Cluster Casablanca, Sentul City, Bogor - Jawa Barat - 16810 | Hotline: 0813-1112-5384 (Call/SMS/WA)

06 November 2025

Pendidikan Membutuhkan Islamic Worldview?

Pendidikan yang dibangun dalam kerangka Islamic Worldview memiliki landasan yang kuat, sebab kerangka tersebut mengarahkan kita untuk melihat setiap aspek kehidupan—termasuk pendidikan—dari perspektif yang menyeluruh, yang memadukan nilai-nilai dunia dan akhirat, serta meletakkan iman sebagai dasar tindakan. 

Islamic Worldview (Paradigma Islam) adalah cara pandang yang berdasarkan pada prinsip-prinsip ajaran Islam dalam memahami segala aspek kehidupan. Ia mencakup cara berpikir dan bertindak yang berlandaskan pada akidah (keyakinan dasar dalam Islam) dan ajaran Islam secara umum, dengan orientasi yang memadukan dunia dan akhirat. Paradigma ini mencakup cara pandang terhadap kehidupan manusia, alam semesta, masyarakat, kemajuan, nilai-nilai moral, dan hubungan manusia dengan Tuhan serta sesama. Dalam Islamic Worldview, segala sesuatu di alam  dilihat sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki tujuan dan keteraturan, termasuk akal manusia, ia adalah karunia Ilahi yang saling memadu fungsi dan keterkaitannya dengan wahyuNya.

Hadirnya Islamic Worldview terletak pada kemampuannya untuk memberikan landasan yang komprehensif bagi seseorang dalam menghadapi berbagai realitas hidup, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Hal ini melibatkan pemahaman terhadap tema-tema besar seperti kebahagiaan, prestasi, kemuliaan, kejujuran, beradab, kebudayaan, kematian, maksiat, dan agama itu sendiri.

Dalam konteks di atas, Islamic Worldview mengarahkan individu untuk berpikir secara kritis dan beradab dalam artian terstuktur, runut, sistimatis dan dapat dipertangungjawabkan sebagai ilmiyah, dengan landasan pada fiqh teks, fiqh waqi', sunnatullah, dan fiqh awliyat—yang kesemuanya ini berfokus pada pemahaman terhadap wahyu, hukum alam, dan kehidupan manusia dalam dimensi religus dan budaya yang luas.

Islamic Worldview memberikan landasan yang kokoh untuk membangun sistem pendidikan yang berakar pada nilai-nilai Islam. Hal ini mencakup:

Pertama, Konsep Tujuan Pendidikan: Mencapai keseimbangan antara kebahagiaan dunia dan akhirat. Membentuk insan yang bertakwa, berilmu, dan berakhlak mulia, meskipun alam modernitas terus menerpa rancangan tujuan pendidikan yang beralih kepada matrealisme.

Kedua, Kurikulum: Mengenalkan materi yang bersifat pengetahuan yang luas agar terhubung kepada kebudayaan ilmu dalam budaya Islam kemudian berikutnya memberi pengetahuan yang disertakan pelatihan pengembangan potensi diri.

Ketiga, Model dan Proses Pembelajaran: Menanamkan nilai-nilai Islam melalui keteladanan dan pembiasaan. Menggunakan pendekatan integratif yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Keempat, Evaluasi: Mengukur pencapaian siswa tidak hanya pada aspek akademik, tetapi juga akhlak dan keberagamaan. Menggunakan indikator yang sesuai dengan nilai-nilai Islam

Namun, untuk benar-benar menginternalisasi Islamic Worldview dalam proses pendidikan dan kehidupan sehari-hari, seorang muslim harus memperkuat literasi Islamis dan kemampuan berpikir kritis.

Literasi Islamis di sini berarti pemahaman yang mendalam terhadap ajaran-ajaran Islam, termasuk pemahaman terhadap Al-Qur'an, Hadis, serta fikih, akhlak, dan sejarah Islam. Sedangkan untuk mengembangkan Islamic Worldview yang efektif, seorang Muslim harus mampu berpikir kritis, yakni kemampuan untuk mengevaluasi informasi, analisis, dan situasi berdasarkan prinsip-prinsip Islam yang terkandung dalam wahyu ilahi dan Sunnah, serta atas bimbingan dan sudut pandang ulama yang kompeten.

#ulilamrisyafri

Berpikir kritis memungkinkan individu untuk tidak hanya menerima apa adanya, tetapi juga untuk mempertanyakan, merenung, dan mengkritisi sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam dan sesuai kemerdekaan fungsi akal dan kemuliaannya. Tanpa dua hal tersebut maka Islamic Worldview tak akan berwujud pada individu muslim itu sendiri.

Manfaat Islamic Worldview dalam Pendidikan antara lain Pembentukan Karakter Islami tidak kehilangan identitas, Pengembangan Potensi Manusia secara natural sesuai tujuan hidup manusia, Keselarasan Ilmu dan Agama, serta lahirnya profil bijaksana dalam Pengambilan Keputusan melalui latihan siswa untuk berpikir kritis dan adil, dalam artian bersikap dan berpihak pada kebenaran yang telah ditemukan bukan hanya berdasar emosional. Dengan demikian, Islamic Worldview dalam pendidikan sangat penting sebagai identitas. Ia menanamkan tujuan hidup yang lebih tinggi, lebih mendalam, dan lebih mengarah kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. #ulilamrisyafri #pendidikanbukanbukan #gurumanusia

Pendidikan & Akal Manusia

Bagi Ibnu Khaldun, ide pemikiran manusia harus mengarah pada kemaslahatan bersama, bukan sekadar memuaskan ego atau naluri dasarnya. Dalam hal ini, Imam Al-Ghazali mengatakan, "Kalaulah tidak karena pendidikan, maka manusia itu seperti bahā’im (binatang ternak)." Ini adalah kritik tajam terhadap sifat dasar manusia yang tanpa pendidikan akan kembali pada naluri hewani—hidup hanya untuk memenuhi hawa nafsu, tanpa rasa malu dan tanpa arah moral.
#ulilamrisyafri

Ali Abdul Halim Mahmud, ulama tersohor al-Azhar Mesir, pernah menulis topik penting tentang ‘pendidikan akal’. Pendidikan akal yang dimaksud adalah mengarahkan, menghargai, membebaskan, atau memerdekaan akal dari penyimpangan, serta menjaganya dari hilangnya kemuliaan. Pendidikan akal manusia dilakukan agar bisa menuju pada derajat yang terbaik (ahsanul mustawa).

Lebih jelas disampaikan Ali Abdul Halim Mahmud bahwa pendidikan akal memiliki tujuan, antara lain membiasakan akal berkembang dan mendapatkan pencerahan, mengokohkan akal berpikir secara saintis, hingga tidak dipenuhinya pikiran dengan khurafat dan hawa nafsu; kemudian membebaskan akal tapi juga merawatnya, seperti adanya ruang bagi akal untuk berijtihad, menolak taklid buta, dimubahkan melakukan kritik, bahkan juga mubah untuk berbeda pendapat. Ini semua berfungsi untuk menghargai akal tersebut, sekaligus menegaskan posisi akal dalam kehidupan dan memberi ruang pada akal untuk bermusyawarah pada perselisihan. Hal itu semua menjadi bagian dari proses pendididikan untuk akal. Berbeda dengan pandangan filsuf Barat seperti Thomas Hobbes yang menyatakan bahwa "manusia adalah serigala bagi manusia lainnya" (homo homini lupus), Ibnu Khaldun justru memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi luhur. Naluri memang ada, bahkan tak jarang manusia berperilaku seperti binatang—membunuh, menyakiti, dan merusak. Namun, manusia diberikan akal sebagai penuntun untuk membedakan mana yang baik dan buruk. Di sinilah pendidikan memainkan peran krusial. Pendidikan membimbing manusia untuk mengendalikan nafsu dan memaksimalkan potensi berpikirnya. Ini ada kemiripan dengan teori Plato (w. 347 SM) yang mengatakan bahwa rasio bertugas mengendalikan roh dan nafsu agar ketiganya selaras. Dengan demikian, argumen Ibnu Khaldun dan Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa manusia bukan sekadar makhluk berpikir seperti yang diyakini René Descartes, melainkan makhluk yang memiliki akal, yang kecerdasannya diproses melalui pendidikan, agar mencapai martabat yang sebenarnya.

#ulilamrisyafri



01 November 2025

Guru: Retaknya Ekonomi & Kehormatan?

Pendidikan adalah fondasi peradaban. Kalimat ini sudah lama disepakati secara ijma'. Namun fondasi itu kini retak bukan karena kurangnya teknologi, melainkan karena lunturnya martabat guru. Krisis pendidikan Indonesia bukan terletak pada sarana digital, tetapi pada pergeseran nilai yang menempatkan guru hanya sebagai pelaksana kurikulum, bukan penuntun akal dan pembimbing jiwa.

Guru terjebak di banyak hal: birokrasi yang kaku hingga para guru terpenjara jiwanya oleh tuntutan birokrasi; Berlanjut pada beban administrasi yang menyesakkan, bahkan setingkat guru pun ada kewajiban publikasi ilmiah. Padahal tugas mendidik saja sudah amat berat. Kesejahteraannya jauh dari layak. Belum lagi ketimpangan distribusi guru, minimnya pelatihan bermakna, dan pudarnya penghargaan sosial; semua itu telah melahirkan generasi pendidik yang lelah dan kehilangan ruh kemanusiaan.

Akibatnya, pendidikan kehilangan arah esensi dan moral. Melenceng dari harapan Bapak Pendidikan kita, Ki. Hajar Dewantara. Sekolah kini lebih sibuk mencetak tenaga kerja daripada membentuk manusia beradab, manusia yang sanggup menciptakan peradaban yang adil, makmur, dan kelak bisa hidup sejatera dan harmonis masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, wacana mengembalikan guru kepada makna pamong adalah keniscayaan, yakni sosok penuntun yang tidak hanya mengajar, tetapi membimbing, mengasuh, dan menumbuhkan manusia agar mengenal dirinya, lingkungannya, dan Tuhannya.

Pamong adalah wajah sejati guru: menuntun dengan kasih, menegur dengan hikmah, dan mendidik dengan keteladanan. Dalam makna pamong inilah, guru menjadi jiwa dari pendidikan itu sendiri — bukan semata pengisi kurikulum, apalagi menempatkan diri hanya bekerja yang mendapatkan upah, tentu tidak! Pamong adalah penjaga kehidupan dan peradaban bangsa di setiap detik pengabdiannya.

Dalam pandangan Islam, pembaruan pendidikan yang sejati harus dimulai dari pengembalian maqām guru ke posisi aslinya: penjaga fitrah, pewaris nilai kenabian, dan penuntun jiwa bangsa. Guru bukan sekadar pengajar materi, tetapi perancang peradaban yang menanamkan adab, akal sehat, ilmu dan integritas moral. Negara harus menegakkan kembali martabat guru dengan kebijakan yang adil — kesejahteraan yang memanusiakan, pembinaan profesional berkelanjutan, serta ruang otonomi moral dan intelektual yang bebas dari tekanan politik dan birokrasi.

Karena itu, gerakan dan tuntutan guru hari ini tidak boleh berhenti pada soal kesejahteraan, tetapi harus diarahkan pada pemulihan wibawa dan martabat maqām guru yang telah lama direduksi. Sebab guru tidak boleh retak di dua sisi — ekonomi dan kehormatan. Bila salah satu rapuh, maka pilar peradaban bangsa akan ikut runtuh di satu abad Indonesia merdeka 2045. by: #Ulilamrisyafri

14 August 2025

Inyiak Daud Rasyidi, Ulama Adab dan Budaya

Balingka adalah kampung yang indah dan sejuk—terhampar di pelukan bukit dan Gunung Singgalang, ditenun kabut pagi, dan disiram cahaya kenangan.Tanah ini menyimpan sejarah besar dan jejak-jejak kebijaksanaan yang nyaris terlupakan. Di desa kecil ini, konon pernah hadir bapak angkat dan guru jiwa Tan Malaka (1897–1949), tokoh revolusioner yang kelak mengguncang dunia dengan pemikirannya. Balingka bukan sekadar titik di peta, melainkan pelataran sunyi tempat tumbuhnya kesadaran, keberanian, dan cinta tanah air.

Salah satu sosok agung dari tanah ini adalah Inyiak Haji Daud Rasyidi rahimahullah—ulama kharismatik, penyulam adab, guru ruhani, dan pemelihara budaya tinggi. Ia dikenal sebagai guru dari sang guru jiwa Tan Malaka, sekaligus penjaga nilai yang menerangi zamannya.

Buku Inyiak Daud Karya Dr, Ulil Amri Syafri
Pada 1895, beliau berguru kepada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1860–1915), Mufti Syafi‘i di Tanah Haram dan guru dari tokoh-tokoh besar seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy‘ari, dan Inyiak Haji Sulaiman Ar-Rasuli (PERTI)—para peletak dasar perjuangan Islam di Nusantara. Persahabatannya dengan Syekh Tahir Jalaluddin, sepupu Ahmad Khatib sekaligus tokoh pembaru Islam di Malaysia, memperluas cakrawala keilmuannya. Ia juga menjalin hubungan erat dengan ayahanda Buya HAMKA, serta bersinergi dengan Syekh Djamil Djambek dalam perjuangan dan dakwah.

Tak hanya melalui kitab dan mimbar, Inyiak Daud juga memberi sentuhan ruhani kepada Syekh Adam BB, pendekar silat yang berubah menjadi ulama dan pendakwah. Dari garis keluarganya lahir pula Muchtar Luthfi (1900–1950), murid didikannya yang menjadi pejuang gigih hingga dibuang ke Tanah Merah Digul bersama H. Jalaluddin Thaib. Sementara dari rahimnya sendiri lahir Buya Datuk Palimo Kayo, sahabat Buya HAMKA dan Mohammad Natsir, yang juga tumbuh dalam cahaya didikannya.

Inyiak Daud tak hanya mendidik, ia membentuk pribadi-pribadi merdeka—berpikir tajam, berhati jernih, dan berjiwa pemberani. Jejak langkahnya masih menyuburkan tanah Balingka hingga kini—bagai akar halus yang menyalurkan ruh pengabdian, ilmu, dan adab kepada generasi demi generasi.
Ia bukan sekadar ulama kampung, tapi penjaga nyala peradaban, dari tangannya ruh kebaikan mengalir luas: kepada santri, pendekar, pejuang, hingga tokoh bangsa

 #DrUlilAmriSyafri #InyiakDaudRasyidi #UlamaMinangkabau

 

 

 

 


12 February 2024

Di penghujung hari Kampanye Pilpres 2024, mantan tim media FSAM 2019 berkesempatan berbincang santai dengan Sekjen FSAM 2019 dan Komandan Cyber Forum Silaturrahim Alumni Mesir yang aktif di tahun pemilu 2019 silam.

Pada Pilpres tahun 2019, FSAM ketika itu mendukung pasangan O2, Prabowo-Sandi. 

Berikut kami sajikan sedikit bincang santai Eksklusif tersebut via Medsos.

Assalamualaikum ustadz Dr. Ulil Amri Syafri.

Wa Alaikum Salam Sobat. Sehat selalu yaa

Alhamdulillah ustadz. Mau bertanya sedikit, boleh yaa?

Silakan!

Apa tanggapan Ustadz tentang Pilres 2024 ini dengan 3 Paslon?

Waduh, pertanyaan hangat ini.. Saya Pikir dan juga prediksi saya, sepertinya pemilu kali ini akan terjadi dua putaran. Karena masing-masing Paslon saat ini punya massa yang hampir sama-sama kuat. Dan melihat keadaan saat ini, akan sulit mereka menang satu putaran. 

Kalau betul-betul terjadi dua Putaran, bagaimana ustadz melihatnya?

Oh, sangat Menarik! Kenapa? Setidak ada 3 alasan saya: pertama, akan terjadi proses seleksi alam hadirnya Pemimpin, dalam hal ini Presiden dan Wakil yang betul-betul pilihan Rakyat. Bukan rekayasa dan dagelan cawe-cawe pihak-pihak tertentu. Kedua, bila terjadi dua Putaran, maka setidaknya rencana kecurangan di putaran pertama terbukti sulit dilakukan oleh Paslon nomer berapapun dalam Perhitungan suara. Tentu taktik dari 3 Paslon tersebut membawa nilai positif kalau di bandingkan sejak awal hanya dua Paslon. Dan yang ketiga, ini cukup penting. Kalau betul terjadi dua putaran, maka isu Politik identitas yang sebelum ini sangat seksi, hilang begitu saja dengan dinamika debat dan dialog Politis ketiga Paslon, 01, 02, dan 03. Artinya apa? Kita melihat dialektika politiknya lebih pada substansi Program, sekaligus mengedepankan kepentingan Rakyat banyak, bukan nafsu elit Politik lagi.

Wow, menarik! Oya, FSAM sendiri saat ini mendukung Paslon yang mana, kalau boleh tahu?

Saat ini bukan porsi saya memberi komentar tentang FSAM. Silakan tanyakan kepada pimpinannya. Tapi kalau pendapat  pribadi saat ini, juga sebagai mantan Sekjen FSAM 2019, alumni Mesir selalu dalam ikatan yang Solid. Kami berada dalam kepahaman yang aman menjunjung tinggi  toleransi, termasuk toleransi dalam pilihan Pilpres, walaupun berbeda-beda. Dengan prinsip seperti ini, saya yakin dukungan FSAM ada di setiap Paslon. Kami sangat mengapresiasi sikap pilihan Politik kawan-kawan. Yang penting, seluruh alumni tetap akur dan gembira melihat  berbagai dinamika tersebut.

Oya, pesan saja, bila nanti betul-betul terjadi dua Putaran, semoga isu Politik identitas tidak lagi memicu Konflik. Bahkan seharusnya semua alumni Mesir bisa menjadi bagian Solusi dari   dialektika tersebut. Kepahaman pada karakter washatiyah Islam dan Islam sebagai rahmatan Lil Alamin harus menjadikan para alumni Mesir sebagai Penyejuk dari dahaga Rakyat. Bukan malah sebaliknya, memprovokasi yang tidak berfaedah baik.

Bagaimana teknik menjaga suara rakyat dari kecurangan? Bisakan peran teknologi di maksimalkan?

Kalau pertanyaan ini bisa ditanyakan langsung pada komandan cyber FSAM 2019 ya!

Siap Ustadz, laksanakan!

Pertanyaan untuk komandan Cyber FSAM 2019: Bagaimana teknik menjaga suara rakyat dari kecurangan? Bisakan peran Teknologi di maksimalkan?

Komandan Cyber: Cara paling jitu dalam proses menjaga suara Rakyat itu, ya lewat form C. Tapi kalau curangnya dari coblosan, susah, karena form C sudah cacat. 

Sebenarnya kalau mau idealis dan modern, paling bagus ya pake virtual voting, pakai biometrix.

Kalau Pemerintah yang 10 tahun ini sudah mengagendakan infrastukturnya sejak awal, khususnya berkait cara Pemilu, maka seharusnya Pemilu 2024 kali ini akan jauh lebih maju dan menyenangkan.

Tidak akan penuh dengan kecemasan kecurangan dan sebagainya. Paling tidak kami ingin mengatakan, kalau Pemilu masih cara manual seperti saat ini, rawan curang rill akan selalu terjadi kecemasan bersama.

Semoga saja Pilres 2024 ini akan melahirkan Pemerintah yang cerdas, melek teknologi, berwawasan Nasionalisme dan internasional. Dan yang sangat Penting, Beretika atau beradab tinggi untuk Indonesia yang lebih mantab!

Kembali pada Ustadz Dr. Ulil Amri Syafri. Apa pesan-pesan ustadz pada perhelatan pilpres 2024 kali ini?

Sebagai muslim dan intelektual yang berpendidikan tinggi, kita harus tetap berkeyakinan plus Optimis, Insyaallah Bangsa dan negeri kita yang hebat ini akan selalu penuh barakah dari NYA. Tentu Allah SWT akan takdirkan hadirnya Pemimpin Yang terbaik untuk Indonesia ke depan. Kita manusia hanyalah semut-semut kecil yang sedang main drama kehidupan.

Salam Demokrasi sehat! 👍

MaasyaAllah. Alhamdulillah. Terima kasih atas bincang-bincang santainya, ustadz. Semoga pemilu 2024 bisa berjalan dengan lancar, aman, dan damai

Sumber berita: alazharcenter.com


                                                                   

#Adab
#Etika


04 July 2023

Pendidikan dan Kebudayaan

Peradaban manusia terus bertumbuh dan berkembang. Bermula dari masa manusia berburu hingga manusia industri dengan ditandai munculnya revolusi teknologi. Peradaban itu terus melaju memasuki wilayah digitalisasi dan cyber zone. lalu, manusia tidak saja berbahasa lisan seperti era nabi Adam as, tapi juga menghadirkan bahasa virtual. Semua ruang dan waktu makin singkat dan terbuka, hingga menciptakan komunikasi dan relasi yang semakin luas tak bertepi. Namun ironisnya manusia justru lebih mudah terancam dengan kemajuan itu sendiri.

Idealnya, kemajuan bisa membangun kolaborasi. Tapi nyatanya tidak sedikit malah yang melahirkan persaingan buruk globalisasi, dan tentu berdampak pada alam dan lingkungan, keseimbangan, kemakmuran bahkan ancaman perang dan imperealisme gaya baru. Di dunia pendidikan, sudah terjadi para pengajar ‘berebut posisi’

dengan Google dalam satu kompetisi yang menempatkan Google sebagai the winner. Lebih dahsyat lagi, ketika manusia memasuki era metaverse, kebudayaan yang diusung dalam pendidikan nasional pun bisa terjugkal. Sungguh, pergerakan peradaban yang amat radikal.

Lalu, saat ini, dimana hebatnya Pendidikan Nasional yang pernah digagas oleh tokoh besar seperti Ki Hajar Dewantara?


Buku Frasa Agama hadir sebagai narasi baru dari pemikiran pendidikan hebat Ki Hajar Dewantara tersebut yang mungkin bisa memperkaya hasil penelitian-penelitian sebelumnya. Setelah saya baca secara mendalam, pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara sangat layak dan harus terus digali serta dikaji oleh mereka yang mencintai pendidikan nasional. Apalagi bagi mereka yang bergerak di dunia pendidikan. Hal ini tidak saja berkaitan dengan ilmu pendidikan saja, tapi kita juga butuh membaca ruh pendidikan seperti apa yang diinginkan Ki Hajar Dewantara sebenarnya. Harapan saya, semoga pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara bisa menjadi bahan kajian serius pada kuliah kesarjanaan di Indonesia, khususnya mereka yang berada pada Program Studi Pendidikan dan Pengajaran, juga bagi siapa pun yang akan mengabdikan dirinya menjadi pendidik di negeri ini.

Meskipun mungkin sudah banyak peneliti yang mengaitkan corak pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara ini dengan Maria Montessori, Rabindranath Tagore, Paulo Freire, atau bahkan dengan penggagas pendidikan yang mengusung kemerdekaan manusia dalam belajar—tentu ini berkaitan dengan negara-negara terjajah—namun model pendidikan Ki Hajar Dewantara tetap memiliki ciri khas sendiri, karena apa yang menjadi falsafah hidupnya dan falsafah pendidikannya, berakar dari budaya masyakaratnya.

Untuk lebih jelasnya, bisa kunjungi Channel Kampus Digital Dr. Ulil Amri Syafri



ADAB Rasa Lokal

“Kalau perlu biarlah ilmu sedikit asal jiwa besar, daripada ilmu besar tetapi jiwa kecil.” 

Begitulah kira-kira kata yang amat khusus dari seorang M. Sjafei. Maksudnya adalah mereka yang menanamkan dan memupuk sifat-sifat manusia lebih utama dari mereka yang memiliki segudang ilmu. Pemikirannya ini dapat diklasifikasikan untuk menggambarkan situasi dan kondisi pendidikan Indonesia.

Pertama, dalam sosial masyarakat Indonesia saat ini ada jiwa yang berkaitan dengan keagamaan yang tak boleh abai, bahkan harus menjadi ciri khas masyarakat Indonesia, yaitu manusia beragama dan bertoleransi. Pada konsentrasi ini butuh para konseptor sekelas ulama yang berwawasan luas dan berkebangsaan agar dapat memberi rumusan yang bisa dimanfaatkan dunia pendidikan di Indonesia.

Kedua, pembangunan jiwa yang berkait dengan perwatakan manusia, tentunya yang didasasi akhlak mulia. Diantaranya adalah pribadi percaya kepada diri sendiri, rasional dan logis, berperasaan tajam dan kritis, gigih atau ulet, aktif, punya daya cipta dengan kecerdasannya, ketekunan berusaha, dan kejujuran. Pembangunan jiwa ini dimasukan pada seluruh proses pendidikan dan pengajaran, bukan terpisah-pisah. Guru bisa mendidik berpikir logis pada materi matematika, pun demikian dalam mendidik akhlak. Harus logis bukan mistis.

Ketiga, yang amat khas dari pemikiran dari M. Sjafei adalah mendorong pengembangan bakat diri setiap anak di Indonesia. Artinya, jiwa anak-anak Indonesia harus terus diberi ruang agar minat dan bakatnya tidak saja tumbuh, tapi dengan pendidikan dan pengajaran, menjadikan minat dan bakat anak-anak Indonesia itu berkembang menjadi ‘skill professional’. ‘Skill professional’ ini adalah kekayaan yang sulit ditandingi jika betul-betul dapat terealisasi. Pendidikan bukan saja mengisi otak, tapi juga bakat dan keterampilan sebagai kekuatan. Pemikiran ini sekaligus membantah konsep dan desain kurikulum dan pengajaran one prototype dari Sabang sampai Marauke yang telah berlaku puluhan tahun di negeri ini. Bagi penulis, ‘one state, one curriculum’ memang pemikiran yang aneh bin ajaib.

Keempat, sehebat apapun anak-anak Indonesia, harus memiliki jiwa nasionalisme yang kuat sebagai manusia yang terlahir, bernafas, dan dibesarkan di bumi pertiwi ini. Maka, memiliki sikap Pancasilais bagi Sjafei menjadi am
at penting untuk keselamatan nusa dan bangsa. Jangan pula manusia Indonesia menjual dan merusak citra bangsanya pada bangsa lain di dunia, sekalipun mereka kelak mencari hidup di negara lain. Indonesia tanah airku, tanah tumbah darahku, dengan segala karunia dari-Nya. 

Jika pemikiran Sjafei dikorelasikan pada orientasi kelembagaan saat ini, maka kelembagaan semestinya tidak berorientasi elitis dan hanya semata menghasilkan tenaga kerja atau buruh. Bahkan tidak pantas pula bila lembaga pendidikan Indonesia berorientasi pada pemikiran kolonialis yang memperbudak sesama manusia sebagai warisan cara kerja penjajah. Lembaga pendidikan harus berpikir lebih realistis akan kemampuan dan kebutuhan perkembangan diri anak didik. 

 Silakan baca buku terbaru Pendidian Adab Rasa Lokal dan buka Channel Kampus Digital Dr. Ulil Amri Syafri

#ADAB




Pendidikan ADAB Rasa Lokal

#PendidikanAdab

Penggunaan istilah ‘akhlak mulia’ sebagai satu ilmu dalam Islam memiliki makna yang telah tetap atau konstan, sebagaimana yang dijelaskan ulama. Bahkan karakteristiknya pun telah diulas secara jelas. Pertanyaannya, bahasan tentang perilaku manusia yang berkaitan dengan sopan santun, kelembutan sikap, kehalusan hati, dan sejenisnya, apakah bisa juga dinamakan dengan istilah akhlak dalam Islam?

Menurut penulis tentu bisa. Silakan dan boleh-boleh saja. Tapi, tidak wajib secara agamis menggunakan istilah akhlak untuk mengambarkan suasana sikap kebatinan dan perwatakan manusia tersebut. Artinya, bisa menggunakan bahasa yang memang digunakan oleh manusia itu sendiri atau bahasa yang digunakan dan berkembang di daerah tertentu. Yang penting substansinya sudah cukup dipahami. Tidak mesti juga harus diarabkan atau berbahasa Arab.

Untuk Indonesia, silakan saja menggunakan bahasa daerah masing-masing untuk mendeskripsikan sikap dan perilaku manusia. Misalnya budi pekerti, karakter, kesusilaan, kebatinan, sukma. Walaupun ada sisi tipis perbedaaannya, tetap saja semua makna dari istilah tersebut memiliki pemahaman khasnya masing-masing. Itulah kekayaan berbahasa. 

Dalam pemikiran Islam secara khusus, pengertian akhlak dan adab sendiri memiliki perbedaan makna dan penggunaannya. Akhlak untuk sesuatu yang lebih konstan pada diri manusianya, sedangkan adab tidak demikian. Akhlak merupakan sikap yang sudah terpatri baik. Sedangkan yang masih berubah karena kondisi dan kebutuhan lingkungan bisa disebut adab. Proses pendidikan akhlak selalu melibatkan batin, sedangkan adab hanya melibatkan  zahir-nya saja. Maka kerap kali dalam pemikiran pendidikan tokoh masa lalu ada juga yang menyebutkan pendidikan batiniyah, ada juga mengunakan sebutan pendidikan ruhani sebagai pendidikan akhlak. 

Dalam pembahasan pendidikan di Indonesia bisa saja menggunakan istilah pendidikan sukma, pendidikan karakter, pendidikan kesusilaan, pendidikan adab, pendidikan jiwa, pendidikan kebatinan, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan etika dan seterusnya. Kesemua istilah tersebut sama-sama berbicara tentang pendidikan perilaku manusia. Hanya saja cangkupan dan rujukannya terkadang ada bedanya. Adapun pendidikan akhlak mulia dalam Islam selalu menghadirkan nilai Tauhid kepada-Nya. 

Silakan dipelajari pada buku baru Pendidian Adab Rasa Lokal karya terbaru Dr. ULIL AMRI SYAFRI

Bisa juga kunjungi Channel Kampus Digital Dr. Ulil Amri Syafri

#ulilamrisyafri


29 August 2022

Madrasah Adalah Kita, Kita Adalah Madrasah (Part 1)

 Oleh: Dr. Ulil Amri Syafri

Dalam suasana kuliah bersama mahasiswa program Magister Pendidikan Islam beberapa tahun ini, penulis sering mendiskusikan persoalan pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Tak jarang diskusi akan menjadi hangat dan ‘panas’ saat menyingkap sejarah pendidikan Islam yang pernah menggeliat di bumi Nusantara. Pertanyaan mahasiswa terkadang nyelenehpenulis sangat suka dengan model pertanyaan ini—pun ada yang kritis. Salah satu pertanyaan menarik dari salah satu mahasiswa yang penulis suka seperti, “Apakah dengan modal sejarah pendidikan Islam yang pernah ada di Nusantara bisa ‘mengangkat’ Pendidikan nasional dan pendidikan Islam secara khusus pada masa ke depan?” Begitulah kira-kira.

Jika boleh diibaratkan, pendidikan Islam di Indonesia saat ini laksana kereta yang sudah berjalan di lintasan waktu yang panjang, melewati alam yang sejuk, panas, dingin, terik, melintasi lembah yang terjalhutan rimba yang gelap gulita, serta berbagai kondisi lainnya, sebagai tempaan jejak jalan Pendidikan Islam di Nusantara. Kondisi ini setidaknya bisa menjadi kilatan potret bagi generasi berikutnya, meskipun jepretan masa lalu tak setajam penglihatan masa kini. Artinya, meski jejak dan perjuangan pendidikan masa lampau tak bisa terbaca secara jelas dan tepat oleh generasi saat ini, namun tetap dapat diamati dan dicermati.

Pendidikan memang persoalan yang amat luas dan pelik. Bangsa Indonesia, khususnya masyarakat muslim, beruntung memiliki sejarah yang meski samar masih bisa dibaca, khususnya sejak tahun 1900. Paling tidak, hasil bacaan itu bisa menjadi input dalam memetakan pendidikan di Indonesia. Meskipun kita juga paham tidak semua masa depan bisa diselesaikan dengan cara-cara lama, termasuk agenda pendidikan. Pendidikan dan pengajaran adalah sesuatu yang hidup, terus bernafas dan berjalan, meski paradenya menuju ke depan, bukan ke belakang.

Salah satu pembahasan yang ada dalam buku ini adalah tentang madrasah. Madrasah muncul—bisa dikatakan begitu—ketika kedigdayaan surau mulai pudar sebagai pusat pendidikan Islam tempoe doeloe. Awal mula sistem dan kelembagaan madrasah dengan pola klasikal muncul dari ide dan gagasan Syaikh Abdullah Ahmad dan kawan-kawan. Meskipun misi kehadiran surau dan madrasah berangkat dari kesadaran akan pentingnya pendidikan Islam bagi masyarakat, namun tetap saja madrasah memiliki orientasi berbeda. Hal ini dilihat dari desain kurikulumnya yang telah dikombinasikan dengan keilmuan pengetahuan umum. Berbeda dengan surau yang pure mengajarkan ilmu-ilmu agama.

Kini, setelah berjalan satu abad lebih, madrasah tetap seperti dahulu, masih dideskripsikan pada satu model saja, yaitu pendidikan keagamaan. Para pengelolanya memfokuskan hanya pada ilmu-ilmu agama dan turunannya, dengan mengikutkan perubahan-perubahan yang tidak terlalu signifikan. Hal ini sebenarnya bertolak belakang dengan teori desain kurikulum dan model pembelajaran yang menekankan pada perubahan inovasi dan rekayasa sesuai perkembangan jaman, sekaligus kebutuhan minat anak didik sepanjang masanya. Sebab perubahan adalah unsur kemajuan, tanpa mau berubah dan mengubah, bisa jadi benih-benih kemunduran telah masuk di dunia pendidikan.  

Istilah madrasah itu sendiri muncul karena merujuk pada kecerdasan berpikir para tokoh muslim memasuki era pergerakan kemerdekaan Indonesia masa lampau. Saat itu, muncul dua gerakan yang tidak dapat dipisahkan namun tidak mudah pula disatukan. Pendidikan Keagamaan dan Pendidikan Nasional. Di awal kemerdekaan, dua istilah ini cukup menguras pikiran.

Dari sudut pandang pendidikan keagamaan, penyebutan agama akan selalu terhubung dengan sistem pendidikannya. Misalnya, Pendidikan Kristen lahir dalam bentuk sekolah-sekolah untuk mereka yang beragama Kristen. Demikian pula untuk agama lainnya di Indonesia. Dalam masyarakat muslim, istilah yang secara masif digunakan untuk merujuk pada sekolah Islam itu adalah madrasah, meskipun sebenarnya dalam Islam sendiri memiliki varian pendidikan yang amat bervariasi. Jika kita telusuri pada Islam masa silam, kelembagaan pendidikan amatlah banyak. Sebut saja ada yang model rumah pendidikan—dan ini amat tertua—yaitu Bait al-Arqam era Nubuwwah. Kemudian terus berkembang dengan model masjid, kuttab, istana, pustaka, bahkan model rumah ulama—homeschooling dalam istilah saat ini. Ada juga dalam bentuk-bentuk majlis, sanggar-sanggar sesusatraan, ribath tempat latihan jiwa, zawiyah, bahkan tempat observasi di pasar, dan juga rihlah ilmiyah dalam bentuk mulazamah yang telah melembaga dan melahirkan imam-imam besar yang faqih pada bidang keilmuan Islam.

Dari kesemua itu bisa disimpulkan bahwa esensi pendidikan Islam bukan terletak pada bentuk dan namanya, tapi pada NILAINYA. Penyematan kata ‘Islam’ pada lembaga dan pendidikan itu sendiri bukan sekedar aksesoris. Ketika pendidikan Islam hanya dimaknai dari satu sudut nama saja, atau lebih suka copy paste konsep terdahulu, maka esensi pendidikan berbasis falsafah Islam akan hilang dan tak akan berkembang pada model-model yang dibutuhkan jaman. Tentu hal ini tak menguntungkan peradaban dan kebaruan pendidikan Islam yang terus hidup dan bertumbuh.

Di Nusantara sendiri pendidikan Islam menjelma dalam bentuk pesantren di tanah Jawa, Surau di tanah Minangkabau Sumatra, Meunasah, Dayah, Rangkang di Aceh, dan penyebutan lainnya sesuai dengan kilas sejarahnya di masing-masing daerah. Lembaga ini biasa dinisbatkan kepada tempat atau lokasi, semisal Surau Ulakan Syaikh Burhanuddin dan Surau Jembatan Besi.  Demikian pula Pesantren, ada yang dinisbahkan kepada nama kiainya, atau tempat pesantren itu berdiri, juga ada dengan nama-nama berbahasa arab. Bahkan di beberapa wilayah kerajaan Islam Nusantara, tradisi pendidikan masa lampau masih membudaya bagi masyarakat di sana hingga kini.

Lalu, bagaimana gambaran madrasah masa kini? (Bersambung)

 

25 July 2022

"Madrasah adalah Kita, Kita adalah Madrasah" (Part 2)



Tahun 2014, Kementerian Agama RI mengembangkan empat tipe madrasah masa depan: tipe akademik dan sains, tipe vokasi, tipe keagamaan, dan tipe regular. Meskipun gagasan ini sudah digaungkan beberapa tahun lalu, namun kenyataan di lapangan memperlihatkan gagasan tersebut belum terimplementasikan secara baik dan apik. Menurut Kemenag, kurikulum keempat tipe tadi tetap sama, perbedaannya hanya pada penguatan atau peminatan. Walaupun pada tataran agenda madrasah program tersebut sudah dipublikasikan, ide tersebut terfokus hanya pada madrasah negeri yang berada di bawah kementerian agama langsung.

Untuk Madrasah yang dikelola oleh masyarakat, dalam hal ini swasta yang jumlahnya amat banyak, agenda tersebut dapat dipelajari secara cermat. Sehingga kebijakan itu bisa digunakan dan bermanfaat sebagai usaha dan ruang inovasi, sekaligus sebagai rekayasa pembelajaran dan desain kurikulum kekinian, untuk mengisi kualifikasi lulusan madrasah swasta masa depan yang kompetitif dan memiliki ketrampilan relevan yang dimaksud.

Jika kita buka data BPS tahun 2021, terhitung ada kisaran ±54.324 lembaga atau 93% jumlah seluruh madrasah swasta milik rakyat se-NKRI. Pendidikan Islam ini merumput dan hadir di tengah masyarakat Indonesia dengan sebaran merata. Bahkan ada madrasah yang kokoh berdiri di pulau terluar. Hanya 7% saja madrasah negeri dari jumlah madrasah yang ada di seluruh Indonesia.

Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa partisipasi dan kontribusi masyarakat muslim Indonesia amat besar pada urusan pendidikan, khususnya pada lembaga madrasah. Pada studi kasus mini di wilayah Bogor (luas 2.986 km2), keberadaan madrasah swasta rinciannya seperti berikut: tingkat RA ada 133 sekolahan, MI ada 60 seolahan, MTs ada 44 seolahan,  dan MA ada 15 seolahan. Semuanya tersebar di beberapa kota Bogor. Total jumlah madrasah di wilayah kata Bogor adalah 252. Sedangkan madrasah negeri di tingkat satuan MIN ada 1, MtsN 2, dan MAN ada 4.  Dengan jumlah penduduk muslim kota Bogor muslim sekitar 960 ribu dari populasi 1,04 juta tahun 2020, maka madrasah swasta di wilayah kota Bogor terlihat sudah cukup memenuhi jumlah penduduknya.

Meskipun dalam perjalanannya madrasah dianggap ‘sehat dan aman-aman saja’, namun jika ditinjau dari ilmu pendidikan, madrasah memiliki masalah yang cukup serius, atau bisa jadi bermasalah. Mengapa?

Idealnya, dalam mengembangkan sebuah lembaga pendidikan harus ada prosedur kerja yang berkualitas dan terarah; ada riset, diskusi mendalam—termasuk dialog para pakar di bidangnya, ada juga uji coba terbatas. Hal ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar, bukan cuma setahun dua tahun saja, apalagi kebut semalam. Kenyataannya, banyak masyarakat yang masih terburu-buru dalam melahirkan lembaga pendidikan Islam. Hal ini terlihat dari desain kurikulum madrasah yang keseluruhannya nyaris serupa, hanya ada perbedaan pada titik peminatan.

Biar bagaimanapun juga, hasil yang dilakukan penuh ketelitian dan matang, dengan yang memiliki cara kerja kebut semalam tentu akan berbeda. Artinya, mendesain satuan pendidikan tidak bisa asal kejar tayang-kejar setoran. Sebab hal ini berpengaruh pada kualitas pendidikan itu sendiri. Lalu, apa urgensi dari diluncurkannya keempat tipe madrasah oleh kemenag RI bila tidak dijadikan momentum inovasi serius untuk model pendidikan Islam masa depan?

Ungkapan ‘tipe-tipe madrasah dengan desain kurikulum sama dan hanya ada perbedaan pada peminatan saja’, penulis pikir ini masih kurang, bahkan tidak nendang. Seharusnya narasi yang menyertai program keempat tipe madrasah adalah: “Perbedaan ini punya titik tekan pada desain kurikulum yang memang amat berbeda, karena titik fokus pembelajaran pun berbeda”. Jadi madrasah yang akan dilahirkan akan betul-betul berbeda, proses pengajarannya pun berbeda. Sebab pendidikan itu amat ditentukan oleh proses sehingga sebuah proses pendidikan itu layak mendapatkan perhatian yang serius.

Perubahan yang akan dilakukan juga harus melibatkan perubahan mindset. Jangan ada keinginan berubah tapi perilaku kita terhadap perubahan tersebut tak berubah. Seperti pada kasus di masyarakat, ketika proses pendidikan sudah masuk era digital, tapi tetap saja perilaku kita masih manual. Maka penulis berpikir, jika perubahan madrasah ini serius dan terencana dengan berbasis pengkajian dan analisis mendalam, ada usaha dan inovasi pada proses pendidikan tingkat Madrasah, khususnya pada satuan pendidikan MA, maka ini adalah lompatan jauh sekaligus telah memerdekan istilah madrasah itu sendiri. Tapi jika desain kurikulumnya masih dinyatakan sama dan hanya ada perbedaan pada peminatan, tentu ini bukanlah perubahan, tapi sekedar keinginan semata.

Sekedar ide atau gagasan penulis, inovasi desain kurikulum bisa dimulai dari satuan pendidikan MI yang difokuskan pada ilmu-ilmu agama, khususnya ilmu-ilmu fardhuain, dengan diperkaya pada praktek ibadah dan pembinaan jiwa beragama. Karena pembelajaran agama yang sekedar kognitif saja akan berbeda hasilnya dengan pembelajaran agama yang belajar hidup menjadi manusia beragama. Dengan konsep seperti ini, durasi waktu 6 tahun yang begitu panjang akan lebih menyenangkan. Anak tidak boring dengan sekedar materi agama, tapi ada edukasi hidup beragama hingga proses belajar juga dibuat gembira, tak terasa beban berat pada tuntutan kognitifnya.

Kemudian pada satuan MTs, ilmu fardhuain tersebut lebih diperluas dengan dalil-dalil dan argumentasi, sehingga anak-anak berlatih menarasikan pendapat hingga berbeda pandang sekalipun. Hal ini bisa menjadi dasar pengembangan sikap kolaborasi, bernalar kritis, kreatif, dan aktif. Pada satuan ini bisa diperkaya dengan materi agama, tapi jiwa beragama anak tetap ditumbuhkembangkan dengan baik, yang menjelma menjadi akhlaqul karimah.

Selanjutnya pada satuan MA, bisa dikembangkan ke arah jurusan dan skill masa depan dengan varian yang menarik dan memang dibutuhkan. Bahkan tidak terbatas pada tipe yang disebut di atas, namun lebih rinci lagi, sehingga kompetensi dan kesiapan anak muslim yang akan masuk dunia karya dan kerja pasca MA betul-betul siap dan mampu dengan kualifikasi yang relevan. Sehingga masing-masing jurusan memiliki kualifikasi pada lulusan dengan kekhasan yang memang berbeda. Bisa saja ada MA kejuruan IT, MA bisnis digital, MA olah raga, MA Seni & fashion Islami , MA multimedia & desain, MA e-commerce,  MA desain dan komunikasi Virtual, MA gizi dan kesehatan, MA keperawatan & kebidanan, MA tata boga & perhotelan, MA publikasi & jurnalistik,  MA pemikiran dan keagamaan Islam, dan lainnya.

Jadi, tak masalah jika jumlah madrasah itu puluhan ribu, asal kehadirannya tidak satu model saja. Para pengelola yang mempunyai SDM juga bisa membuat MA bidang kompetensi tertentu dengan memanfaatkan teknologi digital.

Adapun MA jurusan keulamaan, tetap menggunakan pola kepesantrenan yang klasik dan khas yang telah ada selama ini, dimana kemampun dan kualifikasi santri dan lulusannya harus berkualitas dan mendapat gemblengan adab secara khusus. Ilmu tidak saja diukur dengan selembar kertas ijazah, seperti MA yang biasa, tapi lebih dari itu, yaitu mereka mampu dalam penguasaan kitab-kitab keagamaan beserta referensi yang kompatibel, dan lain sebagainya. Sehingga lulusan MA jurusan keulamaan betul-betul tumbuh sebagai calon ulama.

Bila mereka terus tafaqquh fi al-diin, melakukan proses tradisi ilmiah ulama dan rihlah ilmiyah ulama, maka akan hadir ulama sungguhan di masyarakat, meskipun jumlahnya sedikit. Karena menjadi ulama bukanlah kewajiban seluruh muslim, namun kewajiban fardhu kifayah, sebagian kecil saja. Jangan lagi menjadikan sorban dan gamis besar sebagai simbul keulamaan. Tapi ulama itu adalah tempat ke-faqih-an ilmu ‘alim, amil bisa jadi tauladan, mu’allim mampu menjadi guru dan referensi bagi umat, serta mukhlis yang terpancar keikhlasan jiwanya.

Demikianlah, gagasan-gagasan varian madrasah di atas tidak saja berbeda dalam hal desain kurikulumnya, tapi tentu proses dan implementasi pendidikannya juga amat berbeda.

Kembali pada permasalahan madrasah masa kini. Madrasah identik dengan sekolah keagamaan, walaupun sebenarnya sejak tahun 1975 desain kurikulumnya berubah menjadi 30% materi keagamaan dan materi ilmu lain 70%. Pun demikian pada prakteknya, seluruh beban pembelajaran di sekolah umum diajarkan juga di madrasah. Artinya, para siswa madrasah seakan memiliki beban 200% pelajaran, yaitu 100% agama yang memang bagian utama madrasah selama ini, dan 100% pelajaran umum seperti sekolah umumnya. Meskipun demikian kenyataannya, stakeholder madrasah sendiri cenderung memperlakukan seperti sekolah madrasah agama. Bukan sekolah ilmu-ilmu umum berbasis keagamaan.

Tulisan ini dikutip dari buku penulis yang berjudul ‘Pendidikan Bukan-Bukan: Menyingkap Sejarah Pendidikan Islam Indonesia’, Dalam buku tersebut diulas potret pemikiran tokoh penting pendidikan masa lampau. Semoga gagasan dan analisis yang ada dalam buku tersebut bisa memberi inspirasi, khususnya bisa menjadi agenda ke depan pendidikan Islam untuk Indonesia yang lebih baik dan maju.