Cluster Casablanca, Sentul City, Bogor - Jawa Barat - 16810 | Hotline: 0813-1112-5384 (Call/SMS/WA)

18 February 2026

AGAMA DAN KEBUDAYAAN. by: Rania Falah Sungkar

Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang hubungan antara agama, kebudayaan, dan pendidikan memberikan pemahaman bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian manusia. Dalam buku Frasa Agama: Pemikiran Pendidikan dan Kebudayaan karya Dr. Ulil Amri Syafri, dijelaskan bahwa agama merupakan sumber nilai yang menghidupkan kebudayaan, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari proses berpikir dan bertindak manusia yang dipengaruhi oleh nilai-nilai tersebut.

Agama berperan sebagai pedoman hidup yang memberi arah bagi perkembangan budaya. Jika nilai agama diterapkan dengan baik, maka budaya yang tumbuh akan mencerminkan kesantunan, keindahan, dan akhlak yang mulia. Sebaliknya, jika nilai agama diabaikan, kebudayaan bisa kehilangan makna dan arah. Oleh karena itu, agama dan budaya seharusnya berjalan bersama dan saling melengkapi.

Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa agama tidak hadir untuk membatasi kebebasan manusia, melainkan untuk membimbing manusia agar mampu berkembang secara baik dan bermartabat. Pendidikan menjadi sarana penting untuk menyatukan nilai agama dan kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendidikan, peserta didik diajak memahami nilai moral, sikap saling menghormati, serta tanggung jawab sosial.

Dalam konteks Indonesia yang memiliki keberagaman suku, budaya, dan agama, pemikiran ini menjadi sangat relevan. Keberagaman tersebut merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga dan dikembangkan. Pendidikan nasional seharusnya mampu menanamkan nilai iman, takwa, toleransi, dan rasa hormat sejak dini agar terbentuk generasi yang berakhlak baik dan berjiwa kebangsaan.

Namun, kondisi pendidikan saat ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran masih terlalu menekankan aspek akademik. Keberhasilan siswa sering kali diukur dari nilai dan prestasi, sementara pembinaan karakter kurang mendapatkan perhatian. Akibatnya, banyak peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi kurang memiliki sikap santun, empati, dan tanggung jawab.

Ki Hajar Dewantara mengingatkan bahwa pendidikan sejati adalah proses memanusiakan manusia. Artinya, pendidikan harus membimbing manusia agar mampu berpikir dengan baik, bersikap bijak, dan bertindak secara benar. Pendidikan berbasis agama dan kebudayaan menjadi penting untuk membentuk pribadi yang seimbang antara kecerdasan, moral, dan spiritual.

Sejarah bangsa Indonesia menunjukkan bahwa perpaduan antara agama dan budaya telah melahirkan berbagai tradisi luhur, seperti pesantren, surau, seni wayang, dan tradisi bershalawat. Semua itu menjadi bukti bahwa nilai agama mampu memperkaya kebudayaan dan membentuk karakter masyarakat. Oleh karena itu, nilai-nilai tersebut perlu terus dihidupkan dalam dunia pendidikan.

Sebagai mahasiswa, penulis menilai bahwa pemikiran Ki Hajar Dewantara masih sangat relevan untuk menjawab tantangan pendidikan masa kini. Pendidikan Indonesia perlu kembali pada tujuan utamanya, yaitu membentuk manusia yang cerdas, berakhlak, dan berbudaya. Dengan memadukan ilmu pengetahuan, nilai agama, dan budaya lokal, pendidikan Indonesia memiliki peluang besar untuk melahirkan generasi yang unggul dan bermartabat.

0 komentar:

Post a Comment