Cluster Casablanca, Sentul City, Bogor - Jawa Barat - 16810 | Hotline: 0813-1112-5384 (Call/SMS/WA)

01 November 2026

Kapan guru itu jadi Tukang Kayu, bagaikan Bidan, Petani dsb? Entahlah

Guru sering diumpamakan sebagai petani yang menumbuhkan, penjaga taman yang merawat, bidan yang mendampingi kelahiran gagasan, tukang kayu yang bekerja dengan keterampilan, dan pion catur yang bergerak dalam strategi. Perumpamaan-perumpamaan ini membantu kita memahami beragam dimensi tugas guru. Namun, apakah manusia dapat dididik hanya dengan meminjam cara kerja profesi lain?

Sebagai petani, guru dituntut sabar, tetapi peserta didik bukan tanaman yang tumbuh semata-mata mengikuti perlakuan penanamnya. Sebagai penjaga taman, guru perlu merawat lingkungan belajar, tetapi pendidikan bukan sekadar menjaga agar semuanya tampak indah. Sebagai bidan, guru mendampingi lahirnya pemikiran, tetapi potensi anak juga membutuhkan ilmu, arahan, dan keteladanan. Sebagai tukang kayu, guru memerlukan keahlian, tetapi anak bukan bahan mentah yang harus dibentuk sesuai cetakan orang dewasa.

Perumpamaan pion catur justru mengandung kritik paling politis. Guru memang bekerja dalam sistem, tetapi ketika seluruh langkahnya ditentukan kurikulum yang kaku, birokrasi, dan target administratif, ia berisiko kehilangan suara serta pertimbangan profesionalnya sendiri.

Persoalannya bukan perumpamaan mana yang paling benar, melainkan kapan perumpamaan itu membantu dan kapan ia menyesatkan. Pendidikan bukan kegiatan menanam benda, merakit bahan, atau menggerakkan bidak. Pendidikan adalah ikhtiar memanusiakan manusia. Guru bukan pencipta manusia menurut kehendaknya, melainkan pendidik yang menumbuhkan potensi, membimbing akal, menanamkan adab, dan membuka ruang bagi kemandirian.

Sebab, manusia yang dididik bukan objek yang sekadar dibentuk, melainkan subjek yang perlu bertumbuh dan belajar bertanggung jawab atas kehidupannya. oleh Dr. Ulil Amri Syafri

lengkapi buku Pendidikan anda dengan  karya Dr. Ulil Amri Syafri

0 komentar:

Post a Comment