Cluster Casablanca, Sentul City, Bogor - Jawa Barat - 16810 | Hotline: 0813-1112-5384 (Call/SMS/WA)

18 September 2016

Upaya Pembelajaran Bahasa Arab 1


oleh Fatahillah, Lc.

Bahasa Arab, Dulu Dan Sekarang

Al-Qur'an diturunkan menggunakan bahasa Arab, yang karenanya bahasa Arab menjadi bahasa yang begitu hidup, digunakan banyak orang dan juga terjamin keberlangsungannya bersamaan dengan keberadaan Al-Qur'an itu sendiri yag sudah dijamin oleh Allah akan selalu terjaga sepanjang masa.

Bahasa Arab lantas tersebar ke seluruh penjuru dunia sejauh jarak yang mampu dicapai oleh dakwah Islam yang dengannya ramai orang mempelajari bahasa ini dengan penuh semangat di awal-awal tersebarnya Islam, terutama sekali di masa keemasan peradaban kaum muslimin yang berpusat di Baghdad kala itu di mana sekolah-sekolah kaum muslimin menjadi rujukan dalam ilmu apapun, sainsnya, fisikanya, matematikanya, astronominya, kedokterannya, teknologinya, strategi perangnya, politiknya, sosialnya, apapun! Hingga ramai penuntut ilmu yang muslim ataupun yang non-muslim, yang arab ataupun yang ajam, bersemangat mempelajari bahasa ini karena hendak mempelajari berbagai macam ilmu yang terdokumentasi di balik bahasa ini.

Namun sayang, masa seperti itu tak bertahan selamanya. Usaha pembelajaran bahasa Arab mengalami kemunduran sedikit demi sedikit hingga datanglah abad ke 20 -terutama 50 tahun terakhirnya- di mana bahasa Arab kembali kepada peraduan nasibnya di masa lalu yaitu menjadi bahasa kedua yang diajarkan secara semi paksa di berbagai negara-negara Islam, baik di Afrika ataupun Asia Tenggara, meski bahasa Arab masih menjadi salah satu bahasa yang banyak dipelajari oleh banyak orang di Eropa ataupun di dua bagian benua Amerika, utaranya dan selatannya.

(Bersambung)

01 September 2016

Berenang, Berkuda dan Memanah


Berenang, berkuda dan memanah adalah tiga hal yang dikuasai banyak generasi salaf kaum muslimin yaitu generasi para shahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in yang mempunyai pengaruh luar biasa dalam kehidupan masyarakat di masa itu.

Generasi yang mengenal kemampuan berenang mempunyai keunggulan di bidang jasmani dan penguasaan segala medan dikarenakan berenang mampu menggerakkan seluruh otot badan dan membutuhkan energi yang lebih besar dibandingkan berlari ataupun joging, juga fakta bahwa medan permukaan bumi lebih banyak berupa lautan.

Berkuda juga menumbuhkan kemampuan yang berbeda pada suatu generasi, yaitu sifat berani, rasa percaya diri, perasaan yang halus dan juga keperwiraan. Keberanian untuk menunggang kuda sama sekali berbeda dengan keberanian mengendarai motor yang kontrol kendalinya nyaris sepenuhnya berada di tangan pengendaranya.

Menunggang kuda menumbuhkan kepekaan dan interaksi antar makhluk, sehingga pengalaman menunggang satu kuda yang sudah diakrabi dengan kuda yang lain yang belum akrab akan berbeda.

Apalagi praktik trik-trik menunggang kuda yang sulit seperti menunggang kuda tanpa tali kekang dan pelana, atau menunggang kuda sambil membalikkan badan ke belakang, atau menunggang kuda sambil berdiri di punggung kuda juga menunggang kuda sambil memanah, membutuhkan pembiasaan dan keakraban antara penunggang dengan kuda yang ditungganginya di samping keberanian dan pemahaman akan "mood" kuda, sebab bagaimanapun, seekor kuda dapat saja terkena "bad mood" hingga berjingkrak-jingkrak tak karuan karena sedang kesal, capek atau lapar.

Maka keakraban, kehalusan perasaan dalam memelihara dan memperlakukan kuda akan menumbuhkan tidak hanya keberanian, tapi juga rasa percaya diri saat menunggang kuda.

Tahukah anda, bahwa kuda-kuda perang yang terlatih mampu menempuh jarak 30 kilo meter tanpa henti? Juga mampu melintasi banyak medan yang motor dan mobil tidak bisa melintasinya? Dan bahkan sampai sekarang di New York kuda justru digunakan oleh polisi-polisi di sana untuk fasilitas keamanan?

Para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pun dalam banyak riwayat disebutkan biasa melatih kudanya dengan berlomba antar sesama, memberi makan dan minum yang cukup, sehingga kuda selalu ramping, tidak kegemukan dan siap dipacu jarak jauh.

Berkuda juga menumbuhkan sifat keperwiraan, seperti tumbuhnya sifat kehati-hatian dalam melangkah dan juga sifat kepemimpinan. Setidaknya, seseorang yang berfoto sambil menunggang kuda jauh lebih gagah dibanding menunggang sebuah Harley Davidson.

Generasi yang mengenal teknik memanah dengan baik, juga punya keunggulan dalam banyak hal, seperti keunggulan jasmani, kekuatan tangan, konsentrasi dan ketenangan, juga ketepatan dalam mengambil keputusan.

Maka tiga kecakapan ini seringkali menjadi barang mewah di dalam masyarakat modern bergaya urban yang cenderung hedonis ini.

Pernahkah anda bertanya berapa harga sewa kolam renang? Berapa harga sewa kuda per setengah jam? ataukah berapa harga seperangkat alat panah standar olimpiade?

Kebanyakan orang akan menganggapnya mahal, mahal dan mahal. Lalu seakan-akan ditanamkan bahwa itu adalah barang mahal yang tak akan pernah dinikmati seumur hidup. Padahal berenang di kolam renang umum tidak semahal seporsi ayam goreng Kentucky. Sewa kuda juga tidak lebih mahal dari harga koin yang kita habiskan di Time Zone dalam satu jam. Bahkan peralatan panah level olimpiade tidak lebih mahal dari iPhone tercanggih yang kita tenteng namun hanya mentok digunakan anak-anak kita untuk main Angry Bird Stars Wars.

Nah, di sekolah Muslim Cendekia Madani, tiga ketrampilan itu diasah secara seimbang. Baik dalam durasi tiap pekan seperti berenang dan memanah, atau dalam durasi bulanan yang dalam hal ini adalah ketrampilan berkuda.

Di samping menjadi bentuk ekstrakurikuler yang sangat berkualitas, 3 ketrampilan ini meningkatkan sisi-sisi terbaik dari sikap mental peserta didik, juga memperluas cakrawala mereka bahwa hidup tidak hanya antara rumah, sekolah dan pekerjaan, dan juga bahwa hiburan tidak hanya berkutat antara televisi, gadget dan kontrol Play Station saja.

Sekaligus menjadi terapi bagi anak-anak yang mengalami ketergantungan tinggi terhadap teknologi atau yang mengalami kecemasan akut saat tidak terhubung dengan dunia digital.


Lihat kegiatan berenang dan berkuda di Madrasah Aliyah Plus Muslim Cendekia Madani.


Siswa Madrasah Aliyah Plus Muslim Cendekia Madani berpacu


Buya Ulil memimpin

Hani beraksi

Narsis dikit nggak apa-apa yah

Hanan berpose dulu

Santai yaa Isa...

Nuh menunggu aba-aba

Jangan meleng yaa Hani

Sip daaah

Perlahan... Byuuuuur...

Kok lompat duluan?

22 August 2016

Catatan Pembelajaran 22 Agustus 2016


Alhamdulillah, kegiatan belajar mengajar mulai dilaksanakan sejak sabtu 20 Agustus kemarin setelah para santri baru dipersiapkan mental, semangat, visi dan niatnya sejak tanggal 16 Agustus tanpa melupakan pembinaan diri dari segi hubungan sosial dan interaksinya dengan lingkungan, pengasuh dan teman sebayanya sehingga setiap santri merasa hidup di dalam sebuah keluarga besar yang saling menjaga dan memberi perhatian sebagai ganti keluarga mereka di rumah masing-masing.

Seperti yang sudah direncanakan, sabtu ini mulai dijalankan program pembelajaran satu tahun mahir berbahasa Arab menggunakan metode Al-Arabiyyah Baina Yadaik (Arabic in your hands) dengan durasi pertemuan setiap hari 4 x 60 menit selama 5 hari (sabtu, ahad, senin, selasa, rabu) sehingga total pertemuan dalam satu pekan adalah 20 x yang setara dengan 20 jam pertemuan.

Santri yang ikut program ini sangat bersemangat, meski dengan perbedaan latar belakang pendidikan dan keluarga, namun di kelas mereka seakan lupa dengan perbedaan itu dan tekun mengikuti satu per satu pelajaran yang disampaikan.

Pembelajaran tidak melulu di kelas, sehingga peserta didik merasa nyaman dan terhindar dari rasa bosan. Dengan pembelajaran yang interaktif, persiapan yang matang, khazanah multimedia yang cukup, juga audio pembelajaran dari para penutur asli berbahasa arab, diharapkan peserta didik mampu menguasai bahasa arab dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Setiap 3 hari sekali, para peserta didik mampu menyelesaikan 2 Wihdah yang setara dengan 50 halaman dan menguasai setidaknya 40 kosakata baru yang berarti dalam sepekan setidaknya akan menguasai 80 kosakata baru dan dalam sebulan akan menguasai 320 kosakata baru dan diharapkan dalam 3 bulan sudah menguasai setidaknya 900-1000 kosakata baru.

Kemudian setelah 3 bulan, semua peserta didik diwajibkan menggunakan bahasa arab sebagai bahasa komunikasi sehari-hari, baik dengan para pengasuh ataupun teman sebaya, baik di dalam kelas maupun di dalam asrama.

Selain itu, kegiatan sehari-hari setiap peserta didik dapat digambarkan seperti berikut ini:

  1. 04.00 - 05.00 : Persiapan shalat shubuh dan shalat shubuh berjamaah.
  2. 05.00 - 06.00 : One Day One Juz (Tilawah sehari satu Juz).
  3. 06.00 - 06.30 : Tahsin (Peningkatan teknik membaca Al-Qur'an).
  4. 06.30 - 08.00 : Sarapan, Bersih diri dan bersiap mengikuti pelajaran di kelas.
  5. 08.00 - 09.00 : Pertemuan Sesi 1.
  6. 09.00 - 10.00 : Istirahat.
  7. 10.00 - 11.00 : Pertemuan Sesi 2.
  8. 11.00 - 12.00 : Berlatih Khat dan Kaligrafi.
  9. 12.00 - 13.00 : Shalat Zhuhur.
  10. 13.00 - 15.00 : Makan siang dan istirahat.
  11. 15.00 - 16.00 : Bersih diri, shalat ashar dan bersiap mengikuti pelajaran di kelas.
  12. 16.00 - 17.00 : Pertemuan Sesi 3.
  13. 17.00 - 18.00 : Free Time.
  14. 18.00 - 18.30 : Shalat Maghrib
  15. 18.30 - 19.00 : Tahsin (Peningkatan teknik membaca Al-Qur'an).
  16. 19.00 - 19.30 : Shalat Isya'.
  17. 19.30 - 20.00 : Makan malam.
  18. 20.00 - 21.00 : Pertemuan Sesi 4.
  19. 21.00 - 04.00 : Istirahat.

03 July 2016

Antara Evaluasi dan Muhasabah



Di dunia pendidikan dikenal istilah Evaluasi. Evaluasi, seperti yang pernah dijelaskan, memiliki bermacam-macam tujuannya, antara lain untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian kemajuan ke arah tujuan yang telah ditentukan. Evaluasi bisa juga digunakan untuk menentukan faktor biaya, waktu, dan tingkat keberhasilan kurikulum keseluruhan. Evaluasi juga terkadang untuk mengukur efektivitas kurikulum. Yang jelas, dunia pendidikan tidak bisa lepas dari kegiatan evaluasi.

Dalam proses pembinaan pribadi muslim, kita pun mengenal istilah muhasahah atau biasa disebut dengan muhasabah diri. Lalu pertanyaannya, samakah makna muhasahah pribadi muslim dengan evaluasi yang ada dalam dunia pendidikan?
Dari sisi fungsi keduanya memiliki persamaan. Namun dua istilah itu tetap memiliki makna di ranah masing-masing.

Dalam riwayat pada kitab Imam Tirmizi disebutkan hadis tentang muhasabah. Dalam terjemahan singkatnya bisa dikatakan, “Hisablah diri kalian sebelum engkau di hisab nanti, timbanglah amal kalian sebelum di timbang nanti ….” Sekilas hadis ini berbicara tentang evaluasi diri atau muhasabah diri pada dunia pendidikan akhlak dalam Islam. Seperti halnya evaluasi yang menjadi factor penting dalam dunia pendidikan, muhasabah pun demikian pada kehidupan setiap muslim. Artinya, menghitung atau menghisab amal itu diajarkan syariah.
Teori muhasabah ada dua macam. Pertama, muhasabah sebelum mengamalkan suatu pekerjaan. Muhasabah ini berfungsi untuk memeriksa orientasi atau maksud dari perbuatan tersebut. Bila orientasi mengerjakan suatu amal tersebut baik, dalam arti tidak cacat secara syariah, maka pekerjaan tersebut hendaknya disegerakan, layak untuk dilanjutkan. Tapi bila orientasinya buruk bahkan cacat secara hukum, maka hentikan dan jangan teruskan keinginan untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Kedua, muhasabah setelah melakukan amal perbuatan. Muhasabah setelah melakukan amal perbuatan ini ada kemiripan dengan evaluasi dalam pendidikan. Evaluasi semacam ini pada dunia pendidikan terkadang dapat menentukan nilai akhir bagi setiap peserta didik. Muhasabah pasca melakukan amal perbuatan ini berfungsi menilai kualitas amal tersebut. Alat ukur yang disepakati para ulama kebanyakan adalah ikhlas dan ittiba’ atau bertauladan pada Rasulullah saw. Bila amal tersebut berkualitas, tentu kebahagian yang akan didapat, dan apabila tidak berkualitas sudah pasti akan mendapat kerugian dan penyesalan tak berakhir.
Ajaran Islam tentang muhasabah ini sangat penting karena erat hubungannya dengan tangung jawab hidup bagi setiap muslim. Muhasabah yang dahsyat ada pada Mahkamah Ilahi. Ada beberapa ayat yang bisa dijadikan alasan pemikiran tersebut, diantaranya:

             Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua (QS. Al-Hijr: 92)
Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu) (QS. Al-Takasur: 8) 

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS. Al-Isra’: 36)

Ayat ayat di atas selain berbicara tentang Mahkamah Muhasabah Ilahi juga berbicara tentang tanggung jawab diri seorang muslim.

Saya akan memberi gambaran lebih jelas tentang Muhasabah pada Mahkamah Ilahi. Tentu saja amat berbeda dengan evaluasi yang kerap ditemui pada dunia pendidikan. Dalam Evaluasi Pendidikan biasa diikuti dengan istilah perbaikan nilai, penambahan nilai dari aspek X, ujian susulan, dan seterusnya. Tentunya setiap guru dan sekolah berharap bahwa proses evaluasi itu harus menggambarkan keberhasilan dan kesuksesan.
Dalam muhasabah, proses yang terjadi amat berbeda dengan Evaluasi tersebut. Al-Quran sangat sempurna mendeskripsikan hal tersebut (baca QS. Yasin: 54-65).

Yang Allah ingin sampaikan pada ayat tersebut adalah, “di suatu hari yang amat penting, Aku tidak akan mendzalimi setiap jiwa sedikit pun. Artinya, Aku tidak akan mengurangi kebaikan kalian dan juga tidak akan menambah keburukan kalian.  Semua tidak akan diberi balasan kecuali sesuai dengan apa yang telah kalian kerjakan.” Suasana muhasabah pun akan bertambah ‘mencekam’ karena manusia dibuat bisu sejenak. Dikatakan lagi “pada hari ini kami tutup mulut-mulut kalian, membisu tidak bisa berbicara. Yang akan berbicara adalah tangan-tangan kalian dan kaki-kaki kalian yang akan menjadi saksi terhadap apa saja yang telah kaliah kerjakan selama ini”. Itulah proses Muhasabah yang amat menegangkan.
Setiap manusia pasti akan melaluinya, baik yang meninggal pada saat masih kecil, muda, apalagi meninggal dalam usia tua. Tentu saja akan banyak hal yang di-hisab dan ditimbang darinya. Tidak ada yang bisa lari, tidak pula menghindar, karena proses itu sesuatu yang pasti dan harus dilalui. Sudah tidak ada perbaikan nilai dari kualitas amal masing-masing, apalagi ujian susulan.

Hanya ada dua penempatan, naik tingkat atau gagal. Tempat Pertama, kelompok yang berhasil masuk kelas bernama Surga. Diceritakan di banyak ayatNya bahwa nantinya komunitas surga ini sibuk dengan nikmat-nikmat Allah SWT, ditemani pasangan dari bidadari-bidadari di tempat yang teduh. Mereka memperoleh berbagai buah-buahan surga dan dikabulkan setiap permintaan mereka. Bahkan Allah SWT mengunjungi mereka seraya mengucapkan, ‘Salam.’
Menurut Ibn Abbas, “Allah SWT akan mengucapkan Assalâmualaikum yâ Ahl Jannah … Lalu Allah melihat mereka dan mereka pun melihat Allah SWT, sampai-sampai mereka yang ada di dalam surga tersebut tidak berpaling pandang sedikit pun dari Rabbul ‘alamin karena kagum yang tak terhingga, hingga Allah meninggalkan cahaya dan barakah untuk penduduk surga tersebut.”  

Tempat Kedua, kelompok yang gagal. Diceritakan bahwa Allah SWT segera memisahkan mereka dari kelompok Ahl Jannah yang beruntung tadi. Mereka berjarak dan berjauhan, seiring dengan itu Allah SWT bertanya kepada mereka yang membuat mereka makin terhina Dikatakan, “wahai anak cucu Adam as., bukankah Aku telah melarang kalian untuk menyembah Syaitan, karena dia musuh kaliah yang nyata? Dan Aku perintahkan kalian untuk menyembahKu dan mengikuti jalan shirâthal mustaqîm? Kalian telah disesatkan sampai-sampai kalian tidak berpikir!” Allah SWT menambah MurkaNYA, kelompok gagal ini kemudian dipersilahkan oleh Allah SWT memasuki Jahannam yang sudah tersedia karena kekufuran mereka.
Muhasabah yang diungkapkan al Quran di atas pastinya akan kita lalui, insya Allah. Sebelum itu terjadi, ada muhasabah yang bisa lebih dulu kita pratekan dalam keseharian, yaitu dengan menggunakan teori muhasabah yang telah dijelaskan tadi. Cobalah selalu me-muhasabah diri dengan dua alat ukur. Pertama, bila dalam hati kita tidak ada keinginan melanggar dan berbuat dosa kepada Allah SWT, maka itu artinya diri kita sudah baik. Kedua, lanjutkanlah dengan berbuat amal shaleh. Maka itu sudah berada pada tingkat sempurna atau mumtaz.

Bila yang dilakukan kebalikan dari dua hal tersebut, maka itu berarti masalah besar. Artinya, muhasabah di dunia sudah memberi nilai gagal. Tapi tentu saja masih ada solusi dari kegagalan tersebut, karena kita masih berada di dunia, yaitu bertaubatlah, beristigfarlah, dan perbanyaklah berbuat amal shaleh sebagai usaha perbaikan nilai. Tanpa solusi tersebut, tentu Muhasabah Mahkamah Ilahi yang amat menakutkan itu akan menunggu kita pada hari yang telah ditentukan nanti. Na’uzubillah.
Tentu mudah bukan melakukan muhasabah di dunia? Silakan mencoba.
Wallâhu a’lam bi al-shawwâb.

(Sumber Bacaan: Kitab Tafsir Ibn Katsir dan Al-Sa’di, dan Kitab Al- Bahr Al-Râ’iq fî Zuhdi wa Al-Raqâiq A. Farid)
Written by: Dr. H. Ulil Amri Syafri, Lc., MA.




20 June 2016

Dialog Pendidikan Islam


Dalam rangka mensosialisasikan Pusat Pendidikan Islam Muslim Cendekia Madani, diadakanlah Dialog Pendidikan Islam di beberapa kota di Jawa Tengah yang dimulai dari kota Brebes, Tegal, Pekalongan, Magelang dan Wonosobo.

Kegiatan akan dimulai tanggal 19 Juni hingga 23 Juni 2016 yang akan dipandu oleh Dr. H. Ulil Amri Syafrie, Lc. MA. dan Dr. Muhyani M.Psi.T.

13 June 2016

Kesalahan Dalam Pembelajaran


Oleh. Dr. Muhyani, M.Psi. T.

Hampir sebagian besar pembelajaran yang dilakukan oleh guru di kelas banyak mengalami kegagalan. Menjamurnya lembaga bimbingan belajar merupakan indikasi gagalnya guru dalam proses pembelajaran. Bahkan banyak sekolah yang sengaja bekerja sama dengan lembaga bimbel. Kondisi ini menunjukkan pengakuan pihak sekolah akan kegagalan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru.

Pertanyaannya adalah, mengapa terjadi kegagalan dalam proses pembelajaran di sekolah?

Ada beberapa faktor penyebab kegagalan dalam proses pembelajaran, antara lain:
  1. Kompetensi guru yang kurang memadai.
  2. Metode pembelajaran yang tidak tepat.
  3. Iklim kelas yang kurang kondusif.
  4. Konten Pembelajaran yang tidak memiliki daya guna bagi peserta didiknya.
  5. Penerapan filosofi pendidikan yang keliru.

Dari kelima faktor di atas, faktor kelimalah yang akan diuraikan.

Katakanlah 1-4 sudah bisa diatasi, tapi mengapa lembaga bimbel masih dibutuhkan oleh sekolah?

Jawabannya adalah karena penerapan filosofi Pembelajaran yang keliru!

Seharusnya seorang guru harus meniru filosofi petani dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Sebagian besar guru ketika di depan kelas setelah melakukan apersepsi, langsung memberikan materi pembelajaran. Kalau itu pelajaran matematika atau fisika, pasti yang pertama dilakukan oleh guru adalah menulis rumus. Persetan apakah muridnya siap atau tidak secara mental, itu bukan urusan guru, alasannya adalah mengejar ketuntasan materi.

Keadaan pembelajaran semacam itu, sama dengan seorang petani yang menanam padi di semak belukar. Sekalipun menggunakan bibit unggul dan pupuk yang bagus, pasti yang tumbuh subur adalah semak belukar nya, sementara padinya akan mati.


Di Muslim Cendekia Madani, filosofi pembelajarannya menganut filosofi petani dalam bercocok tanam. Sebelum bibit tanaman disebar, seorang petani harus menyuburkan tanah yang akan ditanami. Setelah lahannya subur baru biji ditanam, maka akan suburlah tanaman itu.

Nah, kegiatan pembelajaran akan berhasil bila mental murid sudah siap belajar.

11 June 2016

Kunci Keberhasilan Sebuah Pendidikan: Fokus dan Mendalam



Dalam rangka mensosialisasikan program kurikulum dan model belajar di Madrasah Aliyahnya, Direktur Pusat Pendidikan Islam Muslim Cendekia Madani, Dr. Ulil Amri Syafri, Lc. MA., melakukan kunjungan ke beberapa kota di Jawa Tengah pada tanggal 8-11 Juni 2016.

Kunjungan ini sangat berarti karena dilaksanakan pada bulan Ramadhan 1437 H, dimana beliau dapat ikut merasakan suasana ramadhan di sepanjang kota yang dilewati. Misalnya kota Wonosobo, di mana beliau melihat dan merasakan antusias masyarakat yang berkumpul di masjid yang mendengarkan ceramah untuk menunggu waktu berbuka.

Dalam acara tersebut, Dr. Ulil Amri Syafri, Lc., MA. juga berkesempatan bertemu dengan novelis Islami terkenal Indonesia Habiburrahman El Shirazy yang biasa dikenal dengan panggilan Kang Abik di kediamannya di Salatiga.

Mereka yang juga sahabat lama ketika sama-sama menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir cukup lama berbincang dan bertukar pikiran tentang banyak hal. Uniknya, mereka saling bertukar novel lengkap dengan tanda tangan masing-masing. Kang Abik memberikan novel terbarunya, Ayat-Ayat Cinta 2. Sedangkan Sang Direktur memberikan novel pertamanya tentang pendidikan: Ayah, Antarkan Aku Ke Stamford Bridge.

Habiburrahman El Shirazy adalah contoh salah satu siswa Madrasah Boarding School yang sukses dan berhasil mewujudkan minat dan bakatnya. Beliau adalah lulusan Program Khusus MAN 1 Surakarta tahun 1995. Sekolah ini merupakan madrasah unggulan dengan sistem Boarding School yang menekankan pada program-program khusus pada kurikulumnya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Sejatinya, lembaga pendidikan Islam yang baik harus memiliki kurikulum dan program yang dapat memberi ruang bagi anak didik untuk mengembangkan potensi dan bakat mereka. Sebab terkadang potensi dan bakat itu baru mereka sadari saat usia remaja.

Proses belajar yang cenderung memiliki banyak materi -seperti yang terjadi di sekolah pada umumnya- dan tidak terfokus pada kecenderungan anak membuat peserta didik terbebani oleh materi yang belum tentu penting dalam pengembangan potensi dan bakat tadi.

Dengan proses belajar yang fokus seperti yang ditawarkan oleh Program Boarding School di Pusat Pendidikan Islam Muslim Cendekia Madani, anak didik akan lebih dapat mengelola waktu dengan baik dan memiliki kualitas yang terukur. Mereka hanya akan diberi materi-materi yang sesuai dengan target yang akan dicapai serta dibekali oleh life skill yang dibutuhkan. Dengan konsep pendidikan yang fokus dan mendalam inilah Pusat Pendidikan Islam Muslim Cendekia Madani hadir untuk ikut mengarahkan anak-anak muslim Indonesia.

09 June 2016

Kecanduan Ibadah



Oleh Fatahillah, Lc.

Bulan Ramadhan seperti ini menjadi ajang untuk banyak hal, baik yang sangat positif maupun yang negatif. Termasuk di dalamnya ajang melatih diri agar terbiasa beribadah atau sebaliknya ajang mempertontonkan ibadah.

Shiyamu Ramadhan, Qiyamu Ramadhan, tadarus Al-Qur'an atau ramai-ramai memberi ta'jil di masjid-masjid akan meningkatkan sisi spiritualitas kita secara tajam. Di sisi lain, ancaman kebosanan beribadah juga menghantui setiap muslim yang hendak mengambil manfaat sebesar-besarnya dari bulan Ramadhan ini.

Lalu ide membuat jurnal Ramadhan menjadi hal yg jamak diaplikasikan oleh para pemburu ibadah. Bukan untuk riya' atau pamer hasil jurnal di media sosial, namun ianya suatu upaya mendispilinkan diri dan mengejar target ibadah yang diniatkan sebelum masuk Ramadhan, sebab niat saja tanpa penjadwalan, ia hanya akan berhenti sebatas niat dan tidak akan terlaksana.

Kebanyakan kita masih berpola pikir hanya sekedar menunaikan kewajiban jika berhadapan dengan urusan ibadah atau hanya ikut tren yang saat masjid-masjid penuh dengan jamaah shalat tarawih kita ikut, dan 20 hari kemudian saat mal-mal penuh dengan "jamaah" nya kita pun ikut.

Nah, tahukah anda, bahwa banyak pula yang memang berniat menghidupkan Ramadhan dengan segenap hati, raga dan fikirannya?

Datang ke masjid sebelum adzan. Rawatib, dhuha, bainal adzanain dilibas bak manusia yang tinggal 5 menit lagi masa hidupnya. Target tadarus yang selalu melebihi batas harian seakan enggan melepaskan 10 menit masa luang tanpa tilawah.

Mengapa ada pribadi yang demikian? Mengapa ada pribadi yang begitu menikmati ibadah bak orang kecanduan?

Jawaban bisa sederhana bisa juga kompleks.

Yang sederhana semacam mumpung Ramadhan. Yang kompleks barangkali sensor hati akan terlibat. Saat ia hadir di masjid sebelum yang lain, ia akan puas, bukan karena riya' tapi karena semangat fastabiqul khairat dengan sesama saudaranya, persis seperti para sahabat Rasul yang berebut shaf pertama.

Kepuasan demi kepuasan ini yang akan mendorongnya untuk terus memburu tiap ibadah tersebut, persis seperti pecandu yang akan mengusahakan pipet sabu-sabunya, meski harus dengan mencuri atau menjual habis harta bendanya.

Saat seorang pecandu ibadah memburu ibadah, komentar miring semacam "sok alim" "orang setres" atau bahkan "calon teroris" akan dilemparkan kepadanya.

Tapi apakah itu akan membuatnya berhenti? Tidak! Dan sekali-kali tidak!

Sebab pecandu narkoba pun tak akan berhenti, meski dibui sekalipun.

Dan kita semua sepakat, bahwa pecandu ibadah adalah pribadi yang luar biasa.

Bukankah kita pernah membaca atau mendengar dialog Aisyah Radhiyallahu Anha yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, mengapakah engkau beribadah malam seperti ini, hingga kaki yang pecah-pecah pun tak lagi engkau pedulikan, padahal sudah diampunkan dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?

Lalu jawab beliau: "Tidakkah aku boleh menjadi hamba yang bersyukur?"

Nah, di sini kita tahu bahwa para pecandu ibadah punya nenek moyang yang luar biasa. Antara kepuasan batin dan sikap bersyukur.

Tidakkah anda ingin mencandu ibadah juga?

Hadir di masjid sebelum yang lain hadir?

Infaq terbanyak melebihi yang lain?

Melewati target tadarus melebihi tahun-tahun sebelumnya?

Bersyukur dengan sampainya nafas kita di Ramadhan ini?

Ayo... Mumpung masih di awal!

Kebutuhan Manusia Terhadap Agama



Oleh: Dr. H. Endang Madali, MA

Agama sebagai tolak ukur dari sebuah sumber kebenaran. Hal ini karena agama bersifat petunjuk bagi para penganutnya, yaitu membawa manusia kepada hal-hal yang menjadi pelita hidup, curahan hati, dan pancaran kebenaran. Juga dalam agama ini, manusia mempunyai suatu keyakinan antara dirinya dengan Allah swt. Terlebih, agama merupakan sesuatu yang diciptakan untuk manusia di atas fitrah (habitat, kudrat)-nya, sebagaimana manusia diciptakan atas fitrahnya pula.  Suatu fitrah yang menjadi keharusan antara satu dengan lainnya saling membutuhkan.

Dengan kata lain, adanya agama berarti sebagai wadah mencari kedamaian dan kesejahteraan hidup. Begitu pula kepada manusianya, di mana ia tidak akan lepas dari suatu agama.  Di samping itu, pada jiwa manusia terdapat sifat homo sapiens, yakni rasa keingintahuan manusia pada sesuatu yang ia belum ketahui, yang mana pengetahuan itu sebagai bekal dalam kehidupannya. Walaupun manusia telah diberi kelebihan oleh Sang Maha Pencipta, yakni berupa pancaindera, akal dan hati.

Namun, tetap saja hal-hal tersebut masih bersifat terbatas. Oleh karenanya manusia masih terus mencari jati dirinya, baik dari dirinya sendiri maupun lingkungan sosialnya. Kendati demikian, masih ada yang kurang daripada muatan ajaran-ajaran kehidupan yang dapat mengantarkan keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan.

05 June 2016

Evaluasi Pengajaran Yang Membanggakan


Oleh: Dr. H. Ulil Amri Syafri, Lc., MA.

Evaluasi tidak saja berkaitan dalam mengetahui kognifif anak didik terhadap materi yang disampaikan dalam ruangan belajar, tapi lebih jauh lagi untuk mengetahui bagaimana anak didik itu bisa memahami ilmu tersebut dalam mengembangkan ilmu yang diperoleh pada praktek dan kreatifitasnya.

Evaluasi dalam kurikulum memiliki bermacam-macam tujuan, antara lain untuk mengetahui sejauh mana siswa mencapai kemajuan sesuai tujuan pendidikan, untuk membaca keberhasilan kurikulum, menilai efektivitas kurikulum, dan sebagainya. Evaluasi bisa dimaknai secara mendalam jika alat ukur keberhasilan sebuah proses pendidikan sudah ditentukan ketika akan memulai melakukan evaluasi.

Misalnya, dalam teori Ilmu Takhrîj masa lampau memang menggunakan banyak kitab rujukan seperti kitab Takhrîj al-Hadits al-Hidâyah, juga ada metode Maudhu'i yang melacak hadits berdasar isi hadits atau temanya, ada pula metode Syakhsyî yang melacak hadits berdasar rawi terakhir, kemudian ada metode modern yang menggunakan kata per kata, baik menggunakan Mu'jâm Mufahrash Lî al-Fâzh al-Hadits ataupun dengan teknologi digital seperti penggunaan al-Maktabah al-Syamîlah, al-Maktabah al-Kubra, atau pelacakan hadits di website-website khusus layanan hadits online.
Teori tersebut bisa dimengerti dan dipahami oleh anak didik jika mereka sudah bisa melakukan praktek takhrj hadits dalam perpustakaan ataupun dengan teknologi digital seperti penggunaan al-Maktabah al-Syamîlah.
Praktek semacam inilah yang dilakukan oleh empat mahasantri dari program Pesantren Tinggi Ibnu Hajar Sukabumi. Keempat santri itu mendapat tugas dari K.H. Salam Russyad untuk melacak semua hadits fadhîlah atau keutamaan tiap surah yang disebutkan oleh al-Hafîdz Ibnu Katsir di dalam kitab Tafsir al-Qur'an al-Azhîm yang biasa dikenal orang dengan nama Tafsir Ibnu Katsir.
Berapa banyak hadits yang harus di-takhrîj?
Masing-masing mahasantri mendapatkan satu jilid tebal dari kitab Tafsir Ibnu Katsir untuk ditelusuri di mana tiap jilid mengandung jumlah surah yang bervariasi.
Bagi yang pertama kali melakukannya, menelusuri sebuah hadits akan menjadi pekerjaan yang butuh semangat tinggi. Sebab satu hadits saja, bisa ditemukan di seluruh al-Kutub al-Sittah. Bahkan juga di kitab-kitab sumber hadits lainnya yang harus dicatat nomor haditsnya, jilidnya dan halaman tempat letaknya hadits yang barangkali akan menghasilkan 5-20 sanad. Bila kemudian seorang peneliti mendapatkan 50 hadits dalam setiap jilid kitab Tafsir Ibnu Katsir, maka akan terkumpul 250 hingga 1000 sanad.
Namun, para peneliti muda ini justru menikmati lika-liku usaha penelusuran mereka dalam memberikan khidmah terhadap Sunnah Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam.
Mereka lupakan segala keterbatasan diri mereka. Meski terkadang "bokek" dan tak punya lauk untuk dimakan saat malam hari, toh kegiatan memancing di empang gurame di sebelah pesantren mereka bisa menjadi jawaban untuk itu. Makan telat? No problem, selama tidak keterlaluan saja.
Dalam semangat mereka, terselip rasa cinta akan ilmu.
Dalam kerja mereka, terselip kesungguhan dan semangat yang kuat.
Barangkali pesan Imam Muslim berupa hadits mauquf yang disisipkan dalam salah satu bab di Shahih Muslim selalu menyemangati mereka,
"Lâ Yustathâ'u al-'Ilmu bi Râhat al-Jism."
"Tak akan mampu dicapai suatu ilmu dengan kesantaian tubuh."
Atau teladan dari Rabi'ah Ar-Ra'yi—guru utama dari Imam Malik Rahimahullah—yang menghabiskan banyak waktunya dalam membaca dari terbit fajar hingga menjelang tengah malam, sampai-sampai tubuhnya menjadi kurus tirus yang mengundang pertanyaan kolega-koleganya, ‘mengapakah engkau bersikap seperti ini dalam menuntut ilmu?’
Rabi'ah menjawab, "Inna al-'Ilma Lâ Yu'thika Ba'dhahu Hatta Tu'thiyah Nafsaka Kullahu."
"Sesungguhnya ilmu itu tak akan memberikan kepadamu sebagian dirinya hingga engkau berikan seluruh dirimu kepadanya."
Inilah bentuk evaluasi pembelajaran yang dilakukan oleh lembaga pendidikan yang kini menjelma menjadi “Pusat Pendidikan Islam Muslim Cendekia Madani”. Evaluasi yang dilakukan lebih menekankan pada kemampuan anak didik dan sikap mereka dalam memahami ilmu yang mereka dapatkan.
Lembaga ini kini sudah mengembangkan programnya dengan membuka empat konsentrasi pendalaman: ilmu Dakwah, ilmu Hadits, ilmu Ushul Fiqh, dan Ilmu Tafsir. Bentuk evaluasi yang sama akan diterapkan dalam proses pembelajarannya. Hal inilah yang selalu ditekankan oleh Ulil Amri Syafri, Direktur dan Pendiri Pusat Pendidikan Islam Muslim Cendekia Madani,  “Evaluasi tidak melulu tentang pengembangan dalam sisi kognitif anak didik. Evaluasi yang kami lakukan lebih pada kemampuan anak didik dalam mengembangkan ilmunya dalam bentuk praktek ilmu dengan kreativitas yang sesuai. Sehingga tujuan pendidikan dari setiap program yang diselengarakan dapat tercapai dengan baik dan sempurna.”  Wallahu ‘alam