Cluster Casablanca, Sentul City, Bogor - Jawa Barat - 16810 | Hotline: 0813-1112-5384 (Call/SMS/WA)

01 November 2026

Pendidikan Tanpa Definisi aja, kok Bisa?

Pertanyaan “apa itu pendidikan?” tampak sederhana, tetapi jawaban atasnya menentukan apa yang dihitung sebagai pendidikan, siapa yang dapat disebut pendidik, proses apa yang dianggap berhasil, serta nilai apa yang menjadi ukuran keberhasilan. Jika pendidikan didefinisikan sebagai pengajaran, proses pembentukan melalui pengalaman keluarga atau masyarakat berisiko tersisih. Jika pendidikan disamakan dengan semua pengalaman, batasnya menjadi terlalu longgar: pengalaman yang merusak, manipulatif, atau tidak menghasilkan pembelajaran bermakna pun dapat disebut pendidikan. Jika pendidikan dibatasi pada proses yang sengaja direncanakan, pengaruh formatif yang berlangsung secara tidak formal dapat terabaikan. Karena itu, definisi bukan sekadar kalimat pengantar; ia menentukan struktur konseptual dan konsekuensi penelitian.

Keragaman definisi pendidikan dapat dibaca sebagai sumber kekayaan intelektual sekaligus masalah konseptual. Setiap pemikir menyoroti aspek tertentu berdasarkan persoalan yang hendak dijawab. John Dewey menekankan rekonstruksi pengalaman; Ki Hadjar Dewantara menempatkan tuntunan terhadap kodrat anak; Paulo Freire mengkritik relasi pendidikan yang menjadikan peserta didik objek pasif; Abdullah Nashih Ulwan menguraikan tanggung jawab pendidikan anak dalam dimensi keimanan, akhlak, intelektual, fisik, psikologis, dan sosial. Pemikiran lain menekankan bimbingan, penjagaan fitrah, atau pembentukan kepribadian. Perbedaan tersebut perlu dibaca dengan adil, tetapi tidak harus membuat analisis berhenti pada relativisme bahwa setiap definisi benar untuk konteksnya masing-masing. Oleh Dr. Ulil Amri Syafri


lengkapi bacaan anda  & tajamkan analisismu!

0 komentar:

Post a Comment