Konsep Trisentra—Alam Keluarga, Alam Perguruan, dan Alam Pergerakan Pemuda—yang sejatinya merupakan ekosistem organik pembentuk budi pekerti, kini tampak tercerai-berai di tengah arus sekularisasi nilai dan intelektualisme yang kering dari dimensi spiritual. Opini ini berupaya menyalakan kembali bara semangat Ki Hajar Dewantara dengan menegaskan pentingnya poros transendental dalam pendidikan agar kepingan yang tercecer dapat dijahit kembali menjadi kesatuan peradaban.
Ki Hajar Dewantara tidak sekadar mendirikan sekolah; ia membangun peradaban. Ia menegaskan bahwa anak hidup dalam “tiga tempat pergaulan” yang menentukan pembentukan watak. Namun realitas hari ini menunjukkan ketiga alam tersebut berjalan sendiri-sendiri tanpa sinergi. Pemikiran Ki Hajar Dewantara mengandung dimensi spiritualitas yang dalam dan tetap relevan untuk menjawab krisis pendidikan kontemporer.
Keluarga sebagai pusat pendidikan pertama kini kerap tereduksi menjadi fungsi administratif dan logistik, padahal di sanalah budi pekerti bertumbuh. Perguruan yang seharusnya menjadi balai-wiyata yang hidup sering terjebak dalam mekanisasi skor kognitif dan kehilangan ruh pembinaan. Sementara itu, energi pemuda yang semestinya menjadi kekuatan sosial progresif kerap tercecer dalam budaya instan dan pragmatisme digital.
Dalam konteks ini, revitalisasi Trisentra memerlukan poros integratif yang menghidupkan dimensi spiritual pendidikan. Rumah ibadah—masjid bagi Muslim, gereja bagi Kristen, pura bagi Hindu, vihara bagi Buddha, dan tempat ibadah agama lainnya—dapat berfungsi sebagai sentra nilai yang menjahit kembali ketiga alam tersebut. Dari ruang-ruang spiritual inilah nilai kejujuran, tanggung jawab, persaudaraan, kasih sayang, dan pengabdian kepada Tuhan memperoleh basis praksis dalam kehidupan sosial.
Dengan demikian, revitalisasi pendidikan tidak hanya memulihkan peran keluarga, menghidupkan jiwa perguruan, dan menguatkan ruang pemuda, tetapi juga mengaktifkan peran komunitas keagamaan sebagai pusat integrasi moral dan spiritual dalam masyarakat majemuk.
Bara api Ki Hajar Dewantara tidak boleh dibiarkan menjadi abu dalam buku sejarah. Pendidikan yang kita perjuangkan bukan sekadar mencetak tenaga kerja, melainkan melahirkan manusia merdeka: cerdas pikirannya, kuat karakternya, dan berakar pada nilai ketuhanan serta kemanusiaan.
Inilah tugas besar kita: menjahit kembali kepingan yang tercecer menjadi satu jubah peradaban yang utuh dan mulia.
Siti Halimatus Sa’diyah ( Magister Pendidkan Agama Islam UIKA Bogor)
![]() |
| #ulilamrisyafri |




.jpeg)

0 komentar:
Post a Comment