Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang hubungan antara agama, kebudayaan, dan pendidikan memberikan pemahaman bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian manusia. Dalam buku Frasa Agama: Pemikiran Pendidikan dan Kebudayaan karya Dr. Ulil Amri Syafri, dijelaskan bahwa agama merupakan sumber nilai yang menghidupkan kebudayaan, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari proses berpikir dan bertindak manusia yang dipengaruhi oleh nilai-nilai tersebut.
Agama
berperan sebagai pedoman hidup yang memberi arah bagi perkembangan budaya. Jika
nilai agama diterapkan dengan baik, maka budaya yang tumbuh akan mencerminkan
kesantunan, keindahan, dan akhlak yang mulia. Sebaliknya, jika nilai agama
diabaikan, kebudayaan bisa kehilangan makna dan arah. Oleh karena itu, agama
dan budaya seharusnya berjalan bersama dan saling melengkapi.
Ki
Hajar Dewantara menegaskan bahwa agama tidak hadir untuk membatasi kebebasan
manusia, melainkan untuk membimbing manusia agar mampu berkembang secara baik
dan bermartabat. Pendidikan menjadi sarana penting untuk menyatukan nilai agama
dan kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendidikan, peserta didik
diajak memahami nilai moral, sikap saling menghormati, serta tanggung jawab
sosial.
Dalam
konteks Indonesia yang memiliki keberagaman suku, budaya, dan agama, pemikiran
ini menjadi sangat relevan. Keberagaman tersebut merupakan kekayaan bangsa yang
harus dijaga dan dikembangkan. Pendidikan nasional seharusnya mampu menanamkan
nilai iman, takwa, toleransi, dan rasa hormat sejak dini agar terbentuk
generasi yang berakhlak baik dan berjiwa kebangsaan.
Namun,
kondisi pendidikan saat ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran masih terlalu
menekankan aspek akademik. Keberhasilan siswa sering kali diukur dari nilai dan
prestasi, sementara pembinaan karakter kurang mendapatkan perhatian. Akibatnya,
banyak peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi kurang memiliki
sikap santun, empati, dan tanggung jawab.
Ki
Hajar Dewantara mengingatkan bahwa pendidikan sejati adalah proses memanusiakan
manusia. Artinya, pendidikan harus membimbing manusia agar mampu berpikir
dengan baik, bersikap bijak, dan bertindak secara benar. Pendidikan berbasis
agama dan kebudayaan menjadi penting untuk membentuk pribadi yang seimbang
antara kecerdasan, moral, dan spiritual.
Sejarah
bangsa Indonesia menunjukkan bahwa perpaduan antara agama dan budaya telah
melahirkan berbagai tradisi luhur, seperti pesantren, surau, seni wayang, dan
tradisi bershalawat. Semua itu menjadi bukti bahwa nilai agama mampu memperkaya
kebudayaan dan membentuk karakter masyarakat. Oleh karena itu, nilai-nilai
tersebut perlu terus dihidupkan dalam dunia pendidikan.
Sebagai mahasiswa, penulis menilai bahwa pemikiran Ki Hajar Dewantara masih sangat relevan untuk menjawab tantangan pendidikan masa kini. Pendidikan Indonesia perlu kembali pada tujuan utamanya, yaitu membentuk manusia yang cerdas, berakhlak, dan berbudaya. Dengan memadukan ilmu pengetahuan, nilai agama, dan budaya lokal, pendidikan Indonesia memiliki peluang besar untuk melahirkan generasi yang unggul dan bermartabat.





0 komentar:
Post a Comment