Jika kita menengok kembali gagasan Trisentra Pendidikan Ki Hajar Dewantara, tampak jelas bahwa pendidikan tidak pernah dimaksudkan sekadar menghasilkan individu cerdas. Ia dirancang sebagai proses peradaban yaitu membentuk manusia beradab yang hidup dalam jaringan nilai, tanggung jawab sosial, dan kesadaran kemanusiaan. Keluarga, perguruan, dan alam pemuda diposisikan sebagai satu kesatuan ekosistem yang saling menghidupi.
Namun dunia hari ini bergerak dalam
arus berbeda. Pendidikan semakin dipahami melalui angka, indikator kinerja,
standar global, dan perbandingan internasional. Keberhasilan diukur melalui
capaian kuantitatif, sementara dimensi kebudayaan dan pembentukan watak
perlahan terpinggirkan. Pergeseran ini bukan hasil keputusan personal,
melainkan konsekuensi logika kebijakan global yang menekankan efisiensi,
kompetisi, dan produktivitas.
Dalam kerangka ini, Trisentra
menghadapi tekanan struktural. Alam keluarga menjadi sekunder karena yang
diakui adalah skor akademik. Perguruan dipaksa mengejar performa terukur. Alam
pemuda tidak dianggap sebagai pusat pendidikan formal. Pendidikan bergerak dari
orientasi peradaban menuju orientasi indikator.
Keluarga
yang Tergeser ke Pinggir
Trisentra menempatkan keluarga
sebagai pusat pendidikan pertama dan terpenting. Namun dalam sistem pendidikan
modern yang sangat terstandar, keluarga kerap direduksi menjadi penyedia biaya,
pengawas tugas, dan pendukung administratif. Peran keluarga dalam membentuk
budi pekerti dan nilai batiniah tidak tercatat dalam sistem evaluasi formal.
Ketika keberhasilan pendidikan
diukur melalui ujian standar, pembinaan karakter di rumah tidak memiliki ruang
pengakuan. Orang tua menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah. Sekolah
menuntut capaian akademik tanpa koordinasi nilai dengan keluarga.
Ketidaksinkronan antara pendidikan rumah dan pendidikan formal pun menjadi
fenomena yang semakin lazim.
Di titik inilah pelemahan Trisentra
bermula.
Perguruan
yang Kehilangan Jiwa
Ki Hajar Dewantara pernah mengkritik
sekolah kolonial sebagai sistem yang “tak berjiwa”. Kritik itu terasa relevan
kembali ketika sekolah modern terjebak dalam logika manajerialisme dan target
kinerja. Sekolah dinilai melalui ranking, guru dibebani administrasi dan
indikator capaian, dan kurikulum dipadatkan demi kompetensi terukur.
Dalam situasi ini, pendidikan
berisiko berubah menjadi sistem teknokratis yang mencetak individu patuh,
efisien, dan produktif, tetapi kurang berani berpikir kritis dan berkreasi.
Relasi kekeluargaan antara guru dan murid bergeser menjadi relasi administratif.
Perguruan kehilangan fungsi sebagai paguron—rumah pendidikan yang hidup dan
bernapas nilai.
Alam
Pemuda dalam Arus Budaya Global
Dalam konsep Trisentra, alam pemuda
merupakan ruang pembentukan kemerdekaan diri dan solidaritas sosial. Namun ruang
sosial remaja kini banyak dipengaruhi budaya digital global, industri hiburan
transnasional, dan algoritma media sosial. Lingkungan sosial mereka tidak lagi
sepenuhnya berada dalam kontrol komunitas lokal.
Pergerakan pemuda yang dahulu
menjadi wadah pembentukan watak kini sering tergantikan oleh budaya instan dan
individualistik. Dalam era globalisasi digital, pusat ketiga Trisentra justru
menghadapi tekanan paling besar.
Benturan
Paradigma, Bukan Konspirasi
Apakah Global Power Structure
sengaja menghadang Trisentra? Secara akademik, tidak terdapat bukti adanya
agenda eksplisit untuk menghancurkan sistem ini. Yang terjadi adalah benturan
sistemik antara dua paradigma: paradigma peradaban berbasis komunitas dan
nilai, dan paradigma governance global berbasis indikator serta ekonomi.
Ketika kebijakan pendidikan lebih
mengacu pada standar global daripada konteks lokal, sistem seperti Trisentra
perlahan terpinggirkan. Penghadangan itu bersifat struktural, bukan
konspiratif.
REVITALISASI
TRISENTRA DI ERA GLOBAL
Menghadapi realitas global tidak
berarti menolak modernitas. Tantangan kita justru menghidupkan kembali ruh
Trisentra dalam konteks zaman yang berubah cepat.
Revitalisasi dimulai dari keluarga
sebagai pusat pendidikan pertama. Keluarga tidak boleh direduksi menjadi
sekadar penyedia biaya atau pengawas tugas. Melalui forum orang tua berbasis
nilai, kesepakatan visi pendidikan antara rumah dan sekolah, serta pelibatan
orang tua dalam ekosistem budaya sekolah, keluarga dapat kembali menjadi pusat
pembentukan ruhani dan moral anak.
Pada saat yang sama, perguruan perlu
menghidupkan kembali jiwanya. Pendidikan tidak boleh terjebak dalam orientasi
indikator semata. Relasi guru dan murid harus kembali menjadi relasi pembinaan,
bukan administratif. Ruang kebersamaan non-akademik, keteladanan, dan nilai
kekeluargaan perlu dihadirkan kembali. Model paguron bukan soal asrama,
melainkan ekosistem nilai yang menumbuhkan kemanusiaan.
Di era digital, alam pemuda juga
perlu direkonstruksi. Ruang pembentukan karakter tidak boleh sepenuhnya
dikuasai budaya global yang instan. Organisasi pemuda berbasis nilai, proyek
sosial kreatif, pembinaan kepemimpinan remaja, dan aktivitas komunitas harus
menjadi wahana pendidikan karakter yang hidup.
Revitalisasi Trisentra bukan sikap
anti-globalisasi. Yang diperlukan adalah selektivitas kritis: mengadopsi metode
modern yang efektif, menyaring standar global agar tidak menggeser nilai lokal,
serta menjaga keseimbangan antara capaian akademik dan pembentukan karakter.
Pendidikan harus berakar pada konteks budaya Indonesia, bukan sekadar meniru
sistem luar.
Jika keluarga, perguruan, dan
masyarakat berjalan harmonis, tekanan global tidak mudah memecah ekosistem
pendidikan. Nilai tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupkan. Anak tumbuh dalam
jaringan sosial yang kuat. Dalam perspektif ini, Trisentra bukan sekadar konsep
pendidikan, melainkan fondasi ketahanan peradaban.
Achmad Reza ( Magister Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UIKA Bogor)
![]() |
| #ulilamrisyafri |






0 komentar:
Post a Comment