Cluster Casablanca, Sentul City, Bogor - Jawa Barat - 16810 | Hotline: 0813-1112-5384 (Call/SMS/WA)
1st Islamic Boarded Home Schooling

Belajar Bahasa Inggris

Para pelajar Muslim Cendekia Madani belajar bahasa Inggris langsung dengan native speaker.

Keberangkatan Alumni Belajar di Al-Azhar University Cairo

Para pelajar Muslim Cendekia Madani bersama-sama mengantar alumni yang diterima kuliah di Al-Azhar University Cairo.

Going To Al-Azhar University

Para pelajar Muslim Cendekia Madani sedang mengantarkan salah seorang alumni yang diterima di Al-Azhar University.

Bermain Futsal

Para pelajar Muslim Cendekia Madani sedang bermain futsal.

Berpetualang di Jungle Land

Para pelajar Muslim Cendekia Madani sedang berpetualang sambil belajar di Jungle Land, Sentul City.

Kunjungan Rombongan Cikgu dari Singapura

Rombongan dari Singapura, staff pembina dan para siswa Muslim Cendekia Madani - Islamic Boarded Home Schooling.

Belajar bahasa Arab di alam

Para siswa Muslim Cendekia Madani sedang belajar bahasa Arab di alam terbuka.

Belajar Bahasa Arab

Para siswa Muslim Cendekia Madani - Islamic Boarded Home Schooling belajar Bahasa Arab.

06 February 2026

Rekontruksi Peradaban & Kebaruan pendidikan: Melahirkan Manusia berakhlak, menjaga fitra serta mengembangkan Potensi.

By: Ulil Amri Syafri. 
Pendidikan tidak seharusnya direduksi menjadi sekadar proses mengajar, melatih keterampilan, atau memindahkan pengetahuan. Pendidikan adalah kerja peradaban. Ia merupakan bangunan besar yang membentuk kualitas manusia, arah kebudayaan, dan mutu kehidupan bersama. Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan tidak hanya kecerdasan intelektual, tetapi terutama kualitas karakter dan integritas moral.
Dalam perspektif pendidikan Islam, tujuan utama pendidikan adalah pembentukan manusia berakhlak—manusia yang memiliki integritas, tanggung jawab etis, dan kesadaran kemanusiaan. Bukan sekadar manusia terampil atau berpengetahuan. Keadaban sosial memang penting, tetapi ia adalah bagian dari proses pembentukan diri: latihan disiplin, penataan sikap, penguatan tanggung jawab, dan pembiasaan perilaku tertib. Fokus akhirnya adalah kualitas akhlak sebagai karakter batin yang hidup.

#ulilamrisyafri

Pendidikan dalam kerangka ini menyentuh seluruh dimensi manusia: jiwa, moral, nalar, emosi, bakat, dan potensi dasar kemanusiaan (fitrah). Jika salah satu dimensi diabaikan, pendidikan menjadi timpang dan berisiko melahirkan kecerdasan tanpa kebijaksanaan.

Fondasi nilai dalam pendidikan Islam bersumber dari wahyu. Namun secara universal, ini dapat dipahami sebagai pijakan nilai transenden—nilai luhur yang melampaui kepentingan sesaat. Dari fondasi nilai inilah lahir orientasi etika, arah tujuan hidup, ukuran benar–salah, dan kerangka pembinaan karakter. Metode dan strategi pendidikan boleh berkembang sesuai zaman, tetapi fondasi nilai tidak boleh tercerabut dari prinsip kemanusiaan dan moralitas.

Dari dasar nilai tersebut lahir pendekatan pendidikan yang juga diperkuat oleh pengalaman dan pengamatan empiris, antara lain pengembangan potensi dan penjagaan fitrah manusia. Pendidikan perlu menjadi ruang pengembangan bakat dan kemampuan (tanmiyatu mawaahib) sekaligus penjagaan potensi dasar kemanusiaan (himayatul fitrah).

Peserta didik tidak harus diseragamkan, tapi potensi perlu dikenali, kecenderungan positif diarahkan, dan bakat ditumbuhkan. Pada saat yang sama, orientasi moral perlu dijaga agar perkembangan kemampuan tidak kehilangan arah etis.

Hakikat pendidikan bukan hanya penguatan intelektual, tetapi juga penguatan batin dan emosi. Ia menumbuhkan kecerdasan berpikir sekaligus kedewasaan rasa. Ia membentuk cara hidup, bukan hanya cara memahami.

Dalam tradisi pendidikan Islam dikenal tiga poros utama proses pembentukan manusia:

Tarbiyah–tazkiyah: proses penumbuhan dan pemurnian orientasi diri—penguatan potensi, pembentukan kesiapan moral dan emosional, serta pengembangan kesadaran batin. Tanpa dimensi ini, pengetahuan mudah berubah menjadi alat kesombongan.

Ta’dib: proses pembiasaan etika hidup—latihan disiplin, tanggung jawab, dan keteraturan perilaku. Adab dipahami sebagai hasil latihan karakter yang konsisten, bukan sekadar simbol sosial.

Ta‘līm: proses pengembangan ilmu—bukan hanya pemindahan pengetahuan, tetapi juga penguatan nalar, kepekaan, dan kemampuan inovasi untuk kemaslahatan bersama.

#ulilamrisyafri

Kurikulum dalam kerangka ini perlu bersifat integratif—menghubungkan pengetahuan rasional, nilai moral, dan keterampilan hidup. Tidak terbelah antara ilmu dan etika. Tidak berhenti pada teori, tetapi bergerak menuju praktik dan pengabdian sosial.

Pembentukan karakter bukan unsur tambahan, melainkan inti pendidikan.

Secara kelembagaan, pendidikan tidak berdiri tunggal. Ia merupakan ekosistem berlapis: keluarga sebagai fondasi awal pembentukan karakter; komunitas dan ruang ibadah sebagai pusat pembinaan nilai; sekolah, madrasah, dan pesantren sebagai lembaga pembelajaran terstruktur; serta komunitas keilmuan sebagai penjaga tradisi intelektual dan etika keilmuan. Model ini dapat dipahami secara universal sebagai kolaborasi antara rumah, komunitas, dan institusi pendidikan. 

Pendidikan berbasis minat dan pengembangan bakat—melalui jalur nonformal—juga penting untuk menumbuhkan kecerdasan sosial, komunikasi, kreativitas, dan kepemimpinan.

Dari konstruksi pendidikan yang utuh inilah lahir keluaran peradaban yang diharapkan: pribadi berintegritas, profesional beretika, pemimpin amanah, masyarakat berilmu, dan budaya yang seimbang antara kemajuan dan nilai.

Pendidikan tidak berhenti pada individu—ia membentuk tatanan sosial. Jika pendidikan hanya melahirkan orang cerdas tetapi miskin integritas, maka itu kegagalan peradaban, melainkan. 

Mengembalikan pendidikan pada fondasi karakter, nilai, dan potensi kemanusiaan bukan romantisme masa lalu, melainkan kebutuhan masa kini dan masa depan. Pendidikan adalah kerja peradaban—bukan sekadar program, bukan semata sistem administratif, tetapi proses membentuk manusia seutuhnya.

Wallahu a‘lam


#ulilamrisyafri

01 February 2026

CURRICULUM VITAE - Dr. H. Ulil Amri Syafri, Lc., MA.

A. Identitas Diri

Nama Lengkap : Dr. H. Ulil Amri Syafri, Lc., MA.

Tempat, Tanggal Lahir : 28 September 1973

Alamat : Depok, Jawa Barat, Indonesia

Jabatan Akademik : Associate Professor

Bidang Keahlian : Pendidikan Karakter dan Pendidikan Islam


B. Pendidikan Formal

S1 (Lc.) –S2 (MA) – S3 (Dr.) 

C. Jabatan & Aktivitas Akademik

Dosen Tetap Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor

Pengajar dan pengkaji Pendidikan Karakter dan Pendidikan Islam

Penulis buku-buku pendidikan

Narasumber kajian keilmuan, pendidikan, dan kebudayaan


D. Identitas Akademik

Scopus ID : 57217061021

ORCID ID : 0009-0002-7280-3200

SINTA ID : 6116177

E. Media Sosial & Kanal Ilmiah

Instagram : @ulilamrisyafri | @pendidikanbukanbukan

Facebook : Ulil Amri SYAFRI

YouTube : #Ulilamrisyafri | Kampus Digital Dr. Ulil Amri Syafri


F. Karya Buku

* Seri Al-Qur’an 1: Yahudi Ahl al-Kitab (2004)

* Seri Al-Qur’an 2: Penolakan Yahudi terhadap Islam (2004)

* Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an (2012)

* Pendidikan Bukan-Bukan: Menyingkap Pendidikan Islam di Nusantara (2022)

* Frasa Agama: Pemikiran Pendidikan & Kebudayaan Ki Hajar Dewantara (2022)

* Pendidikan Adab Rasa Lokal (2023)

* Buku Ajar Peradaban & Kebaruan Pendidikan Islam (2024)

* Guru Rakyat (2025)

* Tidak Ada Murid Bodoh (2025)

* Inyiak Daud Rasyidi: Adab, Agama, dan Budaya (2025)


G. Motto Hidup

“Hiduplah dengan iman dan jadilah manusia yang bermanfaat.”


#ulilamrisyafri

18 January 2026

JANGAN MAU DININABOBOKAN AGAMA

#ulilamrisyafri
     Al-Qur’an berkali-kali mengisahkan Bani Israil bukan untuk membangun kebencian etnis, melainkan sebagai ibrah peradaban. Kritik wahyu diarahkan pada penyimpangan cara beragama: Di titik itulah agama kehilangan daya pembebasannya dan berubah menjadi asesoris sosial.

Logika inilah yang kemudian ditegaskan Nabi dalam hadis-hadis tentang “akhir zaman”. Hadis-hadis tersebut tidak dimaksudkan sebagai membuat pasif, melainkan peringatan aktif agar umat tidak mengulangi pola kerusakan yang sama. Nabi bersabda:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يُصَدَّقُ فِيهِ الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهِ الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهِ الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهِ الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهِ الرُّوَيْبِضَةُ

Artinya: Akan datang kepada manusia suatu zaman: pendusta dipercaya, orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, orang amanah dikhianati, dan orang remeh berbicara tentang urusan publik. (HR. Ibnu Majah no 4019, juga terdapat pada musnad Imam Ahmad)

Hadis ini menggambarkan runtuhnya arsitektur kepercayaan sosial. Yang rusak bukan sekadar moral individu, melainkan sistem nilai kolektif. kepentingan, pencitraan, dan popularitas mendapat ruang seluas-luasnya, fenomena yang terlihat makin bertumbuh. Dalam struktur seperti ini, orang amanah tersingkir bukan karena salah, tetapi karena dianggap tidak luwes. Sebaliknya, pengkhianat dirawat karena pandai bernegosiasi dengan kekuasaan. Itu yang disebut dalam istilah hadis ruwaibidah—orang dangkal ilmu dan moralnya tapi berbicara urusan besar, bukankah kini mulai menjamur?

Kerusakan itu berlanjut pada wilayah yang lebih dalam, sebagaimana sabda Nabi :

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يَبْقَى مِنَ الْإِسْلَامِ إِلَّا اسْمُهُ، وَلَا يَبْقَى مِنَ الْقُرْآنِ إِلَّا رَسْمُهُ

Artinya: Akan datang kepada manusia suatu zaman, tidak tersisa dari Islam kecuali namanya, dan tidak tersisa dari Al-Qur’an kecuali tulisannya. (HR. Imam Ahmad bin Hambal  no: 17232)

Hadis ini bukan kecaman terhadap ritual atau simbol, melainkan kritik tajam terhadap agama yang kehilangan ruhnya. Islam hadir secara administratif, tetapi absen secara etis, adab dan akhlak.

Kondisi ini semakin parah ketika dimensi ekonomi ikut terlepas dari nilai tauhid. Nabi bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنَ الْحَرَامِ

Artinya: Akan datang kepada manusia suatu zaman, seseorang tidak peduli dari mana hartanya diperoleh, dari halal atau haram. (HR. Imam Bukhari no 2059 kitab buyu’)

Di sini Nabi membongkar ilusi besar peradaban: ketika hasil diagungkan dan sumber diabaikan. Artinya semua fokus pada hasil yang dikumpukan termasuk finansial atau kekayaan, tapi menyingkirkan soal bagaimana dan proses dilakunan, haramkah tau lebih kejam lagi dari sekedar haram? Cara seperti ini dahulu dilakukan Yahudi kuno, apa yang disebut istilah as-Shuhtu.

Dalam lanskap sosial seperti itu, tidak mengherankan jika orang beriman mengalami tekanan berat, sebagaimana sabda Nabi :

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يُذَلُّ فِيهِ الْمُؤْمِنُ

Artinya: Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang beriman dihinakan. (HR. Al-Hakim Naisaburi dalam kitab Mustadrak al-Hakim no 4379, ia menilai sahih ala syart Muslim)

Hadis ini tidak menunjukkan kelemahan iman, melainkan ketegangan abadi antara kebenaran dan sistem  RRB  rusak, rakus dan biadab.

Maka jelaslah, hadis-hadis dengan pembuka سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ bukan undangan untuk menunggu kehancuran dengan sikap pasrah. Ia adalah ‘cermin test’ bagi rakyat, apakah kita menjadikan hadis sebagai cermin untuk berubah, atau sebagai tameng untuk membenarkan kepasrahan?

Wallahu A’lam By. Ulil Amri Syafri (Ahli Bidang Pindidikan dan Peradaban Islam)




09 January 2026

KRITIKAN TERHADAP PIKIRAN PHIL ZUCKERMAN DALAM BUKU MASYARAKAT TANPA TUHAN

#ulilamrisyafri
Phil Zuckerman dalam karyanya Masyarakat Tanpa Tuhan mengajukan gagasan besar bahwa masyarakat sekuler berbasis prinsip kemanusiaan mampu membangun tatanan sosial yang lebih sejahtera, adil, dan harmonis dibandingkan masyarakat yang didominasi oleh nilai agama. Penulis menegaskan bahwa negara sekuler yang netral terhadap agama dapat menjamin hak-hak individu secara merata, dengan landasan nilai universal seperti hak asasi manusia, kesetaraan, dan kebebasan berbicara. Melalui studi kasus negara Skandinavia seperti Denmark dan Swedia, Zuckerman berargumen bahwa sistem sekuler mampu mengelola konflik, menyediakan layanan sosial yang komprehensif, dan membangun kohesi masyarakat tanpa ketergantungan pada doktrin agama.

 

Kritikan terhadap Pikiran Penulis

 1. Parsialitas dan Kurangnya Universalitas

Ide utama Zuckerman cenderung terpaku pada model sekuler Skandinavia, sehingga gagasannya kurang relevan untuk konteks budaya dan sejarah yang beragam di seluruh dunia. Penulis tidak secara memadai memperhitungkan bahwa peran agama di banyak negara bukan hanya sebagai sistem keyakinan, tetapi juga sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya dan struktur sosial masyarakat. Pendekatan yang terlalu fokus pada pengalaman negara dengan latar belakang tertentu membuat analisisnya terkesan tidak objektif dan sulit diaplikasikan secara luas.

 2. Kurangnya Kesadaran akan Hubungan Agama dan Budaya

Zuckerman terkesan tidak menghargai realitas bahwa budaya manusia seringkali lahir dari sinergi antara karya kemanusiaan dan nilai-nilai agama yang telah mengakar selama berabad-abad. Penulis gagal memahami bahwa dalam banyak konteks, agama bukanlah faktor yang memisahkan, melainkan alat pemersatu masyarakat yang menguatkan nilai-nilai moral dan etika. Pendekatannya yang menyisihkan agama dari urusan negara justru bisa dianggap sebagai bentuk tidak menghargai kekayaan budaya yang tumbuh dari akar nilai agama.

 3. Ketidakseimbangan antara Hak dan Tanggung Jawab

Pikiran penulis terlalu menekankan pada perlindungan hak individu tanpa menyajikan pembahasan yang seimbang tentang tanggung jawab yang menyertainya. Dalam kasus seperti kontroversi kartun Nabi Muhammad dan pembakaran Al-Qur'an, Zuckerman lebih fokus pada kebebasan berbicara daripada pada tanggung jawab untuk tidak menyakiti perasaan komunitas beragama. Tanpa pemahaman yang jelas tentang batasan hak, kebebasan bisa berubah menjadi alat untuk merendahkan atau melecehkan orang lain, yang pada akhirnya merusak esensi kemanusiaan itu sendiri.

 Penulis tidak meletakkan konsep tanggung jawab pada porsi cerdas yang seharusnya dimiliki manusia sebagai makhluk sosial. Alih-alih mengedepankan keseimbangan yang bijaksana antara hak dan kewajiban, ia lebih terfokus pada "hak dan hak" yang terus-menerus ditekankan. Hak tanpa tanggung jawab tidak lebih dari bentuk egoisme yang melampaui batas, karena pada hakikatnya kehidupan bermasyarakat membutuhkan setiap individu untuk mempertimbangkan dampak tindakannya terhadap orang lain dan keseluruhan komunitas.

 4. Kurangnya Landasan Moral yang Kontekstual

Meskipun menegaskan bahwa masyarakat sekuler berbasis nilai universal, Zuckerman tidak mampu menjelaskan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat dipertahankan tanpa mempertimbangkan konteks budaya dan sejarah lokal. Pendekatannya yang mengedepankan prinsip sekuler sebagai satu-satunya solusi justru menunjukkan kurangnya pemahaman tentang keragaman cara manusia membangun sistem moral dan etika yang sesuai dengan kondisi lingkungannya. (bersambung..)

#ulilamrisyafri


07 January 2026

Agama Bukan Lelucon: Inti yang Tak Boleh Dianggap Remeh

Agama bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan lelucon musiman, atau lelucon dalam bentuk apapun. Agama memiliki identitas dan kedudukan tersendiri yang menjadi pijakan utama dalam kehidupan manusia. Ada banyak aspek lain dalam kehidupan yang bisa dijadikan bahan humor atau candaan, namun agama seharusnya bukan salah satunya.

Agama hadir sebagai sumber ajaran adab, moral, karakter, dan perwatakan yang membentuk nilai-nilai dasar bagi umat manusia. Melalui ajarannya, manusia diajarkan bagaimana hidup dengan benar, menghormati sesama, dan menjaga keharmonisan dengan alam semesta serta Sang Pencipta. Ketika agama dijadikan "lelucon musiman" atau hanya diperhatikan secara sepihak pada saat-saat tertentu dengan cara yang tidak pantas, itu bukan hanya merendahkan nilai agama sendiri, tetapi juga menunjukkan kemerosotan kreativitas dan kedalaman pikiran manusia.


Ulil Amri Syafri

Seperti yang terjadi pada masyarakat Yahudi kuno, agama ditempatkan sebagai poros utama dalam membangun kehidupan bermasyarakat dan peradaban mereka. Mereka menjadikan ajaran agama sebagai landasan dalam setiap langkah dan keputusan, yang kemudian membawa dampak positif bagi perkembangan diri dan komunitasnya. Namun, pada era modern ini, terkesan banyak orang menjadikan agama sebagai sesuatu yang berada di pinggiran kehidupan – hanya diingat saat ada acara tertentu atau ketika dibutuhkan semata, bahkan terkadang dijadikan bahan candaan yang tidak bertanggung jawab. 

Ini memang menjadi salah satu celaka yang dihadapi manusia modern. Agama seharusnya menjadi alat bagi pikiran manusia untuk menemukan arah yang jelas, memahami tujuan hidup dan makna keberadaan di dunia ini. Di mana mungkin tempatnya lelucon dalam hal yang begitu mendasar dan krusial ini? Agama adalah pondasi yang memberikan keteguhan hati, kedamaian batin, dan panduan hidup yang tak ternilai harganya – hal yang patut diperhatikan dengan penuh rasa hormat, bukan dijadikan sebagai objek yang bisa dipermainkan sesuka hati.

04 December 2025

Praktek Pendidikan Islam Mengebiri Filsafatnya Sendiri. Kok Bisa?

Filsafat Pendidikan Islam merupakan disiplin ilmu yang sangat fundamental karena menjadi dasar bagi seluruh konstruksi teori dan praktik pendidikan Islam. Ilmu ini bertugas membedah pendidikan dari akar maknanya yang paling mendasar—hakikat pendidikan, hakikat guru, tujuan, metode, evaluasi, hubungan pengetahuan dan amal, bahkan persoalan etis seperti legitimasi upah guru dalam lingkungan pendidikan. Dengan demikian, mempelajari filsafat pendidikan berarti kita sedang berlayar pada samudera pemikiran yang luas, dalam, dan penuh tantangan intelektual.

Berbicara filsafat pendidikan itu menarik. Bukan karena mampu mengasah kecerdasan dan menajamkan nalar, tetapi juga karena mampu memberikan makna baru melalui pembacaan literasi yang luas. Pikiran manusia yang selalu terbuka pada kebaruan, bisa melengkapi perspektif yang ada. Karenanya, mengkaji filsafat pendidikan tidak berhenti pada mereproduksi teori lama, tetapi juga berpotensi melahirkan teori baru yang relevan dengan kebutuhan zaman.

#ulilamrisyafri

Namun terdapat realitas yang patut direnungkan: teori pendidikan yang dikembangkan melalui kajian filsafat sering kali tidak mampu diwujudkan dalam dunia nyata pendidikan. Di tingkat praktik, pendidikan kerap melenceng dari landasan filosofisnya. Misalnya, secara ontologis pendidikan memandang manusia sebagai subjek dan objek pendidikan yang harus berkembang sebagai pribadi utuh. Praktik di lapangan, pendidikan sering kali menyempit menjadi alat produksi ekonomi. Peserta didik direduksi menjadi komoditas dan tenaga kerja, bukan insan beradab yang tumbuh menyeluruh. Di sinilah terjadi jurang (gap) atau paradoks yang menyedihkan: praktik pendidikan tidak selalu bersumber dari teori, dan teori tidak selalu lahir dari landasan filosofisnya.

Lalu untuk apa filsafat pendidikan Islam dipelajari jika kenyataannya ia sering diabaikan dalam praktik? Jawabannya tegas: karena justru filsafatlah yang bisa menjadi penentu arah dan penuntun rel pendidikan ketika sistem telah menyimpang dan kehilangan kendali. Tanpa filsafat, pendidikan menjadi autopilot yang berjalan tanpa visi dan tanpa ruh.

Secara esensial, Filsafat Pendidikan Islam memuat empat prinsip penting:

Pertama, filsafat Pendidikan Islam merupakan rangkaian gagasan yang menegaskan pencarian makna pendidikan sebagai jantung peradaban, dengan menggunakan keseimbangan seluruh potensi manusia: spiritual, intelektual, emosional, dan sosial.

Kedua, filsafat Pendidikan IsIam merupakan dialog abadi antara akal manusia dan wahyu Ilahi, di mana nalar berperan mencari makna dan wahyu menjadi penuntun kebenaran dan arah yang benar.

Ketiga, filsafat Pendidikan Islam menyatukan iman, ilmu, amal, dan kemanusiaan dalam satu kesatuan peradaban. Tanpa filsafat, pendidikan dapat jatuh pada otoritarianisme keyakinan atau kekacauan makna, karena hanya mengandalkan tradisi tanpa pertimbangan rasional.

Keempat, filsafat Pendidikan Islam memiliki potensi besar untuk mengembalikan orientasi pendidikan kepada rel yang telah jauh melenceng. Ketika pendidikan kehilangan orientasi, filsafat hadir sebagai kompas untuk menemukan kembali arah yang benar.

Pada titik ini, kita harus jujur bahwa pendidikan hari ini sedang mengalami krisis arah: ia bergerak tanpa panduan nilai, terperangkap dalam logika pasar, dan kehilangan jati diri sebagai proyek peradaban. Pendidikan Islam pun turut terseret arus industrialisasi pendidikan dan pragmatisme akademik yang dangkal. Ia menghadapi krisis serius karena kehilangan kedalaman filosofis yang seharusnya menjadi fondasinya. Karena itu, filsafat pendidikan Islam menjadi kebutuhan mendesak untuk menegakkan kembali martabat pendidikan dan membangun peradaban yang beradab.

Realitasnya kini, banyak lembaga pendidikan Islam berteriak ingin melahirkan peradaban besar, namun justru terjebak pada romantisme slogan tanpa proses intelektual yang matang. Semangat menggebu-gebu tetapi rapuh di ruang rasionalitas. Guru dipuja dengan kata-kata manis tentang keikhlasan, namun diperlakukan seperti buruh murah yang diberi upah seadanya atas nama pahala dan surga—sebuah ironi tragis ketika 'profesi kenabian' direduksi menjadi tenaga kerja murah. Ketika menghadapi persoalan substantif, sebagian pendidikan Islam lebih memilih berlindung di balik kata “takdir” daripada bekerja dengan nalar yang tajam dan metodologi ilmiah yang bertanggung jawab. Akibatnya, pendidikan Islam sering tampil penuh emosi spiritual dan retorika heroik, tetapi miskin desain, miskin konsep, dan miskin keberanian menghadapi realitas dengan analisis mendalam.

Bagi saya pribadi, pendidikan Islam hari ini tampak lebih sibuk menyempurnakan penampilan simbolik daripada memerdekakan akal dan memuliakan martabat guru yang sesungguhnya adalah tiang peradaban. Jika kondisi ini terus dibiarkan, pendidikan Islam hanya akan menghasilkan generasi pintar berbicara tentang kejayaan masa silam, tetapi gagal membangun masa depan.

Kini saatnya pendidikan Islam berhenti menjual mimpi dan mulai bekerja dengan kesungguhan. Jangan lagi menutup kegagalan dengan slogan peradaban dan membungkus ketidakadilan dengan kata “ikhlas”. Jika benar kita ingin melahirkan generasi beradab, maka mulailah dengan memuliakan guru, menguatkan nalar, dan menghormati proses berpikir. Berhentilah berlindung di balik takdir ketika logika ditinggalkan. Kembalikan pendidikan Islam pada akal sehat, adab, dan kejujuran—sebelum terlambat, sebelum kita hanya menjadi pengagum sejarah tanpa mampu menciptakan masa depan.

Sudah cukup memuji guru. Saatnya memuliakan mereka bukan dengan sekedar kata-kata.

by. Ulil Amri Syafri.
#ulilamrisyafri


21 November 2025

Pemikiran Ulil Amri Syafri tentang Filsafat Pendidikan Islam

Menurut Ulil Amri Syafri, ada satu hal mendasar yang harus dikembalikan dalam wacana pendidikan Islam: bahwa filsafat bukan barang asing dalam tradisi kita. Ia bukan sekadar warisan Yunani atau produk akademik modern. Dalam pandangan ini, akar terdalam filsafat sesungguhnya telah hidup dalam fitrah manusia, sebagaimana ditunjukkan Al-Qur’an melalui kisah pencarian Tuhan oleh Nabi Ibrahim AS.

Kisah Qur’ani (Al-An‘ām 76–79) dipahami sebagai potret paling jernih dari kerja intelektual manusia. Ketika Nabi Ibrahim AS menatap bintang, bulan, dan matahari, menurut Ulil Amri Syafri, ia sedang mengaktifkan potensi berfikir yang Allah tanamkan sebagai fitrah manusia: mempertanyakan, menimbang, dan menguji kebenaran. Inilah aktivitas filosofis yang paling autentik—pencarian makna yang tumbuh dari dorongan batin, bukan dari kurikulum formal.

#ulilamrisyafri


Karena itu, Ulil Amri Syafri menegaskan bahwa fithrah al-‘aql merupakan fondasi awal filsafat pendidikan Islam. Akal dianugerahkan untuk mencari kebenaran, tetapi tetap membutuhkan wahyu sebagai orientasi final. Dalam konstruksinya, filsafat dan wahyu bukan dua entitas yang berlawanan, melainkan dialog abadi antara pencarian manusia dan petunjuk Tuhan. Di sinilah letak karakter khas filsafat pendidikan Islam.

Filsafat pendidikan Islam, sebagaimana dibangun Ulil Amri Syafri, adalah kerangka pemikiran yang menempatkan pencarian makna sebagai inti pendidikan. Pendidikan adalah upaya menyeimbangkan potensi manusia—akal, ruh, dan rasa—sehingga ia berfungsi sebagai jantung peradaban. Hubungan antara akal dan wahyu harus berjalan saling menuntun, melahirkan pencarian kebenaran yang berakar pada petunjuk Ilahi.

Lebih dari teori, filsafat pendidikan Islam dipahami sebagai jalan hidup yang mengintegrasikan iman, ilmu, dan kemanusiaan dalam satu kesatuan nilai. Dari sini lahir orientasi pembaruan: bahwa pendidikan harus kembali kepada hakikatnya, yakni membentuk manusia yang utuh—beriman, berilmu, kritis dalam berpikir, beradab dalam bertindak, dan halus rasa dalam membangun relasi kemanusiaan.

Dalam konteks Nusantara, Ulil Amri Syafri melihat bahwa filsafat pendidikan Islam mendapatkan kekuatan khasnya bukan dari abstraksi, tetapi dari pengalaman sosial dan spiritual yang hidup dalam masyarakat. Tradisi surau, pesantren, relasi guru–murid, serta nilai adab yang mengalir dalam kehidupan intelektual menjadi sumber artikulasi filsafat yang dinamis. Karena itu, pemikiran pendidikan tokoh seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, Syekh Abdullah Ahmad, A. Hasan Bangil, M. Natsir, dan lainnya—dalam perspektif Ulil Amri Syafri—harus dibaca sebagai ekspresi filsafat pendidikan Islam yang mengakar, bukan konsep yang terapung dalam ruang teori.

Dengan demikian, bagi Ulil Amri Syafri, filsafat pendidikan Islam adalah:
— ekspresi fitrah intelektual manusia,
— dialog akal dan wahyu,
— kerangka peradaban,
— dan jalan hidup yang membentuk manusia beradab

#ulilamrisyafri


13 November 2025

Pesan Pendidikan Perempuan saat ini

Mendidik anak perempuan bukan perkara mudah. Dunia pendidikan—baik di sekolah maupun di rumah—sering memperlakukan mereka secara berbeda, dan itu bukan tanpa alasan. Sejak masa kanak-kanak, perempuan membawa dinamika psikologis yang khas: kepekaan emosi yang lebih halus, kemampuan membaca situasi sosial yang lebih cepat, tetapi juga kerentanan yang membutuhkan bimbingan lembut dan bijaksana.

Ketika beranjak remaja, kompleksitas itu tumbuh: pencarian jati diri, kebutuhan untuk merasa dihargai, perubahan emosi yang lebih sensitif, serta dorongan untuk menemukan makna dalam hubungan dan lingkungan sekitarnya. Pada masa dewasa, perempuan memikul lapis-lapis peran—anak, istri, ibu, pendidik, pekerja, sekaligus penjaga keseimbangan rumah tangga—yang menjadikan dunia batinnya semakin dalam dan tak selalu mudah dibaca.

Karena itu, kehadiran perempuan adalah kelengkapan utama bagi kehidupan manusia: unik, istimewa, dan penuh kedalaman. Mereka bukan sekadar subjek pendidikan, tetapi fondasi psikologis dan moral bagi generasi yang akan datang.

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Rahmah al-Yunusiyah merupakan penghormatan besar bagi perempuan Indonesia. Mungkin ini juga pesan: bahwa menuju era keemasan 2045, bangsa ini membutuhkan perempuan yang dipahami, dihargai, dan dididik dengan sungguh-sungguh—bukan perempuan yang diabaikan atau disederhanakan.

Kepahlawanan Rahmah al-Yunusiyah menjadi cermin terang bagi perempuan masa kini yang hidup di tengah dua arus ekstrem: di satu sisi, banyak perempuan terseret ke dunia “hitam”—eksploitasi tubuh, kekerasan domestik, perundungan digital, hingga tekanan standar kecantikan yang merampas martabat; di sisi lain, perempuan juga menembus ruang-ruang kesuksesan—ilmuwan, pemimpin, pendidik, dan inovator—namun tetap dibayangi beban ganda, diskriminasi halus, serta tuntutan sosial yang tak pernah menepi. Dalam konteks itulah ketokohan Rahmah hadir sebagai kritik dan inspirasi: ia membuktikan bahwa keberhasilan perempuan bukanlah pengecualian, tetapi buah dari kesempatan, pendidikan, dan penghormatan terhadap martabat perempuan. Kepahlawanannya adalah pesan bahwa bangsa yang ingin maju tidak boleh membiarkan perempuan terperangkap di jurang kerentanan, tetapi harus menuntun mereka memasuki puncak potensinya—sebab dari tegaknya perempuan, tegak pula peradaban manusia.

Mengapa?

Karena perempuan adalah tiang peradaban. Jika tiang itu goyah atau roboh, maka runtuh pula keseimbangan manusia dan masa depan bangsa. 

#ulilamrisyafri

12 November 2025

Rahmah El Yunusiyyah: Kepahlawanan Pendidikan Indonesia (Habis)

 Maka, berhentilah memenjarakan perempuan muslimah hanya pada peran domestik semata. Kita sering mengagungkan kehebatan Aisyah ra. dalam sejarah, tetapi ternyata kurang cakap dalam memberikan ruang yang sama bagi wanita masa kini untuk meniti jalan dan jejaknya. Peran perempuan muslimah masih sering dibatasi pada "dapur, sumur, dan kasur". Bukankah itu ironi yang memerlukan perbaikan berpikir?

Rahmah El Yunusiyah. Sebagai seorang ulama perempuan, ia memadukan pendidikan modern dengan nilai-nilai keislaman. Rahmah mendirikan Diniyah Puteri pada 1923, sekolah khusus perempuan pertama di Asia Tenggara yang memberikan pendidikan agama sekaligus ilmu pengetahuan umum.

Rahma El Yunusiyah (1900–1969) adalah seorang tokoh pendidikan Islam yang berpengaruh, terutama dalam memajukan pendidikan bagi perempuan di Indonesia. Lahir di Padang Panjang, Sumatra Barat, ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara dalam keluarga ulama. Ayahnya, Syaikh Muhammad Yunus, adalah seorang qadhi dan ahli ilmu falak, sementara ibunya, Rafi’ah, berasal dari garis keturunan ulama Paderi.

Dalam salah satu kesempatan, Rahmah menyampaikan bahwa perempuan tidak hanya perlu dididik untuk menjadi ibu yang baik tetapi juga sebagai pemimpin di komunitas mereka. Ide ini menjadi dasar pendirian sekolah-sekolah perempuan yang ia kelola, yang menjadi model bagi pendidikan Islam modern di Sumatera Barat.

Kiprah Rahma tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga internasional. Ia pernah diundang ke Al-Azhar, Kairo, untuk membahas pendidikan perempuan dan mendapat penghargaan gelar "Syekhah" sebagai pengakuan atas kontribusinya dalam pendidikan Islam. Gagasannya berpusat pada pentingnya pendidikan sebagai sarana pemberdayaan perempuan untuk mencapai kesetaraan dalam kehidupan sosial dan agama.

#RahmahElYunusiyah

Rahmah sangat menekankan pentingnya pendidikan bagi perempuan. Ia menyatakan bahwa perempuan harus mendapatkan pendidikan yang setara dengan laki-laki, bukan hanya pendidikan dasar untuk memenuhi peran domestik. Pemikirannya ini dituangkan dalam usaha mendirikan Diniyyah Puteri, sekolah khusus perempuan yang mengintegrasikan kurikulum agama dan ilmu umum. Hal ini terlihat dari pernyataannya yang menyebutkan bahwa pendidikan perempuan adalah ‘jembatan untuk mempersiapkan generasi bangsa yang cerdas dan berakhlak mulia’.

Sebagai tokoh perempuan Minangkabau, Rahmah menentang pandangan patriarki yang meremehkan kemampuan perempuan. Ia berpendapat bahwa perempuan sebagai penggerak perubahan dalam keluarga dan masyarakat, dan pendidikan adalah ibadah dan alat untuk mengangkat derajat perempuan.

Rahmah mengkritik norma tradisional yang membatasi akses pendidikan perempuan. Ia percaya bahwa melalui pendidikan, perempuan dapat keluar dari lingkaran ketidaktahuan dan memiliki kontribusi signifikan terhadap masyarakat. Ide-idenya ini kemudian menginspirasi pendirian pendidikan berbasis Islam yang lebih progresif bagi perempuan.

Ketokohan para perempuan hebat dalam sejarah mencerminkan eksistensi perempuan sesuai jamannya. Dalam sejarah Islam tua, sosok Aisyah ra. menjadi sumber keteladanan para perempuan dunia yang mampu menghidupkan dan merawat lentera cahaya ilmu, iman, dan amal di zamannya, namun tetap relevan dalam konteks sosial saat itu hingga akhir zaman.


 


Rahmah El Yunusiyyah: Kepahlawanan Pendidikan Indonesia (Part 1)

Pada 10 November 2025, #Rahmah ElYunusiyyah resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, mengikuti penghargaan yang sama untuk Syekh Kholil Bangkalan. Keputusan pemerintah ini merupakan penanda penting dalam sejarah pendidikan negara selain mengakui dua tokoh penting. Dua individu dari berbagai tradisi dan pendekatan filosofis sekarang berkumpul di satu panggung kehormatan: panggung perjuangan dan keilmuan anak negeri.

Syekh Kholil Bangkalan bukan nama asing dalam perjalanan sejarah Islam dan pendidikan Indonesia. Ia adalah guru KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari, dua tokoh besar pendiri organisasi Islam terbesar di negeri ini — Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama — yang lebih dahulu mendapat gelar Pahlawan Nasional. Kini, sang guru akhirnya menyusul murid-muridnya, sebuah simbol penuh makna bahwa ilmu dan keteladanan sejati tak lekang oleh waktu.

Sementara itu, nama Rahmah El Yunusiyyah memancarkan cahaya yang berbeda namun sama terangnya. Sosok perempuan Minangkabau ini bukan hanya pendidik, tetapi juga pembaharu, pendiri Madrasah Diniyah Putri Padang Panjang — lembaga pendidikan perempuan pertama di dunia Islam modern.

Sebagai Pahlawan Nasional, dia sangat istimewa karena jarang sekali wanita mendapatkan pengakuan sebesar ini. Beberapa tokoh laki-laki, seperti Syekh Sulaiman Ar-Rasuli dan Syekh Abdullah Ahmad, yang merupakan ulama besar dan tokoh pendidikan dan perjuangan, bahkan belum diakui walaupun sudah beberapa kali di ajukan di tanah kelahirannya, Sumatera Barat. Namun, Rahmah El Yunusiyyah kali ini melampaui dua tokoh yang sudah digadang-gadang sebelumnya. Adapun Syekh Abdullah Ahmad tercatat mentor bagi Rahmah El Yunusiyyah.

#ulilamrisyafri

Sumatera Barat memang tanah subur bagi lahirnya para pemikir dan pejuang bangsa. Dari ranah ini, lahir gagasan, semangat, dan perjuangan yang tak pernah padam demi kemajuan anak negeri. Rahmah El Yunusiyyah hadir melanjutkan api itu — dengan wajah lembut perempuan, namun jiwa sekeras baja seorang pejuang.

Penetapan Rahmah El Yunusiyyah menghadirkan arti baru tentang kepahlawanan: bahwa perempuan bukan pelengkap dalam sejarah bangsa, melainkan penentu arah dan penopang masa depan. Keberanian, visi, dan dedikasinya mengingatkan kita bahwa dari tangan dan hati perempuanlah lahir generasi unggul dan beradab.

Di tengah langkah Indonesia menuju Era Emas 2045, semangat Rahmah El Yunusiyyah terasa semakin relevan: bahwa di pundak perempuan Indonesia kini kita titipkan cita-cita bangsa — untuk melahirkan generasi tangguh, cemerlang, dan menyala dengan cahaya ilmu serta akhlak.