Membaca bagian
“Tafsir Pendidikan Ki Hajar Dewantara” dalam buku Frasa Agama: Pemikiran
Pendidikan & Kebudayaan Ki Hajar Dewantara karya Dr. Ulil Amri Syafri
membawa kita pada satu kesadaran penting: bahwa pendidikan Indonesia sejak
awal dibangun bukan sebagai proyek administratif, melainkan sebagai proyek
peradaban. Sekali lagi bahwa pendidikan Indonesia sejak awal dibangun bukan
sebagai proyek administratif, melainkan sebagai proyek peradaban.
Tokoh sentralnya,
Ki Hajar Dewantara, tidak sekadar merumuskan sistem pengajaran, tetapi
menawarkan visi kebangsaan yang berakar pada kebudayaan dan kemerdekaan jiwa.
Narasi dalam buku
tersebut menampilkan transformasi intelektual Ki Hajar Dewantara dari aktivis
politik radikal menuju arsitek pendidikan nasional. Peralihan itu bukan bentuk
pengunduran diri dari perjuangan, melainkan pendalaman strategi. Ia menyadari
bahwa politik, tanpa fondasi pendidikan, hanya melahirkan kegaduhan struktural.
Analogi terkenalnya—“politik adalah pagar, pendidikan adalah
ladangnya”—menunjukkan bahwa perubahan sejati tidak lahir dari regulasi semata,
tetapi dari pembinaan manusia.
Selain itu, pada
sub judul tafsir pendidikan Ki Hajar Dewantara melalui buku karya Dr. Ulil Amri
Syafri menghadirkan kesadaran bahwa pendidikan Indonesia sejatinya lahir dari
pergulatan filosofis yang sangat dalam. Pendidikan, bagi Ki Hajar Dewantara,
bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan “tuntunan segala kekuatan kodrat
yang ada pada anak-anak.” Dalam satu kalimat itu tersimpan pandangan
antropologis, psikologis, sekaligus kultural tentang manusia.
Konsep “tuntunan
kodrat” menunjukkan bahwa anak bukanlah kertas kosong yang bebas ditulisi
sesuka hati oleh guru, tetapi juga bukan makhluk yang telah selesai sehingga
tidak membutuhkan bimbingan. Pendidikan hadir sebagai penuntun—menguatkan
potensi baik dan memperhalus kecenderungan yang lemah. Di sini terlihat posisi
moderat Ki Hajar Dewantara: ia menolak determinisme dan sekaligus menolak
manipulasi. Pendidikan bukan proyek rekayasa, melainkan proses pemanusiaan.
Sebagai pendiri
Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara merumuskan pendidikan sebagai proses “menuntun
segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai
anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan
setinggi-tingginya.” Definisi ini bukan sekadar konseptual, melainkan
filosofis—mengandung dimensi antropologis, kultural, dan moral.
Dalam tafsir yang
dipaparkan, tujuan akhir pendidikan bukanlah sekadar kecakapan akademik,
melainkan “rahayu”—keselamatan dan kebahagiaan lahir batin. Orientasi ini
terasa kontras dengan realitas pendidikan kontemporer yang kerap terjebak pada
angka, peringkat, dan kompetisi. Ketika pendidikan dipersempit menjadi mesin
produksi tenaga kerja, gagasan Ki Hajar Dewantara justru menghadirkan koreksi
moral: manusia tidak boleh direduksi menjadi alat ekonomi.
Lebih jauh,
pendidikan dalam pandangannya adalah perjuangan kebudayaan. Hal ini tampak
jelas dalam pendirian Perguruan Taman Siswa yang bukan hanya lembaga sekolah,
tetapi gerakan perlawanan terhadap hegemoni kolonial. Jika politik diibaratkan
pagar, maka pendidikan adalah ladangnya. Artinya, perubahan struktural tanpa
pembinaan jiwa dan kebudayaan tidak akan melahirkan kemerdekaan sejati.
Narasi ini
menjadi relevan ketika pendidikan Indonesia menghadapi tantangan baru:
komersialisasi, standardisasi global, hingga krisis karakter. Bentuk
kolonialisme mungkin telah berubah, tetapi dominasi paradigma luar yang tidak
selalu selaras dengan kepribadian bangsa masih terasa. Dalam konteks ini,
tafsir pendidikan Ki Hajar Dewantara bukan nostalgia romantik, melainkan sumber
refleksi kritis.
Namun, pembacaan
atas pemikirannya juga memerlukan pengembangan kontekstual. Konsep “kodrat
alam” perlu ditafsirkan ulang dalam era digital dan revolusi teknologi.
Periodisasi perkembangan anak yang ia rumuskan menunjukkan intuisi psikologis
yang tajam, tetapi dialog dengan teori perkembangan modern dapat memperkaya
relevansinya. Dengan demikian, pemikirannya tidak berhenti sebagai warisan
historis, melainkan hidup dalam diskursus ilmiah kontemporer.
Pada akhirnya,
tafsir pendidikan Ki Hajar Dewantara mengingatkan bahwa jati diri pendidikan
Indonesia terletak pada keberanian memerdekakan manusia. Guru bukan penguasa
kelas, melainkan penuntun pertumbuhan. Sekolah bukan pabrik nilai, melainkan
ruang kebudayaan. Kurikulum bukan sekadar daftar materi, tetapi jalan
pembentukan jiwa merdeka.
Optimisme itu
tetap ada. Selama pendidikan masih berani kembali pada asas kemanusiaan, selama
guru masih memandang murid sebagai pribadi yang memiliki kodrat dan martabat,
selama kebijakan pendidikan tidak kehilangan arah kebudayaannya, maka cita-cita
Ki Hajar Dewantara tidak akan padam. Pendidikan Indonesia dapat kembali
menemukan jati dirinya—bukan sebagai sistem yang mengejar capaian semata,
tetapi sebagai gerakan yang menumbuhkan manusia merdeka, berbudaya, dan
berbahagia lahir batin.
![]() |
| #ulilamrisyafri |
“Inti dari
Pendidikan Adalah memerdekakan manusia. Berdiri di atas kaki sendiri. Tidak
tergantung pada pihak lain. Dapat mengatur hidup sendiri”
(Ki Hajar
Dewantara)






0 komentar:
Post a Comment