Keragaman definisi pendidikan dapat dibaca sebagai sumber
kekayaan intelektual sekaligus masalah konseptual. Setiap pemikir menyoroti
aspek tertentu berdasarkan persoalan yang hendak dijawab. John Dewey menekankan
rekonstruksi pengalaman; Ki Hadjar Dewantara menempatkan tuntunan terhadap
kodrat anak; Paulo Freire mengkritik relasi pendidikan yang menjadikan peserta
didik objek pasif; Abdullah Nashih Ulwan menguraikan tanggung jawab pendidikan
anak dalam dimensi keimanan, akhlak, intelektual, fisik, psikologis, dan
sosial. Pemikiran lain menekankan bimbingan, penjagaan fitrah, atau pembentukan
kepribadian. Perbedaan tersebut perlu dibaca dengan adil, tetapi tidak harus
membuat analisis berhenti pada relativisme bahwa setiap definisi benar untuk
konteksnya masing-masing. Oleh Dr. Ulil Amri Syafri
01 November 2026
Pendidikan Tanpa Definisi aja, kok Bisa?
1:52 AM
No comments
Pertanyaan “apa itu pendidikan?” tampak sederhana, tetapi
jawaban atasnya menentukan apa yang dihitung sebagai pendidikan, siapa yang
dapat disebut pendidik, proses apa yang dianggap berhasil, serta nilai apa yang
menjadi ukuran keberhasilan. Jika pendidikan didefinisikan sebagai pengajaran,
proses pembentukan melalui pengalaman keluarga atau masyarakat berisiko
tersisih. Jika pendidikan disamakan dengan semua pengalaman, batasnya menjadi
terlalu longgar: pengalaman yang merusak, manipulatif, atau tidak menghasilkan
pembelajaran bermakna pun dapat disebut pendidikan. Jika pendidikan dibatasi
pada proses yang sengaja direncanakan, pengaruh formatif yang berlangsung
secara tidak formal dapat terabaikan. Karena itu, definisi bukan sekadar
kalimat pengantar; ia menentukan struktur konseptual dan konsekuensi penelitian.





0 komentar:
Post a Comment