Cluster Casablanca, Sentul City, Bogor - Jawa Barat - 16810 | Hotline: 0813-1112-5384 (Call/SMS/WA)

18 February 2026

GLOBAL POWER STRUCTURE VS TRISENTRA KI. Hajar Dewantara, Kok bisa? By: Achmad Reza

 

Jika kita menengok kembali gagasan Trisentra Pendidikan Ki Hajar Dewantara, tampak jelas bahwa pendidikan tidak pernah dimaksudkan sekadar menghasilkan individu cerdas. Ia dirancang sebagai proses peradaban yaitu membentuk manusia beradab yang hidup dalam jaringan nilai, tanggung jawab sosial, dan kesadaran kemanusiaan. Keluarga, perguruan, dan alam pemuda diposisikan sebagai satu kesatuan ekosistem yang saling menghidupi.

Namun dunia hari ini bergerak dalam arus berbeda. Pendidikan semakin dipahami melalui angka, indikator kinerja, standar global, dan perbandingan internasional. Keberhasilan diukur melalui capaian kuantitatif, sementara dimensi kebudayaan dan pembentukan watak perlahan terpinggirkan. Pergeseran ini bukan hasil keputusan personal, melainkan konsekuensi logika kebijakan global yang menekankan efisiensi, kompetisi, dan produktivitas.

Dalam kerangka ini, Trisentra menghadapi tekanan struktural. Alam keluarga menjadi sekunder karena yang diakui adalah skor akademik. Perguruan dipaksa mengejar performa terukur. Alam pemuda tidak dianggap sebagai pusat pendidikan formal. Pendidikan bergerak dari orientasi peradaban menuju orientasi indikator.

Keluarga yang Tergeser ke Pinggir

Trisentra menempatkan keluarga sebagai pusat pendidikan pertama dan terpenting. Namun dalam sistem pendidikan modern yang sangat terstandar, keluarga kerap direduksi menjadi penyedia biaya, pengawas tugas, dan pendukung administratif. Peran keluarga dalam membentuk budi pekerti dan nilai batiniah tidak tercatat dalam sistem evaluasi formal.

Ketika keberhasilan pendidikan diukur melalui ujian standar, pembinaan karakter di rumah tidak memiliki ruang pengakuan. Orang tua menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah. Sekolah menuntut capaian akademik tanpa koordinasi nilai dengan keluarga. Ketidaksinkronan antara pendidikan rumah dan pendidikan formal pun menjadi fenomena yang semakin lazim.

Di titik inilah pelemahan Trisentra bermula.

Perguruan yang Kehilangan Jiwa

Ki Hajar Dewantara pernah mengkritik sekolah kolonial sebagai sistem yang “tak berjiwa”. Kritik itu terasa relevan kembali ketika sekolah modern terjebak dalam logika manajerialisme dan target kinerja. Sekolah dinilai melalui ranking, guru dibebani administrasi dan indikator capaian, dan kurikulum dipadatkan demi kompetensi terukur.

Dalam situasi ini, pendidikan berisiko berubah menjadi sistem teknokratis yang mencetak individu patuh, efisien, dan produktif, tetapi kurang berani berpikir kritis dan berkreasi. Relasi kekeluargaan antara guru dan murid bergeser menjadi relasi administratif. Perguruan kehilangan fungsi sebagai paguron—rumah pendidikan yang hidup dan bernapas nilai.

Alam Pemuda dalam Arus Budaya Global

Dalam konsep Trisentra, alam pemuda merupakan ruang pembentukan kemerdekaan diri dan solidaritas sosial. Namun ruang sosial remaja kini banyak dipengaruhi budaya digital global, industri hiburan transnasional, dan algoritma media sosial. Lingkungan sosial mereka tidak lagi sepenuhnya berada dalam kontrol komunitas lokal.

Pergerakan pemuda yang dahulu menjadi wadah pembentukan watak kini sering tergantikan oleh budaya instan dan individualistik. Dalam era globalisasi digital, pusat ketiga Trisentra justru menghadapi tekanan paling besar.

Benturan Paradigma, Bukan Konspirasi

Apakah Global Power Structure sengaja menghadang Trisentra? Secara akademik, tidak terdapat bukti adanya agenda eksplisit untuk menghancurkan sistem ini. Yang terjadi adalah benturan sistemik antara dua paradigma: paradigma peradaban berbasis komunitas dan nilai, dan paradigma governance global berbasis indikator serta ekonomi.

Ketika kebijakan pendidikan lebih mengacu pada standar global daripada konteks lokal, sistem seperti Trisentra perlahan terpinggirkan. Penghadangan itu bersifat struktural, bukan konspiratif.

REVITALISASI TRISENTRA DI ERA GLOBAL

Menghadapi realitas global tidak berarti menolak modernitas. Tantangan kita justru menghidupkan kembali ruh Trisentra dalam konteks zaman yang berubah cepat.

Revitalisasi dimulai dari keluarga sebagai pusat pendidikan pertama. Keluarga tidak boleh direduksi menjadi sekadar penyedia biaya atau pengawas tugas. Melalui forum orang tua berbasis nilai, kesepakatan visi pendidikan antara rumah dan sekolah, serta pelibatan orang tua dalam ekosistem budaya sekolah, keluarga dapat kembali menjadi pusat pembentukan ruhani dan moral anak.

Pada saat yang sama, perguruan perlu menghidupkan kembali jiwanya. Pendidikan tidak boleh terjebak dalam orientasi indikator semata. Relasi guru dan murid harus kembali menjadi relasi pembinaan, bukan administratif. Ruang kebersamaan non-akademik, keteladanan, dan nilai kekeluargaan perlu dihadirkan kembali. Model paguron bukan soal asrama, melainkan ekosistem nilai yang menumbuhkan kemanusiaan.

Di era digital, alam pemuda juga perlu direkonstruksi. Ruang pembentukan karakter tidak boleh sepenuhnya dikuasai budaya global yang instan. Organisasi pemuda berbasis nilai, proyek sosial kreatif, pembinaan kepemimpinan remaja, dan aktivitas komunitas harus menjadi wahana pendidikan karakter yang hidup.

Revitalisasi Trisentra bukan sikap anti-globalisasi. Yang diperlukan adalah selektivitas kritis: mengadopsi metode modern yang efektif, menyaring standar global agar tidak menggeser nilai lokal, serta menjaga keseimbangan antara capaian akademik dan pembentukan karakter. Pendidikan harus berakar pada konteks budaya Indonesia, bukan sekadar meniru sistem luar.

Jika keluarga, perguruan, dan masyarakat berjalan harmonis, tekanan global tidak mudah memecah ekosistem pendidikan. Nilai tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupkan. Anak tumbuh dalam jaringan sosial yang kuat. Dalam perspektif ini, Trisentra bukan sekadar konsep pendidikan, melainkan fondasi ketahanan peradaban.

Achmad Reza ( Magister Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UIKA Bogor)

#ulilamrisyafri


 

 

0 komentar:

Post a Comment