mungkin tidak akan didapatkan selain di Muslim Cendekia Madani. Para pelajar Muslim Cendekia Madani juga ikut ambil dalam menyambut tamu-tamu istimewa tersebut. Mereka menampilkan lagu-lagu nasyid  yang sangat merdu, bahkan berkesempatan pula mengenalkan Bacaan Al-Qur’an Langgam Muyassar yang menjadi ciri khas di Muslim Cendekia Madani.

Tak terasa kurang lebih 3 jam telah berlalu. Keramahan, kehangatan dan persaudaraan muslim dalam silaturrahim tersebut harus berakhir. Pertemuan hari itu membawa kesan mendalam buat semua yang hadir, utamanya untuk para cikgu dan asâtidz/ah. Bagi mereka, kesempatan ini menjadi kenangan seumur hidup yang amat disukurinya. Mereka sangat berterima kasih atas kehangatan penyambutan yang diterimanya dan berharap bisa secepatnya kembali lagi mengunjungi Muslim Cendekia Madani di lain kesempatan.

Dari silaturrahim ini tercipta sebuah rencana yang di gagas oleh para Cikgu Singapura, yaitu membuat ‘Wisata Muhibbah dan Pendidikan’, dengan mengirimkan rombongan anak-anak pelajar Singapura untuk “Sit-In” selama sepekan pada liburan 2017 mendatang. Mudah-mudahan rencana ini bisa difasilitasi oleh Muslim Cendekia Madani. Pada akhirnya, semoga tali persaudaraan Muslim Singapura-Muslim Cendekia Madani akan terus berlanjut, dengan datangnya para pelajar dari Singapura pada waktunya nanti. Insya Allah. 

18 December 2016

Catatan Pembelajaran Bulan Ke-4



Alhamdulillah, tak terasa kegiatan belajar mengajar di Muslim Cendekia Madani sudah memasuki bulan ke-5.

Di awal bulan ke-4 memang terjadi perombakan pola pembelajaran secara drastis yang tentu saja hal yang sangat biasa dalam sebuah lembaga pendidikan berbasis homeschooling. Di bulan 1 s/d 3 secara runtut peserta didik mengikuti pola pembelajaran bahasa arab menggunakan metode dan teknik yang disebutkan dalam paket Al-Arabiyyah Baina Yadaik. Kemudian di bulan keempat, karena memang sudah diwajibkan berbicara menggunakan bahasa arab di mana pun dan kapan pun, bahkan saat proses perjalanan menggunakan kereta Commuter Jabodetabek dalam rangka outing class, para peserta didik tetap berbahasa arab hingga banyak orang di sepanjang perjalanan tertarik perhatiannya karena beberapa anak seumuran SMP-SMA dengan pakaian kasual, tanpa peci, tanpa surban, yang beberapa di antaranya memakai jaket olah raga, berkomunikasi menggunakan bahasa arab sepanjang Jakarta Bogor.

Seperti yang sudah dijadwalkan, para peserta didik memulai program dengan pola baru ini sejak dari pagi hari dengan penekanan pada kemampuan takallum (berbicara).

Nah, berikut kegiatan sehari-hari setiap peserta didik di bulan keempat yang lalu:

  1. 04.00 - 05.00 : Persiapan shalat shubuh dan shalat shubuh berjamaah.
  2. 05.00 - 05.45 : One Day One Juz (Tilawah sehari satu Juz).
  3. 05.45 - 06.30 : Praktek Takallum (Berbicara dalam berbagai macam topik).
  4. 06.30 - 07.00 : Sarapan dan bersiap mengikuti program olah raga rutin.
  5. 07.00 - 08.00 : Olahraga rutin (Lari 5 km).
  6. 08.00 - 08.30 : Bersih-bersih lingkungan.
  7. 08.30 - 09.30 : Praktik Sharaf (ilmu derivasi kata) dan orasi berbahasa arab.
  8. 09.30 - 10.00 : Bersih diri.
  9. 10.00 - 11.00 : Praktek terjemah bahasa arab ke bahasa arab (terjemah definitif).
  10. 11.00 - 12.00 : Berlatih Khat dan Imla'.
  11. 12.00 - 13.00 : Shalat Zhuhur.
  12. 13.00 - 15.00 : Makan siang dan istirahat.
  13. 15.00 - 16.00 : Bersih diri, shalat ashar dan bersiap mengikuti pelajaran di kelas.
  14. 16.00 - 17.00 : Praktek Takallum (speaking) dan Istima' (listening).
  15. 17.00 - 18.00 : Free Time.
  16. 18.00 - 18.30 : Shalat Maghrib
  17. 18.30 - 19.00 : Tahsin (Peningkatan teknik membaca Al-Qur'an).
  18. 19.00 - 19.30 : Makan malam.
  19. 19.30 - 20.00 : Shalat Isya'.
  20. 20.00 - 21.30 : Musyahadah Aflaam (menonton film-film berbahasa arab).
  21. 21.30 - 04.00 : Istirahat.
Walhamdulillah, setelah berjalan beberapa waktu, para peserta didik tidak lagi canggung menggunakan bahasa arab di dalam keseharian mereka. Ucapan-ucapan "Ila aina?" atau "Idzhab ila hunaak!" atau "Ana uriidu dzalik," menjadi hal yang biasa terdengar dari mereka. Untuk menghilangkan ketakutan dalam menggunakan bahasa baru, maka setiap hari para peserta didik diharuskan orasi di tengah lapangan dengan suara keras di hadapan teman-temannya.

Salah sedikit atau salah banyak, adalah hal yang biasa dalam mempelajari sebuah bahasa. Dengan banyak mendengar, banyak memperhatikan mentor yang berbicara dalam bahasa arab yang baik, maka peserta didik pada akhirnya sanggup untuk menirukan dan sedikit demi sedikit ketakutan akan salah ucap menghilang. Sebab sudah menjadi rahasia umum bahwa pembelajar bahasa arab di Indonesia selalunya terfokus kepada grammatika bahasa arab dibanding kepada penggunaan bahasa itu sendiri. Sederhananya, apalah arti menguasai grammatika bahasa namun tidak juga mampu menggunakan bahasa itu dalam keseharian. 

Kemudian, dari program One Day One Juz, peserta didik sudah berhasil mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak 4 kali selama 4 bulan ini sesuai target yang dicanangkan termasuk juga menguasai langgam bacaan Qiraah Muyassarah yang terstandar sehingga peserta didik mampu membaca Al-Qur'an dengan langgam yang baik dan fasih, Walillahil hamd.

Dari banyak kegiatan itu, juga sempat diadakan beberapa kali outing class seperti Firqah Jawwalah (Tim Hiking) ataupun mengikuti tabligh akbar di luar kota juga futsal dan berenang rutin termasuk juga beberapa kali Ath-Thahyul Jama'i (memasak bersama).

Bagaimana dengan bulan kelima? Tentu akan ada banyak kejutan. Ditunggu ya beritanya...

12 November 2016

Kumpulan Video Pengembangan Potensi Diri Bersama Muslim Cendekia Madani

Video-Video Kegiatan
Pusat Pendidikan Islam Muslim Cendekia Madani
Sukaraja-Sukabumi
Jawa Barat
Indonesia



 




 


02 October 2016

Mengapa “Islamic Boarded Home Schooling”?



Pendidikan bagi masyarakat dewasa ini merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam menyiapkan generasi penerus agar mampu bersaing dalam era globalisasi, akibatnya lembaga pendidikan mau tidak mau terseret dalam putaran indrusti, karena terseret dalam pusaran industri, maka banyak lembaga pendidikan yang dibangun hanya memikirkan keuntungan materi bagi pengelola nya.

Menurut perspektif pendidikan Islam, salah satu ukuran keberhasilan lembaga pendidikan dalam menghasilkan generasi beradab yang memiliki keseimbangan antara soft skills dan hard skills. Jika ukurannya itu, maka banyak lembaga pendidikan yang ada belum mampu menjawab harapan tersebut

Maraknya pendidikan dengan berbagai variasi, mulai dari sekolah Plus, Terpadu, dan Sekolah Alam merupakan bukti adanya ketidakpuasan masyarakat terhadap lembaga pendidikan yang ada. Hanya saja tidak semua orang tua memiliki kemampuan untuk memahaminya 

Melihat realitas di atas kami dari Muslim Cendikia Madani menawarkan Islamic Boarder Homeschooling untuk membantu orang tua mewujudkan harapan agar putranya berhasil menjadi generasi beradab yang potensinya tumbuh secara seimbang.

Khas Penamaan
MUSLIM CENDEKIA MADANI Islamic Boarded Homeschooling adalah lembaga pendidikan baru. Lembaga ini adalah hasil pemikiran para pakar pendidikan Islam sebagai jawaban atas problematika pendidikan di era globalisasi dan industrialisasi. Penamaan dengan istilah Islamic Boarded Homeschooling adalah bahwa pola pembelajaran yang dilakukan menggunakan konsep homeschooling yang diasramakan dengan berbagai kekhasan yang dilakukan secara apik, dengan berbasis adab Islami. Apakan mirip dengan Pesantren? Ya, tapi ini tidak murni seperti Pesantren. Lalu apakan sama dengan Boarding School yang sudah menjamur dimana-mana? Tidak, ini bukan Boarding School.

Perbedaan MUSLIM CENDEKIA MADANI Islamic Boarded Homeschooling dengan pesantren pada umumnya adalah anak didiknya hidup berbaur dengan pakar dan pengasuh dalam keseharian. Semua berada di satu lingkungan yang menyenangkan seperti satu rumah, sehingga anak didik mampu meneladani adab Islami yang ditunjukan oleh para pengasuh yang terdiri dari para doktor dan ahli bidang agama.
Khas Pembelajaran
Pembelajaran di MUSLIM CENDEKIA MADANI Islamic Boarded Homeschooling juga unik, yaitu di mana suatu mata pelajaran diajarkan selama 2-3 pekan secara berkesinambungan hingga tuntas (baik dari segi capaian materi ataupun evaluasinya) sebelum berpindah kepada mata pelajaran lain di pekan berikutnya. Proses pembelajarannya menerapkan pola pembelajarn fokus, yaitu hanya mengajarkan satu mata pelajaran saja secara berkesinambungan hingga mata pelajaran tersebut tuntas, tentu itu adalah kekhasannya.

Implementasi Pola Pembelajaran fokus adalah sebagai berikut:
Tahun pertama: Belajar bahasa Arab. Dimulai dengan belajar mendengar dan mengucapkan, lalu berbicara, membaca dan menulis, lalu menterjemahkan. Kemudian dilengkapi dengan pelajaran ilmu derivasi kata, ilmu grammatika bahasa Arab dan juga pengantar sastra Arab. Pada tahun pertama ini tidak diajarkan mata pelajaran lain sehingga anak didik sangat mudah untuk fokus dalam mengasah kemampuan berbahasa Arab.

Tahun kedua: Menghafal 15 Juz al-Qur'an. Bahasa Arab yang sudah dikuasai di tahun pertama menjadi bekal utama bagi peserta didik dalam menghafal al-Qur’an karena fakta bahwa menghafal sesuatu yang sudah menjadi bahasa sehari-hari jauh lebih mudah dibanding dengan menghafal sesuatu yang belum menjadi bahasa sehari-hari. Setiap anak didik berkesempatan mengikuti program Tahsin al-Qiraah selama 3 bulan di kampung Arab Al-Qur’an di wilayah pedesaan Mesir agar mampu membaca al-Qur’an dengan tartil dan tajwid layaknya penutur Arab asli. Dengan demikian sasaran hafal 15 juz tidak hanya sekedar hafal, tapi hafal dengan kualitas bacaan terbaik dan memahami apa yang ia hafal. Pada tahun kedua ini juga tidak diajarkan mata pelajaran lainnya untuk menjaga fokus peserta didik.

Tahun ketiga: Pengajaran fokus pada materi Ujian Nasional. Kebiasaan menghafal al-Qur'an di tahun kedua, akan memudahkan anak didik dalam menguasai materi-materi mata pelajaran dalam Ujian Nasional. Dengan pola pembelajaran Fokus yang unik sekaligus efisien, maka anak didik diharapkan mampu menyelesaikan Ujian Nasional dengan baik juga mampu bersaing di berbagai seleksi penerimaan mahasiswa di berbagai Perguruan Tinggi, baik dalam maupun luar negeri dengan kualifikasi di atas rata-rata.

Khas Fasilitas Lulusan
Lulusan MUSLIM CENDEKIA MADANI Islamic Boarded Homeschooling setingkat dengan Madrasah Aliyah (ijazah MA) yang akan difasilitasi oleh lembaga untuk mendaftar ke kampus-kampus di Timur Tengah atau mengikuti program pendidikan Ma'had Aly terlebih dahulu untuk mendalami salah satu bidang kajian keislaman yang kemudian dilanjutkan dengan kuliah di kampus dunia Islam yang diminati.

Khas Lokasi Pendidikan 
Lokasi MUSLIM CENDEKIA MADANI Islamic Boarded Homeschooling terletak di daerah perbukitan Sukabumi yang indah. Kemana pun mata memandang akan tampak sawah dan gunung dengan view yang membuat para anak didik akan merasa kagum. Curah hujan yang termasuk tinggi menjadikan suasana di MUSLIM CENDEKIA MADANI Islamic Boarded Homeschooling terasa sejuk. Udaranya pun segar dan bersih, terlebih di pagi hari yang terkadang dikelilingi kabut. Selain suasana yang sejuk, lingkungan sekitar asrama yang akrab dan bersahabat akan membantu meningkatkan semangat belajar setiap anak didik. Lokasi yang sangat tenang, sejuk, dan nyaman ini merupakan keunggulan di MUSLIM CENDEKIA MADANI Islamic Boarded Homeschooling, sebab tidak semua lembaga pendidikan memiliki lokasi natural dan alami yang sangat mendukung proses pembinaan dan pendidikan.
Khas Menu Makan 
Untuk menu makanan, pengolahan masakan di MUSLIM CENDEKIA MADANI Islamic Boarded Homeschooling tidak menggunakan vetsin, pemanis buatan, penyedap rasa instan, ataupun semua produk makanan yang mengandung pengawet. Adapun menu hariannya adalah sebagai berikut:
06.00.06.30 (Setelah aktivitas subuh): Porsi buah-buahan segar.
07.00.07.30 (Setelah aktivitas olah raga pagi): Porsi sarapan berupa karbohidrat, telur, dan nabati lengkap dengan sayur atau salad sayuran.
13.00-13.30 (Setelah shalat zhuhur): Porsi makan siang sehat yang mengandung karbohidrat, protein hewani dan nabati lengkap dengan sayur.
17.00-17.30 (Setelah kelas sore): Porsi kudapan sehat (Gluten Free).
19.30-20.00 (Sebelum kelas malam): Porsi makan malam berupa karbohidrat, protein hewani dan nabati lengkap dengan sayur dan salad sayuran.
21.30-22.00 (Menjelang tidur malam): Porsi jus sayur segar tanpa gula, susu, dan es batu.
           
Khas Pembinaan Fisik 
Para anak didik akan mendapat latihan fisik  dari beberapa kegiatan olah raga rutin yang dilaksanakan oleh MUSLIM CENDEKIA MADANI Islamic Boarded Homeschooling, diantaranya Futsal (2x sebulan), Beladiri (2x sepekan), Atletik (tiap pekan), Berkuda (di tahun pertama), dan Panahan (di tahun kedua). 

Khas Fasilitas Pendidikan
Fasilitas yang akan didapat para anak didik MUSLIM CENDEKIA MADANI Islamic Boarded Homeschooling adalah 1 dipan terpisah (bahan metal); 1 set kasur, bantal dan bed cover; 1 lemari pakaian 2 pintu; 1 stel jas almamater; 1 stel pakaian olah raga; Laundry; dan Menu Makan Sehat (Berbasis Makanan Alami).
Khas Pembinaan
Konsep Pembinaan yang dilakukan di MUSLIM CENDEKIA MADANI Islamic Boarded Homeschooling adalah pembinaan adab yang berbasis akhlak Islami. Tidak mudah untuk kami dijelaskan dalam tulisan ini. Namun demikian kami berharap hasil maksimal, karena anak didik kami selama 24 jam selalu didampingi oleh  para pengasuh yang sangat spesial, baik secara kepribadian dan kedalaman ilmu dan pengetahuan mereka.

Insya Allah, keseluruhan proses pembelajaran di Pusat Pendidikan Islam MUSLIM CENDEKIA MADANI Sukabumi akan menghasilkan pelajar-pelajar yang shalih dengan kualifikasi, beradab dengan akhlak Islami, berilmu yang mendalam, serta sehat dan kuat secara jasmani. 

Wallahu a'lam.