Cluster Casablanca, Sentul City, Bogor - Jawa Barat - 16810 | Hotline: 0813-1112-5384 (Call/SMS/WA)

07 October 2021

Wasathiyah Natsir Dalam Pendidikan

 

M. Natsir
Pendidikan Bukan-Bukan

Wasathiyah Islam adalah warna umum konsep dan pemikiran dan ajaran Islam secara keseluruan. Artinya Islam adalah agama yang selalu mampu mewujudkan suasana wasathiyah. Hal ini yang dipahami oleh peneliti sekaligus dosen Univ. ummu Qara Makkah, Syekh Abdurrahman Hasan al-Madani dalam karyanya al-wasathiyah fi al-Islam:

كل مسلم يحس بتلقائية شعورية ودون تفكير عميق بوسطية الاسلام بين المبادئ والافكار والمذاهب

Maknanya, setiap muslim—baik secara spontan atau emosional tanpa pemikiran mendalam—akan merasakan wasathiyah Islam pada prinsip, pemikiran dan pada mazhab-mazhabnya.[1]

Secara bahasa, kata wasathiyah dimaknai adil. Kata tersebut sinonim dari kata tawadzun yaitu seimbang, seimbang dalam merealisasikan hak Allah aza wa jalla, hak jiwa manusia dan hak yang lain.[2] Syekh Abdurrahman Hasan al-Madani memaknai, bahwa istilah shiratul mustaqim juga disebut wasathiyah karena ia adalah jalan kehidupan yang Adil.[3] Dalam memahami Adil dan Seimbang, beliau memberikan perumpanaan mudah yaitu, ikatan tali yang paling tinggi adalah tengahnya, إن أعلي الحبل الممتد هو أوسطه)). Dengan demikian barang yang diikat dengan tali tersebut tidak condong ke kanan atau pun berat ke kiri jika ikatan atau pegangannya ada di kiri.

Meskipun arti kata wasathiyah al-Madani dimaknai dengan mudah, namun beliau tidak menyebutkan jika kontek persoalan agama dan berbagai persoalan harus dan disyaratkan selalu berada dalam posisi tengah selalu. Dikatakannya bahwa hal itu sulit sekali dalam memberikaan verifikasi secara pemikiran, kejiwaaan dan sikap. Maka Syekh Abdurrahman Hasan al-Madani mengajak untuk memahami al-wasyatiyah fi al- Islam dengan melihat contoh-contoh bahasan tersebut, artinya tidak sedekar melihat pemaknaan sisi lughawi-nya saja.

Ada lebih sepuluh bahasan atau contoh yang dijelaskan oleh Syekh Abdurrahman Hasan al-Madani agar bisa paham secara komprehensif tentang nilai dan ruh wasathiyah ajaran Islam itu. Sepuluh topik atau tema tersebut diantaranya, Wasathiyah dalam memperoleh ilmu atau pengetahuanya baik Sumber dan kaifiyah-nya. Wasathiyah dalam melihat tuntutan dan kebutuhan duniawi dan ukhrawi manusia.:[4]

Kitab al-Wasathiyah fī al-Islam karya Syekh Abdurrahman Hasan Al-Madani diterbitkan para tahun 1995M/1416H oleh mua’sasah al-Rayan Makkah. Beliau mendapatkan penghargaan dalam bentuk pujian dari sekjen Rabithah Alam Islam, Dr. Ahmad Muhammad Ali, di tahun terbitnya. Dalam mukaddimahnya, Al-Madani menyebutkan ada dua orientasi penelitianya. Pertama, kepentingan eksternal atau bisa dikatakan sebagai jawaban atas adanya kesalahan fatal masyarakat dunia melihat ajaran Islam. Kedua, sebagai tanggung jawab secara syar’i atas dirinya untuk menjelaskan secara internal kepada umat Islam maksud al wasathiyah. Dalam hal ini bahasan secara apik menjadi solusi dalam permasalahan internal kaum muslimin ketika itu.

Tokoh lainnya, Dr. Isham Basyir al-Sudani, pucuk pimpinan organisasi Internasional Wasathiyah Center di Kuwait mengatakan, penting mencari pemaknaan asal wasathiyah dari al-Quran. Namun demikian beliau memberi makna wasathiyah dengan arti kata Adil menggunakan makna istilah shiratul mustaqim yang ada pada surat al-Fatihah.[5] Pada kontek bahasa, Syekh Abdurrahman Hasan Al-Madani memiliki beda pandangan. Menurutnya wasathiyah tidak bisa mudah dipahami melalui bahasan lughawi. Hal ini karena wasathiyah itu menjelma dalam Prinsip, landasan berpikir, akhlak dan seterusnya.

Sedangkan bagi M. Natsir,[6] wasathiyah tidak saja dimaknai, tapi sudah direalisasikan dalam berbagai aktifitas, gerak pemikirannya dan sikap pendiriannya, baik pada bidang pemikiran keislaman, pendidikan, kemasyarakatan, dakwah dan juga Politik kenegaraan di Indonesia. Pada pemikiran keislaman, agama menurut Natsir, khususnya risalah nabi Muhmmad SAW, dapat diklasifikasikan pada tiga pokok hubungan, yaitu hubungan manusia dengan Khaliknya, hubungan manusia sesama manusia dan mengadakan hubungan yang seimbang, tawazun, dan adil diantara keduanya secara sejalan dan berjalin.[7] Demikian pula wasathiyah pemikiran pendidikan, Natsir berpendapat bahwa “bakat potensi yang ada dalam fitrah kejadian manusia jasmani dan ruhani itu dapat berkembang maju menurut fungsi masing-masing berkembang dalam keseimbangan dari satu tingkat ke tingat yang lebih tinggi”.[8]

Wasathiyah Natsir Dalam Pendidikan 

Wasathiyah Natsir juga terlihat ketika beliau berkeinginan melahirkan satu sistim pendidikan yang mampu mewujudkan manusia yang seimbang. Baik seimbang dalam ketajaman akalnya maupun seimbang dalam kemahiran tangannya untuk bekerja.[9] Realisasi gagasan Natsir itu bisa dibaca pada desain kurikulum PENDIS Natsir di atas. Baginya, pendidikan anak tidak saja menjadi fardhuain bagi ibu dan bapak yang mempunyai anak, akan tetapi menjadi fardhu kifayah bagi tiap–tiap anggota dalam masyarakat yang ada.

Teori wasathiyah Natsir ini senada juga dengan para tokoh pendidikan Islam saat ini. Misalnya pendapat Abdurrahman al-Nahlawi dalam karyanya ushl al-Tarbiyah al-Islamiyah—dari kutipan kitab Madhal ila al-Tarbiyah, beliau mengatakan tentang pendidikan Islam:

التربية تتكون من عناصر: المحافظة على فطرة الناشئ ورعايتها, وتنمية مواهب واسـتعداداته كلها وهي كثيرة متنوعة

Pendidikan Islam dibangun atas unsur-unsur, yaitu penjagaan fitrah manusia, pengembangan, dan penyiapan bakat-bakat yang bervariatif.[10]

 Bakat dalam definisi di atas dapat dimaknai sebagai potensi kemahiran tangan atau diri anak didik. Dalam hal ini penulis juga sangat sependapat dengan teori Abdurrahman Nahlawi tersebut.

Demikian pula pemikiran wasathiyah Natsir pada konteks masyarakat. Dalam pemikiran pada aspek wasathiyah dakwah, Natsir berpendapat bahwa Islam adalah agama risalah untuk manusia keseluruhan, sedangkan umat Islam adalah pendukung amanah tersebut dengan jalan dakwah.[11] Adapun dalam metode dakwah, beliau menjadikan hikmah sebagai puncak dan setinggi-tingginya metode. Pemikiran ini dapat ditelusuri pada makna hikmah dalam implementasi yang diinginkan Natsir.[12]

Secara khusus, pemikiran wasathiyah Natsir tentang bernegara tampak jelas dalam tulisannya yang berjudul Pancasila dan ajaran al Quran.[13] Dikatakan dalam tulisan itu tentang dasar negara Indonesia yaitu Pancasila,

Bagi seorang yang beragama, khususnya yang beragama Islam, kalau mereka melihat urutan sila-sila yang lima itu (Pancasila), ia akan bertemu dengan barang-barang yang sudah dikenal dan dihayati. Ambilah, ketuhanan yang maha Esa. Seorang muslim memulai ketuhanan yang maha Esa itu dengan Tauhid dan kalimat Syahadat, begitu juga sila-sila yang lain. Sila kemanusiaan, Keadilan Sosial, Kebangsaan, Kerakyatan dan lain-lain itu bertemu semua dalam sila-sila yang terdapat dalam Islam. Jadi tidak bisa kita mengatakan sebagai seorang Islam bahwa Pancasila bertetangan dengan Islam. Pancasila itu adalah rumusah dari ide-ide moral.”[14]

 Dari beberapa sikap Natsir di atas tampak betul beliau adalah pemikir dan seorang tokoh Islam Indonesia yang tidak saja memaknai wasathiyah Islam tapi juga mampu memberikan teladan wasathiyah dalam pemikiran termasuk dalam pemikiran pendidikan yang baik untuk negeri ini.


 ( baca penjelasan lengkap di buku Pendidikan Bukan-Bukan Dr. Ulil Amri Syafri

[1]Pertama,Wasathiyah dalam memperoleh Ilmu atau Pengetahuanya baik Sumber dan kaifiyah-nya. Kedua, Wasathiyah dalam melihat tuntutan dan kebutuhan duniawi dan ukhrawi manusia. Ketiga, Wasathiyah dalam Kontek pembahasan Iman. keempat, Wasathiyah dalam Kontek pembicaraan Akhlak. Kelima, Wasathiyah dalam Kontek pembahasan Ibadah. Keenam, Wasathiyah dalam Kontek bahasan ikatan pernikahan dan hubungan suami-istri. Ketujuh, Wasathiyah dalam Kontek finansial, sumber dan pemanfaatanya. Kedelapan, Wasathiyah dalam Kontek pembahasan aturan hukum dan menejemen. Kesembilan, Wasathiyah dalam antara pembahasan perundang-undangan dan pengaturan civil society atau rakyat. Kesepuluh, Wasathiyah dalam Kontek pembicaraan edukasi atau pengajaran. Kesebelas, Wasathiyah dalam Kontek pembahasan dakwah amal Penyebaran ajaran agama Islam. Syekh Abdurrahman Hasan Al-Madani, Al-Wasathiyah fī Al-Islam, Beirut: Muasasah al-Rayyan, 1996, hlm. 9.

[2]https://www.youtube.com/watch?v=n3_x5NDHULo. Isham Basyir al-Sudani adalah pucuk pimpinan organisasi Internasional Wasathiyah Center di Kuwait. (pen.)

[3]Syekh Abdurrahman Hasan Al Madani, al-Wasathiyah fī al-Islam, hlm. 9

[4]Ibid., hlm. 193.

[5]Lihat Isham Basyir al-Sudani di https://www.youtube.com/watch?v=n3_x5NDHULo, atau bisa juga melihat pendapat Syeikh Ahmad Rabbi’ Al-Azhary tentang dasar ajaran Islam yang wasathiyah di https://www.youtube.com/26obKj_GJGI

[6]M. Natsir merupakan tokoh Indonesia yang jauh lebih senior bila dibandingkan dua tokoh dunia Islam di atas, bahkan telah menjadi tokoh Islam terkenal di dunia internasional. Pada tahun 1956 Natsir bersama Maulana Abu A’la Al-Maududi (Lahore) dan Abu Hasan An-Nadwa memimpin sidang Alam Islamy di Damaskus. Selain itu Natsir juga menjabat sebagai Wakil Presiden Kongres Islam se dunia (Muktamar Alam Islami) yang berkedudukan di Karachi (1967), sebagai anggota Rabithah Alam Islami (1969), dan anggota pendiri Dewan Masjid se Dunia (1976) yang berkedudukan di Mekkah. Di wilayah tanah Melayu M, Natsir dapat penghargaan dalam bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia (1991), dan dalam bidang pemikiran Islam dari Universitas Sains dan Teknologi Malaysia (1991). Bahkan di Eropa Pada tahun 1987 Natsir menjadi anggota Dewan Pendiri The Oxford Center for Islamic Studies, London. (pen.)

[7]Mohammad Natsir, Fiqhud Dakwah, hlm. 36

[8]Ibid., hlm. 25.

[9]Lukman Hakim, Biografi Mohammad Natsir, hlm. 55

[10]Abdurraman Al-Nahlawi, Ushûl Al-Tarbiyyah Al-Islamiyyah, hlm. 13

[11]Mohammad Natsir, Fiqhud Da’wah, hlm. 109.

[12]Ibid, hlm. 161-236. Sedangkan dalam aspek wasathiyah politik dan kenegaraan, Natsir berpendapat bahwa agama bukan saja urusan pribadi, tapi juga masyarakat. Bahkan hal tersebut terlihat pada garis-garis aturan hak dan kewajiban bermasyarakat dalam ajaran Islam. Aturan tersebut akan lebih jauh dan lebih luas lagi jika ada dalam masyarakat yang lebih luas pula. Dalam konteks inilah Natsir berprisip harus ada suatu kekuatan dalam pergaulan hidup berupa kekuasaan dalam negara, tidak boleh tidak. Bahkan Natsir mengkritik Kemal Pasha Cs yang dalam ungkapan beliau menyerahkan Agama ke tangan rakyat kembali, lepas dari urusan Negara. Dalam istilah selanjutnya disebut netral agama. Mohammad Natsir, Agama dan Negara dalam Persektif Islam, Jakarta: Media Da’wah, 2001, hlm. 78-79.

[13]Ibid., hlm. 123.

[14]Ibid., hlm. 267.

Pendidikan Bukan_Bukan

03 October 2021

Pendidik Inspiratif Tak Ternilai

(Sebuah Pengantar dari Prof. Dr. Sofyan Sauri, M.Pd)

Bismillāhirrahmānirrahīm

Puji dan syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala nikmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Salawat dan salam semoga tercurah kepada sosok teladan. Beliaulah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.

Alhamdulillah, saya bersyukur atas hadirnya buah pikiran Dr. Ulil Amri Syafri ini. Saya melihat ini menjadi tanda kesungguhannya dalam menjaga nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang pada masa lampau lewat sebuah tulisan. Buku ini bermanfaat dalam mengingat kembali khazanah pendidikan masa lalu. Saya setuju dengan pendapat para pemerhati dan peminat sejarah yang mengatakan belajar dari tokoh dan peristiwa adalah keniscayaan. Banyak nilai-nilai terpancar dari alam pikiran para tokoh yang bersahaja dan hikmah dari perjuangan mereka.

Awal melihat buku ini, saya sempat terdiam membaca judul bukunya. ‘Pendidikan Bukan-Bukan’. Sebuah judul yang membuat orang penasaran ingin membacanya. Di bagian pertama penulis langsung memaparkan problematika pendidikan Islam di Indonesia. Selanjutnya, penulis mengajak pembaca untuk mengarungi petualangan seru sejarah masa lampau melalui tokoh-tokoh yang ikut menggoreskan tinta sejarah dalam pendidikan Islam Indonesia.

Diawali dengan kehadiran Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai ulama yang dihormati oleh kaum muslimin sekaligus pahlawan nasional Indonesia. Beliau memiliki kiprah dan perjuangan yang tak bisa dilupakan bagi bangsa ini, apalagi jika dihubungkan dengan Resolusi Jihad 1945 yang berbuah indah bagi tanah air Indonesia. Tidak itu saja, usaha pendidikan dan langkah yang dilakukan beliau memberikan banyak pelajaran dan inspirasi yang tak ternilai bagi perjalanan anak bangsa.

#Pendidikan Bukan-Bukan

Dalam buku ini, kita akan melihat sosok Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari bagaikan pelita untuk dunia pendidikan Islam Indonesia, khususnya bagi para pelaku tafaqquh fī al-dīn. Sosok pendidik yang istimewa itu lahir dari masyarakat dan berkiprah untuk masyarakat hingga akhir hayatnya. Beliau membangun tata nilai dan mengajarkan ilmu yang sangat berharga untuk hidup manusia banyak. Apa yang dilakukan beliau meninggalkan karisma yang mendalam bagi orang-orang terpelajar dan beradab tinggi. Saya setuju dengan penulis buku ini, bahwa nilai yang ditinggalkan beliau tak lekang dimakan waktu dan akan selalu bisa diaplikasikan dalam kehidupan.

Selanjutnya, buku ini melangkah ke kisah modernisasi di Sumatra Barat. Dari buku ini akan terlihat bahwa tata nilai suatu masyarakat sangat dinamis. Nilai-nilai agama tumbuh subur dikelola tokoh dan ulamanya sehingga perubahan kepada nilai dan dan cita-cita itu mudah diraih. Itulah yang terjadi di Sumatra Barat masa lampau. Surau sebagai sistem nilai telah berhasil melahirkan ulama dan para santri hebat. Surau juga menjadi kegiatan pendidikan Islam dalam mengajarkan banyak nilai kebaikan pada masyarakat hingga tumbuh menjadi masyarakat berkarakter agamis. Nilai kedisiplinan, tanggung jawab, keadilan dan kesetaraan, kesejahteraan, dan lain sebagainya adalah nilai-nilai yang diajarkan surau masa lampau dan selalu bisa diajarkan dalam pergaulan masjid masa kini.

Sedangkan perkembangan sistem madrasah yang bermula di Sumatra Barat dan menjalar ke wilayah di Indonesia dipelopori melalui sosok Syaikh Abdullah Ahmad. Madrasah masa lampau berusaha mendobrak diskriminasi kolonial Belanda agar anak bangsa mampu bangkit dari keruntuhan surau. Dalam perjalanannya, lembaga pendidikan Islam tersebut berkembang dan terus membutuhkan perbaikan-perbaikan komprehensif dalam rangka mengembangkan pendidikan Islam yang maju dan bernilai tinggi.

Tokoh lainnya dalam buku ini, Tuan Guru A. Hassan dan Mohammad Natsir adalah dua sosok yang berjasa pada pendidikan Islam Indonesia. A. Hassan yang namanya banyak ditulis sebagai A. Hassan Bandung, memiliki lembaga pendidikan yang dijelaskan sangat menarik dalam buku ini. Inovasi dan pendidikan merdeka yang menjadi kekuatan lembaga pendidikan tersebut melahirkan nilai-nilai kebaikan dalam cara berpikir kritis yang bertanggung jawab. Saat ini sikap dan tata nilai seperti itu sangat dibutuhkan agar manusia tidak selalu terprovokasi dengan berita hoax dan perselisihan yang ada. 

Sedangkan, Mohammad Natsir adalah tokoh politik Islam kenamaan. Beliau juga punya pemikiran dan kerja besar di bidang pendidikan. Cita-cita pendidikannya ada pada PENDIS di Bandung, hampir bersamaan dengan lahirnya pesantren Tuan guru A. Hassan. Bedanya Mohammad Natsir membuat model sekolah.  Sosok Mohammad Natsir yang pintar, sederhana dan bersahaja menjadikan figurnya banyak dikagumi dunia Islam hingga kini. Kehidupan dan cita-citanya untuk pendidikan dan dakwah di Indonesia menjadi nilai-nilai yang terus diikuti dan dipelajari banyak orang. Mohammad Natsir mengingatkan dunia pendidikan agar semua proses pendidikan tidak melupakan nilai akhirat sebagai tempat kembali dari dunia fana. Penanaman nilai tauhid pada pandangan Mohammad Natsir inilah yang seharusnya diajarkan di lembaga pendidikan Islam secara baik.

#PendidikanBukan-Bukan

Tokoh-tokoh besar seperti Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, Syaikh Abdullah Ahmad, Tuan Guru A. Hassan dan Mohammad Natsir adalah para pendidik dan pemilik pemikiran pendidikan yang hebat untuk memanusiakan manusia Indonesia. Tidak saja itu, figur mereka menjadi tak ternilai yang selalu menginspirasi hingga kini.

Sebagai bonus, Dr. Ulil Amri Syafri ini juga menyelipkan pembahasan tentang akhlak. Teori tentang akhlak juga cukup baik diungkapkan bila dihubungkan dengan tokoh-tokoh inspiratif yang menjadi pilihan dalam pembahasan buku ini. Memang, pendidikan akhlak akan selalu menarik untuk dibahas karena menyangkut pembentukan karakter manusia. Pendidikan akhlak adalah pendidikan yang sarat akan nilai. Antara yang satu dan yang lainnya saling berkaitan erat dan tidak bisa dipisahkan. Saya menyebutnya akhlakul karimah.

Semoga apa yang disampaikan dalam buku ini bisa menggugah cara pandang kita dalam melaksanakan pembelajaran. Bahwa pendidikan jangan hanya diarahkan untuk menghasilkan anak didik yang cerdas tapi kemudian mengabaikan hatinya. Pendidikan harus dilaksanakan secara menyeluruh dalam berbagai aspek manusianya.

Selamat atas buah tangan Dr. Ulil Amri Syafri. Semoga terus berkarya dan menjadi amal saleh di sisi-Nya.  Selamat membaca!

 

Bandung, September 2021

Prof. Dr. H. Sofyan Sauri, M.Pd

                                           Guru Besar Pendidikan Nilai Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) 

Pendidikan Bukan-Bukan


Buku Pendidikan Bukan-Bukan 
Penulis: Dr. Ulil Amri Syafri


 Kalau saat ini Mas Menteri Nadiem Makarim mencoba membangun budaya ‘Merdeka Belajar & Kampus Merdeka’, maka di masa lalu ada yang sudah memperkenalkan konsep 'merdeka berpikir’ seperti ‘membuat roti’. Ya, bukan sekedar ‘makan roti’. 

Di dunia pendidikan, teori dan filsafat pendidikan amat penting. Namun, apakah praktek pendidikan para tokoh hebat masa lampau justru malah melahirkan teori baru pendidikan?

Silakan membaca buku "Pendidikan Bukan-Bukan". 

Tersedia di Tokopedia dan google play dalam versi e-book.






28 March 2019

Hacker Beriman


Ada seorang pemuda berusia 17 yang sangat menyukai dunia tekhnologi. Sehari-hari ia duduk di depan komputer, entah sekedar menjelajahi dunia internet ataupun sibuk mengutak-atik program. Kepandaiannya dalam dunia ini bisa dibilang mengagumkan untuk anak seusianya. Bisa jadi ini karena hasil belajarnya pada mentor yang hebat dan aspiratif.

Suatu hari, tanpa sengaja remaja smart tersebut membuka data toko online di sebuah negara maju, dan terpampanglah dihadapannya 10.000 data kartu kredit yang siap digunakan. Sangat  menggiurkan tentunya. si pemuda hanya tinggal memasukkan angka yang diinginkan, maka dana tersebut akan mengalir menjadi miliknya. Atau kalau ia tak ingin mengambil resiko, ia hanya memindahkan 20-30 dolar dari 10.000 data kartu itu tanpa terdeteksi oleh si pemilik kartu.

Lalu apa yang dilakukan pemuda itu?

Pemuda itu memusnahkan data tersebut tanpa ‘mengganggunya’.

Apakah ia takut? Ya, ia takut. Ia pucat dan takut pada Allah SWT. Subhanallah!  

Inilah pentingnya membangun akhlak dan adab pada para pemuda terlebih dahulu sebelum belajar sebuah ilmu.

***

Tahun ini Muslim Cendekia Madani melahirkan program baru masa depan berbasis teknologi, yaitu pendidikan setingkat SMA yang fokus pada penguasaan skill di bidang Multimedia dan Hacking.


Program ini bukan sekedar penguasaan ilmu Multimedia & Hacking biasa. Kekhasan program ini terletak pada Pembinaan akhlak dan jiwa calon Ahli Multimedia dan Hacker yang berkarakter Islami. Tentunya ini didasari pemahaman bahwa lmu IT yang cepat berkembang dan juga sangat  dimanfaatkan dunia modern dan maju ini tidak boleh Lost Value.


Proses Pendidikan Multimedia & Hacking Muslim Cendekia Madani meliputi:

Tahun Pertama, Pembinaan diri & Bahasa Asing (Bahasa Inggris Skor 500-550 dan Bahasa Arab IT)

Tahun Kedua, Pembinaan diri & materi dasar Multimedia & Hacking

Tahun Ketiga, Akhir Pembinaan Diri, Materi Konsentrasi Multimedia & Hacking, Persiapan & Ujian Persamaan tingkat SMA.

Setelah Lulus,  insyaAllah siap berkarya. Aamiin.


01 January 2019

Dinamika Sekolah Islam di Indonesia


By. Dr. Muhyani, M. Psi.T

Pasca kemerdekaan proses pendidikan anak-anak di Indonesia terus berkembang, meskipun bila dilihat aspek yang berkembang tersebut masih terfokus pada pembicaraan kurikulum dan proses belajarnya. Hal ini bisa dilihat dari perubahan berbagai kurikulum di lembaga Pendidikan pada setiap jaman. Yang popular baru-baru ini adalah pergantian kurikulum KTSP ke Kurikulum13. Adapun sekolah Islam yang merupakan bagian dari sub Pendidikan Nasional juga mengalami hal yang sama, kalau tidak ingin dikatakan terpengaruh secara langsung oleh kebijakan dan sistim pendidikan nasional.

Dari beberapa pengamatan, setidak-tidaknya ada beberapa perkembangan sekolah Islam di Indonesia berdasarkan perubahan kurikulumnya, yaitu:

1. Generasi Awal (G.1)
Sekolah Konvensional standar Pemerintah (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA). Kurikulum generasi awal ini mengikuti Kurikulum Pemerintah baik itu Depdikbud ataupun Kementrian Agama terdiri atas SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA. Contohnya sekolah-sekolah yang ada di Indonesia, baik negeri maupun swasta. Kurikulumnya sesuai dengan kurikulum pemerintah.


2. Generasi II (G.2)
Sekolah Umum Islam (SDI, SMPI, SMAI). Sekolah Umum berbasis Islam. Sekolah ini muncul karena kesadaran masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas, terutama mereka yang berlatar belakang pendidikan umum tetapi mereka ingin anak-anaknya mendapat iklim Islami. Mereka mendirikan SD Islam, SMP Islam, dan SMA Islam. Sekolah generasi ini populer awal tahun 1980an. Kurikulumnya mengikuti kurikulum Depdikbud, hanya ada penambahan materi pelajaran agama terutama baca tulis Al-Quran. Sistem pengelolaan sama persis dengan Sekolah standar Depdikbud. Contoh sekolah jenis ini antara lain SDI/SMPI/SMAI Al Azhar, SDI/SMPI/SMAI Al-Izhar, SDI/SMPI/SMAI AL Ikhlas, termasuk SD/SMP/SMA yang dikelola oleh Muhammadiyah.


3. Generasi III (G.3)
Sekolah Islam Terpadu (SIT). Sekitar tahun 1987 berdirilah TK Salman di kawasan Awiligar Bandung. Berbeda dengan TK pada umumnya, yang belajar dari jam 08.00 sampai jam 10.00, TK Salman siswa mulai datang pukul 07.00 dan pulang (dijemput) sekitar pukul 16.00. Gagasan belajar dari pagi hingga sore hari didasari atas realitas banyak keluarga muda yang suami istri bekerja, sehingga masalah pengasuhan anak menjadi hal yang sangat krusial. Melihat kondisi yang demikian, para aktivis Masjid Salman yang terhimpun dalam Pembinaan Anak-anak Salman (PAS) yang awalnya hanya mengadakan mentoring tiap hari Ahad, mulai merintis TK dan diberi Nama TK Salman.

TK Salman operasionalnya mirip dengan TPA (Tempat Penitipan Anak) bedanya, peserta didik pada TK Salman mengikuti rangkaian pembelajaran yang komprehensip, diawali dengan sholat dhuha, kegiatan belajar sambil bermain secara integrasi (belajar sains, aqidah, alquran, ibadah, dan istirahat) sampai 11.00. Peserta didik selanjutnya istirahat makan siang, dilanjutkan dengan sholat dhuhur. Setelah itu mereka istirahat siang sampai menjelang masuk waktu sholat Asar, persiapan sholat Asar. Selesai shalat Asar peserta didik bersiap-siap untuk pulang sambil menunggu orang tuanya menjemput.



Ide full day school di TK Salman kemudian diadopsi oleh aktivis pendidikan di Jakarta, tepatnya di Bangka Jakarta Selatan berdirilah Sekolah full day, dengan menggabungkan kurikulum Departemen Agama (Madrasah Ibtidaiyah) dan kurikulum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Sekolah Umum) menjadi Sekolah Islam Terpadu. Mulai dari Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu, SD Islam Terpadu. Berbeda dengan SD Islam yang sudah ada dengan kurikulum yang hampir sama dengan SD Umum—hanya jumlah Pendidikan Agama Islamnya lebih dari 2 jam dan pulang sekitar pukul 13.00 (setelah sholat Dhuhur)—jumlah pelajaran SDIT lebih banyak, yaitu pelajaran yang ada pada SD Umum ditambah dengan pelajaran yang diajarkan di Madrasah Ibtidaiyah seperti Aqidah, Alquran, Hadits, Sejarah Islam, Bahasa Arab, dan Fikih, dengan waktu belajar yang lebih lama (full day school).

Pada tahun 1990 sebagian penggiat Sekolah Terpadu ada yang pindah domisili di Jl. Situ Indah Cimanggis Kabupaten Bogor (sekarang Kota Depok). Mereka mendirikan Sekolah Islam Terpadu Nurul Fikri, mulai pertama buka TKIT dan SDIT, SMPIT, dsan SMAIT Nurul Fikri yang pengelolaannya berafiliasi ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bukan ke Departemen Agama. Mulailah Sekolah Islam Terpadu dikenal oleh masyarakat pendidikan di Indonesia, dan hampir di setiap kota besar di Indonesia berdiri Sekolah Islam Terpadu.


4. Generasi IV (G.4)
Sekolah Alam. Bagi sebagian penggiat pendidikan yang dulu aktif di Masjid Salman ITB, lembaga pendidikan yang ada waktu itu masih parsial, yaitu mementingkan aspek kognitif dan hanya sedikit aspek afektif dan psikomotor, dan kelas hanya terbatas oleh tembok (dalam gedung) cenderung memisahkan dengan alam. Melihat kondisi demikian mulailah dirintis Sekolah Alam.

Sekolah Alam adalah Sekolah yang menjadikan alam sebagai sumber ilmu dan bisa dikelola oleh para peserta didik. Konsep pendidikan Sekolah Alam tidak menggunakan gedung sekolah yang mewah melainkan saung kelas dari kayu, sehingga biaya untuk gedung lebih murah. Pendidikan yang berkualitas tidak ditentukan oleh sarana gedungnya, melainkan pada kualitas guru, metode yang diterapkan dalam proses belajar mengajar, dan kurikulum yang ditunjang oleh buku yang memadai sebagai gerbang ilmu pengetahuan.

Penggagas sekolah alam di Indonesia adalah Lendo Novo. Ia merintis berdirinya sekolah alam sejak 20 tahun silam. Puncak dari pergulatan panjang Lendo dalam mengembangkan konsep sekolah di alam terbuka terjadi pada tahun 1997, saat ia dan rekan-rekannya mendirikan Sekolah Alam Ciganjur, Jakarta Selatan. Lebih lanjut Lendo Novo mengutarakan, melalui sekolah alam dia berharap akan terlahir generasi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap masalah lingkungan. "Kalau dari kecil anak sudah terbiasa hidup di alam hijau dan ditanamkan semangat mencintai lingkungan, maka begitu besar ia tidak akan melakukan penebangan pohon". Sekolah alam sekarang semakin diminati oleh masyarakat sebagai solusi mendidik anak-anak menjadi generasi yang baik.


5. Generasi V (G.5)
Homeschooling (HS). Orang tua yang merasa mampu mendidik sendiri anak-anaknya tidak menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah. Untuk kelompok ini, mereka meyakini bahwa pendidikan terbaik adalah keluarga. Alasannya adalah banyak ekses yang terjadi pada sekolah umum seperti tawuran, pergaulan bebas, dan lainnya. Sehingga mereka memilih mendidik anak-anaknya sendiri di rumah. Kebanyakan dari mereka adalah golongan menengah secara ekonomi dan berpendidikan tinggi.

Tahun 1980-an ada tokoh yang memulai yaitu Aldi Anwar, ia adalah aktivis Masjid Salman ITB yang waktu itu memilih mendidik sendiri anak-anaknya. Waktu itu masih terasa asing, tapi era 2000-an Homeschooling sudah menjadi alternatif pendidikan yang dipilih oleh orang tua.


6. Generasi VI (G.6)
Sekolah Komunitas. Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan di Indonesia, muncullah sekolah komunitas, yaitu sekolah yang dikelola oleh sekelompok orang tua murid yang mempunyai visi yang sama tentang pendidikan. Mereka ingin mendapatkan pendidikan terbagus bagi anak-anaknya tetapi dengan biaya yang ‘terjangkau’. Tahun 2000-an muncul sekolah Alternatif di Salatiga tepatnya di Desa Kali Bening, yaitu Sekolah Qoriyyah Thoyyibah. Kemunculan sekolah ini sangat fenomenal, sekolah setingkat SMP dengan segudang prestasi tetapi dengan biaya yang sangat murah, dan gedung yang sangat sederhana. Prestasi sekolah ini sudah mendunia. Yang uniknya, sekolah ini tidak mempunyai guru tetap seperti sekolah pada umumnya, gurunya adalah orang tua murid sendiri.

Sekolah model ini juga ada di Depok, namanya Sekolah Pioneer, sekolah ini hampir sama dengan Sekolah Alam tetapi lebih formal. Siswa lulusannya memiliki hafalan menimal 4 juz Al-Quran. Uniknya, pengurus yayasan hampir semuanya orang tua murid. Sehingga antara Yayasan sebagai pengelola dan orang tua murid tidak ada perbedaan. Bahkan hubungan yayasan, orang tua murid, dan guru sangat harmonis. Sekolah ini punya semboyan Pioneer adalah kita.


7. Generasi VII  (G.7)
Sekolah Rumah. Generasi terbaru adalah Sekolah Rumah model Rumah Pendidikan Muslim Cendekia Madani. Model pendidikan ini lahir dari hasil pemikiran para pakar pendidikan Islam sebagai jawaban atas problematika pendidikan yang terjadi sekarang, khususnya dalam hal cognitive oriented, minimnya pembinaan akhlak pelajar, dan konsep pendidikan formal yang penuh dengan rutinitas yang membosankan. Konsep sekolah rumah ini  mirip dengan homeschooling namun diasramakan dengan suasana Islami. 




Proses pendidikan di Rumah Pendidikan MCM memiliki kekhasan tersendiri. Diawali dengan pemilihan rumah yang akan digunakan sebagai syarat pentingnya lingkungan dalam proses pendidikan; proses pembelajarannya yang menerapkan pola pembelajaran fokus, belajar tuntas; pembiasaan hidup sehat, dalam hal ini terkait dengan pola makan sehat berbasis buah dan sayur, pembinaan fisik melalui rutinitas olahraga, dan pembinaan adab yang berdasarkan akhlak Islami dan berkurikulum mandiri. Kesemuanya ini dilakukan dalam suasana yang santai, menyenangkan, dan kekeluargaan bersama mentor selama 24 jam.

Adalah Dr. Ulil Amri Syafri, seorang dosen Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun Bogor yang menggagas konsep rumah pendidikan tersebut. Konsepnya berangkat dari pencapaian kompetensi lulusan seperti apa yang ingin dicapai, baru kemudian menentukan kurikulum dan prosesnya sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.


Demikian gambaran tentang perkembangan sekolah Islam yang bisa diklasifikasikan. Idealnya, sekolah Islam di negeri yang berpenduduk muslim ini sudah harus menyusun suatu model pendidikan yang berkualitas dan unggul, baik secara fitrah kemanusiaanya maupun aspek ketrampilan atau skill hidupnya agar siap memasuki setiap jaman perubahan.

Dahulu di Sumatra ada sekolahan unik, kalau boleh kita beri nama dengan istilah sekarang yaitu sekolahan berbasis talenta atau sekolahan berbasis bakat anak. Dari namanya saja sudah bisa ditebak orientasi pendidikannya. Orientasi itu pulalah yang akan mempengaruhi aspek kurikulum dan proses pembelajarannya. Bukan sebaliknya, gonta-ganti kurikulum, tanpa jelas orientasinya, ditambah lagi lemahnya pada aspek penyelengara, pengajar, bahkan tujuan pengajaran yang tidak terbahas dan diperhatikan secara maksimal. Dengan kata lain seharusnya perubahan suatu sekolah harus didasarkan pada orientasi yang ingin dicapai sebagai tujuan pendidikan tersebut, bukan sebaliknya.

Allahu a'lam

21 December 2018

MCM-ers in Speech

Beberapa video kemampuan para pelajar MCM dalam berbahasa Inggris:


Launching Lab Pendidikan Rumah Pendidikan MUSLIM CENDEKIA MADANI Tahap II


Rumah Pendidikan MUSLIM CENDEKIA MADANI akan menyelesaikan tiga tahun pertama lab pendidikan pada tingkat menengah di tahun 2019. Meskipun baru tiga tahun, alhamdulillah MCM sudah berhasil melepas lima lulusannya ke Universitas Al-Azhar Cairo Mesir dan satu orang ke Fakultas Kedokteran Universitas di Aceh. Untuk tahun ini, insya Allah, MCM akan meluluskan tiga pelajarnya yang siap pula melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. 

Dalam prosesnya ada beberapa ujian dan tantangan yang dihadapi MCM, khususnya terkait dengan proses pembinaan dan pendidikan para pelajar. Sebab, yang dihadapi sebagai objek pendidikan adalah karakter anak yang memiliki kecenderungan berubah dan tidak stabil, terlebih di usia-usia remaja. Banyak suka dan duka dalam membina dan mendidik kepribadian anak-anak dan kemampuan intelektualnya . Namun dengan kerja keras dan ijin Allah, semua kekurangan dan kelebihan yang terjadi selama tiga tahun ini dapat dilihat sebagai bahan evaluasi untuk mengembangkan lab pendidikan selanjutnya.

Insya Allah, Rumah Pendidikan MUSLIM CENDEKIA MADANI akan memasuki lab pendidikan tahap kedua pada tiga tahun berikutnya mulai tahun ajaran 2019/2020. Untuk tahun ini akan dibuka bagi para lulusan SD/MI/sederajat. Semoga ke depannya MCM dapat terus dalam berkontribusi mendidik dan mengarahkan generasi-generasi muslim Indonesia, kelak sebagai ujung tombak peradaban bangsa sesuai dengan kompetensi yang dihasilkannya.